10. Menyelesaikan Ujian

1288 Words
Sepanjang perjalanan, ragu kerap melanda hati Rahmadi. Rahmadi memang bukan pria yang taat beribadah. Ia bahkan hanya datang ke masjid saat bulan puasa, tapi Rahmadi tahu yang dilakukannya saat ini salah. Sempat pria itu berpikir untuk kembali pulang, tapi bayangan Lail menikah dengan pria lain kembali menguatkan tekadnya untuk menempuh jalan ini. Ia sangat membutuhkan uang dan kekayaan untuk menikahi Laila, dan semua itu tidak bisa dia dapatkan dengan instan. Dengan pekerjaannya sebagai buruh tani, pemasukan Rahmadi tentu saja tidak besar. Pria itu harus pintar-pintar mengatur keuangan agar selalu cukup untuk bertahan hingga pekerjaan lainnya datang. Tak jarang Rahmadi harus puas menganjal perut dengan singkong rebus karena uangnya tidak cukup untuk membeli beras. Pria itu juga menanam cabai di tanah perkarangannya yang tidak begitu luas, saat uangnya menipis sementara ia belum kunjung mendapat pekerjaan, Rahmadi tetap bisa makan dengan sambal bawang sebagai lauk.   Bahan yang diperlukan untuk membuat sambal bawang tidaklah banyak. Setengah suing bawang putih, garam, dan cabai sesuai selera. Dengan lauk demikian sederhana inilah Rahmadi biasa berjuang dari masa-masa sulit.   Rahmadi sudah cukup melempas lelah, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah Ki Wacito. Rahmadi tidak tahu jam berapa sekarang, karena matahari tengah terik-teriknya Rahmadi sekitar jam dua siang. Rahmadi mempercepat langkah, ia harus menemukan rumah Ki Wacito sebelum hari terlalu sore. Kabut tebal biasa turun di sekitar gunung menjelang sore hari, beresiko untuk Rahmadi karena hewan buas masih banyak di seitar sini. Salah-salah ia bisa diterkam macan sebelum berhasil mempersunting Laila. Rahmadi merasa ia sudah jauh berjalan, hutan yang ia  lewati juga semakin lebat. Napasnya kembang-kempis. Rahmadi memang biasa bekerja keras tapi berjalan tanpa henti dengan jalanan mendaki dan hutan di kanan kiri bukanlah sesuatu yang mudah.   Rahmadi kembali menatap ke belakang. Pandangannya terhalang rimbun pepohonan, dan semua jalanan ini terlihat sama. Rahmadi sedikit khawatir karena cuaca tiba-tiba berubah menjadi mendung, kabut tipis mulai turun disusul suhu udara yang semakin dingin. Rahmadi mendekap tubuhnya sendiri, kedua telapak tangannya digosok-gosokan untuk mengusir dingin. Rintik hujan mulai turun, Rahmadi panik. Ia melihat sekeliling mencari tempat untuk berteduh, ia melihat sebuah pohon yang cukup rimbun. Rahmadi memutuskan berteduh di bawah pohon tadi. Pria itu berjongkok sambil kedua tangannya saling memeluk tubuhnya sendiri.   “Dik, tunggu Mas yang sedang berjuang ya,” bisik Rahmadi diantara gemuruh suara hujan. *** Hujan makin deras, Rahmadi memeluk tubuhnya sendiri yang mengigil kedinginan. Ia tidak tahu jam berapa saat ini, ia hanya menyadari langit sudah mulai menggelap. Kabut yang semula hanya tipis kini sudah makin tebal, jarak pandang Rahmadi juga semakin menipis. Sebenarnya, menerobos hujan pun tidak masalah bagi Rahmadi, pria itu tidak akan sakit parah hanya karena hujan. Ia lebih khawatir karena tidak mengetahui jalanan dengan baik, salah-salah ia justru akan terperosok ke jurang. Karena itu Rahmadi tidak punya pilihan selain menunggu dan terus berdoa semoga hujan berhenti sebelum gelap. Pilihan terburuk adalah Rahmadi terpaksa menunggu di bawah pohon hingga esok hari saat jalanan sudah terlihat dengan jelas.   Rahmadi terkejut karena ada yang menyentuh pundaknya, ia hampir menendang pelaku yang membuatnya terkejut tapi tubuhnya tiba-tiba kaku, seperti ada magnet kuat yang menariknya untuk terpaku. Seorang kakek tua berdiri di hadapannya dengan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Rahmadi.   “Tekadmu pasti sangat kuat hingga berhasil sejauh ini,” ujar si kakek tua membuat Rahmadi kebingungan. Rahmadi ingin bertanya tapi pemuda itu menyadari mulutnya sulit dibuka, seperti ada lem lengket yang merekatkan bibirnya. Kakek tua itu tampak menyatukan kedua tangannya di depan d**a, matanya terpejam sementara bibirnya mulai berkomat-kamit mengucap kalimat aneh yang tidak Rahmadi mengerti. Beberapa saat kemudian kakek itu membuka mata dan mengangkat tangan kanannya ke arah langit. Terdengar suara guntur mengelegar memekakan telinga, sementara mulutnya terus merapalkan kalimat yang Rahmadi duga adalah mantra. Tepat saat kakek itu menurunkan tangan kanannya, hujan pun mulai berhenti. Rahmadi terheran di tempatnya, langit yang menggelap pun kini terang benderang.   “Mari kita berbicara di gubukku,” ujar si kakek, bersamaan dengan itu tubuh Rahmadi  yang semula kaku kembali normal, pria itu bahkan dengan sendirinya melangkah mengikuti si kakek. Rahmadi menyadari jika pemandangan sekitarnya berbeda dengan yang ia lihat sebelum ini. Hutan lebat yang tadi lewati tidak ada lagi terlihat, Rahmadi bahkan mampu melihat jalan desa tempatnya turun dari mobil pengangkut tadi, rumah penduduk tempat Rahmadi meminta air juga terlihat meski hanya atapnya saja. Rahmadi mengerutkan kening tanda kebingungan, ia merasa sudah berjalan demikian jauh hingga kelelahan. Kali terakhir beristirahat, Rahmadi bahkan tidak lagi melihat atap penduduk atau pun jalanan mobil tempatnya turun.   Rahmadi terus mengikuti langkah kakek tua itu menuju sebuah gubuk sederhana. Rahmadi tertawa miris dalam hati, kakek tua itu menyebut rumahnya sebuah gubuk padahal kondisinya masih lebih baik dari rumah Rahmadi. Setidaknya tidak ada bagian dinding yang bolong dan harus ditambal dengan karung beras seperti rumah Rahmadi. Rahmadi bahkan menyadari bahwa itu tidak bisa disebut rumah, pantas saja Juragan Darno tidak mau menerima lamarannya, Juragan Darno cukup waras untuk tidak membiarkan putri tersayangnya tinggal dalam bangunan yang bisa roboh dan menimpa si pemiliknya sewaktu-waktu.   Kakek itu mempersilahkan Rahmadi untuk duduk di bale-bale sementara si kakek masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian kakek itu muncul lagi dengan sebuah nampan di tangan, diatasnya ada dua gelas yang sepertinya berisi kopi hitam. Rahmadi menyadari itu kopi dari wangi yang langsung tercium olehnya. Selain kopi juga ada sepiring singkong rebus yang tampak ditaburi kelapa parut di atasnya.   “Kamu punya kegigihan yang luar biasa, Rahmadi.” Kakek tua itu meletakkan segelas kopi di depan Rahmadi, sementara gelas satunya lagi ia letakkan di hadapannya sendiri.   Sementara Rahmadi tampak terdiam di tempatnya, seingatnya ia belum memperkenalkan dirinya tapi kakek ini sudah mengetahui namanya.   “Tidak perlu heran begitu, Anak Muda. Kedatanganmu ini sudah ku lihat sejak beberapa minggu lalu dlama mimpiku. Tujuanmu pun sudah ku ketahui, terlihat jelas dari raut putus asa yang ada di wajahmu. Pasti perkara cinta bukan?” Rahmadi menganguk penuh kekaguman. Sepertinya ini bagian dari kesaktian kakek ini, Rahmadi bahkan tidak perlu menjelaskan hal lain karena semua tebakan pria tua in tentangnya adalah benar.   “Jangan terburu-buru, tujuanmu sangat besar dan sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Selain kesungguhan tekad, kamu juga perlu kesabaran untuk menempuh setiap tahapnya. Tidak banyak yang berhasil menjalankan ujiannya, tapi kemakmuran adalah pasti bagi mereka yang berhasil,” jelas Kakek tua itu penuh penekanan.   “Ki Wacito?” Panggil Rahmadi raguu-ragu. Ia takut jika kakek ini adalah wujud penjelmaan yang berusaha menyesatkan Rahmadi dari tujuannya, ia sudah diwanti-wanti mengenai hal ini oleh Pak Kades. Ketika mulai mendaki menuju rumah Ki Wacito, tidak boleh ada sedikitpun keraguan di hatinya. Karena akan ada ujian sebelum ia berhasil menemui Ki Wacito, biasanya hal ini dilakukan penunggu sekitar yang menginginkan tumbal. Karena itulah, Rahmadi ragu-ragu jika kakek tua di depannya ini sungguh Ki Wacito, bisa saja ini adalah salah satu penjelmaan penunggu yang akan menyesatkan Rahmadi. Bukannya menjawab panggilan Rahmadi, kakek tua itu malah tersenyum meremehkan.   “Buang semua pikiran burukmu, Anak Muda. Aku bukan wujud penjelmaan seperti yang kau takutkan,” ujar kakek tua itu.   Rahmadi tampak kikuk karena pikirannya disadari oleh lawan bicaranya, “Jadi kakek ini sungguh Ki Wacito?”   “Kalau kau terus meragukanku, kau bersumpah tidak akan membantumu.” Kalimat kakek tua itu membuat Rahmadi bungkam, pemuda itu mengumamkan kata maaf dan menyesal yang hanya dijawab dengan anggukan Ki Wacito.   Rahmadi mulai meminum kopinya, Ia juga mencomot sepotong singkong rebus yang terlihat mengiurkan. Rahmadi memang belum makan seharian ini, perutnya hanya terisi dua tempe goreng dan air putih. Rahmadi berusaha sehemat mungkin membelanjakan uangnya, ini adalah usaha terakhirnya. Ia tidak mungkin kembali lagi ke Desa Sukatani jika uangnya habis, karena itu Rahmadi harus berhemat.   “Sayangnya ada beberapa hal buruk akhir-akhir ini, Anak Muda. Aku takut hal ini akan berimbas pada rencanamu,” ucap Ki Wacito dengan nada sedih hingga membuat Rahmadi tersedak singkong rebus karena terlalu terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD