Lelah

428 Words
Menikah lagi. Sungguh hal itu tidak pernah terlintas di benakku. Bagiku jatuh cinta itu hanya sekali begitupun juga dengan menikah. Cukup sekali. Apalagi sekarang tanggung jawabku semakin banyak. Anak dan beberapa puluh pegawai dan keluarganya yang bergantung pada usaha yang di bangun almarhum Saif. Aku tahu sudah lebih dari satu tahun ini selentingan tidak enak sering ku dengar. Seiring dengan kantor yang selalu menang tender lokal, membuatku menjadi sasaran empuk pihak yang tidak suka. Begitulah dunia usaha. Akan selalu ada persaingan, benci dan menjatuhkan. Dan aku merasakan itu. Beruntung aku bukan orang yang mudah terbawa perasaan, walaupun orang tuaku sangat terganggu dengan gosip itu. "Bu, besok ada pertemuan dengan PT. Karya Manunggal jam 10. Tadi Bu Siska telepon minta ibu untuk datang. Kantor mereka rencananya mau pindah jadi mereka mau membahas masalah instalasi untuk kantor yang baru dan pembongkarannya." Aku mendengarkan penjelasan Wina pegawaiku untuk agendaku besok. Bersyukur sekali awal tahun sudah ada beberapa proyek masuk. " Oke Win. Saya nggak ada acara kok besok. Kamu telepon saja mereka dan bilang besok saya datang." ucapku kemudian yang di sertai anggukan dari Wina. Esoknya jam 10 tepat aku sudah duduk manis di kantor PT. Karya Manunggal. Pak Arik selaku pimpinannya menjelaskan apa saja yang dia butuhkan untuk proses pindah kantor. Satu jam berlalu meetingpun selesai dengan beberapa kesepakatan dari kami. Pak Arik ini relasi yang tidak pernah rewel dan sering memberikan job kantornya padaku. Istrinya juga sangat baik dan suka mempromosikan usahaku ke teman-temannya. "Jadi mulai bulan depan bisa dikerjakan ya Bu Tari?" pertanyaan Bu Siska yang duduk di sebelah Pak Arik memecah lamunanku. "Iya Bu. Nanti mulai awal bulan kami akan cicil pekerjaannya. Pokoknya info-info aja kalau perlu apa-apa." jawabku sambil mengulas senyum. Kami berlima keluar meninggalkan ruang meeting. Aku kebetulan membawa Pak Untung karyawanku yang memegang tanggung jawab tentang kelistrikan. "Langsung pulang Bu Tari? Nggak main disini dulu?" Goda Bu Siska. "Iya Bu saya langsung aja, kebetulan tadi saya nebeng Pak Untung. Kalau saya masih main disini kasih dong Pak Untungnya." selorohku yang di sambut tawa Bu Siska. "Ya udah, hati-hati ya. Kapan-kapan main kesini lagi." Hubungan ku dengan relasi selalu dekat. Andai saja mereka tahu, pasti tidak akan ada gosip yang tidak-tidak itu. "Besok di siapkan saja ya Pak yang diperlukan buat pindahannya kantornya Pak Arik." kataku memberi arahan ke Pak Untung, saat kami terjebak macet di lampu merah. "Baik Bu, nanti saya kondisikan anak-anak." Tringggg...... Satu notifikasi di HP ku memecah kesunyian diantara aku dan Pak Untung. Aplikasi berwarna hijau itu tiba-tiba ramai dengan pemberitaan beruntun. Ku masukkan ponselku kedalam tas tanpa berniat untuk membukanya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD