8. Berpisah

1262 Words
“Laila tahu Mas akan mendukung. Sayangnya itu hanya akan menjadi beban untukku, Mas. Aku tidak ingin dianggap sebagai istri yang tidak baik. Kalau kuliah nanti aku pasti akan sibuk, Mas. Aku jadi nggak bisa menjalankan tanggung jawabku sebagai istri dengan baik. Meski Mas tidak masalah tapi aku tidak bisa, Mas.” “Aku juga belum mengenal secara pribadi, aku bahkan nggak tahu Mas suka the atau kopi untuk sarapan. Aku juga nggak tahu barangkali Mas ada alergi makanan atau hal-hal lain seperti warna kesukaan dan hobi. Gimana aku mau jadi istri yang baik kalau aku buta banget tentang suamiku sendiri. Mungkin Mas sudah mengenal aku, tapi aku benar-benar nggak tahu. Kita bisa bertunangan dulu, Mas. Bapak juga pasti akan mengijinkan kalau Laila kuliah di kota karena ada Mas yang jagain,” jelas Laila panjang lebar. Bagus tampak termenung di kursinya. Satu bagian dirinya setuju dengan Laila sedangkan setengah dirinya menolak. "Kalau Mas keberatan nggak apa-apa. Laila Cuma mau jujur karena nanti kedepannya Mas akan menjadi suami Laila.” Bagus jelas melihat sorot kekecewaan di mata Laila, hal itu membuat hatinya semakin goyah untuk menginjinkan Laila. “Sebelumnya Mas senang karena Laila sudah mau jujur. Untuk penundaan pernikahan, Mas harus bicarakan dulu dengan keluarga Mas. Yang jelas, Mas sangat mendukung keputusan Laila untuk kuliah lagi. Mas nggak bisa menjanjikan, tapi Mas akan ngomong sebaik mungkin supaya keluarga Mas juga mengerti,” kata Bagus menenangkan. Ucapan Bagus membuat Laila bersemangat, binar kekecewaan yang tadi tampak di matanya kini berganti tatapan penuh harap. Keduanya lanjut mengobrol hingga beberapa saat, Bagus pamit tidak lama kemudian. Pria itu tidak langsung pulang ke rumahnya di kota, sudah terlalu malam dan jalanan yang didominasi tanjakan curam dan sempit sama sekali tidak aman untuk berkendara di malam hari. Karena itulah Bagus menginap di rumah salah satu warga, esok pagi baru pria itu pulang ke kota. Laila mengantar Bagus hingga ke depan pintu, ia menunggu hingga pria itu cukup jauh sebelum masuk kembali ke dalam rumah. Laila membawa gelas bekas teh Bagus ke dapur, sambil mencuci gelas gadis itu terus mengucapkan kata maaf untuk Bagus di dalam hati. Ia merasa sangat berdosa karena sudah memanfaatkan pria itu, tapi ia juga tidak punya pilihan. Laila harus mengulur waktu hingga Rahmadi pulang dan berhasil mengumpulkan modal. Akan lebih jahat jika ia menikai Bagus sementara hatinya mencintai Rahmadi, Laila tulus berharap kelak Bagus akan menemukan gadis lain yang mencintai Bagus dengan tulus. Pria baik dan mapan seperti Bagus, tentu tidak akan kesulitan perkara jodoh. Sejak dulu, Bagus memang terkenal di kalangan wanita. Selesai mencuci gelas, Laila segera beranjak ke kamar. Gadis itu tidak langsung tertidur, ia memilih membaca buku sambil menunggu kantuk. Sesekali gadis itu menatap jendela yang tertutup, berharap Rahmadi datang. Hal yang cukup sulit karena malam ini ada jadwal ronda, salah-salah Rahmadi justru bisa tertangkap warga dan dikira pencuri. *** Rahmadi mengendap-endap memasuki halaman rumah Juragan Darno. Seperti janjinya tempo hari, ia datang untuk berpamitan pada Laila. Besok pagi-pagi sekali Rahmadi sudah harus berangkat, dan karena sangat sulit bertemu di siang hari Rahmadi akhirnya memutuskan untuk nekat mengunjungi Laila malam ini. Lampu kamar Laila terlihat masih menyala, Rahmadi bergegas mengetuk jendela kamar Laila dengan pelan. Tidak butuh waktu lama, jendela sudah terbuka dan Rahmadi melompat masuk ke dalam kamar. "Aku pikir Mas ingkar janji," ujar Laila seraya memeluk Rahmadi. Ia sangat merindukan kekasihnya itu, biasanya mereka bisa berjumpa setiap hari di sela-sela pekerjaan Rahmadi. Sayangnya hal itu tidak bisa terulang kembali karena kini Rahmadi tidak lagi bekerja di rumah Laila. Juragan Darno tidak hanya menolak lamaran Rahmadi, pria paruh baya itu dengan tegas melarang Rahmadi untuk bekerja dengannya lagi. "Mas kan sudah janji, Dik." Rahmadi mencium puncak kepala Laila. Membaui aroma sampo Laila yang selalu berhasil memanjakan hidung Rahmadi, meski hanya sampo biasa, hal itu terasa berbeda karena Laila yang mengenakan. Rahmadi ingin menyimpan aroma itu kuat-kuat dalam ingatannya, karena setelah ini keduanya akan terpisah jauh dan mungkin cukup lama. "Aku sudah menemukan cara untuk menunda pernikahanku dan Mas Bagus." Perkataan Laila disambut senyum semringah Rahmadi, "aku beralasan ingin kuliah lagi. Dari D3 ke S1 butuh sekitar satu sampai dua tahun, semoga cukup untuk Mas mengumpulkan modal." Rahmadi tersenyum bahagia, hatinya terasa menghangat karena Laila yang begitu mengerti dirinya. Meski rasa suka cita itu tidak lantas menghapus seluruh kekhawatiran Rahmadi, terlebih jika Laila tahu tentang kepergiannya kali ini bukanlah untuk bekerja di perkebunan karet yang Rahmadi katakan waktu itu. "Cukup, Dik. Mas akan berusaha keras untuk segera mendapat modal. Tolong sabar sedikit ya, Dik. Mas yakin kita bisa bersama." Laila mengangguk dan tersenyum haru, ia hampir menyerah menemukan cara untuk menunda pernikahan dengan Bagus. Beruntung kemarin pria itu datang dan mengabari Laila jika keluarganya tidak keberatan dengan permintaan Laila untuk kuliah lagi. Dengan begitu, rencana pernikahan mereka akan diganti menjadi pertunangan. Setidaknya itu lebih baik daripada mereka langsung menikah sementara Laila tidak pernah mencintai Bagus, begitu pikirnya. Laila melepaskan pelukannya dan melangkah menuju lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati. Tangannya meraba-raba isi lemari seperti mencari sesuatu, beberapa saat kemudian gadis iu kembali dengan tangan membawa sebuah amplop yang cukup tebal. "Ini hasil magang Laila dulu, tidak ada yang tahu kecuali Laila sendiri. Mas bisa pakai ini untuk tambahan ongkos dan bertahan selama belum menerima gaji dari pekerjaan yang di sana." Rahmadi tampak enggan menerima amplop tersebut, egonya tersentil karena merasa demikian tidak mampu hingga harus merepotkan Laila. Meski sejujurnya ia memang kekurangan uang tapi meminta pada Laila tidak pernah ada dalam rencana pria itu. Laila sendiri baru kemarin mengetahui jika Rahmadi ternyata berhutang cukup banyak pada seorang juragan daging di pasar. Ia mendengarnya secara tidak sengaja saat tengah membeli daging sapi untuk Bapak yang sedang ingin makan rendang. Mengetahui Rahmadi sedang kesulitan, Laila tanpa pikir panjang memutuskan untuk menual beberapa perhiasan yang ia beli dari hasil bekerja disela kesibukan kuliahnya. "Mas, jangan berpikir kamu lebih rendah dari aku atau pikiran jelek lainnya. Kamu sedang berjuang untukku, untuk menikahi aku. Bagaimana mungkin aku bisa berpangku tangan? Tolong terima uang ini, Mas. Supaya aku juga merasa berjuang, bukan hanya kamu yang berjuang untuk kebahagiaan kita bersama." Rahmadi melihat ketulusan dalam tatapan Laila, meski enggan akhirnya pria itu menerima amplop coklat berisi uang dari Laila. Sejujurnya, Rahmadi masih ingin berlama-lama bersama Laila. Rasanya ia butuh lebih banyak memandangi wajah Laila sebagai bekal agar ia tidak kesepian saat jauh. Tapi, malam yang semakin larut memaksa Rahmadi untuk segera pulang. "Tunggu Mas ya, Dik." Laila mengangguk sambil menahan tangis mendengar permintaan Rahmadi. Tangisan gadis itu akhirnya pecah setelah Rahmadi cukup jauh, Laila merasa terlalu lelah dengan kisah cintanya. Tapi ia tidak mungkin menyerah dan pasrah menikah dengan pria yang tidak pernah ia cintai. Tidak berbeda dengan Laila, Rahmadi juga terisak. Membayangkan berjauhan dengan Laila sungguh menyesakkan hati. Tapi ia harus terlihat kuat karena tidak ingin kesedihannya membuat Laila menangis. Rahmadi pulang ke rumahnya dan lanjut menata beberapa barang yang ia butuhkan. Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa potong pakaian dan bekal lain berupa uang. Rahmadi sempat khawatir modalnya tidak cukup untuk menempuh perjalanan, tambahan uang dari Laila sangat membantu. Jumlah itu bahkan dua kali lebih banyak dari hasil Rahmadi berhutang. Rahmadi memutuskan untuk tidur sebentar. Setelah ini ia akan menempuh perjalanan jauh dan mungkin tidak akan bisa menikmati tidur senyaman di rumah. Tidak masalah baginya, ia akan melakukan apapun untuk Laila. Meski itu berarti ia harus melakukan hal-hal terlarang, ia tidak lagi peduli. Satu-satunya hal yang diinginkan Rahmadi adalah kekayaan untuk menikahi Laila. Rahmadi terbangun karena kokok ayam jantan, setelah bersiap-siap pria itu segera menenteng tas lusuhnya dan berjalan kaki menuju perbatasan Desa Sukatani. Dari sana ia bisa menumpang mobil untuk pergi ke tujuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD