7. Berusaha Mengulur Waktu

1290 Words
Laila tengah menyisir rambutnya di kamar, hal ini karena kedatangan Bagus yang tiba-tiba muncul di rumahnya. Sejujurnya, Laila cukup menghormati Bagus. Pria itu banyak membantu Laila semasa dirinya berkuliah di kota, hidup di kota asing sendirian sungguh sangat sulit bagi Laila seandainya ia tidka menerima bantuan Bagus kala itu. Perihal Bagus yang menyimpan rasa juga sudah lama Laila ketahui, sejak dulu banyak orang yang mengatakan jika Bagus menyukainya, Laila juga bukannya tidak peka pada setiap perhatian Bagus, Namun, ia memang tidak pernah mengangap lelaki itu lebih dari kakak tingkat, tanpa perasaan lebih yang mengarah ke hubungan romantis dua manusia. Bahkan Bagus sendiri pernah bertanya tentang kesediaan Laila untuk menjadi istrinya nanti, Laila yang kebingungan memilih tidka menjawab dan mengalihkan pembicaraan kala itu.   Mungkin Laila terdengar jahat, perasaannya untuk Bagus sudah jelas tapi ia masih tidak bisa mengatakan yang sejujurnya karena takut hal itu akan melukai perasaan Bagus. LAgipula Bagus tidka pernah mengungkit hal itu lagi, Laila juga mendengar rumor yang mengatakan Bagus sedang pendekatan dengan temannya yang berbeda jurusan, sehingga Laila berpikir Bagus sudah melupakan perasaannya untuk Laila dan memulai kisah baru. Siapa yang tahu jika pria itu akhirnya datang melamar Laila, sesuatu hal yang tidak pernah Laila duga akan terjadi.   Laila tahu ia akan sangat jahat jika bersikap buruk pada Bagus. Ini salahnya yang sejak awal tidak menjawab dengan jujur, seandainya bisa memutar waktu Laila ingin kembali ke waktu saat Bagus bertanya tentang kesempatan menjadi suami Laila. Laila akan dengan tegas menjawab tidak pada saat itu, meski mungkin itu akan membuat hubungan pertemanannya dengan Bagus memburuk.   Karena hal inilah, Laila tetap berusaha menerima kunjungan Bagus. Ia tetap berusaha terlihat rapi supaya Bagsu tidak merasa terhina. Membujuk bapaknya akan memakan waktu, karena itu Laila menyusun rencana untuk menunda pernikahan ini selama mungkin. Setidaknya ia harus mengulur waktu hingga Rahmadi mengumpulkan cukup modal untuk melamarnya. Untuk mencapai semua itu, Laila harus memanfaatkan Bagus. Laila memeriksa tampilannya sekali lagi di depan cermin, setelah merasa cukup rapi Laila pun keluar menemui Bagus.   Bagus tersenyum menyambut Laila yang duduk di bangku seberangnya. Juragan Darno tampak sumringah melihat Laila sudah tidak lagi memberontak bahkan bersedia menemui Bagus, pria tua itu berbasa-basi sebentar dengan Bagus sebelum akhirnya pamit ke dapur untuk membuat kopi. Laila sempat menawarkan diri membuatkan kopi tapi ditolak oleh Juragan Darno, pria itu justru meminta Laila untuk menemani Bagus mengobrol.         “Mas nggak ganggu kan, Dik?”   Laila menggeleng sambil mencoba tersenyum. Melihat Bagus yang demikian tulus membuat rasa bersalah semakin bersarang di hati Laila.   “Sejujurnya ada yang sesuatu yang mau aku bicarakan dengan Mas Bagus,” ujar Laila lirih. Mendengar ucapan Laila membuat Bagus langsung menatap Laila. Gadis itu tampak cantik dengan rambut hitamnya yang dikuncir ekor kuda. Bagus menyadari jika Laila sangat cantik mala mini, padahal gadis itu sama sekali tidak menggunakan riasan tebal atau pakaian yang memamerkan lekuk tubuh. Laila adalah gambaran kecantikan sederhana namun memikat, tidak heran Bagus langsung menyukai gadi situ sejak pertemuan pertama mereka. Sayangnya, saat itu Bagus belum cukup mapan secara ekonomi. Bagi Bagus, pantang membuat seorang gadis menunggu. Karena itu ia segera menyelesaikan kuliahnya dan mulai merintis usaha untuk modal menikahi Laila.   Sebagai anak tunggal, Bagus sudah dipastikan mewarisi seluruh kekayaan orang tuanya. Tapi, Bagus bukanlah pria yang seperti itu. Sebagai laki-laki, ia memiliki harga diri tinggi untuk bisa mencukupi kebutuhannya dari penghasilan sendiri. Berkat kerja kerasnya itulah Bagus sudah memiliki posisi yang cukup tinggi di kantor tempatnya bekerja.   “Mungkin yang aku sampaikan ini akan membuat Mas sedikit tersinggung.” Laila menunduk, ia tidak berani menatap Bagus karena takut jika kebohongan di matanya mungkin saja terlihat oleh Bagus.   Sementara Laila tampak gusar, Bagus justru terlihat tenang di kursinya. Pria itu menganguk, meminta Laila untuk meneruskan ucapannya.   “Sejujurnya aku belum ingin menikah, Mas. Ada beberapa cita-cita yang masih ingin aku kejar,” ujar Laila lirih. Bagus sempat terkejut karena tidak menduga Laila akan membahas itu, ia meminum teha manis di meja untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering karena ucapan Laila. Bagus tentu ingin pernikahannya segera dilaksanakan. Jika bukan karena perhitungan bulan jawa yang sedang buruk, pernikahan mereka seharusnya sudah dilaksanakan sejak lama. Laila tampak masih menunduk, sama sekali tidak mau menatap Bagus, pria itu tidak tega menolak permintaan Laila tapi di sisi lain ia juga tidak ingin menyetujui permintaan Laila untuk menunda pernikahan.   “Maaf karena Mas sempat terkejut dengan ucapan kamu. Kalau boleh Mas ingin tahu alasan lengkapnya. Barangkali nanti Mas bisa mempertimbangkan hal tersebut,” ujar Bagus setelah mampu menguasai diri.   “Aku masih belum siap, Mas. Aku juga masih ingin melanjutkan kuliah, Mas tahu sendiri aku baru D3. Bapak tidak mengijinkan lanjut S1 karena khawatir aku sendirian di kota.”   Bagus menangguk mengerti sementara otaknya bekerja memikirkan cara untuk menolak ide Laila menunda pernikahan.   “Setelah menikah kan masih bisa kamu melanjutkan kuliah. Mas janji tidak akan melarang, kalau kamu tidak percaya, kita bisa buat perjanjian pra-nikah.” Bagus menawarkan solusi, sayangnya pria itu harus kecewa ketika Laila menggeleng.   “Laila tahu Mas akan mendukung. Sayangnya itu hanya akan menjadi beban untukku, Mas. Aku tidak ingin dianggap sebagai istri yang tidak baik. Kalau kuliah nanti aku pasti akan sibuk, Mas. Aku jadi nggak bisa menjalankan tanggung jawabku sebagai istri dengan baik. Meski Mas tidak masalah tapi aku tidak bisa, Mas.”   “Aku juga belum mengenal secara pribadi, aku bahkan nggak tahu Mas suka the atau kopi untuk sarapan. Aku juga nggak tahu barangkali Mas ada alergi makanan atau hal-hal lain seperti warna kesukaan dan hobi. Gimana aku mau jadi istri yang baik kalau aku buta banget tentang suamiku sendiri. Mungkin Mas sudah mengenal aku, tapi aku benar-benar nggak tahu. Kita bisa bertunangan dulu, Mas. Bapak juga pasti akan mengijinkan kalau Laila kuliah di kota karena ada Mas yang jagain,” jelas Laila panjang lebar. Bagus tampak termenung di kursinya. Satu bagian dirinya setuju dengan Laila sedangkan setengah dirinya menolak.   “Kalau Mas keberatan nggak apa-apa. Laila Cuma mau jujur karena nanti kedepannya Mas akan menjadi suami Laila.” Bagus jelas melihat sorot kekecewaan di mata Laila, hal itu membuat hatinya semakin goyah untuk menginjinkan Laila.   “Sebelumnya Mas senang karena Laila sudah mau jujur. Untuk penundaan pernikahan, Mas harus bicarakan dulu dengan keluarga Mas. Yang jelas, Mas sangat mendukung keputusan Laila untuk kuliah lagi. Mas nggak bisa menjanjikan, tapi Mas akan ngomong sebaik mungkin supaya keluarga Mas juga mengerti,” kata Bagus menenangkan. Ucapan Bagus membuat Laila bersemangat, binar kekecewaan yang tadi tampak di matanya kini berganti tatapan penuh harap.   Keduanya lanjut mengobrol hingga beberapa saat, Bagus pamit tidak lama kemudian. Pria itu tidak langsung pulang ke rumahnya di kota, sudah terlalu malam dan jalanan yang didominasi tanjakan curam dan sempit sama sekali tidak aman untuk berkendara di malam hari. Karena itulah Bagus menginap di rumah salah satu warga, esok pagi baru pria itu pulang ke kota. Laila mengantar Bagus hingga ke depan pintu, ia menunggu hingga pria itu cukup jauh sebelum masuk kembali ke dalam rumah. Laila membawa gelas bekas teh Bagus ke dapur, sambil mencuci gelas gadis itu terus mengucapkan kata maaf untuk Bagus di dalam hati. Ia merasa sangat berdosa karena sudah memanfaatkan pria itu, tapi ia juga tidak punya pilihan. Laila harus mengulur waktu hingga Rahmadi pulang dan berhasil mengumpulkan modal. Akan lebih jahat jika ia menikai Bagus sementara hatinya mencintai Rahmadi, Laila tulus berharap kelak Bagus akan menemukan gadis lain yang mencintai Bagus dengan tulus. Pria baik dan mapan seperti Bagus, tentu tidak akan kesulitan perkara jodoh. Sejak dulu, Bagus memang terkenal di kalangan wanita.   Selesai mencuci gelas, Laila segera beranjak ke kamar. Gadis itu tidak langsung tertidur, ia memilih membaca buku sambil menunggu kantuk. Sesekali gadis itu menatap jendela yang tertutup, berharap Rahmadi datang. Hal yang cukup sulit karena mala mini ada jadwal ronda, salah-salah Rahmadi justru bisa tertangkap warga dan dikira pencuri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD