6. Menyusun Rencana.

1367 Words
“Yang benar, Kang?” (Kependekan dari Kangmas, cara memanggil laki-laki yang lebih tua)   “Iya. Ngapain saya bohong perkara ginian? Gosipnya juga sudah menyebar, tanya saja ke yang lain kalau nggak percaya,” jawab si pria yang dipangil Kang oleh lawan bicaranya itu.   “Benar, Di. Kamu nggak tahu saja, tadi di pasar sudah ramai pada ngomongin ini,” sahut pria lainnya menimpali.   Rahmadi tidak bermaksud mencuri dengar tapi orang-orang itu berbicara dengan cukup keras sehingga ia bisa mendengarnya dengan jelas. Rahmadi memang tidak pergi ke pasar hari ini, ia bahkan lupa jika pasar diadakan di kota kecamatan hari ini. Ia terlalu sibuk mengutuk nasibnya yang tidak beruntung sehingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain. Penolakan Laila sungguh sangat membekas id hatinya. “Dulu di desa ini juga ada yang pakai penglaris. Sudah lama banget tapi, itu waktu saya masih bocah. Sekarang malah sudah punya dua cucu,” kata pria yang tadi dipanggil Kang mencoba bergurau, gelak tawa terdengar menyahuti gurauan pria tadi.   “Bukan penglaris, Kang. Pakai ajian apa gitu, katanya naikin pamor dan menarik rejeki gitu. Itu dulu yang jualan gula merah di pasar kan sampai punya kios jejer-jejer.” Pria lain mengoreksi perkataan temannya.   “Oh iya. Pakai keris gitu ya? Dulu kan setiap malam satu Suro (Nama Bulan pertama dalam penanggalan Jawa) dia bikin acar ruwatan. Itu wayangan bisa semalam suntuk, katanya untuk menyenangkan si empunya keris.”   “Sayang anak cucunya nggak ada yang melanjutkan. Setelah juragan gula itu meninggal, kiosnya kebakaran besar, kini mereka sekeluarga sudah pindah ke kota lain.”     Rahmadi mulai tertarik mendengar percakapan orang-orang itu. Pamor dan kekayaan adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini untuk mencapai tujuannya menikahi Laila. Rahmadi yang penasaran memutuskan untuk ikut mengobrol.   “Benaran ada yang begitu ya, Kang? Kok nggak ada warga yang protes?” Rahmadi bertanya sambil terus mencabut batang singkong.   “Karena pengangan dia itu nggak makan tumbal katanya. Bahkan juragan gula itu sering membantu warga yang kesulitan.”   “Hal-hal begitu sebenarnya masih ada sampai sekarang. Kalian tahu Dusun Dhadap? Itu kan terkenal sebagai tujuan orang-orang yang mau cari pengangan gaib. Kebanyakan yang datang malah orang kota, ada yang pejabat pemerintah, ada juga yang penyanyi terkenal. Banyak sekali kalau mau dicari.”   Rahmadi menganguk diam-diam, ia sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Mereka melanjutkan pekerjaan hingga terdengar suara para wanita memanggil untuk makan siang.   Rahmadi mulai menyusun rencana dalam otaknya. Sepertinya ini jawaban yang ia cari-cari, jawaban yang akan menyelesaikan halangannya untuk menikahi Laila. Rahmadi hanya perlu mengumpulkan sedikit modal untuk mencapai Dusun Dhadap yang terletak cukup jauh dari Desa Sukatani. Rahmadi ingat ia masih memiliki sedikit uang hasil meminjam  pada seorang Juragan di pasar. Uang itu niatnya akan ia gunakan sebagai modal melamar Laila tapi uang itu belum ia gunakan sama sekali, karena lamaranya ditolak Juragan Darno. Dengan uang itu rasanya cukup untuk membiayai Rahmadi pergi ke Dusun Dhadap.      ***   Malam harinya, Rahmadi kembali mengendap-endap menuju rumah Laila. Ia sangat merindukan kekasihnya itu, ia harus bertemu Laila untuk meminta maaf sekaligus meminta gadis itu mengulur waktu hingga Rahmadi berhasil memperoleh Ajian yang akan menaikkan pamor dan membuka rejekinya.   “Kalau benar pesugihan, pasti warga desanya sudah ramai protes ke kepala desa. Sudah diarak keliling kampung dia,” sahut laki-laki lain.   “Ya memang aneh, Kang. Bayangkan saja, ia baru berapa bulan kerja di Pulau Sumatera tapi pas pulang sudah bawa duit banyak. Sekarang malah sudah jadi tuan tanah     “Mas!” Laila menghambur ke pelukan Rahmadi, meninggalkan cucian bajunya yang belum selesai dijemur.   “Jangan nangis, Dik. Maafkan perkataan Mas kemarin ya?” Tangan kanan Rahmadi bergerak ke wajah Laila, menghapus bulir air mata yang menetes dari mata kekasihnya.   “Nggak, Mas. Harusnya aku yang minta maaf udah demikian kasar sama kamu,” ujar Laila smabil masih memeluk Rahmadi. Siang ini Rahmadi nekat menemui Laila di rumahnya, karena Rahmadi tahu Juragan Darno sedang tidak ada di rumah. Rahmadi membiarkan Laila menangis hingga puas, ia terus mendekap gadis itu sambil mengelus kepala Laila berusaha menyalurkan ketenangan. Rahmadi memang sempat kesal dengan keputusan Laila yang menolak idenya untuk kawin lari. Sayangnya hal itu tidak lantas membuat rasa cinta Rahmadi luntur, pria itu tetap tidak tega melihat Laila menangis.   Setelah Laila mulai tenang, Rahmadi melonggarkan pelukannya.   “Kedatangan Mas untuk minta doa restumu, Dik.” Rahmadi memulai pembicaraan, Laila mengernyit kebingungan.   “Aku punya kenalan seorang penyalur tenaga kerja, kemarin dia bilang kekuranagn orang untuk kerja di proyek barunya. Niatnya Mas mau kerja di sana, kalau kamu menginjinkan,” ujar Rahmadi berbohong. Ia tidak mau mengambil resiko Laila akan marah atau mereka kembali bersiteru.   “Aku setuju, Mas. Meski itu berarti kita akan berjauhan tapi aku siap menanggung hal itu demi mewujudkan impian untuk menikah.” Laila tersenyum tulus seraya mengengam tangan Rahmadi. Senyum Laila seperti pisau yang menghujam jantung Rahmadi, ia bahagia karena tahu Laila akan selalu mendukungnya, sementara disisi lain Rahmadi merasa bersalah karena sudha membohongi gadis lugu seperti Laila. Rahmadi hanya takut Laila akan membencinya jika ia mengatakan yang sejujurnya. Mau bagaaimana lagi? Hanya ini cara yang terlintas di otak Rahmadi, mengingat Laila menolak ide untuk kawin lari, maka ini satu-satunya pilihan mereka yang tersisa.   “Kapan Mas akan berangkat? Apa saja yang dibutuhkan? Kalau Mas butuh sesuatu biar Laila bantu,” ujar Laila kemudian. Rahmadi cepat-cepat menyembunyikan sorot bersalah di matanya takut Laila akan curiga.   “Tiga hari lagi, DIk. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.” Rahmadi memamerkan senyum terbaiknya.   “Kalau begitu, pastikan Mas mampir ke sini sebelum berangkat.” Laila mengulurkan jari kelingking, meminta Rahmadi untuk berjanji. Rahmadi tertawa karena Laila mengajaknya berjanji layaknya anak usia lima tahun,  tapi Rahmadi tidak ingin membuat kekasihnya kecewa, ia pun mengulurkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan jari kelingking Laila. Mereka lanjut bercakap-cakap hingga suara motor Juragan Darno terdengar memasuki pekarangan rumah. Rahmadi pergi dan berjanji akan kembali tiga hari lagi untuk berpamitan sebelum ia pergi merantau.      ***   Laila tengah menyisir rambutnya di kamar, hal ini karena kedatangan Bagus yang tiba-tiba muncul di rumahnya. Sejujurnya, Laila cukup menghormati Bagus. Pria itu banyak membantu Laila semasa dirinya berkuliah di kota, hidup di kota asing sendirian sungguh sangat sulit bagi Laila seandainya ia tidka menerima bantuan Bagus kala itu. Perihal Bagus yang menyimpan rasa juga sudah lama Laila ketahui, sejak dulu banyak orang yang mengatakan jika Bagus menyukainya, Laila juga bukannya tidak peka pada setiap perhatian Bagus, Namun, ia memang tidak pernah mengangap lelaki itu lebih dari kakak tingkat, tanpa perasaan lebih yang mengarah ke hubungan romantis dua manusia. Bahkan Bagus sendiri pernah bertanya tentang kesediaan Laila untuk menjadi istrinya nanti, Laila yang kebingungan memilih tidka menjawab dan mengalihkan pembicaraan kala itu.   Mungkin Laila terdengar jahat, perasaannya untuk Bagus sudah jelas tapi ia masih tidak bisa mengatakan yang sejujurnya karena takut hal itu akan melukai perasaan Bagus. LAgipula Bagus tidka pernah mengungkit hal itu lagi, Laila juga mendengar rumor yang mengatakan Bagus sedang pendekatan dengan temannya yang berbeda jurusan, sehingga Laila berpikir Bagus sudah melupakan perasaannya untuk Laila dan memulai kisah baru. Siapa yang tahu jika pria itu akhirnya datang melamar Laila, sesuatu hal yang tidak pernah Laila duga akan terjadi.   Laila tahu ia akan sangat jahat jika bersikap buruk pada Bagus. Ini salahnya yang sejak awal tidak menjawab dengan jujur, seandainya bisa memutar waktu Laila ingin kembali ke waktu saat Bagus bertanya tentang kesempatan menjadi suami Laila. Laila akan dengan tegas menjawab tidak pada saat itu, meski mungkin itu akan membuat hubungan pertemanannya dengan Bagus memburuk.   Karena hal inilah, Laila tetap berusaha menerima kunjungan Bagus. Ia tetap berusaha terlihat rapi supaya Bagsu tidak merasa terhina. Membujuk bapaknya akan memakan waktu, karena itu Laila menyusun rencana untuk menunda pernikahan ini selama mungkin. Setidaknya ia harus mengulur waktu hingga Rahmadi mengumpulkan cukup modal untuk melamarnya. Untuk mencapai semua itu, Laila harus memanfaatkan Bagus. Laila memeriksa tampilannya sekali lagi di depan cermin, setelah merasa cukup rapi Laila pun keluar menemui Bagus.   Bagus tersenyum menyambut Laila yang duduk di bangku seberangnya. Juragan Darno tampak sumringah melihat Laila sudah tidak lagi memberontak bahkan bersedia menemui Bagus, pria tua itu berbasa-basi sebentar dengan Bagus sebelum akhirnya pamit ke dapur untuk membuat kopi. Laila sempat menawarkan diri membuatkan kopi tapi ditolak oleh Juragan Darno, pria itu justru meminta Laila untuk menemani Bagus mengobrol. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD