Bab 1
Puluhan daun-daun kering berjatuhan karena dorongan angin yang tak terlalu kuat. Namun karena memang mereka yang sudah rapuh tak mampu menahan dorongan dari angin tersebut sehingga membuat mereka harus rela terpisah dari tangkai yang mengabadikan mereka. Sebuah daun kering jatuh tepat di atas paha lelaki tampan yang sedang duduk disalah satu bangku taman. Tangannya mengulur untuk mengambil daun tersebut dan sengaja memainkannya.
Aldo Maheswara, lelaki dewasa yang sudah berumur 30 tahun, memiliki bisnis yang bisa dibilang sukses. Memiliki hobi memasak membuatnya terjun membuka bisnis di dunia kuliner. Kini dia sudah memiliki 2 Restoran di Yogyakarta. Kota istimewa bagi semua orang, termasuk bagi Aldo. Walaupun dia tidak lahir di kota ini, namun dia sudah tinggal di sini sejak usianya masih 2 tahun. Jadi, dia memiliki banyak kenangan di kota yang memiliki banyak destinasi wisata ini. Kecintaannya pada kota ini membuatnya berat untuk keluar dari kota ini, walaupun hanya sekedar berlibur sebentar.
Pandangannya lurus ke depan. Memperhatikan beberapa anak kecil yang asik bermain kejar-kejaran. Dari raut wajah mereka, terlihat sekali jika mereka hidup tanpa beban. Tawa yang mereka hasilkan sangat natural tanpa dibuat-buat, membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas.
“Maaf ya aku lama. Ketemu temen sekolah jadi ngobrol sebentar,” kata gadis muda yang tiba-tiba datang dan mengambil duduk disamping Aldo.
Aldo menoleh ke samping kanannya. Dia menyunggingkan senyum manisnya yang langsung membuat gadis itu terpesona.
“Nggak apa-apa. Aku juga sengaja datang lebih awal,” jawab Aldo pelan.
“Tumben ngajak bertemu di sini?” tanya Asoka lembut.
Asoka Darapuspita, gadis muda yang baru lulus kuliah setahun yang lalu. Memiliki hobi menari membuatnya memiliki cita-cita menjadi seorang koreografer. Mengambil kuliah di jurusan seni tari untuk memperdalam keahliannya. Kini setelah lulus kuliah, dia akan mempraktikkan ilmu yang sudah dia dapat selama duduk di bangku kuliah.
“Besok kamu ada acara?” tanya Aldo lembut. Matanya menatap dalam ke mata Asoka.
Asoka menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Dia sengaja mengosongkan jadwal besok untuk beristirahat setelah seharian ini latihan untuk persiapan lomba tiga hari lagi.
“Temani aku dalam acara pembukaan Restoran baruku,” kata Aldo langsung. Baru kali ini dia membawa seorang gadis dalam acara pembukaan Restoran barunya. Biasanya dia hanya meminta keluarganya untuk menemaninya, namun kini dia sudah punya wanita spesial membuatnya selalu ingin melibatkan wanita itu dalam setiap aktivitasnya.
“Kapan?” tanya Asoka pelan.
“Besok pagi. Jam 9 aku jemput kamu.” Jawab Aldo.
“Tak perlu jemput, aku akan berangkat sendiri. Lagi pula aku juga udah tau tempatnya kok,” jawab Asoka sambil menyunggingkan senyumnya.
Aldo tersenyum tipis sebagai jawaban. Dia mengacak rambut Asoka dengan gemas. Entah mengapa dia bisa melabuhkan hatinya kepada gadis muda yang masih sering bersikap manja. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak menyukai gadis yang manja dan kekanak-kanakan. Mungkin karena tingkah Asoka yang seringkali membuatnya merasa dibutuhkan.
“Aku antar kamu pulang.” Kata Aldo lembut. Dia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Asoka untuk mengikutinya berdiri.
“Aku bawa motor sendiri,” jawab Asoka pelan.
“Ya sudah aku antar kamu dari belakang,” jawab Aldo ramah. Kemudian dia menggandeng tangan Asoka untuk pergi dari taman.
Asoka tersenyum lebar sambil melihat tangannya yang digandeng erat oleh Aldo. Salah satu alasan mengapa Asoka menyukai Aldo karena sikap Aldo yang selalu hangat dan selalu menjaganya. Seperti ini, dia yang jelas-jelas sudah membawa kendaraan namun Aldo masih bersikeras mengantarnya pulang dengan mengikutinya dari belakang. Rasanya Asoka menjadi perempuan yang sangat beruntung di dunia ini karena menjadi kekasih Aldo. Dia tak salah melabuhkan hatinya kepada laki-laki yang usianya jauh diatasnya.
***
Dress merah selutut dengan variasi broklat di sekitar lengannya tampak pas ditubuh Asoka. Rambut hitamnya sengaja dia gerai dengan menyematkan jepit bunga di rambut sebelah kirinya. Sentuhan make up natural membuatnya terlihat semakin cantik. High hills dan tas selempang yang berwarna senada dengan dressnya menambah penampilannya.
Kakinya yang jenjang membuatnya mampu melangkahkan kaki dengan lebar. Lenggak-lenggok tubuhnya membuatnya seperti model yang sedang memperagakan gaun indah dari desainer ternama di atas red karpet. Sepasang suami istri yang sudah tak lagi muda memperhatikan penampilan anaknya yang sempurna. Mereka merasa heran penampilan anaknya pagi ini, tidak seperti biasanya dia berpakaian seperti ini.
“Kamu mau kondangan kemana?” tanya Eni lembut.
“Aku ada acara, Bu,” jawab Asoka pelan. Dia menghampiri kedua orang tuanya dan mengulurkan tangannya untuk menyalami mereka berdua. Bibirnya mengecup punggung tangan Ibunya dengan hormat.
“Asoka pergi dulu ya, Pak Bu.” Kata Asoka sopan berpamitan dengan kedua orang tuanya.
“Hati-hati ya, Nak,” jawab orang tua Asoka bebarengan.
“Iya, Pak Bu,” jawab Asoka. Setelah dia menjawab orang tuanya, dia segera melangkahkan kakinya keluar rumah dan menghampiri taksi yang sudah dipesannya tadi.
Mobil yang ditumpangi oleh Asoka membelah jalan Soekarno-Hatta. Suasana jalanan terlihat lenggang, pantas saja karena hari sudah mulai siang jadi banyak masyarakat yang sudah beraktivitas di tempat kerjanya dan banyak siswa yang sudah belajar di kelas. Jika pagi dan sore hari suasana jalan sangat padat dengan kendaraan besi yang berjajar. Asoka memperhatikan sekeliling jalan. Pohon-pohon yang ditanam di pinggir jalan tampak asri dan subur. Membuat udara menjadi sejuk dan segar.
Tidak butuh waktu lama sopir taksi membawa Asoka ke tempat tujuannya. Asoka yang tahu jika dia sudah sampai segera mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya kepada sopir taksi.
“Kembaliannya, Mbak.” Kata sopir taksi sambil menyerahkan beberapa uang receh.
“Ambil saja, Pak.” Jawab Asoka menolak sambil menyunggingkan senyum.
“Terima kasih, Mbak,” ucap laki-laki paruh baya itu dengan senyum mengembang.
Asoka membalas senyum sopir taksi yang dia taksir usianya tidak jauh dari usia Ayahnya. Diusia senjanya dia masih mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Seringkali Asoka menemui orang tua yang harusnya beristirahat di rumah tapi masih mencari uang untuk makan sehari-hari. Dalam hatinya dia selalu berdoa supaya dia bisa memuliakan kedua orang tuanya saat mereka sudah tua.
Asoka keluar dari taksi dengan pelan. Dia mengatur nafas, entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa karena dia akan bertemu dengan keluarga Aldo untuk yang kedua kalinya. Asoka memang sosok yang mudah mengakrabkan diri, namun dia juga merasa gerogi jika bertemu dengan keluarga kekasihnya. Rasa natural yang pastinya selalu dirasakan oleh semua orang saat akan bertemu dengan keluarga kekasihnya.
Asoka melangkahkan kakinya dengan pelan memasuki Restoran yang mewah. Restoran kedua Aldo memiliki desaign yang berbeda dari Restoran sebelumnya. Jika Restoran Aldo sebelumnya memakai desaign klasik dengan banyak ukiran kayu, kini Restoran barunya memiliki desaign lebih modern bahkan untuk masakan yang disajikan juga banyak dari luar negeri.
Aldo menyunggingkan senyumnya begitu melihat Asoka yang mendekat ke Restorannya. Aldo yang semula berbincang dengan beberapa orang, berpamitan keluar sebentar untuk menjemput Asoka. Tangannya dia lingkarkan ke pinggang ramping Asoka begitu jarak mereka sudah dekat. Asoka tersenyum lebar melihat kekasihnya dalam balutan jas hitam.
“Kamu cantik sekali, Sayang,” kata Aldo memuji kecantikan Asoka.
Asoka menundukkan kepalanya. Dia merasa malu mendapat tatapan mata kagum dari kekasihnya. “Modus,” jawab Asoka pelan.
“Aku serius. Kamu cantik sekali hari ini,” kata Aldo yang tak mengalihkan pandangan matanya dari wajah cantik Asoka.
“Memang aku tidak pernah terlihat jelek.” Jawab Asoka sambil mengedipkan matanya menggoda Aldo.
Aldo terkekeh pelan melihat tingkah genit kekasihnya itu, dia mencubit gemas pipi chubby Asoka yang tampak memerah karena blush on dan bullshing akibat rayuan Aldo tadi.
“Kamu sendiri?” tanya Aldo pelan.
“Iya. Aku naik taksi,” jawab Asoka dengan lembut.
“Pulangnya aku antar ya. Tidak boleh menolak,” kata Aldo memberi ultimatum.
Asoka tertawa pelan mendengar ucapan kekasihnya. Dia merasa dijaga oleh seorang pangeran tampan yang tidak ingin dia tersakiti. “Iya, Sayang.” Kata Asoka sambil menoel hidung mancung Aldo.
Aldo hanya mengedipkan matanya menanggapi tingkah kekasihnya. Dia menggandeng Asoka untuk masuk ke Restoran barunya karena sebentar lagi acara pembukaan Restoran barunya akan dimulai. Asoka menghampiri kedua orang tua Aldo dan menyalami mereka berdua.
“Selamat pagi, Om Tante,” Kata Asoka sopan.
Endah dan Antok menyunggingkan senyum begitu melihat gadis muda kekasih putranya itu. Mereka tersenyum lebar saat Asoka mencium tangan mereka dengan sopan. Endah ingin menjadikan gadis muda ini sebagai menantunya, namun dia tidak bisa apa-apa karena bukan dia yang menjalani.
“Kamu apa kabar?” tanya Endah ramah.
“Alhamdulillah baik, Tante. Tante sendiri sehat, ‘kan?” tanya Asoka tak kalah ramah.
“Alhamdulillah, Tante juga baik dan sehat,” Jawab Endah dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya.
“Om juga sehat, ‘kan?” tanya Asoka mengalihkan pandangannya kepada Antok.
“Alhamdulillah. Om juga sehat,” jawab Antok ramah.
“Ma, Pa acara sebentar lagi mulai,” kata Aldo menyela pembicaraan orang tuanya dan Asoka.
“Sayang, kamu di samping aku ya,” kata Aldo berbisik kepada Asoka.
Asoka tersenyum sambil menganggukkan kepala sebagai jawaban. Kemudian mereka berempat berjalan pelan menuju salah satu meja yang sudah ada tumpengnya. Aldo tidak pernah melepaskan pelukannya di pinggang Asoka hingga membuat Asoka risih karena banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua.
Aldo berdiri dengan tegak. Badannya yang atletis membuatnya semakin berwibawa. Di samping kanan ada kedua orang tuanya dan di samping kirinya ada kekasih yang sangat dia cintai. Aldo berdehem pelan sebelum mulai bicara.
“Selamat pagi, Semuanya.” Kata Aldo mengawali sambutannya.
Semua orang menjawab salam dari Aldo dengan serentak. Hal itu membuat Aldo menyunggingkan senyum dengan lebar.
“Salam sejahtera bagi kita semua yang saya sayangi dan cintai. Pertama-tama marilah kita ucapkan puji syukur kepada Allah SWT karena kita semua masih diberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita bisa berkumpul di sini. Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan hadir di acara ini saat kalian memiliki kesibukan lainnya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya yang sudah mendoakan saya sehingga saya bisa mencapai titik ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada Asoka, kekasih saya yang selalu memberikan support dan dukungan kepada saya.” Kata Aldo dengan senyum yang mengembang. “Semoga Restoran ini bisa sukses seperti Restoran saya sebelumnya, dan semoga Restoran ini bukan Restoran terakhir yang saya miliki.” Lanjutnya. “Tidak perlu banyak kata, mulai hari ini Ecco Restoran resmi saya buka.” Kata Aldo yang langsung disambut tepuk tangan yang meriah dari semua orang yang ada di dalam Restoran ini.
“Silakan kalian mencicipi hidangan yang sudah saya siapkan.” Kata Aldo mempersilakan tamu undangannya untuk mencicipi hidangan yang sudah dia siapkan.
Aldo menggandeng tangan Asoka menemui beberapa kenalannya, sekalian dia mengenalkan Asoka kepada rekan kerjanya. Asoka hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan saat dia berkenalan dengan rekan kerja Aldo yang belum pernah dia temui sebelumnya.
Acara yang sederhana namun terlihat meriah karena banyaknya tamu undangan yang datang.
Musik klasik mengalun indah mengiringi acara makan mereka, beberapa kelompok saling tertawa saat salah satu dari mereka membuat lelucon.
***
“Tante dengar dari Aldo kamu ikut lomba cipta tari ya?” tanya Endah disela-sela makan malam mereka.
“Iya, Tante. Doakan Asoka supaya Asoka mendapatkan hasil yang memuaskan,” jawab Asoka menjawab pertanyaan dari Mama Aldo.
Saat ini Asoka sedang berada ditengah-tengah keharmonisan keluarga Aldo. Setelah acara pembukaan Restorannya selesai, dia mengajak Asoka ke rumah dan ikut makan malam bersama keluarganya. Dia ingin Asoka cepat akrab dengan keluarganya, karena Aldo tidak akan main-main dengan hubungannya kali ini. Pernah patah hati dengan seseorang membuatnya tidak ingin merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Dan Aldo sangat yakin dengan pilihannya sekarang, dia tidak akan melepaskan Asoka dan akan menjadikan Asoka pendamping hidupnya.
“Tante pasti mendoakan yang terbaik untukmu.” Jawab Endah dengan ramah.
“Sejak kapan, Kak Asoka suka menari?” Tanya Rena, adik Aldo yang masih duduk di bangku SMA.
“Emmmm … sejak Kak Asoka berusia lima tahun,” jawab Asoka sambil mengingat-ingat pertama kali dia memegang sampur. Sampur adalah selendang yang sering digunakan seorang penari dalam menunjukkan aksinya. ”Saat itu ada acara ulang tahun di sekolah Kak Asoka dan Kak Asoka jadi salah satu pengisi acara dengan menampilkan tari.” Cerita Asoka dengan tersenyum. Dia mengingat masa kecilnya yang masih lugu dan belum mengerti bagaimana cara menggunakan sampur.
“Kalau Rena lebih suka menyanyi,” jawab Rena pelan.
“Kamu dalami apa yang kamu suka, insyaallah kamu akan mendapatkan hasil yang sesuai kamu harapkan,” kata Asoka memberi semangat.
Aldo menyunggingkan senyum. Dia tidak menyangka jika Asoka bisa secepat ini akrab dengan keluarganya. Apalagi dia melihat Rena yang nampaknya menyukai Asoka, dilihat dari interaksi mereka berdua. Rena adalah tipe anak yang tidak mudah bergaul dan lebih cenderung pendiam, namun interaksinya dengan Asoka barusan membuat Aldo yakin jika Rena nyaman dengan hadirnya Asoka ditengah-tengah keluarga mereka.