"Gimana Pak Bintang? Sudah siap ini buat mutasi?" goda Pak Andi selepas meeting. Tersenyum menangapi gurauannya sambil membereskan berkas-berkas.
"Kota kecil lo Pak Bintang. Nggak sayang Pak? Ngelepasin posisi disini buat ke kota kecil?" lagi, ku hanya tersenyum menanggapinya.
"Kinerja Pak Bintang selalu bagus kenapa malah minta mutasi ke cabang small coba. Kalau saya ya sudah pasti minta posisi yng lebih tinggi saja. "
"Saya merasa belum sukses Pak. Ini saya sedang berusaha menuju jalan sukses saya." jawabku kemudian.
"Lha jalan sukses kok malah pindah ke tempat yang nggak bonafit to Pak."
"Iya Pak. Ini sukses saya pulang kampung. Biar dekat dengan orang tua. Sudah terlalu lama saya di kota besar. Sekarang sudah saatnya pulang." Ku lihat wajah binggung Pak Andi.
"Ya sudah saya duluan ya Pak Andi." lanjutku sambil menepuk bahunya dan berlalu meninggalkan ruang meeting.
Dulu aku juga beranggapan begitu, sukses itu tentang karier yang bagus, harta yang banyak. Dan benar aku sudah mendapatkannya. Pekerjaan, keluarga tapi akhir-akhir ini rasa bersalah karena membiarkan orang tua kesepian dalam usia senjanya seperti mencekik leherku.
Bapak dan Ibuku tak butuh uangku, gaji pensiun mereka dan hasil pertanian dari beberapa sawah sangat cukup dan berlebih untuk biaya hidup mereka. Tapi rumah besar yang sepi dan hanya diisi dua orang sering hadir di mataku. Semenjak bekerja dan berkeluarga aku cuma pulang sekali dalam setahun itupun belum tentu waktu lebaran. Sudah seperti anak durhaka bukan.Jadi salahkah aku jika ingin berbakti pada orang tuaku?
Dua bulan dari waktu yang aku infokan pada istriku sudah lewat dari separuhnya. Dan masih belum ada tanda-tanda dia mau membahas nya. Jam dinding di kamar sudah menunjuk angka 8 saat peremuan yang bergelar istriku itu baru tiba dari kantornya. Raut lelah sangat tampak di wajahnya.
"Lembur lagi Ma?" tanyaku begitu dia duduk di pinggiran ranjang.
"Iya Pa. Bu Sinta mau resign. Jadi semua kerjaan yang ada hubungan dengan keuangan harus segera di selesaikan karena akan ada audit."
"Terus,,, Mama sendiri kapan mau resign?" Pertanyaan dan waktu yang tidak tepat mungkin. Biarlah.
"Pa, bukannya kita sudah membahasnya." sorot matanya tajam, seakan ingin menghancurkanku.
"Coba jelaskan ke Papa kenapa mama masih tetap tidak mau berhenti kerja. Uang? Apa tidak cukup uang yang Papa berikan ke Mama? Apa yang masih kamu cari ?"
"Aku hanya berjaga-jaga kalau suatu saat ada hal buruk dalam keluarga kita. Setidaknya nanti aku masih punya pekerjaan dan penghasilan." Jawabnya ringgan dan jelas itu menyulut emosiku.
"Astagfirulloh Ma. Jadi kamu berharap akan ada hal buruk dalam keluarga kita." Kataku dengan suara yang sudah meninggi.
"Kita sudah hampir sepuluh tahun. Dan kamu masih tidak bisa mempercayai suamimu sendiri. Jangan telalu sering berteman dengan mereka yang hanya ngasih racun ke kamu Ma. Jangan samakan keluarga kita dengan orang lain."
"Tapi sekarang banyak yang seperti itu Pa. Itu kenyatannya."
"Tapi bukan berarti kamu harus menyamaratakan dengan keluarga kita ma. Selama ini pernahkah papa berbuat yang diluar batas? Tidak bukan. Jadi alasan mama itu sungguh tidak masuk akal sama sekali."
Masih ku pandangi wajah perempum yang aku nikahi delapan tahun lalu itu. Teman-temannya banyak yang mengalami masalah keluarga, perceraian, pengkhinatan dan hampir tiap hari dia menceritaknnya padaku. Harusnya dia bisa mencerna dari sana bukannya malah membuat asumsi sendiri bahwa tiap keluarga akan seperti itu. Konyol sekali rasanya.
"Sekarang terserah kamu. Masih mau bekerja atau berhenti dan ikut papa pulang. Papa nggak akan maksa lagi." putusku kemudian meninggalkannya ke kamar mandi. Aku harus mendinginkan kepalaku dengan sikap keras kepalanya yang tak pernah berkurang.