"Lo nggak mau nunggu hujannya reda aja?" Arya bertanya meski tatapannya tetap tertancap pada televisi 42 inch, sementara kedua tangannya sibuk bergerak lincah menekan-nekan tombol yang ada di stick playstation, sembari duduk di bawah beralaskan karpet bulu empuk.
"Iya, hujannya makin deras," timpal Hasta yang duduk tenang di atas sofa dengan laptop di atas pangkuan.
"Nggak bisa, ada berkas yang harus gue selesaikan buat besok, jadi sekarang harus pulang kalo nggak mau mendekam di ruang kerja sampai tengah malam."
"Pak CEO kita yang satu ini memang pekerja keras, hari minggu juga masih harus pacaran sama kerjaan," celoteh Arya yang hanya di balas dengkusan Bastian. Alih-alih merasa dipuji, jelas sekali sahabat kampretnya itu hanya melempar sindiran padanya.
Ketiganya tengah berada di lantai atas Cafe milik Hasta yang memang di peruntukkan sebagai ruang pribadi pria itu. Tak hanya untuk mengurus pekerjaan soal Cafe miliknya, namun juga kamar layaknya di rumah sendiri. Karena jika tengah mengerjakan pekerjaannya hingga malam atau tengah malas pulang ke apartemen miliknya, Hasta akan menginap di sini yang juga di lengkapi tempat tidur. Bastian dan Arya juga sering menjadikan lantai dua ini sebagai markas mereka saat suntuk.
"Hati-hati Beb, kalo udah sampai rumah telpon Abang," celoteh Arya yang mendapat lemparan bantal sofa dari Bastian.
Tak memedulikan rentetan u*****n Arya untuknya, Bastian memilih untuk beranjak pergi. Ia sendiri sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Apalagi mereka sudah berencana pergi ke salah satu Clubbing langganan nanti malam. Sayangnya, sang Papa menghubungi dan menanyakan berkas yang memang sengaja Bastian tunda pengerjaannya karena ia pikir pembahasannya masih mimggu depan. Tapi tiba-tiba diajukan besok siang. Jadi mau tidak mau, sekarang dirinya harus menyeret kaki untuk pulang. Keadaan yang tengah hujan deras sebenarnya kian membuat Bastian malas. Tapi jika menunggu reda ia bisa kemalaman sampai rumah. Alih-alih menyelesaikan pekerjaan, ia akan takluk dengan godaan tempat tidur yang menjanjikan kenyamanan untuk tubuhnya yang tengah lelah.
Bastian mengendarai mobilnya dengan perlahan, meski ingin segera sampai, di tengah derasnya hujan dan jalanan licin tentu bukan hal yang tepat jika melajukannya dengan terlalu cepat.
Membunuh bosan, pria itu menyalakan radio untuk menemani perjalanan agar tak lengang. Suara guyuran air hujan justru membuatnya ngantuk, jadi dengan mendengarkan coletehan penyiar radio bisa menjadi teman selama perjalanan, sekaligus membuatnya agar tetap terjaga.
Tiba-tiba, terbersit bayangan tentang kekasihnya yang selalu ia rindukan. Seperti saat-saat awal dirinya begitu gencar mencoba menghubungi Ratu, tak peduli wanitanya kadang justru merajuk dan kesal karena menganggap perhatian Bastian mengganggu konsentrasinya saat bekerja. Kini pria itu memilih untuk tak begitu intens mencari tahu apa saja yang tengah dilakukan kekasihnya. Setidaknya Ratu menyempatkan diri untuk menghubunginya tadi pagi dan memberitahu akan menambah waktu di Paris karena ingin berlibur selepas menyelesaikan pemotretan di sana.
Mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Bastian sendiri bukan tipe petualang wanita seperti Arya, tidak juga pria pasif layaknya Hasta. Jika dirasa memiliki kecocokan, dia tak akan ragu menjalin hubungan. Sayangnya, beberapa hanya bertahan dalam hitungan bulan. Dan Ratu, adalah satu-satunya wanita terlama yang menyandang status sebagai kekasihnya.
Kesibukan kadang menjadi penghalang Bastian, membuatnya sering absen dalam rencana kencan hingga kekasihnya merajuk setiap kali ingin pergi berdua. Entah sekadar bertemu melepas rindu, atau kencan sembari jalan-jalan, dalam hal ini biasanya kedua tangannya akan penuh membawa banyak kantung belanjaan. Milik wanitanya tentu saja. Bastian tak pernah mempermasalahkan itu. Selagi ia mampu, apa pun yang wanitanya mau, akan ia berikan. Hal yang kadang mendapat cibiran dari Arya, menganggap dirinya adalah bucin menyedihkan.
Berbeda dengan pacar-pacar terdahulunya. Ratu sedikit berbeda. Jika dulu Bastian yang tenggelam dalam kesibukan hingga sering kali mengabaikan wanitanya. Kini justru berkebalikan, dia yang lebih sering uring-uringan karena sulit sekali untuk bertemu dengan kekasihnya sendiri. Ia jadi meringis, mungkin seperti ini yang dirasakan oleh mantan-mantannya terdahulu.
Ratu berprofesi sebagai model, tak hanya dalam negeri, wanita itu juga sering mendapat pekerjaan di luar negeri. Bastian kagum dengan kemandirian dan kerja keras Ratu. Meski kadang, hal itu menjadi sesuatu yang ia keluhkan, karena intensitas kebersamaan mereka kian terbatas. Belum lagi kesibukannya sebagai CEO juga cukup menyita waktu. Jika sedang sama-sama sibuk, terpaksa hanya bisa melakukan komunikasi lewat ponsel. Satu-satunya benda yang bisa menjadi perantara untuk mencari tahu kabar masing-masing. Sayangnya, komunikasi kadang berjalan hanya satu arah. Karena hanya dirinya yang sibuk mencari tau kabar Ratu, tapi tidak untuk sebaliknya.
Bastian tahu, tidak seharusnya ia melamun di kala mengendarai mobil. Bukankah menyalakan radio tujuannya adalah untuk menemani di kala sepi, sekaligus agar ia tetap fokus. Meski kantuk tak lagi menggelayuti, dia justru sibuk memikirkan sang pujaan hati. Akibatnya, Bastian tak mengira bisa sefatal ini. Tanpa diduga, tiba-tiba ada seseorang yang menerjang mobilnya dari arah berlawanan.
Semua terlalu cepat, bak kilat yang menyambar. Bastian bahkan tak sempat memelankan laju kendaraannya ketika peristiwa mengerikan itu menghampirinya.
Bruk!
Suara hantaman keras membuat Bastian terpaku. Nyawanya seolah tercabut dari raga. Wajah pria itu sudah berubah pasi. Tangannya yang mencengkram setir seketika tremor, otaknya bahkan sulit mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi?
Yang jelas, pria itu berharap semua hal mengerikan ini hanya mimpi. Karena dalam bunga tidur pun ia tak sanggup membayangkannya.
Setelah terpaku beberapa lama, Bastian membuka pintu mobil dengan gerakan serampangan, bergegas keluar untuk memastikan sesuatu. Berharap yang baru saja ia tabrak, atau mungkin saja menabrak mobilnya adalah benda tak bernyawa. Meski itu mustahil karena meski samar ia masih bisa menangkap bayangan seseorang. Mengabaikan tubuhnya yang sudah pasti akan basah kuyup terjamah hujan, kakinya berlari menjejak tanah basah.
Tapi, siapa yang peduli dalam situasi seperti saat ini?
Kebasahan karena hujan, atau sepatu mahalnya yang terkotori tanah, tak sebanding dengan apa yang baru saja ia lakukan? Atau lebih tepatnya tak sengaja ia lakukan?
Derasnya hujan bahkan membuat pandangannya memburam. Dalam hati, pria itu sibuk merapalkan permohonan semoga bukan orang yang tadi menghantam mobilnya.
Sayang, sepertinya do'a Bastian tak terkabul. Ketika berlari ke depan, matanya terbelalak mendapati tubuh seseorang yang sudah tergeletak.
"Astaga! Apa yang baru aja gue lakukan?" Bastian meremas rambut basahnya penuh rasa frustasi. Di tengah keriuhan hujan yang menjamah sekujur tubuhnya hingga kuyup.
***
Wening sadar, teriakannya yang meminta tolong hanya menjadi sia-sia karena suaranya tertelan keriuhan derasnya hujan.
Tapi, dia tak peduli. Selagi kakinya sibuk berlari, gadis itu terus meneriakkan pertolongan kepada siapa pun yang mungkin saja mendengar.
Sementara di belakangnya, pria bengis itu tak juga berhenti mengejarnya. Di iringi u*****n dan ancaman yang tak Wening pedulikan.
Jalanan begitu sepi. Tak ada satu pun pengendara yang tertangkap penglihatan Wening. Membuatnya kian didera frustasi, pada siapa ia harus meminta pertolongan?
Wening memekik, saat kakinya kehilangan keseimbangan karena terpleset, hingga tubuhnya terjerembab. Sayangnya, ia tak memiliki waktu untuk meratapi rasa sakit yang mendera lutut, siku, serta telapak tangannya yang terluka. Bahkan luka di lututnya mengeluarkan darah.
Dengan kepayahan, gadis itu bersikeras menegakan tubuh kembali. Rasa panik jauh lebih besar dari rasa sakit yang ia rasakan. Terlebih, melihat pria yang mengejarnya kian dekat.
Kembali menyeret langkah, Wening melanjutkan upayanya melarikan diri. Tak sudi menyerah dan bersiap di koyak sosok bengis di belakangnya. Beruntung, kondisi pria itu yang sepertinya masih dipengaruhi alkohol, membuat larinya sempoyongan dan beberapa kali terjatuh sendiri. Kesulitan untuk fokus mengejar Wening yang berlari cukup kencang.
Karena sibuk menoleh ke arah belakang, Wening luput dengan keberadaan sebuah mobil yang melaju dari arah depannya. Tapi ketika gadis itu mengalihkan pandangan, netranya terbelalak, mendapati mobil yang luput dari perhatiannya itu menghantam tubuh ringkihnya dengan cepat.
Pria yang mengejar Wening tak kalah terkejut. Ia segera menghentikan laju larinya. Tak ingin terlibat dengan kekacauan di depannya, pria itu memilih berbalik arah. Meski u*****n meluncur dari bibirnya terus menerus. Kesal karena mangsa yang susah payah ia buru, gagal di dapat, karena mungkin ... kini dia sudah mati.
Wening merasa jika sekujur tubuhnya remuk redam. Lolongan kesakitan bahkan sulit ia suarakan. Hanya rintihan yang teredam keriuhan hujan yang berhasil meluncur keluar. Di tengah sisa kesadarannya yang nyaris terenggut, gadis itu mengulum senyum, berpikir mungkin ini adalah jalan agar ia tak lagi kesepian. Ajalnya mungkin sudah datang, dan ia bisa bertemu dengan keluarganya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan dunia.
***
"Maafkan saya, Tuan. Tidak seharusnya membiarkan Nona Wening pergi sendirian, dia belum tahu jalanan di sini, saya benar-benar ceroboh," Mbok Sri terus berucap dengan isakan yang sedari tadi tak juga reda. Wanita paruh baya itu di rongrong rasa bersalah karena Wening yang berkata ingin berbelanja di minimarket depan belum juga kembali. Padahal waktu sudah gelap di luar sana. Belum lagi, hujan yang mengguyur sedari sore belum juga berhenti.
Tak hanya Mbok Sri yang di jejali rasa khawatir, Halim Pradipto, sang Tuan pun tak berhenti mondar-mandir dengan raut cemas. Ia sudah meminta beberapa orang kepercayaannya untuk mencari Wening. Tujuan utama, tentu saja minimarket yang katanya menjadi tempat tujuan gadis itu, tapi ternyata tak ada. Entah ke mana perginya putri sahabatnya itu?
Wening tidak mungkin melarikan diri. Jika sedari awal tak mau tinggal di kediamannya, gadis itu tak akan mau meninggalkan kampung halamannya dan ikut ke Jakarta. Jadi, yang menjadi kekhawatiran Halim adalah gadis itu tersesat. Yang lebih parah, pikirannya menciptakan kemungkinan-kemungkinan menakutkan lainnya. Seperti, apa mungkin gadis itu diculik? Menjadi korban kriminal di jalan karena berkeliaran sendirian di tempat asing?
Berbeda dengan dua orang yang sedang di serbu rasa khawatir. Sang Nyonya rumah justru tampak tenang. Duduk di sofa empuk dengan memangku sebuah majalah fashion. Sesekali menyeruput teh hijau untuk memberi rasa hangat karena udara yang terasa dingin.
"Bastian juga belum pulang, Papa nggak khawatir?"
Pertanyaan sang istri membuat Halim berhenti mondar-mandir seperti setrika baju. Pria itu menatap istrinya yang fokus pada majalah di atas pangkuan, "Bastian sudah besar, dia tentu ingat jalan pulang, dan dia pria dewasa yang bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi, bagaimana bisa Mama menyamakan kondisinya dengan Wening?" Halim tak ingin berkonfrontasi dengan sang istri. Tapi ucapan perempuan itu menyulut rasa kesal di tengah rasa khawatir yang dirasakannya.
Alih-alih bungkam, Laksmi justru kembali bersuara dengan nada tenang namun penuh sindiran, "orang asing bahkan lebih penting dari anak sendiri," ucapnya tanpa gentar ketika mendapati wajah keras sang suami yang sudah di lingkupi emosi.
"Mama yakin, ingin memperpanjang omong kosong ini?" Halim tak ingin meladeni istrinya yang berusaha bermain-main dengan emosinya. Istrinya memang bisa menjadi sosok yang sangat keras kepala dan menyebalkan di waktu tertentu. Tapi jelas, bukan sekarang ketika pikiran Halim tengah kacau oleh keadaan Wening yang belum ia ketahui.
Laksmi yang melihat suaminya seakan menantang mulai terpancing. Lupa jika sedari awal ia yang ingin mengusik sang suami karena sibuk meributkan gadis udik yang menyusahkan seisi rumah.
Meletakkan majalah yang sebelumnya di pangkuan ke atas meja. Wanita itu bangkit dari nyamannya sofa yang nyaris satu jam ia duduki. Bersedekap tangan, ia tinggikan dagu dengan mata menyorot tajam, "kenapa nggak? Yang Papa katakan sebagai omong kosong adalah kebenaran."
"Kebenaran ap---"
"Tuan, Nyonya!" Suara keras Tati yang datang tergopoh-gopoh menginterupsi peperangan antara suami istri itu, "gawat! Benar-benar gawat!" Racaunya sembari mengacungkan telpon rumah.
"Bicara yang benar, Tati, jangan membuat bingung," kesal Laksmi melihat tingkah Tati seperti ikan menggelepar di daratan dan tak berhasil menemukan air.
"Den Bastian, Nyonya," setelah mengembuskan napas untuk menenangkan diri, Tati mulai memberi informasi mengejutkan yang baru saja ia dapatkan saat mengangkat telpon rumah yang berada di dapur. Bastian menelpon ke sana karena ponsel Mama dan Papanya tak bisa di hubungi. Jelas saja, Nyonya dan Tuannya sibuk berperang mulut, batin Tati ketika mendengar perdebatan sengit dua majikannya dari dapur. Jika tidak di sibukkan dengan menata isi kulkas, ingin sekali dirinya ikut menjadi penonton.
"Kenapa dengan Bastian?" Raut cemas segera menyelimuti wajah Laksmi yang baru saja bersitegang dengan suaminya. Hilang sudah rasa kesal yang nyaris membuatnya meledak. Kini, fokusnya hanya pada kabar putra sulungnya yang tiba-tiba membuatnya memiliki firasat yang tidak baik, "Tati, Bastian kenapa? Jelaskan! Jangan hanya diam!" Tembaknya bertubi-tubi pada Tati yang justru bungkam.
"Den Bastian itu Nyonya," Tati yang tadi begitu menggebu-gebu membawa kabar dari Tuan mudanya kini justru ciut. Ia kebingungan bagaimana cara menjelaskannya pada majikannya. Terutama sang Nyonya yang seolah siap menelannya bulat-bulat.
"Itu apa? Yang jelas!" Laksmi kembali berseru keras karena kesal.
Melihat situasi yang tak kondusif, Halim mengambil alih, "bisa jelaskan apa yang Bastian samapaikan Tati?" Ucapnya lebih tenang dari sang istri. Agar tak membuat Tati ikut kalut.
"Den Bastian tadi ngasih tau, sekarang di rumah sakit, karena kecelakaan."
"Apa?!" Laksmi memekik dengan tubuh yang terhuyung, beruntung Halim dengan sigap memeluk pinggang sang istri yang tengah syok, "Pa, Bastian," ucapnya terbata.
"Tenang Ma, kita ke rumah sakit sekarang," meski dirinya juga dilanda rasa terkejut, Halim mencoba untuk tetap bersikap tenang, jika ia ikut panik, hanya akan membuat keadaan semakin kacau, "Tati, beritahu Pak Jaja untuk menyiapkan mobil. Kami akan ke rumah sakit sekarang. Bastian bilang di mana rumah sakitnya?"
Tati menganggukkan kepala sembari menyebut salah satu nama rumah sakit.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" Suara Calya menginterupsi. Gadis itu menuruni anak tangga sembari memeluk Atsah, kelinci peliharaan kesayangannya.
"Kakak kamu sekarang sedang di rumah sakit," jelas Halim menjawab pertanyaan putrinya.
"Kak Bastian kenapa?"
"Kecelakaan," kali ini Laksmi yang buka suara meski terdengar bergetar.
Calya terbelalak, tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Gadis itu berderap cepat menghampiri kedua orangtuanya, "Ma, Pa, aku ikut!"
"Kamu tunggu di rumah saja, kita juga belum tahu kondisi sebenarnya seperti apa," Halim mencoba memberi pengertian.
Menggelengkan kepala, Calya menyerahkan Atsah dalam gendongan Tati yang tampak kebingungan, "pokoknya aku ikut!" Serunya bersikeras.
Halim hanya bisa mengela napas. Putrinya adalah fotocpyan sang istri, termasuk tentang sifat keras kepalanya. Oh, bahkan Sifat keras kepala itu juga menurun pada Bastian.
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Halim membiarkan putrinya ikut. Meski di tengah rasa panik tentang kondisi Bastian, tak membuat Halim melupakan kecemasannya pada Wening yang belum juga mendapat kabar. Melalui orang suruhannya, ia akan terus memantau. Tanpa diketahui istrinya yang hanya akan menyulut pertengkaran. Apalagi saat ini kondisinya sedang kacau.
***
Bastian mengacak rambut hitamnya yang masih terasa basah entah untuk keberapa kali, yang jelas, rambut yang selalu tertata rapi kini berubah semrawut. Seperti keadaan hatinya saat ini.
Rasa panik, bingung, takut, berjejal dikepalanya yang terasa hampir pecah. Bahkan dalam mimpi terburuk sekalipun, ia enggan mendapat peristiwa semacam ini. Ketika dengan kedua matanya melihat tubuh bersimbah darah dan tergeletak di dekat mobilnya.
Susah payah Bastian mengais kewarasannya, membawa tubuh yang tak lagi bergerak itu ke dalam mobilnya.
Entah harus bersyukur atau sebaliknya, karena di tengah keadaan hujan deras di mana jarang ada yang berlalu lalang kendaraan atau pun para pejalan kaki. Bastian tak harus sampai di hakimi massa, karena dituduh mencelakai orang lain.
Butuh waktu untuk Bastian menjalankan mobilnya. Tubuhnya tremor, ia bahkan nyaris menelpon Arya atau Hasta demi meminta bantuan. Setidaknya, salah satu dari mereka bisa mengantar atau mewakilkan dirinya mengendarai mobil.
Tapi, saat keadaannya sudah dirasa tenang. Bastian akhirnya memilih untuk pergi ke rumah sakit sendiri. Pria itu tak berani menatap sosok yang tergeletak di belakang jok mobilnya, bahkan sekadar mengintip dari kaca spion dalam. Ia hanya fokus menyetir hingga sampai ke tempat tujuan tanpa ada tragedi lanjutan.
Suara derap langkah yang di iringi suara seseorang yang memanggil namanya, membuat Bastian mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk lesu.
Pandangannya segera menangkap sosok keluarganya. Terutama sang Mama yang sudah bercucuran air mata dan segera menghambur ke pelukannya dengan Isak tangis.
"Ma," Bastian baru saja membuka suara, harus terinterupsi oleh terjangan lanjutan pada tubuhnya. Kali ini Calya, sang adik yang ikut memeluk erat tubuhnya meski agak kesulitan oleh posisi sang Mama.
"Bastian?" Halim memperhatikan keadaan putranya yang baru saja mengalami kecelakaan. Tapi, tak tampak luka apapun pada tubuh putra sulungnya, selain keadaan tubuhnya yang basah kuyup dan noda darah yang menempel di baju.
"Pa," Bastian Kelu, ia di sergap rasa gugup dan takut saat melihat sang Papa.
"Kenapa duduk-duduk di kursi tunggu?" Halim mengernyitkan kening, ia bingung melihat Bastian yang di pikirnya tengah menjalani perawatan karena baru saja mengalami kecelakaan. Tapi kenapa justru duduk-duduk di kursi tunggu seorang diri?
Seolah baru menyadari sesuatu karena perkataan suaminya, Laksmi melepas pelukannya pada tubuh sang putra, kedua tangannya menangkup wajah Bastian, menelitinya untuk mengetahui apakah ada luka sekecil apapun itu, "Papamu benar sayang, kenapa kamu malah duduk di sini? Sudah dapat penangangan belum?" Menoleh ke arah sang suami, Laksmi kembali berucap, "Pa, pokoknya Bastian harus dapat perawatan terbaik dan di tangani Dokter terbaik juga."
"Ma," sebelum ia di seret ke ruang perawatan, Bastian harus menjelaskan sesuatu. Meski ada rasa takut yang merongrongnya, "aku nggak apa-apa," akunya.
"Nggak apa-apa gimana? Kakak kan kecelakaan," sela Calya yang sedari tadi diam akhirnya ikut angkat bicara.
"Iya Bas, meskipun nggak ada luka luar, bisa aja ada luka dalam kan?" Laksmi menyentuh pundak putra sulungnya, berusaha membujuk.
Mengela napas, Bastian menguatkan tekat. Ia harus bicara, jika tidak keluarganya akan terus salah paham. Mengira dirinya yang mengalami kecelakaan, "sebenarnya, bukan aku yang kecelakaan."
Semua mata menatap Bastian heran. Kenapa jadi membingungkan seperti ini? Jelas-jelas Tati berteriak heboh, mengatakan jika Bastian baru saja mengalami kecelakaan hingga harus di bawa ke rumah sakit.
"Aku ...," Kenapa sulit sekali rasanya. Ayolah, sejak kapan dia menjadi seorang pengecut? Bastian memejamkan mata sejenak, mencoba mengais keberanian yang tiba-tiba berserakan, "aku nabrak orang," Akunya cepat hanya dengan satu tarikan napas, sebelum kemudian menundukkan kepala. Tak berani menatap wajah keluarganya. Meski ia masih sempat mendengar suara terkesiap.
"Astaga! Bas, bagaimana bisa?" Laksmi nyaris memekik, mendengar apa yang baru saja dituturkan sang putra. Meski ada rasa lega karena Bastian tak mengalami luka, tapi di sisi lain dia juga cemas dengan keadaan korban yang Bastian tabrak. Bukannya apa, dia hanya tak ingin putranya berurusan dengan hukum.
"Bastian juga nggak tahu, Ma," ya, dia saja masih seperti tengah bermimpi. Peristiwa beberapa jam lalu begitu cepat sebelum otaknya mampu memproses dengan baik, "hujan deras, jalanan jadi agak sulit terlihat, terus tiba-tiba aja, ada suara hantaman keras sama mobil yang Bastian kendarai. Pas keluar, dia ... Udah tergeletak dan nggak sadarkan diri," jelasnya karena tak ingin di salahkan sepenuhnya.
"Terus sekarang, gimana keadaan korban?"
Korban? Bastian sendiri belum yakin, siapa sebenarnya di sini yang menjadi korban, "belum tahu Pa, masih diperiksa di dalam."
"Keluarga pasien?" Seorang pria awal empat puluhan muncul dari balik pintu ruang pemeriksaan. Dengan jas dokter membalut tubuh yang masih tampak tegap. Tak lupa sebuah stethoscope menggantung di lehernya. Pria itu mengedarkan pandangan, sembari membenarkan letak kacamatanya.
"Kami yang bertanggung jawab atas pasien, Dok," Halim maju mewakilkan putranya yang masih tampak shock, "bagaimana keadaan pasien?" Tanyanya pada sang Dokter yang kini meletakan atensi padanya.
Tak hanya Halim, semua orang ikut mendengar keterangan Dokter dengan seksama. Mereka bisa bernapas sedikit lega ketika Dokter mengatakan jika kondisi pasien sudah mulai kondusif, terdapat beberapa luka ditubuhnya, selain itu, kaki kirinya juga di gips karena patah tulang. Setelah semua sudah dipaparkan, sang Dokter undur diri, ia juga memperbolehkan untuk menjenguk pasien namun dalam jumlah terbatas, maksimal dua orang karena pasien masih butuh istirahat.
Sempat terjadi perdebatan kecil, karena Laksmi dan Calya bersikeras ingin ikut masuk, sementara Halim meminta keduanya untuk menunggu di luar, mengingat Dokter tadi berkata hanya diperbolehkan dua orang yang bisa masuk ke dalam ruang perawatan pasien.
Meski sebal, anak dan ibu itu akhirnya menurut pada sang kepala keluarga. Keduanya mendudukkan diri di kursi tunggu sembari memainkan ponsel masing-masing.
Sementara Bastian tengah dilanda rasa gugup, saat sang Papa mengajaknya masuk untuk melihat keadaan orang yang terlibat kecelakaan dengan putranya itu.
Menyeret langkah, Bastian mengekor di belakang. Siap menerima amukan sang Papa padanya.
"Astaga, bagaimana bisa?" Pria paruh baya itu terkejut melihat sosok yang tengah terbaring tak berdaya di atas brankar perawatan. Membuatnya segera melempar tatapan pada sang putra, "Bastian?" Ulangnya ketika anak sulungnya itu hanya bisa bungkam.