Tamparan Keras

408 Words
 Satu bulan berlalu, tapi tidak ada yang berubah dari Mentari. Semua anggota keluarga sudah kehabisan cara untuk membujuknya. Hingga di suatu siang di bulan kedua semenjak kepergian Saif datanglah dua puluh orang ke rumahnya. Dua puluh orang dengan wajah sama-sama memprihatinkan seperti Mentari. Bu Sari menyilahkan mereka duduk di ruang tamu, menanyai maksud kedatangan mereka. "Kedatangan kami kemari pertama sebagai silaturahmi, karena semenjak kepergian Pak Saif baru hari ini kami bisa datang kesini. Yang kedua kami ingin menanyakan kelanjuttan nasib kami ke Bu Mentari, selaku pimpinan CV."begitulah kalimat pembuka dari Pak Arman selaku perwakilan karyawan. Sungguh mereka sebenarnya juga tidak tega, ditengah masa berduka menanyakan kejelasan nasib, namun mereka juga punya tanggung jawab terhadap keluargannya. Bu Sari yang didampingi suaminya menghela napas berat. Mengetahui kenyataan bahwa masih ada tanggung jawab atas nasib beberapa orang karyawan putrinya. Dengan sedikit gemetar di mulailah dia bicara. "Saya sebagai orang tua mengucapkan terima kasih atas kedatangan kalian disini. Saya tahu ada banyak hal yang harus diperhatikan di kantor selepas kepergian Saif. Kami juga sudah beberapa kali mengatakan hal ini pada Mentari, sayang dia masih belum bisa diajak bicara. Bahkan kami juga sudah mulai kehabisan cara untuk menyadarkannya. Mungkin dengan kehadiran kalian disini dia bisa kembali seperti dulu." "Kami juga tidak tega Bu, menuntut kejelasan seperti ini. Tapi kami juga punya tanggung jawab atas keluarga kami. Jadi dengan berat hati kami memberanikan diri datang kesini."Lanjut Pak Arman memberi penjelasan. "Saya mengerti dan paham sekali dengan kondisi kalian. Tunggulah saya akan coba memanggilnya kesini."wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya, bergegas memasuki kamar putrinya. Begitu kamar terbuka pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah perempuan lemah yang sedang memandangi foto suaminya, terkadang air mata menetes tanpa isak tanggisan. "Mereka ada diluar. Mereka datang ingin bertemu denganmu. Temuilah! Kelanjutan nasib mereka bergantung padamu sekarang."dengan lembut sang ibu memakaikan jilbab instan warna biru yang diambilnya dari lemari. Dengan langkah gontai paksanya kakinya menuju ruang tamu, sesampainnya disana beberapa pegawai perempuannya menghambur memeluknya. Lagi, tangisnyapun pecah. Setelah beberapa menit berlalu dengan isakan mereka pun membawa tubuh Mentari untuk duduk dikursinya. "Bu, maaf jika kami datang kesini menanyakan nasib kami, padahal jelas ibu masih berduka. Tapi kami juga tidak punya pilihan. Nasib kami, anak, istri sekarang bergantung pada ibu. Mohon segera ke kantor Bu. Banyak hal yang harus ibu tangani." Satu persatu di pandanginya wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang sama putus asa sepertinya. Lalu tiba-tiba dia tersadar alangkah dzalimnya dia menelantarkan nasib mereka, oh Allah. "Maafkan saya!" Lirih Mentari mengiba. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD