Tawa wanita cantik itu terinterupsi oleh kedatangan seorang pelayan. Alisnya yang terukir rapi melengkung indah saat keningnya mengernyit.
"Maaf menganggu Mbak, ini ada pesanan," ujar sang pelayan sembari meletakan segelas Raspberry Smoothie yang tampak lezat dan menyegarkan.
"Tapi saya nggak pesan ini, Mas," wanita itu kebingungan ketika tiba-tiba di datangi seorang pelayan laki-laki di tengah perbincangan seru bersama teman-temannya. Karena seingatnya, dia sudah memesan makanan dan minuman pilihannya sendiri. Dan jelas, Raspberry Smoothie yang kini tersuguh di hadapannya bukan salah satu yang ia pesan.
Merekahkan senyuman, pelayanan itu mengangsurkan sebuah tisu di samping gelas Raspberry Smoothie yang tadi ia letakkan. "Ini pesanan khusus dari meja nomor sembilan untuk Mbak, saya hanya bertugas untuk mengantarkan Mbak," jelasnya.
Gadis itu segera melarikan pandangan pada penghuni meja nomor sembilan, seperti yang tadi di sebutkan. Dan netranya kemudian menemukan dua pria yang ... Baiklah, tak bisa ia elak memiliki wajah rupawan yang membuat wanita manapun tak bisa berpaling dari mereka.
Pria pertama mengenakan kemeja biru, rambut kecoklatannya tertata begitu apik dengan wajah bersih tanpa rambut semacam kumis ataupun janggut. Berbanding terbalik dengan pria yang duduk berhadapan dengan si kemeja biru. Pria berkemeja hitam yang lengan kemeja panjangnya sudah di gulung hingga siku itu, memiliki bakal janggut yang membayang. Begitu manly dan sexy di matanya.Surai hitam milik si pria kemeja hitam tak tertata seapik temannya, namun itu menjadi daya pikatnya tersendiri.
"Jika tidak ada hal lainnya, saya permisi," ucap pelayan itu sopan, dan segera berlalu setelah mendapat anggukan.
"Wah gila! Nona kita satu ini selalu ada saja penggemarnya ya," goda temannya yang membuat wanita itu tak bisa menahan senyum.
"Modusnya boleh juga," timpal temannya yang lain.
Tak mengindahkan kedua temannya yang masih sibuk melempar godaan padanya, perhatian wanita itu justru tertuju pada tisu yang berada di samping gelas Raspberry Smoothie yang ia sendiri belum tahu dari siapa. Mengingat, ada dua pria yang duduk di sana.
Meraih tisu tersebut, wanita itu segera membuka dan membaca deretan kata yang tertulis di sana.
Untuk makhluk cantik bergaun merah.
Hanya sederet kalimat singkat. Yang ... Harusnya membuatnya bergidik karena cukup cheesy. Biasanya, ia akan mengabaikan karena malas menanggapi pria-pria yang tengah mencoba flirting padanya. Tapi ... Entah kenapa, kali ini dia justru tertarik menanggapi. Apalagi, saat ntera hitam yang tampak tajam itu tak sengaja bersirobok dengannya. Hanya satu detik, tapi berhasil membuat jantungnya berdegup tak biasa.
"Gue tinggal bentar ya, guys,"
"Wah ... Ada angin apa nih? Tumben banget lo mau nanggepin hal kaya gini?"
"Iya, kemarin cowok yang ngasih buket bunga super besar, lo anteng-anteng aja. Tap ini? Hanya karena segelas Raspberry Smoothie, sampai bikin lo turun tangan?"
"Gue nggak lama," tak mengindahkan ocehan dua temannya, wanita itu beranjak dari tempat duduknya. Namun, belum juga mengayunkan langkah, dia kembali mendudukkan diri.
"Kenapa? Nggak jadi? Lo berubah pikiran?"
"Astaga, lo bawel banget, pinjem pulpen dong, lo kan suka bawa pulpen kemana-mana. Padahal artis juga bukan, siapa yang mau minta tanda tangan lo coba?" menjulurkan tangan, ia menunggu temannya yang tengah menggerutu sembari mengorek isi tasnya. Setelah mendapat pulpen yang ia butuhkan, wanita itu segera menulis sesuatu di atas tisu yang sama, pemberian dari salah satu pria meja nomor sembilan. Di iringi kedua temannya yang melongokkan kepala, demi mencari tahu apa yang tengah ditulisnya.
Mengembalikan pulpen milik temannya, wanita itu bangkit dari tempat duduk, merapikan sejenak gaun merah di atas lutut yang membungkus tubuh rampingnya. Setelahnya, dia melangkah pasti dan penuh percaya diri.
Sesampainya di meja nomor sembilan, wanita itu mengerutkan kening ketika mendapati pria berkemeja biru tengah merunduk hingga setengah tubuhnya berada di bawah meja. Entah sedang melakukan apa? Sementara pria dengan kemeja hitam tengah serius menatap layar ponsel di tangannya.
Berdeham hanya agar memberitahu kehadirannya secara tidak langsung, wanita itu merekahkan senyuman manis yang biasanya mampu memikat hati para pria.
Pria dengan kemeja hitam mengalihkan atensinya dari layar ponsel ke arah wanita asing yang berdiri sembari merekahkan senyuman tepat di sampingnya.
Duk!
"Aduh!" Seru pria berkemeja biru yang sedari tadi sibuk di bawah meja. Sepertinya, dia juga mendengar deham yang sengaja dikeraskan.
Mengusap kepala sembari meringis, pria kemeja biru itu segera merubah raut wajahnya menjadi cool, setelah melihat siapa yang kini bergabung di meja mereka. Baru juga akan membuka mulut, wanita itu sudah lebih dulu bersuara.
"Terima kasih, aku menyukainya, Raspberry Smoothie," ucapnya sembari mengamati dua pria yang tengah ia cari tahu siapa kira-kira pengirim minuman itu.
Pria kemeja biru yang hendak membuka mulut lagi-lagi di dahului, kali ini oleh temannya sendiri. Membuatnya mendesis kesal.
"Itu salah satu minuman andalan di Cafe ini, sangat pas untuk cuaca panas dan membuat gerah seperti sekarang," ujar pria berkemeja hitam dengan ramah. Membuat wanita yang berdiri diam itu melengkungkan senyuman yang lebih lebar, terutama saat pria berkemeja hitam bangkit dari duduk dan mengucapkan kalimat yang melambungkan hati sang wanita, "oh, maaf. Seharusnya saya tidak membiarkan seorang wanita berdiri terlalu lama, anda ingin duduk di sini, Nona?"
"Tidak, tidak perlu," ucapnya tak kalah ramah, senyumnya bahkan tak juga surut. Tangan berkuteks merah itu kemudian mengangsurkan tisu yang pasti salah satu penghuni meja itu kenali. "Hanya ingin mengembalikan ini," ucapnya semabri menyelipkan rambut ditelinga dengan gerakan s*****l, “Aku tunggu kabar baiknya,” lanjut wanita itu, sebelum kemudian berlalu pergi dengan langkah yang begitu anggun.
"Ck!"
Suara decakkan yang terdengar kesal membuat pria berkemeja hitam menolehkan kepalake arah temannya yang menatapnya dengan raut masam. "Apa?" Tanyanya dengan satu alis terangkat dan wajah bingung. Kenapa temannya itu memberikan tatapan seolah ia baru saja melakukan tindakan kriminal?
"Gue yang modal, lo yang dapat," gerutu pria berkemeja biru.
"Modal apaan?" Hanya beberapa saat keningnya mengernyit, sebelum kemudian mendengkus saat tahu maksud terselubung sahabatnya. "Astaga! Arya Guinandra, stop nyari korban di Cafe gue!" Seru pria berkemeja hitam kesal sembari mendudukan diri ke kursinya. Ia tak habis pikir dengan Arya, sahabatnya yang selalu menebar modus di mana pun menjejakkan kaki. Jangan-jangan, ketika dikuburan juga, pria itu akan melancarkan modusnya kepada para hantu yang tinggal di sana. Dasar playboy cap k*****t, seperti gelar yang diberi Bastian, sahabat mereka sepertinya memang tepat untuk Arya, bujangan pemburu wanita.
"Korban? Emang gue penjahat? Lo juga, ngapain tadi nyerobot jatah gue, Hasta Luthfi Mahendra? Biasanya juga irit ngomong, kenapa tiba-tiba lo punya stok kata buat di umbar? Mentang-mentang berhadapan sama makhluk cantik."
"Jatah apaan? Jangan aneh-aneh, dia pelanggan gue, jadi sudah kewajiban buat bersikap ramah biar mereka nyaman." Ya, meski Hasta tipe orang yang cukup pendiam, tapi jika itu berkaitan dengan para pelanggan Cafenya, dia berkewajiban bersikap baik dan ramah.
"Tapi dia jadi salah paham, pasti dikiranya itu Raspberry Smoothie dari lo," ungkapnya tentang flirting yang tengah ia lakukan.
Sejak memasuki Cafe milik Hasta, perhatiannya sudah tercuri pada wanita bergaun merah yang tengah seru berbincang dengan dua temannya. Jiwa pengagum makhluk indahnya langsung berkobar. Memesan Raspberry Smoothie dengan menitipkan tisu yang sudah ditulisnya dengan kata-kata, ia meminta salah seorang pelayan untuk mengantarkannya ke sana. Berhasil, wanita itu merespon, sayangnya, ada sedikit miskomunikasi. Ck, kalo aja dia nggak sibuk nyari gopean yang terjatuh dari kantung, mungkin modusnya akan sukses. Lagipula, kenapa juga tadi dia harus mencari-cari uang logam itu hingga ke bawah meja. Niat awalnya yang sekadar iseng malah merusak renaca modusnya.
"Najis banget muka lo, kenapa?"
Suara itu menginterupsi pembicaraan Arya dan Hasta. Menolehkan kepala serentak, rupanya tempat duduk mereka sudah di tempati sosok yang sedari tadi di tunggu.
"Heh, kura-kura ninja, lama banget lo? Mandi kembang?!" Omel Arya, pas sekali dia bisa menumpahkan kekesalannya pada Hasta ke makhluk yang, astaga, coba lihat? Dengan kalem mengunyah sandwich miliknya yang ia sendiri bahkan belum makan satu gigitan pun, "pesan sendiri sana, woy!"
"Tanggung, lo aja yang pesan lagi. Ini udah terkontaminasi sama iler gue, lo masih mau?" Dengan raut sok polos, Bastian menyodorkan sandwich yang sudah digigitnya dalam gigitan besar ke arah Arya yang malah menabok punggung tangannya yang memegang sandwich.
"Najis!" Desisnya kesal dengan tampang merajuk. Membuat Bastian tergelak, sementara Hasta hanya menggelengkan kepala sembari mengulum senyum melihat tingkah dua sahabatnya itu.
***
Wening ikut terjun ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Dia bosan terus mendekam di kamar. Berkeliaran tanpa tujuan di ruangan lain pun segan. Sementara pergi keluar, dirinya tak tahu harus ke mana. Karena sama sekali tak mengenali daerah yang ada di Jakarta.
Jadi, ia putuskan ikut membantu Mbok Sri dan Bik Tati di dapur untuk menyiapkan makan siang. Meski sedari tadi Mbok Sri memintanya untuk tak perlu merepotkan diri. Tapi setelah membujuk susah payah, akhirnya wanita paruh baya itu hanya bisa menghela napas dan membiarkan Wening berkutat dengan panci berisi sup. Dia tak memperbolehkan Wening mengiris dan menggoreng.
Sementara Wening sendiri merasa tak terlalu membantu. Yang dilakukannya sedari tadi hanya mengaduk kuah sup di dalam panci.
"Biar aku saja Mbok," Wening segera mematikan kompor ketika sup sudah selesai di masak. Kemudian berjalan mendekat ke arah Mbok Sri yang tengah mengelap piring dan gelas. Semua makanan sudah nyaris matang dan siap di hidangkan. Daripada bengong di depan kompor, Wening berinisiatif mengambil alih apa yang tengah di kerjakan Mbok Sri.
"Tidak perlu, Wening. Supnya sudah matang? Kamu istirahat saja," tolak Mbok Sri lembut.
Wajah Wening tertekuk masam, "aku bosan jika hanya diam, Mbok. Dulu di rumah, udah biasa masak sendiri," ya, meski dulu di rumah sang Papa juga terdapat asisten rumah tangga, tak jarang Wening turun langsung memasakkan beberapa menu favorit Papanya. Gadis itu selalu bahagia ketika melihat sang Papa makan dengan lahap dan berkata jika masakan putrinya itu persis seperti yang dulu sering di masak mendiang sang istri, "atau, aku saja yang goreng ayam gorengnya, ya? Sudah selesai di ungkep Mbok?” tak mau menyerah, Wening mengajukkan bantuan lainnya.
Wening ingat jika tadi, ayam yang akan di goreng terlebih dulu ia baluri dengan bumbu kemudian diungkep agar bumbunya lebih meresap. Selagi menunggu ayam yang tengah di ungkep, dirinya kemudian mengajukan diri untuk mengaduk sup karena melihat Bik Tati cukup kerepotan karena mengurus menu masakannya yang lain.
"Jangan, biar nanti Tati atau Mbok saja yang goreng ayamnya."
"Yah ... Kenapa?" Wening masih betah berkeliaran di dapur. Lebih baik menghabiskan waktu dengan kegiatan yang jelas berguna ketimbang sekadar tiduran dan mengutak-atik ponselnya yang selalu sepi. Siapa juga yang akan menghubunginya? Dia tak punya teman dekat. Pacar? Apalagi itu. Selama dua puluh satu tahun hidupnya, ia belum pernah menjalani hubungan asmara semacam itu.
Wening meringis, astaga ... Ternyata dia memang semenyedihkan itu.
Tapi bukan berarti ia tak laku. Sedari masih duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga bangku kuliahan, ada banya cowok-cowok yang mencoba mendekatinya. Tapi dengan sikap protektif sang Papa, bak menjadi singa jantan yang siap mengoyak buruannya, membuat mereka semua yang ternyata bernyali ciut, mundur perlahan. Meski diantaranya mengajak Wening backstreet, yang dengan jelas gadis itu tolak. Ia tak akan pernah menjalin hubungan tanpa restu dari sang Papa. Mana mungkin ia berani membohongi orang yang paling di sayangnya itu hanya untuk cowok yang baru hadir di hidupnya.
"Nanti kecipratan minyak," ucap Mbok Sri memberi alasan yang membuat Wening menahan diri untuk tidak tertawa.
Wening sudah sering di dapur. Jadi jika hanya kecipratan minyak panas, ia sudah tak asing. Bahkan, ia juga pernah teriris pisau, tersentuh wajan panas, bahkan ketumpahan air panas.
"Itu bukan masalah Mbok, percaya sama aku," rayunya sekali lagi.
Mengela napas, akhirnya Mbok Sri menganggukkan kepala. Gadis ini ternyata cukup keras kepala. Ya, meski dari gerak-geriknya yang terlihat luwes ketika mengerjakan sesuatu di dapur, membuat Mbok Sri percaya jika Wening memang sudah terbiasa di dapur. Jelas berbeda dengan Nona muda mereka yang masih kesulitan membedakan bentuk gula dengan garam, merica dengan ketumbar, jahe dengan lengkuas, bahkan daun bawang dengan sereh, dan masih banyak lagi. Tapi jika di tanya merek tas, sepatu, baju, dan barang-barang ternama lainnya. Sudah pasti hafal di luar kepala.
Setelah berkutat cukup lama di dapur, akhirnya semua makanan siap di hidangkan. Awalnya Wening berniat untuk kembali ikut membantu. Tapi kali ini Mbok Sri tak memberikannya ijin. Jadi Wening memilih untuk kembali ke kamar berniat mencuci muka yang dirasa berkeringat dan berminyak. Gadis itu ingin memperbaiki tampilannya menjadi lebih rapi. Agar Om Halim yang baru saja tiba tak curiga dan menanyainya macam-macam. Ia juga tak mau Mbok Sri dan Bik Tati dalam masalah. Bisa saja mengira mereka sengaja menyuruh Wening. Padahal gadis itu sendiri yang berinisiatif membantu.
Setelah selesai, Wening keluar kamar dan menuju ruang makan. Hampir sama seperti tadi pagi, ketika sampai di sana, ia menemukan Om Halim yang sudah duduk di tempatnya bersama Tante Laksmi. Keduanya sibuk dengan gadget masing-masing. Ada pemandangan yang berbeda kali ini. Tak ada sosok Calya, karena yang ia tahu, gadis itu belum pulang. Jadi sepertinya tak akan ikut serta di meja makan seperti pagi tadi. Putra sulung Om Halim juga tampak absen.
Oh, baguslah. Wening masih kesal. Melihat wajah pria menyebalkan itu membuatnya takut bertindak khilaf. Jangan sampai ia mengguyurnya dengan kuah sup yang tadi ia buat di dapur.
"Wening,"
Suara Om Halim menyadarkan Wening yang terhanyut dalam lamunan. Gadis itu bahkan tidak sadar sedari tadi hanya diam berdiri dengan tatapan kosong terarah di meja makan.
"Kenapa diam di situ? Ayo sini, kita makan siang bersama," dengan ramah, Om Halim mengajak Wening segera bergabung ke meja makan. Sementara Tante Laksmi, sama seperti tadi pagi. Enggan buka suara jika itu berkaitan dengan Wening. Menjadikannya bak makhluk tak kasat mata.
Mengangguk sungkan, Wening melangkah menuju meja makan. Kemudian mendudukkan diri di kursi yang ditempatinya tadi pagi.
"Ngapain jauh-jauh? Sini saja, Calya juga belum pulang, nggak akan ikut makan siang di rumah biasanya kalo udah asyik nongkrong bareng teman-temannya." Jelas Om Halim sembari menunjuk kursi kosong yang Wening tahu menjadi tempat duduk yang seakan sudah di patenkan oleh Calya. Dan meskipun sosoknya tidak ada, Wening tetap enggan untuk duduk di sana.
"Maaf sebelumnya Om, tapi terima kasih, biar saya duduk di sini saja," tolak Wening halus. Ia bukannya membantah, tapi ada rasa canggung yang selalu menggelayuti setiap kali berinteraksi dengan penghuni rumah ini. Bahkan dengan Om Halim. Meski tak sekaku interaksinya bersama Tante Laksmi ataupun Calya. Karena dua perempuan beda generasi itu yang tampak enggan terlibat atau melibatkan diri dengannya.
Tak lagi mencoba membujuk, Halim membiarkan Wening duduk di mana pun gadis itu suka.
***
Wening merapatkan cardigan rajut yang ia kenakan, agar menjadi pelindung dari terpaan angin yang cukup mencubit kulit. Melarikan pandangan pada penunjuk waktu, terlihat jarum jam yang menyentuh angka empat. Masih cukup sore, membuatnya kemudian memutuskan untuk mampir sebentar ke area taman yang tidak jauh dari kompleks perumahan keluarga Pradipto.
Jenuh karena tak ada aktivitas yang bisa dilakukan, membuat Wening akhirnya pergi ke mini market yang jaraknya tak terlalu jauh. Awalnya, Mbok Sri berniat meminta Pak Jaja, supir keluarga untuk mengantarkannya. Tapi Wening tolak, dia tak sekadar ingin membeli hal yang sebenarnya tak begitu mendesak. Gadis itu hanya ingin pergi agar bisa menghirup udara luar.
Dengan menaiki ojek online, Wening tak perlu khawatir akan tersesat. Toh, tempat yang di tujunya juga tak terlalu jauh.
Menenteng plastik berisi hasil belanjaan tadi di mini market, Wening memilih untuk mendudukkan diri di bangku taman. Suasana taman tak terlalu ramai, mungkin sebagian dari mereka takut tiba-tiba hujan akan menjatuhkan diri, mengingat, awan hitam yang sudah berarak menyembunyikan matahari. Wening pun tak akan berlama-lama, dia tak membawa payung, jika hujan tiba-tiba datang, dia bisa kerepotan.
Meraih sebungkus roti dan membuka kemasannya, gadis itu menikmati pemandangan di sekitar taman sembari mengunyah roti isi coklat favoritnya.
Sayangnya, jika tengah sendirian seperti sekarang, kadang ia akan terseret dalam lamunan.
Benar kata orang, hidup itu misteri. Wening sendiri tak menyangka kehidupannya begitu jungkir balik hanya dalam waktu singkat. Tak sekadar kehilangan sang Papa, ia juga kehilangan tempat tinggal dan kini menetap bersama sosok asing. Menyadari kehadirannya tak di terima sepenuhnya oleh keluarga Pradipto, terbersit keinginan untuk pergi. Sayangnya, ia sudah tak memiliki apapun. Hidupnya saja sekarang bergantung pada Om Halim.
Meraba leher, Wening merekahkan senyuman saat tangannya menyentuh bandul liontin berbentuk mahkota yang di hiasi berlian. Dia begitu terkejut saat Om Halim memanggilnya
ke ruang kerja pria itu dan menyerahkan kotak yang rupanya berisi kalung yang sangat dikenalinya. Itu adalah kalung peninggalan Mamanya. Pemberian sang Papa saat dulu melamar. Alih-alih memberikan cincin, ia justru memesan sebuah kalung liontin berbentuk mahkota. Mengartikan jika Mamanya adalah sang Ratu dikehidupan Papanya sampai kapan pun.
Wening jelas kebingungan, bagaimana bisa liontin yang ... Dengan sangat terpaksa harus ia jual untuk membayar hutang-hutang sang Papa bisa berada di tangan Om Halim. Mungkin sadar dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, Om Halim menjelaskan jika dia menebus kalung yang sempat Wening jual itu. Rupanya pria itu masih mengingat sewaktu Wening bercerita tentang semua harta bendanya, yang terpaksa ia jual, termasuk liontin sang Mama. Tak ada yang bisa Wening lakukan selain menangis dan mengucap terima kasih berkali-kali.
Rupanya, tak hanya bersejarah untuk kedua orangtuanya ataupun Wening, liontin itu juga berarti untuk Om Halim. Pria itu bercerita, sewaktu dulu Papa Wening ingin melamar, Hendra sempat kebingungan mencari cincin. Sampai kemudian Halim memberi ide bagaimana jika liontin? Agar lebih berbeda. Hendra setuju, dengan semangat, dia meminta Halim untuk menggambar liontin impiannya untuk wanita yang ia cintai. Mengingat, Halim memang cukup mahir dalam menggambar. Dan, tercetuslah keinginan Hendra memesan khusus liontin dengan bentuk mahkota, karena baginya, calon istrinya akan menjadi Ratu di sepanjang hidupnya.
Dan memang benar, sampai akhir pun, sang Papa menjadikan Mamanya Ratu di hidup pria itu. Karena, bisa saja pria itu berniat untuk menikah lagi. Tapi lebih memilih hidup berdua dengan putrinya.
"Kalung yang cantik, seperti pemiliknya,"
Suara asing yang tertangkap pendengaran Wening membuat gadis itu berjengit di tempat duduknya. Mengangkat wajah yang sedari tadi menunduk melihat liontin yang dikenakannya, tubuh gadis itu menegang. Saat ada sesosok pria yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya. Tubuh tinggi besar itu tampak sempoyongan, tercium aroma tak sedap ketika berbicara, belum lagi dengan wajah menyeringai menakutkan. Ada bekas luka yang cukup panjang dari pelipis hingga pipi di sebelah kiri. Matanya memerah, aroma apek dan alkohol menguar hingga menusuk penciuman Wening.
Bangkit dari tempat duduknya dengan gerakan tergesa, Wening kepayahan menenangkan degup jantungnya, bahkan tubuhnya yang bergetar sudah mengeluarkan keringat dingin, "anda ... Siapa?"
"Mari berkenalan cantik," ujarnya dengan kekehan mengerikan.
Wening menggeleng kuat, dia tidak mau, yang dia inginkan sekarang adalah pergi. Sungguh! Dia sangat ketakutan sekarang. Terlebih, saat mengedarkan pandangan, ia mendapati taman yang sudah sepi. Langit juga kian menggelap. Seolah tinggal menunggu waktu bagi para hujan menjatuhkan diri. Gadis itu merasa matanya memanas, dia benar-benar ingin menangis. Bagaimana bisa dia bisa ceroboh seperti ini? Dia jadi menyesal menolak saran Mbok Sri agar diantar Mang Jaja.
Seharusnya, ia tak berkeliaran seorang diri.
Seharusnya, ia tak mampir ke taman dan memilih bergegas pulang.
Seharusnya, ia tak tenggelam dalam lamunan hingga tak menyadari sosok asing yang sepertinya memiliki niat tak baik padanya.
Dan masih ada daftar seharusnya yang masih panjang bercokol di kepalanya.
Tapi mau bagaimana lagi? Bukankah penyesalan memang selalu berada di urutan paling belakang?
"Pe ... Pergi! Jangan ganggu saya," meski rasa takut melingkupinya, Wening masih berusaha menyisakan secuil keberanian untuk mengusir pria itu yang justru sibuk tergelak. Seolah apa yang tadi Wening katakan hanyalah sebuah lelucon.
"Kalo galak makin cantik," ucapnya dengan tampang m***m yang membuat Wening muak.
"Jika anda berani macam-macam, saya akan berteriak!"
"Silakan, tapi bagaimana jika kita berteriak sama-sama di tempat tidur?"
"b******k! Jaga mulut anda!"
Lagi-lagi pria itu hanya tergelak. Sementara Wening, di tengah rasa takutnya yang semakin menjadi-jadi, dengan gerakan tak kentara meraih botol minuman bersoda yang berada di atas kursi yang ia duduki. Membukanya dengan tangan yang ia sembunyikan di balik punggung. Bersyukur sudah ia buka segelnya karena sempat di minum saat menuju taman.
Tubuh Wening dengan cepat mundur ketika pria itu maju, mengais sisa keberanian yang masih di milikinya, dengan gerakan tak terduga, gadis itu menyiramkan minuman bersoda ke wajah pria itu, tak lupa menghadiahkannya satu tendangan di tulang kering hingga sosok bertubuh besar itu berteriak. Selagi dia sibuk mengumpat, Wening bergegas melarikan diri. Sialnya, ia dikejar dengan makian serta ancaman yang dilontarkan pria besar di belakangnya. Membuat Wening mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya untuk memacu kaki, sembari meneriakkan kata tolong. Berharap ada yang bisa menyelamatkannya. Sayang, suaranya teredam keriuhan hujan yang tiba-tiba langsung mengguyur deras.