1
"Jangan main-main dengan hati. Jika patah, akan sulit diobati."
**
TERIK matahari pagi menjelang siang memang tidak bisa diragukan panasnya. Membuat orang-orang bergumam bahwa neraka sedang bocor. Tidak jarang banyak yang memilih menghindari terkena sinar panas ini, entah memakai jaket, payung, sunscreen atau tidak keluar rumah.
Namun, berbeda dengan ketiga gadis cantik yang kini harus rela skincare mahalnya sia-sia karena luntur oleh keringat. Berdiri di depan tiang bendera selama satu jam dengan panas menyengat seperti ini, sudah cukup memberi hukuman untuk mereka bertiga, namun belum memberikan efek jera.
"Gue nggak kuat, sumpah!" Lirih gadis dengan name tag Friska Adeline di seragamnya.
"Apalagi gue," sahut gadis satunya lagi, Angeline Patricia.
"Bentar lagi kelar." Gadis yang paling cantik di antara ketiganya buka suara. Matanya melirik ke arah jam yang melekat di pergelangan tangan, kemudian menarik seulas senyum. "tiga ... dua ... satu."
Bel pertanda pergantian pelajaran telah dibunyikan. Ketiga gadis itu kini tersenyum lebar, hukuman berdiri di tiang bendera selama satu jam itu telah usai. Mereka bergegas mengambil tas yang diletakan di pinggir lapangan, kemudian berlari menuju kantin walaupun jam pelajaran masih berlanjut.
"Ah, gara-gara Bu Kartini, nih. Rok gue robek lagi," ujar Friska. Tadi, saat buru-buru masuk ke sekolah dengan melompat pagar, mereka bertiga kepergok sehingga rok Friska robek.
"Halah, biasanya juga lo robek sendiri," celetuk Angel.
"Bacot lo," kesal Friska. Gadis itu beralih menatap gadis yang sejak tadi tidak banyak berbicara di sampingnya.
Tatapan Angel beralih pula, menatap ke arah yang Friska lihat. Gadis itu kemudian menggelengkan kepala.
"Libra Athasia Malik!" Tegur Angel, lengkap dengan menoyor kepala Libra sehingga gadis itu tersadar dari lamunannya.
"s****n lo, Ngel!" Kesal Libra.
"Lo ngebengongin apaan sih, Li?" Tanya Friska, walaupun ia sudah bisa menebak apa yang dipikirkan sahabatnya itu.
"Paling si Athar." Angel memutar kedua bola matanya, "udah deh, Li. Mending lo ganti target lo. Udah mau setahun lo ngejar dia, nggak ada respon sampe sekarang."
"Gue mau tetep usaha, Ngel." Keras Libra. Keinginannya sudah bulat, semenjak menetapkan bahwa Athar Haris Sanjaya adalah targetnya, Libra tidak pernah berpaling ke siapapun.
Libra Athasia Malik, cewek populer dengan puluhan ribu pengikut di i********:. Terkenal dengan deretan mantannya yang ganteng dan tajir, ditambah ia adalah seorang model.
Tidak ada yang kurang di diri Libra. Segudang prestasinya pun patut diberikan apresiasi, contohnya, mengumpulkan lima puluh mantan dalam sebulan, menghabiskan uang puluhan juta dalam sebulan, dan masih banyak lagi prestasi Libra yang tidak bisa disebutkan.
"Lo tuh cantik, tajir, tenar. Lo tinggal pilih cowok manapun yang lo mau, sekali lo kedipin juga dapet. Kecuali Athar, Li. Mending lo cari yang lain," ujar Friska yang setujui oleh Angel.
"Gue jadi lo, udah mundur kali. Malu gue ditolak mentah-mentah, apalagi sampe satu sekolah tahu." Cuit Angel, membuat Libra semakin panas.
"Lo berdua jangan bikin gue bete, deh." Kesal Libra. Mood-nya hari ini sedang bagus, karena tadi pagi Athar membuat story i********:. Walaupun isi story cowok itu hanya pemandangan di depan rumahnya, hal sekecil itu saja sudah membuat Libra bahagia.
Friska memutar kedua bola matanya. Kemudian, cewek itu menyuruh kedua sahabatnya buru-buru menoleh. "Eh, tuh, pangeran lo."
Libra dan Angel refleks menoleh, benar ucapan Friska. Athar bersama teman-temannya sedang berjalan menuju kantin sekarang.
Senyum Libra mengembang lebar, gadis itu buru-buru mengambil cermin dari dalam tasnya, merapikan rambut dan membubuhkan liptint berwarna merah ke bibir tipisnya.
"Gue udah cantik belum?" tanya Libra ke kedua sahabatnya.
"Lo natural aja udah cantik," ujar Angel.
"Berarti gue cantik banget kan, sekarang?" Libra terkekeh. Gadis itu kembali membuka tas sekolahnya, kemudian mengambil sebuah kotak yang berisikan kue.
"Hari ini lo bawa apa?" tanya Friska.
"Ini cheese cake, buatan gue yang ke dua puluh lima. Kali ini enak," kata Libra. Semenjak tahu kalau Athar sangat menyukai Cheese cake, Libra mati-matian belajar membuat kue itu.
"Doain gue!" ujar Libra. Gadis itu beranjak dari tempatnya. Mengatur napas dan jantungnya yang berdetak setiap kali bertemu dengan Athar. Meski yang didapati gadis itu selalu penolakan.
Kedatangan Libra ke meja Athar mendapatkan perhatian dari teman-teman Athar.
"Eh, Neng Libra. Mau ketemu Athar?" sambut Ridho dengan senyum manis.
Libra hanya tersenyum seadanya, kemudian memasang senyum termanis saat ia menatap Athar. Yah, meski Athar tidak menatapnya.
"Athar, ini gue bawain Chesee cake." Kata Libra dengan manis. Cowok manapun akan luluh jika melihat Libra saat ini. Namun, Athar tidak terpengaruh sama sekali.
"Waw, Cheese cake. Kesukaan elo, Thar." Komentar Yoga, salah satu dari tiga sahabat Athar.
"Nengok dong, Thar. Tuh, Libra cantik banget." Bisik Rangga, karena ia tepat berada di sebelah Athar.
Athar berdecak. Kemudian menoleh dengan tatapan kesal. Gadis ini, tidak ada lelahnya mengganggu walaupun sudah mendapat penolakan ratusan kali dari Athar.
"Apaan si?" Suara dengan nada kesal itu sudah biasa Libra dengar keluar dari bibir Athar untuknya.
Masih memasang senyum manis, Libra menyodorkan kotak makanan berisi Cheese cake buatannya. "Nih, buat lo. Gue bikin susah payah loh, harus lo makan."
"Gue nggak minta."
Libra kembali mendapat penolakan. Tidak apa-apa, hatinya sudah terbiasa. Gadis itu kembali menarik senyum, senyum yang hanya ditampilkannya untuk Athar.
"Kali ini, harus lo makan." Gadis itu kemudian mengangkat lengannya, menampilkan segaris luka melepuh. "Tangan gue sampe melepuh kena oven waktu bikin cheese cake ini. Lo harus makan, ya!"
Libra meletakan kotak makan itu di atas meja. Kemudian melambai dan segera kembali ke tempat sahabatnya.
"Thar, bingung gue." Ridho menggelengkan kepalanya, "Libra tuh idaman. Cantik, seksi, famous. Kurang apa?"
"Kurang pinter," sahut Athar dengan cepat.
Memang benar, dari segi fisik, Libra adalah juara. Namun, dari segi otak, mungkin Libra berada di garis bawah.
"Lo nggak perlu cewek pinter kali, lo udah jenius," ujar Rangga.
"Kalau gue jadi lo, nggak bakal gue sia-siain deh, cewek kayak Libra." Yoga menambahkan.
"Lo semua aja kalo gitu yang pacaran sama dia," ucap Athar enteng. Cowok itu lebih memilih membuka ponselnya, dan membuka aplikasi Free Fire.
"Awas lo, ntar nyesel."
Athar terkekeh, kemudian menoleh pada Rangga. "Nggak akan."
To be continued
Hallo guys! Ada yang ngikutin aku dari zaman cerita Zahrana?
Ceritanya aku revisi dan tokohnya aku ganti, semoga suka