Rahmadi tiba di depan jendela kamar Laila, lampu kamarnya masih menyala. Rahmadi tahu Laila punya kebiasaan membaca buku sebelum tidur, dengan pelan pria itu mengetuk jendela kamar Laila. Gadis itu tampak terkejut saat mendapati Rahmadi berdiri di depan jendela kamarnya. Setelah memeriksa sekeliling, Laila menginjinkan Rahmadi untuk masuk ke kamarnya, dengan sekali lompatan Rahmadi berhasil masuk ke kamar Laila.
“Mas kok bisa ada di sini?” Tanya gadis itu setengah berbisik, bapaknya memang sudah pamit tidur beberapa saat lalu, namun Laila tidak ingin membuat keributan yang bisa membangunkan bapaknya.
“Kemasi barang-barangmu, Dik. Bawa seperlunya saja, kita tidak akan pergi lama.”
Laila mundur dua langkah karena terkejut dengan ucapan Rahmadi.
“Apa maksudmu, Mas? Pergi ke mana?” Cerca Laila kebingungan.
“Tidak ada banyak waktu, Dik. Segera kemasi barang-barangmu, nanti Mas jelaskan di perjalanan.” Rahmadi menarik Laila ke depan lemari pakaian untuk mengambil beberapa pakaian. Laila yang baru menyadari maksud Rahmadi segera menghentikan kegiatan Rahmadi memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
“Mas! Kamu serius dengan ide itu? Kamu benar-benar serius?” Tanya Laila dengan mata berkaca-kaca.
Rahmadi bergerak hendak merengkuh Laila tapi gadis itu lebih dulu menghindar.
“Mau bagaimana lagi, DIk? Hanya ini satu-satunya cara yang kita miliki. Bapakmu sudah tetap dengan keputusannya untuk menikahkan kamu dengan Bagus. Mas lebih baik mati daripada melihat kamu menikah dengan orang lain.” Keputusasaan jelas terdengar dalam suara Rahmadi.
“Nyebut, Mas! Ingat masih ada Yang Maha Kuasa!”
“Apa kamu punya cara yang lebih baik dari ini, Dik? Tidak ada. Aku hanya tidak sanggup kehilangan kamu, Dik.”
“Lalu bagaimana dengan Bapak, Mas? Mas tidak memikirkan perasaanku? Bapak sudah tua, Mas. Beliau pasti terluka jika aku kabur, hanya Bapak satu-satunya orang tuaku yang tersisa, Mas. Aku tidak ingin menjadi anak durhaka,” jelas Laila sambil berurai air mata. Rahmadi tertunduk di tempatnya, hatinya hancur mendengar keputusan Laila.
“Apa kamu tidak mencintaiku, Dik? Apa kamu takut meninggalkan semua kemewahan ini untuk pergi bersamaku? Bukannya kita sudah berjanji untuk bersama? Aku janji kita tidak pergi lama, Dik. Setelah menikah kita akan kembali lagi, kamu bisa merawat bapakmu setalah itu.”
***
Tuduhan Rahmadi seperti petir di siang hari yang menyambar Laila, gadis itu terluka karena perkataan Rahmadi. Rahmadi harusnya paling paham dengan Laila, bukan hanya sekali Laila menjelaskan bahwa ia tidak terlalu mengangungkan harta, gadis itu bahkan tidak peduli jika Rahmadi yang ia cintai hanyalah seorang buruh tani.
“Aku nggak akan sesakit ini kalau aja kalimat itu nggak keluar dari mulutmu, Mas.” Laila sangat kecewa dengan rahmadi, suaranya bahkan bergetar, matanya menatap Rahmadi nanar.
“Benar, Mas. Aku wanita yang sepicik itu. Aku takut kehilangan semua kemewahan ini untuk hidup menderita bersamamu. Keputusanku sudah bulat, silahkan Mas pergi dari sini.” Laila mendorong Rahmadi menuju jendela, ia tidak memperdulikan pembelaan yang keluar dari mulut kekasihnya itu.
Setelah mengunci jendela, Laila merebahkan diri di ranjang dan mulai menangis. Ia merasa bersalah karena berkata demikian kasar kepada Rahmadi. Seharusnya Rahmadi mengerti posisi Laila yang harus memikirkan bapak. Rahmadi mungkin bisa pergi dengan mudah karena tidak memiliki kekhawatiran tentang hal lain, berbeda dengan Laila yang masih memiliki seorang bapak. Jangan kira Laila tidka kecewa dengan keputusan bapaknya menolak Rahmadi, ia sangat kecewa bahkan sempat bertengkar dengan bapak karena perkara itu. Hingga Laila akhirnya menyadari semua keputusan itu diambil karena kekhawatiran bapak terhadap masa depan Laila.
Bapaknya khawatir Laila tidak bahagia dan tugas Laila adalah membuktikan jika Rahmadi adalah pilihan yang tepat untuk kebahagiannya, bukannya malah kabur dan kawin lari. Bapak tentu akan marah karena tindakannya itu, belum tentu bapak akan menerimanya lagi saat ia kembali nanti. Laila dihadapkan pada pilihan sulit, ia ingin bersama Rahmadi tapi restu bapak adalah sesuatu yang sulit didapatkan untuk saat ini. Laila hanya bisa berdoa meminta petunjuk untuk pilihan hidupnya.
***
Matahari sudah meninggi tapi Rahmadi masih betah menutup mata. Pria itu dihinggapi rasa bersalah karena sudah membuat Laila menangis, ia sudah melanggar janjinya sendiri untuk tidak membuat gadis itu terluka. Disaat yang bersamaan ia juga dihinggapi rasa kesal karena Laila menolak idenya untuk kawin lari. Laila harusnya tahu betapa kerasa kepalanya Juragan Darno, pria itu tidak akan pernah merestui keduanya untuk bersama. Rahmadi juga menyadari hari pernikahan Laila dengan Bagus semakin dekat, ia harus segera menemukan cara sebelum Laila resmi menjadi istri lelaki lain.
Rahmadi akhirnya bangkit, ia tetap harus bekerja hari ini. Tempo hari ia menerima permintaan seorang warga untuk membantu panen singkong di sawah. Mungkin sedikit terlambat jika ia berangkat sekarang tapi itu lebih baik daripada ia tidak datang sama sekali. Nyatanya ia tetap memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi setiap harinya.
Rahmadi tidak butuh waktu lama untuk bersiap-siap. Pria itu siap dengan kaos panjang dan topi caping, ia juga membawa sebuah arit yang sudah diasah. Rahmadi tiba di sawah tidak lama kemudian, setelah sedikit berbasa-basi dengan pemilik sawah, Rahmadi segera melaksanakan tugasnya mencabut pohon-pohon singkong.
“Yang benar, Kang?” (Kependekan dari Kangmas, cara memanggil laki-laki yang lebih tua)
“Iya. Ngapain saya bohong perkara ginian? Gosipnya juga sudah menyebar, tanya saja ke yang lain kalau nggak percaya,” jawab si pria yang dipangil Kang oleh lawan bicaranya itu.
“Benar, Di. Kamu nggak tahu saja, tadi di pasar sudah ramai pada ngomongin ini,” sahut pria lainnya menimpali.
Rahmadi tidak bermaksud mencuri dengar tapi orang-orang itu berbicara dengan cukup keras sehingga ia bisa mendengarnya dengan jelas. Rahmadi memang tidak pergi ke pasar hari ini, ia bahkan lupa jika pasar diadakan di kota kecamatan hari ini. Ia terlalu sibuk mengutuk nasibnya yang tidak beruntung sehingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain. Penolakan Laila sungguh sangat membekas id hatinya.
“Dulu di desa ini juga ada yang pakai penglaris. Sudah lama banget tapi, itu waktu saya masih bocah. Sekarang malah sudah punya dua cucu,” kata pria yang tadi dipanggil Kang mencoba bergurau, gelak tawa terdengar menyahuti gurauan pria tadi.
“Bukan penglaris, Kang. Pakai ajian apa gitu, katanya naikin pamor dan menarik rejeki gitu. Itu dulu yang jualan gula merah di pasar kan sampai punya kios jejer-jejer.” Pria lain mengoreksi perkataan temannya.
“Oh iya. Pakai keris gitu ya? Dulu kan setiap malam satu Suro (Nama Bulan pertama dalam penanggalan Jawa) dia bikin acar ruwatan. Itu wayangan bisa semalam suntuk, katanya untuk menyenangkan si empunya keris.”
“Sayang anak cucunya nggak ada yang melanjutkan. Setelah juragan gula itu meninggal, kiosnya kebakaran besar, kini mereka sekeluarga sudah pindah ke kota lain.”
Rahmadi mulai tertarik mendengar percakapan orang-orang itu. Pamor dan kekayaan adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini untuk mencapai tujuannya menikahi Laila. Rahmadi yang penasaran memutuskan untuk ikut mengobrol.
“Benaran ada yang begitu ya, Kang? Kok nggak ada warga yang protes?” Rahmadi bertanya sambil terus mencabut batang singkong.
“Karena pengangan dia itu nggak makan tumbal katanya. Bahkan juragan gula itu sering membantu warga yang kesulitan.”
“Hal-hal begitu sebenarnya masih ada sampai sekarang. Kalian tahu Dusun Dhadap? Itu kan terkenal sebagai tujuan orang-orang yang mau cari pengangan gaib. Kebanyakan yang datang malah orang kota, ada yang pejabat pemerintah, ada juga yang penyanyi terkenal. Banyak sekali kalau mau dicari.”
Rahmadi menganguk diam-diam, ia sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Mereka melanjutkan pekerjaan hingga terdengar suara para wanita memanggil untuk makan siang.
Rahmadi mulai menyusun rencana dalam otaknya. Sepertinya ini jawaban yang ia cari-cari, jawaban yang akan menyelesaikan halangannya untuk menikahi Laila. Rahmadi hanya perlu mengumpulkan sedikit modal untuk mencapai Dusun Dhadap yang terletak cukup jauh dari Desa Sukatani. Rahmadi ingat ia masih memiliki sedikit uang hasil meminjam pada seorang Juragan di pasar. Uang itu niatnya akan ia gunakan sebagai modal melamar Laila tapi uang itu belum ia gunakan sama sekali, karena lamaranya ditolak Juragan Darno. Dengan uang itu rasanya cukup untuk membiayai Rahmadi pergi ke Dusun Dhadap.
Malam harinya, Rahmadi kembali mengendap-endap menuju rumah Laila. Ia sangat merindukan kekasihnya itu, ia harus bertemu Laila untuk meminta maaf sekaligus meminta gadis itu mengulur waktu hingga Rahmadi berhasil memperoleh Ajian yang akan menaikkan pamor dan membuka rejekinya.
“Kalau benar pesugihan, pasti warga desanya sudah ramai protes ke kepala desa. Sudah diarak keliling kampung dia,” sahut laki-laki lain.
“Ya memang aneh, Kang. Bayangkan saja, ia baru berapa bulan kerja di Pulau Sumatera tapi pas pulang sudah bawa duit banyak. Sekarang malah sudah jadi tuan tanah