Bab 6

1008 Words
"Mahesa, kamu siapkan semua yang akan kita bawa selama perjalanan bisnis ini. Jangan sampai ada yang terlewat." Mahesa mengangguk, dia lalu keluar dari ruangan Gatra. Sementara Gatra kembali membaca informasi terkait Eshana lebih teliti lagi. "Dia menderita selama ini tapi setiap di kantor dia bersikap biasa saja. Ternyata masih ada wanita seperti dia." Gatra mendapat pesan dari Mahesa jika semua sudah siap dan Mahesa menunggunya di depan lobi. Gatra melangkah ke ruangan Eshana untuk memanggil gadis itu. Namun, lagi-lagi Gatra terpaku di depan pintu ketika Eshana sedang memompa miliknya dan mengeluarkan cairan putih itu. "Dia melakukan nya lagi?" batin Gatra. Gatra meneguk ludahnya kasar saat tak sengaja melihat benda bulat yang penuh itu. Gatra merasakan hal berbeda setiap kali melihat Eshana saat ini. "Uh, ini sakit. Dari semalam lupa nggak di pompa. Mana penuh, aduh, sshh.. Kalau nggak cepat nanti di omelin Tuan Gatra, sama Mahesa." Eshana menahan ringisan nya saat ini ketika alat pompa itu terus bergerak mengeluarkan cairan putih. Entah setan apa yang membawa Gatra masuk ke dalam. "Perlu bantuan?" Mata Eshana membola, dia lalu berbalik dengan mencengkeram erat kemejanya yang basah. Di depannya, sudah berdiri Gatra yang terus menatapnya. Eshana melirik ke arah pintu yang ternyata sudah tertutup rapat. "Tu-tuan Gatra, ban-bantuan apa yang Tuan maksud?" Mendadak Eshana tergagap karena ketahuan Gatra sedang melakukan apa. "Aku sebenarnya penasaran, di CV yang kamu ajukan, kamu bahkan belum menikah dan punya anak. Lalu kenapa kamu bisa melakukan ini setiap hari?" Mata Eshana semakin membelalak karena ternyata Gatra mengetahuinya. "Tu-tuan, bagaimana Tuan tahu?" tanya Eshana takut. Wajahnya mendadak panik, takut jika Gatra berpikir jika dia berbohong saat ini. "Kenapa panik? Kamu melakukan kesalahan? Aku hanya bertanya, kamu tinggal menjawab nya saja bukan!" Eshana menundukkan kepalanya karena takut pada Gatra tapi miliknya kembali berdenyut nyeri saat ini. "Shh ... ah ....." Sekarang tubuh Gatra bereaksi lain ketika mendengar suara Eshana. "Tu-tuan, aku akan menjelaskan nya nanti. Tapi bisa kah Tuan memberiku waktu sebentar. Ini sudah terlalu sakit dan aku tidak tahan lagi." rintih Eshana. Gatra meneguk ludahnya berkali-kali mendengar itu. Langkah Gatra semakin mendekat ke arah Eshana. "Mau ku bantu?" tanya Gatra pelan. Eshana terpaku di depan Gatra. Dia tak tahu harus menjawab apa saat ini. Terlebih ketika tawaran Gatra sedikit ambigu untuknya. "Tuan mau bantu apa?" tanya Eshana lagi. "Menghabiskan isinya sampai kamu nggak kesakitan lagi. Bukannya banyak bayi yang melakukan itu, Esha?" Glek ... Eshana tak menyangka jika Gatra akan langsung mengatakan hal itu. Namun dia menjadi takut jika Gatra akan berpikir macam-macam tentangnya. Gatra mulai berjongkok di depan Eshana. Melihat pakaian Eshana yang sudah semakin basah. "Kita nggak punya banyak waktu Eshana. Sebentar lagi pasti Mahesa akan ke sini. Bagaimana?" Eshana menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Wajah Gatra yang sudah ada di depannya membuat Eshana tak bisa berpikir jernih lagi. Dan baru kali ini dia melakukan hal ini. "Tapi apa Tuan bisa menjaga rahasiaku?" "Sure, ini murni hanya urusan ku dan juga urusan mu diluar pekerjaan, Esha." Esha sempat kembali terdiam, tapi beberapa saat kemudian dia menganggukkan kepalanya pelan. Gatra yang melihat itu tersenyum tipis. Perlahan tangannya membuka kemeja Eshana, lalu Gatra menatap benda yang sejak beberapa hari lalu mengganggu pikirannya. "Benar-benar diluar dugaan. Indah sekali. Oh, apa aku termasuk salah satu laki-laki m***m itu sekarang?" batin Gatra. Berkali-kali Gatra meneguk ludahnya kasar dan itu membuat Eshana semakin gelisah. "Eshana, aku akan mulai melakukan nya." Eshana tak menjawab, dia menggigit bibir bawahnya sembari meremas kedua sisi bajunya. Wajah Gatra mendekat, hembusan napas Gatra menerpa kulit tubuh Eshana. Dan .... Mata Eshana langsung terpejam ketika benda kenyal itu masuk ke dalam mulut Gatra. Gatra seperti bayi sekarang yang minum langsung dari pusatnya. Eshana menutup mulutnya agar tak bersuara karena apa yang dilakukan Gatra ternyata berefek lain pada tubuhnya. Mata Gatra melihat ke atas, melihat wajah Eshana yang merah karena perbuatannya. Sementara tangan Gatra yang terbesar meraih benda satunya lagi dan memegangnya lembut. Gatra tak bisa berhenti saat ini, apa yang sejak beberapa hari lalu hanya bisa di lihatnya sekarang sudah ada dalam genggaman nya. "Tuan..... uh ... pelan-pelan, sakit." rintih Eshana. Gatra tak sengaja melakukan itu karena dia mulai hilang kendali. Setalah di rasa yang pertama sudah tak ada lagi, Gatra berpindah ke yang satunya yang sejak tadi cairannya sudah membasahi tangannya. "Tuan Gatra lahap sekali, benar-benar seperti bayi. Uh .... rasanya berbeda dengan aku memakai alat. Aku mau lebih dari ini." batin Eshana. Gatra menikmati apa yang dia lakukan meskipun tubuh bagian bawahnya sudah terasa sangat sesak saat ini. Tangan Eshana yang semula mengepal perlahan merambat ke kepala Gatra, menyentuh rambut Gatra dan meremas rambut itu pelan. Gatra sempat berhenti, lalu dia melirik ke atas yang ternyata Eshana menikmati apa yang saat ini mereka lakukan. "Sial..... " Gatra kembali melanjutkan sampai merasa milik Eshana sudah habis. Perlahan dia melepaskan milik Eshana dan melihat wajah gadis itu yang merah karena ulahnya. Napas nya tersengal, sementara Gatra mengusap sudut bibirnya. Fokus Gatra saat ini teralihkan dengan mata sayu dan juga bibir merah Eshana. Detik berikutnya Gatra mengambil ponselnya untuk menghubungi Mahesa. "Kamu berangkat dulu, Mahesa. Aku akan menyusul setelah urusan ku selesai dengan Eshana." Tanpa menunggu jawaban Mahesa, Gatra menyambar bibir Eshana dan menciumnya. Eshana yang belum bisa berpikir jernih langsung membelalak. Dia menahan tubuh Gatra dengan kedua tangannya. Ciuman itu berlangsung lama, sampai Eshana memukul d**a Gatra pelan. Gatra melepaskan ciumannya dan melihat bibir Eshana yang bengkak karena ulahnya. "Tu-tuan, apa yang Tuan lakukan tadi? Kenapa tiba-tiba mencium ku juga?" Eshana menatap Gatra tak mengerti, dia merasa jika Gatra sedang melecehkan nya. "Apa Tuan menganggap ku w************n?" Mata Gatra membola, dia memaki dirinya sendiri yang tak bisa menahan diri tadi. "Tidak, aku tidak berpikir seperti itu." "Maaf, aku lepas kendali." "Aku ingin melakukan penawaran dengan mu." Eshana menatap Gatra penuh pertanyaan, dia menutup tubuh bagian depannya dengan erat. "Menikah dengan ku, dan aku akan membantu mu membalas semua orang yang menyakitimu. Tap aku punya satu syarat untukmu." "Berikan aku sarapan setiap hari seperti tadi." Eshana semakin terkejut mendengar itu. "A-apa maksud Tuan, apa Tuan menyelediki semua tentang ku? Dan menikah? Apa Tuan bercanda?" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD