Bab 1
"Uh....nyeri sekali."
"Aku bisa membantumu kalau kamu mau?"
Mata Eshana membola ketika melihat Gatra ada di ambang pintu ruangannya.
"Me-membantu apa Tuan?"
Eshana reflek menutup pakaiannya karena Gatra tiba-tiba melangkah masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.
Eshana lalu mengikuti arah pandang mata Gatra yang tertuju pada sesuatu yang membuatnya kelimpungan seharian ini.
"Aku penasaran, apa yang kamu lakukan sampai kamu belum pulang dari kantor jam segini? Dan kenapa bajumu selalu basah setiap di jam-jam tertentu?"
#
"Persiapan meting sudah sampai mana? Jangan sampai terlambat. Aku tidak mau ada masalah lainnya!"
Mahesa yang berada di belakangnya mengangguk. Dia memeriksa sekali lagi keperluan meting kali ini sesuai dengan apa yang diminta oleh Gatra. Jangan sampai ada yang ketinggalan.
Belum sempat Mahesa menjelaskan lagi, langkah Gatra terhenti.
"Di mana Eshana?"
"Kenapa dia belum ke ruanganku?"
Mahesa juga celingukan mencari keberadaan sekretaris Gatra itu.
"Pergilah ke ruang meting, aku sendiri yang akan mencarinya di ruangannya!"
Mahesa menatap Gatra bingung, kenapa Gatra malah harus repot-repot mencari Eshana.
"Ya sudahlah, Tuan Gatra memang biasanya susah di tebak."
Mahesa berbalik lalu pergi ke ruang meting untuk menyiapkan semuanya. Sementara Gatra mencari sekretarisnya itu.
Langkahnya terhenti di depan ruangan Eshana yang sedikit terbuka. Matanya menatap tajam ke arah depan, di mana pintu ruangan Eshana sedikit terbuka.
"Lagi-lagi dia melakukan itu. Tapi dalam berkas lamarannya dulu dia belum menikah. Lalu kenapa dia bisa mengalami hal itu?" batin Gatra.
Pikiran Gatra berkelana ke beberapa hari yang lalu di mana dia tak sengaja melihat apa yang dilakukan Eshana.
Membayangkan sesuatu yang seharusnya tak Gatra lihat membuat tubuhnya memberi reaksi yang berbeda.
Gatra tiba-tiba merasa tak nyaman di bagian tubuhnya. Lalu dia melihat ke bawah di mana sesuatu tengah menonjol di sana.
"Sialan!"
Gatra segera pergi dari sana menuju ke ruangannya sendiri. Lalu dengan cepat dia masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Astaga, Gatra. Bisa-bisanya kamu langsung bereaksi seperti ini!"
Gatra berkali-kali mengumpat juga mendesah ketika membayangkan sesuatu yang membuatnya kembali mandi air dingin.
Sementara itu, di ruangan Eshana, dia meringis kesakitan ketika dia harus kembali memompa miliknya sendiri.
"Uh, kenapa harus nyeri. Aku kan mau meting sebentar lagi. Kalau aku telat, pasti Tuan Gatra kembali mengomeliku." keluh Eshana.
Cairan putih itu terus merembes mengenai pakaian kerjanya yang membuat Eshana juga harus berganti pakaian.
Dia dengan cepat menyelesaikan apa yang dia lakukan dan berganti pakaian. Lalu menyimpan alat pompanya dan membuang isinya ke dalam wastafel ruangannya.
Eshana keluar dari ruangannya berbarengan dengan Gatra yang juga baru selesai mandi.
Bruk....
"Aduh...."
Kening Eshana menabrak d**a bidang Gatra.
"Tu-tuan, maaf. Aku nggak sengaja."
Eshana mengusap keningnya pelan. Ia tak berani melihat ke arah Gatra yang masih berdiri di dekatnya.
"Perhatikan jalanmu, dan itu aku ke ruang meting sekarang!"
Gatra melenggang pergi dari sana, sementara Eshana menyusulnya di belakang dengan langkah yang cepat.
"Sial, malah lihat lagi. Kenapa dia jadi lebih berbahaya dari pada proposal yang akan aku periksa?" batin Gatra.
Gatra berusaha fokus dengan apa yang saat ini akan di kerjakan nya. Sementara Eshana berusaha untuk menahan nyeri di bagian tubuh miliknya.
"Mahesa segera mulai metingnya!"
Mahesa mengangguk meskipun dia penasaran dengan apa yang terjadi pada Bosnya dan juga partnernya. Mengingat pakaian yang mereka kenakan berbeda dari sebelumnya.
"Aku nggak salah lihat kan? Pakaian Tuan Gatra dan Eshana kenapa berbeda? Hanya meting seperti biasa, tapi kenapa harus berganti pakaian?" batin Mahesa.
Gatra yang menyadari tatapan Mahesa pun berdeham.
"Mahesa!" tegur Gatra.
Eshana sempat berjingkat kaget mendengar teguran Gatra pada Mahesa.
Mahesa segera memulai meting nya. Beberapa berkas sudah berada di depan Gatra begitu juga dengan Eshana yang akan langsung memilah proposal yang di rasa masih bisa di ajukan dan di pertimbangkan.
Meting kali ini terasa berat dan lama karena Eshana merasa miliknya terus berdenyut dan dia merasa jika cairan putih akan segera keluar.
Gatra yang melihat wajah Eshana mulai tak nyaman pun menatap semua orang yang ada di sana dengan datar.
"Meting kali ini cukup sampai di sini. Berikan laporan keuangan yang aku minta tadi. Sebelum ketemu selisihnya kalian tetap harus menyelesaikan nya. Ku beri waktu sampai besok siang!"
Setelah itu, Gatra meninggalkan ruangan meting itu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Eshana yang sudah tak tahan dengan apa yang dia rasakan segera bergegas pergi ke ruangan nya lagi dan menutup pintu itu dengan cepat.
"Aku sudah memompanya tadi, kenapa malah hari ini banyak sekali keluarnya. Apa karena akhir-akhir ini aku merasa stres?"
Eshana meringis saat cairan putih itu mulai keluar dari miliknya.
Antara lega dan kesakitan tapi Eshana tak bisa berpikir dengan jernih.
Sedangkan di ruangannya, Gatra sudah menyuruh Mahesa untuk mengirim berkas-berkas yang lain ke bagian divisi masing-masing.
Matanya terpaku pada layar monitor yang ada di depannya di mana ada video CCTV yang terhubung dengan ruangan Eshana.
"Dia sering melakukan ini di kantor? Apa dia baru saja melahirkan? Tapi tak ada laporan sama sekali perihal itu?" gumam Gatra.
Gatra meneguk ludahnya kasar ketika tak sengaja melihat benda milik Eshana yang sejak tadi mengeluarkan cairan putih kental itu.
Gatra mengusap wajahnya kasar. Dia langsung mematikan layar monitor itu dengan cepat.
"Berengsek sekali kamu Gatra, bisa-bisanya kamu mengintip karyawanmu sendiri. Dan malah punya fantasy liar kepadanya. Kenapa kamu jadi m***m begini?"
Gatra merutuki dirinya sendiri. Dia membuat pengaturan CCTV itu hanya tersambung kepadanya dan bukan kepada yang lainnya.
Eshana yang merasa semuanya sudah keluar akhirnya merasa lega. Benda kenyal miliknya tak lagi merasakan sakit seperti tadi.
Eshana melihat jam di mejanya, di mana ternyata sudah waktunya pulang. Dia memeriksa kembali pekerjaannya apakah Gatra masih membutuhkannya atau tidak.
"Tuan Mahesa, apakah ada pekerjaan yang lain yang harus aku urus?"
Mahesa memeriksa file miliknya, lalu dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu bisa pulang cepat hari ini. Kebetulan Tuan Gatra juga akan segera pulang, tak ada lembur. Jadi kamu bisa istirahat dengan cepat."
Eshana mengangguk mengerti. Dia lalu berpamitan pada Mahesa dan segera pulang menuju apartemennya.
Gatra yang sudah berada di parkiran melihat Eshana yang juga akan pulang. Namun matanya menyipit ketika tangan Eshana tiba-tiba di tarik oleh seorang laki-laki dengan kasar.
"Bagus ya kamu, seharian tidak mau angkat telfon ku. Kau mau jadi apa hah?"
Gatra melihat laki-laki itu dengan tatapan dingin.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa bersikap kasar pada Eshana?"
to be continued