9. Perjuangan

1320 Words
"Aku pikir Mas ingkar janji," ujar Laila seraya memeluk Rahmadi. Ia sangat merindukan kekasihnya itu, biasanya mereka bisa berjumpa setiap hari di sela-sela pekerjaan Rahmadi. Sayangnya hal itu tidak bisa terulang kembali karena kini Rahmadi tidak lagi bekerja di rumah Laila. Juragan Darno tidak hanya menolak lamaran Rahmadi, pria paruh baya itu dengan tegas melarang Rahmadi untuk bekerja dengannya lagi.     "Mas kan sudah janji, Dik." Rahmadi mencium puncak kepala Laila. Membaui aroma sampo Laila yang selalu berhasil memanjakan hidung Rahmadi, meski hanya sampo biasa, hal itu terasa berbeda karena Laila yang mengenakan. Rahmadi ingin menyimpan aroma itu kuat-kuat dalam ingatannya, karena setelah ini keduanya akan terpisah jauh dan mungkin cukup lama.     "Aku sudah menemukan cara untuk menunda pernikahanku dan Mas Bagus." Perkataan Laila disambut senyum semringah Rahmadi, "aku beralasan ingin kuliah lagi. Dari D3 ke S1 butuh sekitar satu sampai dua tahun, semoga cukup untuk Mas mengumpulkan modal."     Rahmadi tersenyum bahagia, hatinya terasa menghangat karena Laila yang begitu mengerti dirinya. Meski rasa suka cita itu tidak lantas menghapus seluruh kekhawatiran Rahmadi, terlebih jika Laila tahu tentang kepergiannya kali ini bukanlah untuk bekerja di perkebunan karet yang Rahmadi katakan waktu itu.     "Cukup, Dik. Mas akan berusaha keras untuk segera mendapat modal. Tolong sabar sedikit ya, Dik. Mas yakin kita bisa bersama."     Laila mengangguk dan tersenyum haru, ia hampir menyerah menemukan cara untuk menunda pernikahan dengan Bagus. Beruntung kemarin pria itu datang dan mengabari Laila jika keluarganya tidak keberatan dengan permintaan Laila untuk kuliah lagi. Dengan begitu, rencana pernikahan mereka akan diganti menjadi pertunangan. Setidaknya itu lebih baik daripada mereka langsung menikah sementara Laila tidak pernah mencintai Bagus, begitu pikirnya. Laila melepaskan pelukannya dan melangkah menuju lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati. Tangannya meraba-raba isi lemari seperti mencari sesuatu, beberapa saat kemudian gadis iu kembali dengan tangan membawa sebuah amplop yang cukup tebal.     "Ini hasil magang Laila dulu, tidak ada yang tahu kecuali Laila sendiri. Mas bisa pakai ini untuk tambahan ongkos dan bertahan selama belum menerima gaji dari pekerjaan yang di sana."     Rahmadi tampak enggan menerima amplop tersebut, egonya tersentil karena merasa demikian tidak mampu hingga harus merepotkan Laila. Meski sejujurnya ia memang kekurangan uang tapi meminta pada Laila tidak pernah ada dalam rencana pria itu.     Laila sendiri baru kemarin mengetahui jika Rahmadi ternyata berhutang cukup banyak pada seorang juragan daging di pasar. Ia mendengarnya secara tidak sengaja saat tengah membeli daging sapi untuk Bapak yang sedang ingin makan rendang. Mengetahui Rahmadi sedang kesulitan, Laila tanpa pikir panjang memutuskan untuk menual beberapa perhiasan yang ia beli dari hasil bekerja disela kesibukan kuliahnya.     "Mas, jangan berpikir kamu lebih rendah dari aku atau pikiran jelek lainnya. Kamu sedang berjuang untukku, untuk menikahi aku. Bagaimana mungkin aku bisa berpangku tangan? Tolong terima uang ini, Mas. Supaya aku juga merasa berjuang, bukan hanya kamu yang berjuang untuk kebahagiaan kita bersama."   Rahmadi melihat ketulusan dalam tatapan Laila, meski enggan akhirnya pria itu menerima amplop coklat berisi uang dari Laila. Sejujurnya, Rahmadi masih ingin berlama-lama bersama Laila. Rasanya ia butuh lebih banyak memandangi wajah Laila sebagai bekal agar ia tidak kesepian saat jauh. Tapi, malam yang semakin larut memaksa Rahmadi untuk segera pulang.     "Tunggu Mas ya, Dik." Laila mengangguk sambil menahan tangis mendengar permintaan Rahmadi. Tangisan gadis itu akhirnya pecah setelah Rahmadi cukup jauh, Laila merasa terlalu lelah dengan kisah cintanya. Tapi ia tidak mungkin menyerah dan pasrah menikah dengan pria yang tidak pernah ia cintai.     Tidak berbeda dengan Laila, Rahmadi juga terisak. Membayangkan berjauhan dengan Laila sungguh menyesakkan hati. Tapi ia harus terlihat kuat karena tidak ingin kesedihannya membuat Laila menangis.     Rahmadi pulang ke rumahnya dan lanjut menata beberapa barang yang ia butuhkan. Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa potong pakaian dan bekal lain berupa uang. Rahmadi sempat khawatir modalnya tidak cukup untuk menempuh perjalanan, tambahan uang dari Laila sangat membantu. Jumlah itu bahkan dua kali lebih banyak dari hasil Rahmadi berhutang.   Rahmadi memutuskan untuk tidur sebentar. Setelah ini ia akan menempuh perjalanan jauh dan mungkin tidak akan bisa menikmati tidur senyaman di rumah. Tidak masalah baginya, ia akan melakukan apapun untuk Laila. Meski itu berarti ia harus melakukan hal-hal terlarang, ia tidak lagi peduli. Satu-satunya hal yang diinginkan Rahmadi adalah kekayaan untuk menikahi Laila.   Rahmadi terbangun karena kokok ayam jantan, setelah bersiap-siap pria itu segera menenteng tas lusuhnya dan berjalan kaki menuju perbatasan Desa Sukatani. Dari sana ia bisa menumpang mobil untuk pergi ke tujuannya.         ***     Dusun Dhadap terletak di kecamatan yang berbeda dengan Desa Sukatani, letaknya pun jauh di dekat puncak gunung, akses ke dusun tersebut hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dusun Dhadap dihuni oleh 15 kepala keluarga dan mayoritas sudah berusia senja. Mereka yang masih muda lebih memilih merantau ke kota atau berpindah ke desa lain yang lebih mudah diakses.   Rahmadi duduk bersandar pada bebatuan, peluhnya bercucuran karena jalanan yang mendaki. Ia menatap jauh ke belakang, hanya rimbun pepohonan yang terlihat. Rumah penduduk terakhir tempatnya meminta air minum sudah tidak terlihat, itu berarti ia sudah berjalan cukup jauh. Rahmadi tiba di perbatasan Dusun Dhadap sekitar jam 11 siang, beruntung ada satu mobil pengangkut gaplek yang akan melewati Dusun Dhadap sehingga Rahmadi bisa mendapat tumpangan gratis.   Warga Dusun Dhadap tampak tidak aneh dengan kedatangan Rahmadi, pria itu langsung diarahkan menuju rumah kepala desa untuk melaporkan kedatangannya. Seperti peramal, kepala desa itu sudah bisa menebak jika kedatangan Rahmadi berhubungan dengan hal-hal ghaib. Kepala desa tersebut langsung saja menyarankan Rahmadi pergi ke rumah Ki Wacito. Menurut keterangan Pak Kepala Desa, Ki Wacito adalah yang paling sakti. Namun, pria tua itu cukup pemilih dalam memberikan bantuan. Meski begiti tidak ada salahnya bagi Rahmadi untuk mencoba. Setelah berbincang sejenak, Rahmadi pun undur diri untuk menuju Rumah Ki Wacito. Rumahnya terletak di atas gunung, paling jauh dari warga lainnya.   Sepanjang perjalanan, ragu kerap melanda hati Rahmadi. Rahmadi memang bukan pria yang taat beribadah. Ia bahkan hanya datang ke masjid saat bulan puasa, tapi Rahmadi tahu yang dilakukannya saat ini salah. Sempat pria itu berpikir untuk kembali pulang, tapi bayangan Lail menikah dengan pria lain kembali menguatkan tekadnya untuk menempuh jalan ini. Ia sangat membutuhkan uang dan kekayaan untuk menikahi Laila, dan semua itu tidak bisa dia dapatkan dengan instan. Dengan pekerjaannya sebagai buruh tani, pemasukan Rahmadi tentu saja tidak besar. Pria itu harus pintar-pintar mengatur keuangan agar selalu cukup untuk bertahan hingga pekerjaan lainnya datang. Tak jarang Rahmadi harus puas menganjal perut dengan singkong rebus karena uangnya tidak cukup untuk membeli beras. Pria itu juga menanam cabai di tanah perkarangannya yang tidak begitu luas, saat uangnya menipis sementara ia belum kunjung mendapat pekerjaan, Rahmadi tetap bisa makan dengan sambal bawang sebagai lauk.   Bahan yang diperlukan untuk membuat sambal bawang tidaklah banyak. Setengah suing bawang putih, garam, dan cabai sesuai selera. Dengan lauk demikian sederhana inilah Rahmadi biasa berjuang dari masa-masa sulit.   Rahmadi sudah cukup melempas lelah, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah Ki Wacito. Rahmadi tidak tahu jam berapa sekarang, karena matahari tengah terik-teriknya Rahmadi sekitar jam dua siang. Rahmadi mempercepat langkah, ia harus menemukan rumah Ki Wacito sebelum hari terlalu sore. Kabut tebal biasa turun di sekitar gunung menjelang sore hari, beresiko untuk Rahmadi karena hewan buas masih banyak di seitar sini. Salah-salah ia bisa diterkam macan sebelum berhasil mempersunting Laila. Rahmadi merasa ia sudah jauh berjalan, hutan yang ia  lewati juga semakin lebat. Napasnya kembang-kempis. Rahmadi memang biasa bekerja keras tapi berjalan tanpa henti dengan jalanan mendaki dan hutan di kanan kiri bukanlah sesuatu yang mudah.   Rahmadi kembali menatap ke belakang. Pandangannya terhalang rimbun pepohonan, dan semua jalanan ini terlihat sama. Rahmadi sedikit khawatir karena cuaca tiba-tiba berubah menjadi mendung, kabut tipis mulai turun disusul suhu udara yang semakin dingin. Rahmadi mendekap tubuhnya sendiri, kedua telapak tangannya digosok-gosokan untuk mengusir dingin. Rintik hujan mulai turun, Rahmadi panik. Ia melihat sekeliling mencari tempat untuk berteduh, ia melihat sebuah pohon yang cukup rimbun. Rahmadi memutuskan berteduh di bawah pohon tadi. Pria itu berjongkok sambil kedua tangannya saling memeluk tubuhnya sendiri.   “Dik, tunggu Mas yang sedang berjuang ya,” bisik Rahmadi diantara gemuruh suara hujan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD