"Aldo di dunia itu sangat mencintai Serly. Meski Serly sudah menikah dengan Dion, Aldo tetap mencintainya. Ia pikir Serly akan bahagia, tapi ternyata dia melihat berita Serly meninggal bersama Om Rico setelah tiga tahun pernikahan wanita itu. Awalnya dia mencoba menghubungi Nathan, tapi sahabatnya itu tak bisa dihubungi. Akhirnya Aldo tahu bahwa Nathan sudah meninggal dua hari setelah Serly diberitakan meninggal.
"Aldo mencoba mencari tahu tentang kematian Serly dan Nathan, tapi setelah ia tahu, dia mengalami kecelakaan," jelas Aldo.
Serly menangis, air mata membasahi pipinya. Dia tidak tahu Aldo di dunia itu sangat mencintainya. Dia hanya tahu Om Rico memang berencana menjodohkannya dengan Aldo, bahkan ia tak ingat pernah bertemu Aldo di kampus. Matanya telah dibutakan oleh cintanya terhadap Dion yang berakhir hanya membawa petaka.
Aldo tidak sanggup melihat Serly menangis. "Sayang, sudah ya jangan menangis." Tangannya terulur mengusap air mata istrinya. Dia tak mengira Serly sampai sesedih ini.
Aldo belum tahu kalau Serly yang duduk di pangkuannya sekarang adalah yang mengalami kejadian itu.
"Mas ...," lirih Serly yang masih terus bersandar di dadà Aldo.
"Apa?"
"Aku mau jujur." Serly pindah ke sebelah Aldo dan pria itu tampak penasaran.
"Sebenarnya aku yang mengalami itu semua. Aku, Serly yang menikah dengan Dion, Serly yang disiksa selama tiga tahun dan menjadi gila, aku juga yang jatuh dari atap gedung bersama Om Rico. Aku, Serly yang bodoh menolak dijodohkan dengan Aldo dan tidak tahu bahwa Aldo mencintaiku." Serly menjelaskan sembari terisak dan Aldo dibuat terkejut karenanya.
"Apa maksud kamu, Sayang? Apa kamu berarti bukan istriku?" Aldo tak bisa membayangkan jika wanita di hadapannya bukan istrinya. Serly dengan cepat menggeleng agar tak terjadi salah paham.
"Aku istri Mas Aldo. Aku, Serly yang Mas Aldo nikahi. Aku juga yang suka membangkang pada Mas Aldo di awal pernikahan kita. Aku yang menggoda kolega mas Aldo saat acara perusahaan karena hasutan Dion."
"Mas makin tidak mengerti maksud kamu?" Aldo bingung tadi Serly berkata dia adalah Serly di dunia lain, dimensi lain, tapi sekarang Serly berkata bahwa dia adalah Serly di dunia ini, istrinya.
"Aku di dunia itu sudah meninggal dan aku di dunia ini sebenarnya juga telah mati, tapi kami diberi keajaiban untuk hidup dan jiwa kami menyatu dalam satu raga yaitu raga ini. Aku, Serly istrinya mas Aldo, tapi aku juga yang mengalami masa di kehidupan itu. Jiwaku di kehidupan itu lebih mendominasi berpengaruh pada sifatku sekarang. Namun, sifatku yang emosional di dunia ini juga masih ada di diriku. Mas mengerti, kan? Aku tetap Serly, istri mas Aldo, tapi dengan pribadi yang baru, mempunyai ingatan dua dunia," terang Serly panjang lebar, berharap suaminya mengerti.
Aldo menghela nafas mencerna perkataan Serly. Setelah dipikir Aldo pun sering heran, sang istri kadang sangat lembut, tapi jika ada yang mengganggunya dan orang-orang terdekat, Serly bisa berubah 180 derajat menjadi kasar. Apa itu dikarenakan dua jiwa dalam dirinya, meski sudah menyatu? Bukan seperti kepribadian ganda, tapi ada sifat-sifat yang memang bertolak belakang.
"Oke, aku akan mencoba memahami," ucap Aldo setelah berapa detik terdiam. Dia langsung mengusap pipi sang istri.
Serly kembali pindah duduk di pangkuan Aldo.
"Mas jangan pernah lagi bilang aku bukan istri mas. Aku sedih," rajuk Serly.
"Iya, Sayang. Ini sebenarnya aneh, tapi aku berusaha mengerti karena mungkin semuanya adalah misteri yang tak bisa kita pecahkan." Serly mengangguk saja merasakan tangan hangat Aldo mengusap pipinya.
Setelah dia berhenti terisak. Serly kembali menatap suaminya.
"Katanya kalau kita di dunia itu telah berpulang, alam bawah sadar kita di dunia ini bisa mengingat kejadian di sana, mungkin kita bisa merasa dekat dengan orang-orang tertentu padahal awalnya di dunia ini tak dekat," terang Serly.
"Mungkin karena ini aku sangat mencintaimu karena di dunia itu aku juga sangat mencintaimu? Padahal awalnya selama tiga tahun kita menikah aku tidak punya rasa apapun terhadapmu," ungkap Aldo.
Serly seketika cemberut, Aldo tampak heran dibuatnya.
"Ini kenapa bibirnya maju-maju mau dicium lagi?" Aldo malah menggoda Serly.
"Mas benci banget ya sama aku selama tiga tahun awal menikah?" Serly jadi kesal karena perkataan Aldo yang bilang tidak ada rasa. Aldo dengan cepat menggeleng, agar sang istri tidak merajuk.
"Bukan begitu, Sayang." Aldo mengecup sayang bibir manis sang istri. Aldo sebenarnya juga sudah melupakan sikap menyebalkan Serly pada awal pernikahan.
"Genit lagi," keluh Serly, tapi ia tetap menikmati.
Aldo tersenyum, tapi ia sekarang memikirkan Nathan sahabatnya yang juga sifatnya sangat berubah.
"Tunggu, apa Nathan mengalami hal yang sama denganmu, Sayang? Mengingat dia terlalu banyak berubah." Serly yang mendengar pertanyaan itu bingung ingin menjawab apa, sebenarnya Nathan di dunia ini juga telah meninggal justru jiwanya yang asli telah pergi dan yang ada di raga sekarang adalah jiwa Nathan di dunia lain.
"Mas, sebenarnya Kak Nathan di sini sudah meninggal juga. Hampir sama kejadiannya sepertiku hanya bedanya jiwa Kak Nathan di dunia ini telah pergi beristirahat dengan tenang digantikan oleh jiwa Kak Nathan di dunia itu."
"Apa!?" Aldo kembali terkejut. Mengapa banyak sekali kejadian tak masuk akal. "Tapi, aku tidak pernah dengar Nathan sakit ataupun kecelakaan."
"Menurut Kak Nathan saat itu dirinya di dunia ini meminum kopi mengandung sianida yang mungkin diberikan oleh Adelia dan Abel." Nathan memang menceritakan ini kepada Serly.
Serly menatap mata Aldo. Terdapat kesedihan di dalamnya. Meski Aldo dan Nathan di dunia ini tidak cukup dekat seperti Nathan di dunia lain, tapi perasaannya tetap sedih mengingat sebenarnya Nathan telah meninggal. Mengingat mereka satu geng dan saat kuliah satu jurusan pula. Pantas saja Nathan enam tahun terakhir berubah drastis dan kadang dia tak ingat hal-hal menyangkut kegiatan saat mereka SMA maupun kuliah.
Perasaan Aldo yang dekat dengan Nathan, Aldo yakini karena di dunia lain Aldo memang sangat dekat dengan Nathan sehingga tak terlalu aneh menganggap perubahan sikap pria itu.
"Mas, jangan sedih ya." Serly mengusap pipi suaminya. Dia mengerti perasaan Aldo.
"Terima kasih sudah jujur." Aldo memeluk pinggang istrinya erat. Serly pun memeluk leher Aldo tak kalah erat.
"Terima kasih sudah mau percaya dan mengerti. Mas memang suami terbaik." Aldo hanya tersenyum dan masih memeluk Serly. Seketika keduanya mengingat sesuatu.
"Sayang ...."
"Mas ...."
Mereka memanggil bersamaan.
"Mas dulu deh yang ngomong," pinta Serly.
"Sekarang apa hubungan semua ini dengan kamu yang ingin mengunjungi pembunuh dari istri Raffa?" tanya Aldo, kembali beralih ke pembicaraan mereka di awal.
Serly turun dari pangkuan Aldo mengambil kopi yang ada di atas meja kerja Aldo. Lalu, menyerahkannya pada Aldo.
"Ini minum dulu, Mas, baru aku cerita lagi." Aldo tersenyum dan meminumnya.
"Kopi buatan kamu memang selalu enak, Sayang," puji Aldo.
"Habisnya kubuat pakai cinta, khusus untuk pria tertampan sejagat raya." Serly menaik turunkan alisnya.
"Eleh gombal." Aldo mencubit gemas pipi istrinya itu.
"So?" Aldo kembali penasaran akan cerita Serly.
"Aku baru tahu nama wanita tersangka pembunuhan itu Zeeya Auristela dan saat aku lihat fotonya, dia seseorang yang aku kenal di kehidupan lalu." Serly menceritakan tentang masa-masa ia di RSJ dan tentang Zeeya yang saat itu sering mengunjunginya dan Serly kira Zeeya adalah teman halusinasinya.
"Apa kamu yakin ingin ke sana? Anggaplah dulu dia teman kamu waktu di RSJ, tapi ini beda orang, Sayang. Tidak menutup kemungkinan kalau wanita itu memang jahat di dunia ini." Aldo masih tetap mencegah Serly untuk ke sana.
"Entah kenapa aku yakin bahwa dia tidak jahat, Mas. Boleh ya aku ketemu sama dia?"
Aldo menghela nafas pelan. Dia juga tidak bisa melarang jika istrinya tetap bersikeras.
"Oke, besok kita ke sana aku yang temani." Serly memeluk Aldo, suaminya memang terbaik.
***
Pagi harinya Serly dan Aldo bergegas ke rutan untuk mengunjungi Zeeya. Wanita itu menatap pasangan suami istri yang duduk di hadapannya, ia meneteskan air mata ketika melihat Serly.
Dulu dia pernah mengenal Serly meski tak tahu namanya. Dia berkunjung ke kamar rawat Serly saat di Amarilis awal-awal ia masuk rumah sakit jiwa itu. Ruang rawat Serly selalu dijaga ketat oleh pria berbadan besar. Namun, dia datang saat pria berbadan kekar sedang tidak ada di sana seringnya di pagi hari.
Dia mengobrol banyak hal meski Serly tak membalas ucapannya dan ia sadar omongannya juga hanya bualan semata tentang bayi-bayinya. Namun, Zeeya merasa kehilangan saat wanita itu tak ada lagi di ruangannya. Dia tetap berkunjung, tapi Serly yang ditunggu tak ada hingga ruangan itu dipakai oleh pasien lain. Zeeya akhirnya menyerah.
Serly dan Aldo terheran dengan sikap Zeeya. Mengapa tiba-tiba gadis itu meneteskan air mata? Zeeya dengan cepat menghapus air matanya. Ia tak ingin terlihat aneh di mata orang lain. Nanti malah ia dituduh gangguan mental.
"Anda berdua kenal saya?" Zeeya memulai pembicaraan. Dia heran apa Serly dan Aldo mengenalnya di dunia ini.
"Saya temannya Raffa Alfandra. Nama saya Revaldo dan ini istri saya Serly." Tidak mungkin dia menjelaskan mereka ke sana karena keinginan sang istri yang menganggap Zeeya sebagai sahabat saat di RSJ di kehidupan lamanya.
"Apa Tuan Revaldo dan Nyonya Serly diminta oleh Mas Raffa untuk bertemu saya?"
Aldo heran mengapa Zeeya tampak akrab dengan Raffa sampai memanggil Raffa dengan sebutan mas. Sementara Serly terus memperhatikan Zeeya dan gadis itu pun menatapnya lekat.
Tiba-tiba penglihatan istimewa Zeeya kembali berfungsi. Dia melihat bayangan pembicaraan Serly dan Aldo kemarin malam. Awalnya ia ingin memutuskan pandangan karena posisi mesra keduanya saat berbincang, tapi ia mendengar Serly menyebutkan namanya yang pernah mengunjungi di kamar rawat rumah sakit jiwa Amarilis. Bayangan keduanya sedang berbincang menghilang. Zeeya sangat terkejut. Apa Serly di dunia ini mengalami hal yang sama seperti dirinya?
“Kakak, ingat aku? Aku Zeeya Auristela. Aku dulu pernah membual punya anak namanya Reno dan Rani. Terus aku juga bilang saat itu aku sedang hamil. Aku Zeeya yang pernah di RSJ.” Zeeya berbisik ketika menyebutkan RSJ takut didengar oleh Bu Polwan yang sedang mengawasi dari jauh. Bisa-bisa ia dikira tidak waras.
Serly terbelalak tak percaya. “Jadi kamu—”