Hati orang tua mana yang tidak terluka melihat sang putri berselimut duka. Pelukan dan kata-kata penguatan seakan sirna begitu saja, menyaksikan bahwa akan begitu berat masa depan yang akan di hadapi anaknya. Wanita berumur senja itu mendekat, mengelus kepala anaknya yang berbalut jilbab instan warna coklat pucat.
"Istigfar nduk!"di bisikannya kalimat itu berulang-ulang. Berharap memberi kekuatan untuk sang anak menerima kenyataan.
"Ingat, Allah tidak akan memberatkan ujian hambanya. Allah tahu kamu bisa melewati ini semua. Kasihan anak-anakmu masih kecil." Tak ada jawaban, hanya isakan tanpa suara yang terdengar pilu.
"Kasihan Saif jika kamu masih seperti ini. Perjalanannya akan semakin berat. Ikhlaskan!"
"Benar kata Ibumu Tari. Sabar, ikhlaskan. Masih ada kami yang selalu menyayangi kamu. Kamu gak sendiri."berat bagi sang Ayah berkata begitu, karena dia tahu ini juga tidak mudah bagi mereka.
Hari-hari selanjutnya bagi neraka di rumah bercat biru itu. Tak ada lagi Mentari yang ceria, tak ada lagi suara nya yang memenuhi seluruh ruangan. Yang tampak hanya wajah pucat tanpa gairah hidup. Mata bulat yang penuh dengan lingkar hitam. Tubuh yang kian hari kian kurus, karena engan di berinya makanan. Segala cara sudah mereka lakukan. Kalimat-kalimat penenang, kata-kata penghiburan tiap hari berkelebatan namun tak ada satu pun yang mampir dan mengerakkan hati Mentarai untuk bangkit.
Beruntung dua balita yang ditinggal pergi ayahnya itu tak pernah rewel, mereka tahu sang Ibu sedang berjibaku dengan pikirannya yang sulit menerima kenyataan. Kedua orang tua dan mertuanya pun bergantian tinggal disana. Doa-doa tak henti mereka lantunkan, untuk almarhum Saif, untuk Mentari dan puteranya berharap Allah melapangkan jalan dan menyadarkan Mentari dari keterpurukan yang berkelanjutan.