5. Harapan Kebebasan

1281 Words
Serly terbelalak tak percaya begitu juga Aldo. Pria itu mendengar jelas apa yang Zeeya katakan. Kembali hal di luar nalar terjadi, batin Aldo. "Jadi kamu—" Serly tak bisa berkata-kata. Zeeya dengan cepat mengangguk. Dia memegang telapak tangan Serly. "Kak, aku mohon tolong bebaskan aku. Aku yakin tidak membunuh istri mas Raffa." Zeeya benar-benar frustrasi jika harus terlalu lama dalam penjara. Serly mulai tersadar dari keterkejutannya. Dia menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan. "Oke, coba kamu cerita pelan-pelan," pinta Serly. Zeeya menceritakan mulai dari dia yang meninggal, bertemu jiwa Zeeya di dunia ini. Jiwa Zeeya itu memberitahu kalau dia tidak membunuh siapa pun dan memiliki penglihatan istimewa. Maka dari itu, tadi dia bisa melihat jika kemarin malam Serly dan Aldo berbincang tentangnya. Lagi-lagi hal di luar nalar, batin Aldo, setelah ia mendengar hal seperti penglihatan istimewa. "Kamu benaran yakin, Zee?" tanya Serly memastikan. Serly pikir ini sulit karena tak tahu Zeeya di dunia ini perempuan seperti apa. Apakah ucapannya dapat dipercaya? "Rasanya tidak mungkin dia berbohong. Aku yakin Zeeya yang dulu juga orang baik. Lagi pula dia tidak punya hubungan dengan istri mas Raffa," terang Zeeya masih tetap meyakinkan Serly. Serly menoleh pada Aldo yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. "Menurut Mas, bagaimana?" Serly berharap suaminya bisa membebaskan Zeeya. Aldo menatap ke arah istrinya dan Zeeya bergantian. "Saya mengerti kalau kamu tidak bersalah. Hanya saja kita tidak tahu tentang Zeeya yang dulu. Begini saja, nanti saya akan hubungi pengacara saya untuk membantu kamu. Semoga bisa dilakukan pengalihan jenis penahanan menjadi tahanan kota sebelum penyelidik berhasil mengungkapkan kasus ini. Saya dan istri saya pasti akan membantu, syukur-syukur kalau kamu memang tidak bersalah, tapi kamu juga harus siap dengan konsekuensi jika memang Zeeya yang dulu terbukti bersalah," jelas Aldo pada Zeeya. Gadis itu dengan cepat mengangguk yang penting dia bisa menghirup udara luar terlebih dahulu dan nanti dia akan mencari tahu siapa pelaku sebenarnya. "Terima kasih, Kak Aldo. Aku juga akan berusaha menyelidiki tentang kasus ini." Aldo mengangguk. Zeeya bersyukur bertemu dengan sepasang suami istri tersebut. Harapan kebebasannya semakin tinggi. Setelah mengobrol cukup lama, sebenarnya Zeeya yang berceloteh panjang, sedangkan Serly hanya sedikit menimpali dan Aldo memilih diam mendengarkan, Serly dan Aldo kemudian berpamitan karena jam kunjungan telah usai. "Mas, terima kasih banyak sudah mau bantu Zee untuk bebas," ungkap Serly. Dia dan Aldo telah berada dalam mobil. Aldo menangkup pipi istrinya lalu tersenyum dan membuat Serly untuk ke sekian kalinya terpesona dengan senyuman suaminya. "Aku sudah pernah bilang akan berusaha untuk memenuhi segala keinginan kamu, Sayang," balas Aldo. Serly benar-benar terharu mendengarnya. Dia berpindah duduk ke spot favoritnya yaitu pangkuan Aldo. Mobil memang belum dinyalakan, keduanya masih berada di tempat parkir. "Aduh manjanya mulai." Aldo memeluk pinggang sang istri dan Serly melingkarkan tangannya di leher Aldo. "Mas ...." Serly memajukan bibirnya. Aldo mencium bibir kesukaannya, menyesapnya bagai es krim. Benar-benar manis dan membuatnya ketagihan. "Kalau ada nominasi suami ter- the best Mas Aldo pasti menang," ujar Serly yang masih bermanja di pangkuan Aldo sehabis ciuman panas mereka. Aldo mencubit pipi istrinya gemas. Meski usia mereka tak lagi muda, kemesraan mereka tak pernah padam. "Mas, aku udah lama nggak dapat jatah," bisik Serly sambil menggerak-gerakkan pinggulnya dan mengusap dadà Aldo. Itu berhasil membuat Aldo tegang. "Sayang harusnya aku yang ngomong begitu." Aldo mengecup bibir manis itu lagi. "Cari hotel dekat sini yuk, Mas, aku pingin sekarang." Kalau di rumah belum tentu bisa karena mengingat Nayra dan Rainer yang selalu menempel pada mereka. Tadi saja buah hati keduanya minta ikut. Untunglah berhasil dibujuk. "Ya sudah, pindah dulu, Sayang." Serly bergegas pindah ke samping dan Aldo segera melajukan mobilnya. Dia juga tak sabar menuntaskan hasratnya pada sang istri yang ahli menggoda. *** Seorang gadis sedang sibuk menyapu halaman yang penuh dengan daun berjatuhan. Dia tersenyum sendiri sambil bernyanyi riang, namun hal ini membuat orang-orang di sekitarnya bergidik ngeri. Gadis itu adalah Zeeya. Dia sangat senang karena kemungkinan besar ia akan menjadi tahanan kota. Aldo dan Serly ditugaskan untuk mengawasinya. Dia juga harus melapor seminggu sekali. Namun, bagi Zeeya itu lebih baik daripada harus tinggal di jeruji besi. Narapidana yang lain tentu melihat gadis itu dengan tatapan ngeri, apalagi mereka telah mendengar desas-desus bahwa Zeeya adalah psikopat. Zeeya sadar telah diperhatikan, tapi itu semua tak mengurangi sukacitanya karena akan bebas. Setelah selesai membersihkan halaman, para napi kembali ke dalam sel. "Zeeya ada kunjungan untukmu!" seru Bu Polwan. "Siapa? Kak Serly sama Kak Aldo ya?" tanya Zeeya dengan senyum mengembang. "Bukan, tapi Pak Raffa." Senyum Zeeya memudar untuk beberapa saat, tapi ia tersenyum kembali dan bergegas ke ruang kunjungan bersama Bu Polwan. "Mas Raffa aku punya kabar baik," ungkap Zeeya dengan mata berbinar. Raffa mengernyit sudah beberapa hari tak bertemu, gadis di hadapannya semakin terlihat aneh. "Eh, tapi aku nggak tahu juga bagi Mas Raffa ini kabar baik atau kabar buruk." Zeeya tampak berpikir. "Tidak usah bertele-tele, apa yang kamu maksud kabar baik? Apa ingatanmu sudah pulih?" "Bukan, tapi kasih tau nggak ya?" "Zeeya, jangan buat saya kesal." Raffa benar-benar dibuat penasaran. "Oke, aku bakal jadi tahanan kota, Mas, yang artinya aku bakal keluar dari sini!" pekik Zeeya tak tertahan, sedangkan Raffa menatapnya tajam. "Kenapa?! Saya tidak pernah rela kalau kamu jadi tahanan kota. Siapa yang membantumu?!" geram Raffa. Dia tidak ingin pembunuh istrinya keluar dari penjara. Zeeya tampak cemberut, sudah ia katakan untuk ke sekian kalinya kalau dia tidak bersalah, masih saja Raffa mengatakan dirinya pembunuh. "Kak Aldo dan Kak Serly yang bantu. Nanti mereka juga yang ditunjuk mengawasiku. Aku juga harus lapor seminggu sekali." "Siapa katamu?" "Kak Aldo, nama panjangnya Revaldo dan istrinya namanya Serly. Kak Aldo menyewa pengacara hebat buat membantuku." Zeeya berkata jujur tak ada yang ditutupi. "Katanya Kak Aldo juga kenal Mas Raffa." "Ya, saya kenal, dia senior saya di kampus dulu dan kolega saya juga, tapi kenapa bisa-bisanya dia membebaskan kamu?" Aldo juga merupakan panutan Raffa dalam berbisnis. Pria itu memang sedikit dingin, tapi senior yang baik dan tak pelit berbagi ilmu. "Tidak sepenuhnya bebas, Mas, ini jadi tahanan kota. Nanti aku, Kak Aldo, dan Kak Serly juga akan bantu cari siapa pelaku sebenarnya. Masalah mereka membantuku karena aku berteman dengan Kak Serly, meskipun sudah enam tahun tak bertemu." "Teman? Kenal di mana?" "Di—ih Mas Raffa kepo banget." Hampir saja Zeeya keceplosan. "Pokoknya aku sudah cerita ya, Mas." Raffa menghela nafas berat. Masih tidak terima. Dia harus segera bertemu dengan Aldo, membicarakan soal ini. "Mas benaran deh aku bakalan bantu cari siapa pelaku sebenarnya." Zeeya menatap lekat Raffa. Dia dapat melihat sekilas bayangan pria itu sedang bekerja dan tampak sangat kelelahan. Kasihan Mas Raffa, batin Zeeya. "Kamu mau bantu cari tahu? Saya saja sama sekali tidak yakin kalau kamu bukan pelakunya atau ini cuma akal-akalan untuk menutupi kebusukanmu." "Aku serius, Mas. Lagi pula aku tidak busuk, aku wangi, walaupun di penjara, aku tiap hari mandi." "Saya tidak sedang bercanda, Zeeya!" kesal Raffa. "Aku juga tidak bercanda Mas Raffa!" sahut Zeeya. "Mending Mas pulang, terus istirahat. Mas itu kelihatan capek banget. Besok kita bahas lagi masalah ini," lanjutnya. Perasaan Raffa bergetar mendengar ucapan Zeeya. Gadis itu mengetahui bahwa dia sedang sangat lelah. Dirinya beberapa hari ini di luar kota, begitu banyak hal yang perlu dia tangani. Bukan hanya masalah pembunuhan istrinya, tapi juga perusahaan yang ia pegang semakin menurun karena rumor buruk tentangnya. "Baiklah, kita bicarakan besok saja." "Iya sudah sampai bertemu besok ya, Mas. Jangan lupa makan. Bye bye Mas Raffa." Raffa berjalan meninggalkan ruang kunjungan. Ia hanya bisa menggeleng, jika orang yang tak tahu pasti berpikir Raffa mengunjungi sahabatnya yang di tahan bukan mengunjungi tersangka pembunuh istrinya. Raffa sadar interaksinya dengan Zeeya malah terkesan akrab. Awalnya Raffa ingin segera ke kantor Aldo. Namun, akhirnya ia memilih pulang menuruti apa yang dikatakan Zeeya. Besok saja ia mengunjungi Aldo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD