Story ME and YOU
Aku Auristela Riana,gadis lugu berpenampilan biasa saja,memang aku orangnya tidak mau ribet,tapi kalu sudah sedikut dipoles make up jangan diragukan lagi,mas galen saja sampai klepek-klepek,mas galen lebih suka penampilan ku tanpa make up katanya aura kecantikannya semakin terpancar dengan tipe kulit wajah ku yang putih,anehnya tetap saja bila melihat penampilan ku asal maksudnya asal jadi bila dirinya main ke rumah ku. Dia akan mengomel dari daun sampai ke akar-akarnya,padahal dia sendiri yang tidak ingin menunggu lama,mungkin penampilan ku harus dipersiapkan dari subuh bila dirinya ingin bertamu ke rumah ku,sungguh melelahkan tapi tetap sayang. Pendidikan ku hanya lulusan S1,bunda dan bapak menyuruh ku untuk tetap lanjut tapi aku menolaknya karena jika seperti itu kapan aku bisa membalas jasa mereka walau sekarangpun aku tidak terlalau besar memberinya karena sesuai dengan bajet gajih ku juga. Sikap ku ceria namun memang sedikit cuek,tapi kata bunda aku terbilang lemah lembut,sebenarnya aku jauh dari kata itu apalagi kalau sama orang yang sudah deket,aku sudah seperti cacing kepanasan contohnya seperti bercerita. Dari segi wajah aku tidak terlalu memperdulikannya,jika orang berkata aku cantik ya aku terima begitupun sebaliknya. Suara ku beda dengan wanita pada umumnya yang terbilang lembut,aku memiliki tipe suara serak-serak basah,sedikit besar tapi tetap enak didengar ko,buktinya mas galen tidak pernah absen untuk dengar suara ku. Tinggi ku hanya 160 cm,sehingga bisa mendekati berat badan yang ideal. Rambut ku sepinggang,tidak terlalu panjang dan pendek. Aku ingin sekali memotong rambut,tapi tidak diizinkan mas galen.
Jalinan asmara ku tetap sama menetap pada satu pria dewasa,bila aku hitung hubungan kami sudah hampir tiga tahun terhitung saat aku baru saja bekerja. Kami dipertemukan pada salah satu acara pesta pernikahan sodara ku,aku tahu dia dari bayu sahabat kecil ku. Beberapa hari setelah acara,bayu menelpon ku meminta izin untuk memberikan nomer posel ku pada seseorang,awalnya aku ragu tapi setelah mendengar penjelasannya,aku percaya dia adalah orang baik. Paginya bayu meminta izin,malamnya aku menerima pesan dari nomer yang asing,isi chatnya ungkapan langsung dan tidak kata basa-basi. Chat kami terus berlanjut,begitu juga dengan pertemuan yang kami lakukan disetiap weekand itupun bila kami sama-sama menginginkan dan tidak lelah. Entah kenapa setial pertemuan menjadikan kami begitu dekat,setiap kami ingin bertemu membuat aku merasa nyaman,dia yang serba tahu membuat pengetahuan dan pola pikir ku menjadi terarah. Aku merasa dia pria yang aku cari,wawasannya luas,nyambung saat diajak ngobrol dan diskusi,baik dan selalu mengerti kondisi ku. Jika perhatian aku merasa ya seperti perhatian sesama teman saja belum merasakan yang aneh sebab hubungan kami hanya teman biasa. Seiring berjalannya waktu kenapa perasaan ku mejadi beda,berasa nyaman dan ingin menjadi bagian dari hidupnya. Tapi semua itu aku tahan dan mencoba menghapusnya,sampai akhirnya semesta menjawab pertanyaan dan keinginan ku,mas galen dengan tegas mengutarakan cintanya padaku. Tepatnya malam hari,dihari ulang tahun ku. Dia memasangkan cincin dijari ku tanda keseriusannya ingin menjalin hubungan ini,aku memeluknya erat dan tangisanpun pecah,ternyata orang yang aku cinta juga mencintai ku.
Setelah menjadi pacar resminya,mas galen melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar spesialis ahli bedah,awalnya dia tidak mau untuk mengambil studinya diluar negri dengan alasan tidak ingin jauh dari ku,tapi berkat usaha ku terus meyakinkan dan menyemangatinya dia segera menyiapkan semuanya. Saat kami LDR kami saling mengerti,kadang aku ingin tertawa dengan hubungan ini,saat ingin mengabari harus ada waktu yang tepat mengingat wilayah kami berbeda. Pernah sekali,saat mas galen telpon ingin memberi tahu bahwa dia sudah mengirim pesanan ku ternyata aku tidur,membuat dia marah beberapa hari,saling memberikan perhatian tidak pernah berubah walau hubungan kita LDR,karena aku tahu dari sikap dingin mas galen dia itu tipe orang yang manja. Aku sangat bersyukur walau selama dua tahun ini menjalani hubungan yang dibilang terbentang laut dan arah angin kami tetap baik-baik saja,sampai baru lima bulan kemarin mas galen lulus mendapatkan gelar yang dia dan keluarga inginkan termasuk aku. Dia sekarang kerja disalah rumah sakit terbesar,hampir dekat dengan tempat kerja ku. Sesekali aku juga sering pulang bareng,saat mas galen sudah tidak ada jadwal oprasi atau malamnya dia menginap disana.
Aku sudah menceritakannya sama bapak dan mamah soal hubungan ku,ku lihat bapak dan mamah sangat senang dan penuh syukur. Mereka hanya meminta pesan pada ku,untuk tetap menjaga kehormatan sebagai wanita dan jangan terlalu lama dalam menjalin hubungan ini. Aku hanya mengiyakan saja,sebab aku sudah percaya sama janji mas galen,dia tidak akan ingkar. Jarak rumah ku dan mas gelen hampir dekat hanya sepuluh menit dari rumah ku,mas galen sering meminta ku untuk mengunjungi mamah dan papah kerumah walau dia tidak ada,aku menurut itupun hanya sesekali saat hari libur kerja. Sebenarnya aku masih malu sebab papah dan mamah mas galen terus menggoda ku,berkat permintaannya sekarang aku jadi terbiasa,mereka seperti orang tua ku sendiri kadang aku juga menginap lalu tidur dikamar mas galen. Keluarganya sangat ramah,menghormati ku dan sangat enak diajak ngobrol,tidak lupa jika berbicara rupa keluarga mas galen semuanya nyaris sempurna,mungkin karena mamah dan papahnya juga. Sampai aku nyaris paham sikap anggota keluarga ini terutama sikap mas galen,ternyata dia mengambil semua dari papahnya. Sikap yang tegas,cuek,dingin dan tidak ada basa basi yang paling aku suka darinya jika sudah senyum dan menyelesaikan masalah sangat-sangat the bast. Mamah lika selalu menasehati ku untuk paham tentang sikap mas galen,yang kadang nada bicaranya suka nyelekit,memang benar faktanya sampai bila itu sedang terjadi,yang aku bisa lakukan hanya mendengarkan apa yang dia pinta,menuruti keinginannya dan sikap ku harus lemah lembut untuk membujuknya. Pertama kali aku berada disituasi itu rasanya seperti mencengkram,aku sangat sakit hati sama tuturan bicara mas galen,tapi saat hubungan kami terus berlanjut membuat ku paham dengan sendirinya dan mulai peka dengan susana hatinya. Tapi,jika sudah romantis mas galen bisa membuat ku nangis kejer sebab dia melakukan hal diluar nalar ku,walau romantis dia berbeda dengan yang lain,nada bicara yang formal itu ciri khasnya dan senyum tipis menjadi karismanya,banyak dari staf rumah sakit mengidolakannya. Bila dibilang cemburu aku pasti cemburu tapi bukan mas galen namanya bila tidak bisa meluluhkan hati ku lagi,dengan kata-kata dan perlakuannya bisa menaikkan hidung ku naik keluar angkasa. Jujur mas galen itu jarang banget ngomong dan senyum,sekali senyum cuman beberapa detik sisanya kekehan kecil dan senyum tipis,bicarapun singkat dan padat. Padahal kata mamah lika waktu kecil dia sangat cerewet dan murah senyum tapi soal kepintaran sama sekali tidak berubah. Sampai akhirnya kita saling melengkapi dan hati ku sudah melabuh padanya. Begitupun mas galen perhatian dan kasih sayangnya sudah sepenuhnya dia tunjukan pada ku,dia rela melakukan apapun demi aku,sabar menghadapi sikap ku yang kadang manja dan menerima kondisi aku dan keluarga ku. Walau bila bicara kasta,aku dengannya sangatlah jelas berbeda. Aku hanya seoarang anak kepala sekolah disalah satu sekolah SMA dan mas galen anak pemegang perusahaan-perusahaan besar diberbagai kota. Pria yang sedang aku ceritakan ini adalah mas AURIGA GALEN REZATTA.
o0o
Hari minggu waktunya santai dirumah. Hujan diluar sangat deras.
"Yeah,gak bisa santai diayunan."
Nana datang,duduk disamping ku sambil membawa cemilan kerupuk udang,
"Kak,kak galen gak main kesini?"
"Dia lagi sibuk,"
"Sibuk,sibuk dan sibuk. Eh,tahunya lagi sama cewek lain."
Aku langsung membungkap mulutnya,
"Sembarangan,pacar saya bukan pria seperti itu."
"Berani jamin?"
"Memang ya anak ini benar-benar menyebalkan."batin ku
"Ini buktinya,"
Aku menunjukan jam tangan yang dibelikannya kemarin sebelum dia izin tidak bertemu untuk beberapa hari.
"Iya,iya percaya deh yang setia mah. Tapi kenapa belum dihalalin?"
Dia melengos pergi,
"BULAN DEPAN GAK ADA UANG TAMBAHAN JAJAN!"
Teriak ku kesal. Bapak dan mamah menghampiri ku,roma-romanya sih ada hal serius yang mau dibicarakan.
"Kak,"
"Iya pak,kenapa?"
"Bagaimana perkembangan hubungan kalian,apakah galen sudah membahas hal yang lebih serius?"
"Iya,nak. Kalian sudah saling dewasa bukan lagi masanya pacaran seperti anak kuliahan atau sma."
Ucapan mamah dan bapak membuat hati ku tersentuh sedikit sakit,mengingat mas galen jika bicara seperti itu pasti akan membuat alasan namun alasan yang dia ucapkan memang benar,aku juga setuju dan tidak bisa mengelaknya. Dia tidak mau terburu-buru mengambil keputusan,lagi pula dia baru saja lulus dari lanjutan studynya. Aku paham soal itu tapi beda halnya dengan para orang tua.
"Sudah ko pak,jika sudah waktunya juga dia akan temui bapak,"
"Bukannya bapak menekan hubungan kalian,tapi kamu itu perempuan tidak baik bila menikah di usia yang harusnya sudah berkepala dua,"
Aku hanya bisa mendengarkan,
"Kalau laki-laki itu pantas mau kapan saja,sedangkan perempuan itu jelek. Nanti apa kata orang,"
"Ya,jangan dengerin kata orang pak. Yang ngejalaninkan ria,yang menentukan bahagia itu ria juga bukan orang lain. Semuanya butuh proses pak."
"Iya proses,tapi kalau kelamaan juga tidak baik,nak. Nanti kamu keburu jadi perawan tua,kamu sudah dewasa nak."
"Coba,kamu perlaham yakinkan lagi mas mu itu. Bicara baik-baik agar dia paham posisi kamu."
"Dia sudah mapan,pekerjaan sudah tetap,apa lagi yang mau dicari?apa selama ini kamu hanya jadi mainannya saja ri?"
"Mas galen,gak seperti itu pak."
Ucap ku lembut,takut menyinggung hati bapak,
"Jika dalam waktu dekat ini,galen belum juga menghalalkan kamu,terpaksa bapak sandingkan kamu dengan anak teman bapak. Dia jauh lebih siap daripada pacar kamu."
Bapak bangkit dari duduk,tinggal aku dan mamah. Aku menangis pelan,terasa mamah memeluk ku dari samping.
"Sabar ya sayang,bapak seperti itu karena dia sayang sama kamu. Dia sangat mengkhawatirkan kamu. Semua orang tua melakukan suatu hal pasti ada baiknya dan tidak pernah salah,walau cara melakukannya atau menyampaikannya sedikit salah."
"Maafkan ria ya mah,gara-gara ini bapak jadi marah."
"Bapak bukan marah tapi hanya mengingatkan saja,takut kamu dan galen lupa."
Aku membalas pelukannya,kasih sayangnya sangat kerasa.
"Mamah selalu mendoakan kamu,semoga kalian segera menjadi sepasang kekasih halal."
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya,
"Mamah ingin jadi pengikut bapak?"
"Mendekati,sebab mamah pengen cepet nimang cucu."
Ucap mamah mencium dahi ku sebelum menyusul bapak. Aku tetap stay,menikmati tangisan hujan yang semakin kencang. Sampai menyentuh pikiran dan akal sehat ku.
"Perkataan bapak memang benar,apa jadinya kalau aku jadi perawan tua. Ih amit-amit deh."
"Apa,tadi kata bapak aku mau dijodohin,astaga ini gak boleh sampai terjadi aku harus cepat-cepat bilang mas galen."
Saat aku mau ke kamar,ponsel ku berdering,ternyata mas galen melakukan vidio call.
"Kenapa mas?"
Aku tersenyum manis padanya,dilihat mas galen sedang istirahat diruangannya.
"Kenapa wajah kamu,merah begitu?"
Jawab mas galen dengan nada khasnya yang super datar tapi buat terngiang-ngiang dipikiran.
"Habis makan yang pedas,"
"Sejak kapan kamu suka pedas?"
Tuhkan galaknya mulai lagi,dia memang tidak bisa dikibulin.
"Aku tadi nyobain samyang punya nana,"
"KA GALEN,KAK RIA BOHONG!"
Teriak nana,membuat ku senyum dibuat-buat dihadapannya. Aku berjalan menuju kamar karena disini hujan semakin deras jadi bising,
"Kenapa?"
Nadanya mulai lembut,
"Kangen..."
Ucap ku,tubuhku sudah tengkurap.
"Gimana kerjaan lancar?sudah gajihan dong?"
"Ish,mas galen. Aku ke barat kenapa kamu jadi ke timur?"
Ucap ku malas,lagi-lagi mas galen mengalihkan pembicaraan. Memang itu taktiknya agar aku tidak sedih. Dia menyunggingkan senyumnya tipis,dia selalu tahu dimana saatnya becanda dan serius.
"Timur kebarat,selatan ke utara tak juga aku berjumpa."
Dia sekilas menyanyikan liriknya,
"Iya seperti aku sama mas,"
Ucap ku jutek,
"Siapa yang mulai? Saya hanya melanjutkan."
"Mas..."
Ucap ku lirih,
"Sabar ya,dua hari lagi kita ketemu."
"Gak bohong?"
"Coba dingat-ingat lagi,apa saya pernah ingkar dengan ucapan saya?"
Aku menggelengkan kepala,memang iya mas galen selalu menepati janji dan jujur.
"Sudah jangan khawatir,nanti kalau saya sudah sampai rumah,langsung kabari kamu. Kamu bisa peluk saya sepuasnya."
"Lama,"
Ucap ku sedikit mendayu,mas gelan sudah tidak heran dengan sikap ku seperti ini.
"Orang sabar disayang calon suami."
Saat mas gelen bicara begitu jadi keingat obrolan tadi sama bapak.
"Kapan kata calonnya dihapus?"
"Ria lagi ngode dokter galen?"
"Apa harus saya perjelas wahay dokter tampan?"
Mas galen tersenyum simpul,
"We just need to bide our time,hubby."
Lagi-lagi mas galen membuat hati ku jadi nari salto,
"Buktikan jangan hanya bicara."
Aku mengulum senyum,
"Sayang,sudah dulu ya. Jadwal oprasi mas sebentar lagi."
"Apa,tadi bilang apa?"
Aku sengaja mengejeknya,soalnya jarang sekali dia memakai panggilan itu,hanya diwaktu tertentu saja. Dia terlalu gengsi,
"Saya yakin kamu bukan penggantinya Hj.bolot."
Kalau deket sudah aku jambak rambutnya.
"Jadi telpon cuman mau ini saja,gak ada yang mau dibicarakan gitu?"
"Ada,tapi lebih bagus secara langsung. Bisa peluk juga."
Aku mengulum senyum,
"Gak jeles,"
"Matikan telponnya,"
"Siapa yang telpon?"
"Ya sudah saya matikan dulu ya,"
"Mas..."
Ucap ku rendah,mas galen sudah tahu apa pesan yang tersirat dari panggilan itu,
"Love you,"
Ucapnya pelan,aku mengangguk dan tersenyum. Dilihat layar ponsel ku sudah kembali seperti semula.
"Andai kamu tahu mas,perasaan ku sekarang. Bagaimana diceramahi bapak,dengan nada bicara tidak ada halusnya. Mas,kamu satu-satunya tempat keluh kesah ku selama ini,apa jadinya aku tanpa kamu mas AURIGA GALEN REZATA,seperti kopi tanpa gula apalagi susu."
"Aku gak mau jadi perawan tua." teriak ku didekapan boneka panda besar.
Aku memejamkan mata,ditemani boneka panda pemberian mas galen saat kelulusannya kemarin. Memang kebalik sih,harusnya aku yang kasih hadiah sama mas gelen. Tidak apalah,dia sudah punya semuanya kecuali istri.
SELAMAT MEMBACA❤