Cinta Mertua

532 Words
"Hallo, Assalamualaikum Bu." sapa Mentari ketika panggilan teleponnya di jawab di seberang sana. "Waalaikum salam nak. Alhamdulilah gimana kabarmu?" Tanya Bu Endah sang mertua. "Sehat Bu. Ayah bilang Bapak mau jemput Adnan." "Iya. Kasihan Bapakmu kesepian. Kalau ada Adnan kan ada yang nemanin kami. Kamu juga biar nggak kerepotan. Kalau sudah mulai ke kantor. " Jelas Bu Endah lagi. "Kapan Ibu sama Bapak kesini?" Tanya Mentari. "Habis ini nak. Kalau kamu sudah kasih ijin Bapak sama Ibu sekarang juga berangkat kesana." Terdengar jelas suara sumrigah disana, dan Mentari tak ingin meredupkannya. "Baik Bu. Tari tunggu kedatangannya." Mentari meletakkan ponselnya di nakas. Menghela napas berat. Di pandanginya kedua buah hati yang masih terlelap pulas. Jujur berat bagi Mentari untuk berpisah dengan anaknya, tapi dia juga tak ingin menjadi egois dengan tak mengijinkan mertuanya membawa sang putra. Mereka sangat menyayangi Ahsan dan Adnan, rasa sayang yang juga sama untuk Mentari. Saif hanya dua bersaudara, kakak lelakinya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Jarak yang lumayan jauh menjadi menghalang mereka untuk sering bertemu. Jadi bukan wajar jika mertuanya lebih dekat denganya dan kedua putranya. Pelan di tutupnya kamarnya kemudian, di arahkannya kakinya ke kamar Adnan. Dia harus menyiapkan baju dan keperluan yang akan di bawa  Adnan ke rumah kakek dan neneknya. Sebuah kopor kecil sudah terisi penuh dengan beberapa potong baju, peralatan mandi dan juga botol-botol s**u Adnan. Di tariknya resleting kopor itu dan segera di bawanya keluar kamar.  Tepat pukul 4 sore kedua mertua Mentari sudah tiba di rumahnya, mereka di sambut dengan hangat oleh Ayah dan Ibu Mentari. Sedangkan Mentari sendiri sibuk mendandani putranya.  Ahsan dan Adnan berlari menghambur ke arah Opa dan Omanya. Mereka berebutan meminta duduk di pangku sang Opa. Pak Ahmad dan Bu Sari yang menyaksikan cucu-cucunya gembira tampak saling melemparkan pandangan dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih ya nak, sudah mengijinkan Bapak dan Ibu membawa Adnan." kalimat yang terucap dari bibir Bu Endah di tangapi senyum ringan Mentari. Dia mengambil duduk di sebelah orang tuanya.  "Oma mau bawa dek Adnan? Abang boleh ikut?"celetuk si sulung Ahsan. Bu Endah tampak binggung hendak memberikan jawaban. Di tatapnya Mentari yang melamun tanpa sadar.  "Abang mau ikut Oma juga?" tanya Bu Endah sambil membelai rambut tebal cucunya itu. Balita itu hanya menganguk menjawab pertanyaan sang nenek.  "Ijin dulu sama Ibu ya nak."Ahsan lantas turun dari pangkuan Omanya dan berjalan kearah Ibunya. Mentari memandangi wajah sulungnya yang begitu mirip dengan suaminya, Saif. Bibirnya tersenyum dengan kaku saat jari-jari mungil itu menautkan gengaman.  "Boleh ya Ibu. Kasihan nanti adek gak ada temannya." rayunya.  "Tapi nanti Oma sama Opa repot kalau kalian berdua ikut. Trus nanti Ibu sama siapa di rumah kalau semua ke rumah Oma?"kata Mentari dengan memasang wajah sedih.  "Kan Ibu ada nenek sama kung disini. Abang janji gak nakal Ibu." permohonan Ahsan dengan wajah polosnya membuat Mentari menghela napas.  "Iya boleh. Tapi janji ya nggak boleh nakal."kata Mentari selanjutnya.  Dengan berat Mentari mengijinkan kedua putra nya ikut mertuanya. Di bantu kedua ibunya mereka menyiapkan barang yang akan di bawa balita itu.  Mobil yang membawa Ahsan dan Adnan sudah menghilang di belokan jalan. Sepi! Ini lah hari yang akan Mentari lewati setelahnya. Di tutupnya pagar rumah. Hari ini dia harus memulai mengerjakan apa yang mesti dikerjakannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD