"Ma. Bisakah berhenti kerja dan fokus dengan keluarga saja?" perempuan itu mendegus kesal. Tampak wajanya keberatan dengan pembahasan ini.
"Kenapa harus bahas hal ini lagi sih Pa?" sahutnya ketus.
Ini sudah kesekian kalinya aku membujuk perempuan yang berstatus sebagai istriku itu untuk berhenti bekerja dan mengurus rumah. Entah apa yang diharapkannya dari bekerja. Uang? Ah penghasilanku sudah sangat cukup, meskipun kami tinggal di kota besar. Meski tidak bekerja dia masih bisa makan dan bersenang-senang. Aku bukan pria yang perhitungan dengan uang. Bukan tanpa alasan aku memintanya resign. Satu bulan lalu adikku Kirana menelponku dan memberi tahu kondisi Ibuku.
Selama ini Bapak dan Ibu memang hanya tinggal berdua, dulu sempat Kirana tinggal bersama mereka tapi sudah 5 tahun ini dia mengikuti suaminya pindah tugas. Sebagai anak sulung aku merasa bertanggung jawab untuk menjaga mereka, apalagi sejak 10 tahun lalu aku merantau kesini. aku merasa bersalah dan ingin pulang kampung. Ditambah ada kesempatan mutasi di kota kecil diujung pulau yang cuma berjarak 2 jam dari rumah. Aku ingin pulang bersama anak dan istriku.
"Aku menerima tawaran untuk mutasi. Dua bulan dari sekarang akan segera di proses. Terserah kamu mau ikut aku atau tetap disini." putusku kemudian ketika aku tahu dia tak pernah merespon keiinginaku untuk berhenti kerja.
"Tapi Pa...." tak lagi ku hiraukan protesnya, ku tinggalkan wanita keras kepala itu. Cukup. Aku sudah sering mengalah selama ini. Tak bisakah dia mendengarkaku sekali saja. Ah ternyata setelah menikah cinta saja tak cukup untuk menjalani bahtera rumah tangga. Cintaku terlalu besar pada perempuan ini sehingga aku selalu mengiyakan semua maunya. Tapi sekali saja, kenapa dia tak mau peduli dengan ku. Aku rindu Bapak Ibuku.