9. Berbeda

1159 Words
Malam ini Bastian mengundang anak dan menantunya makan makan malam di rumah. Sebelumnya Bastian juga belum pernah mengenal Laura sebelumnya. Meski sebelumnya ia selalu mengawasi dan selalu mencari tahu tentangnya, akan tetapi untuk bertemu dan berbicara secara langsung belum pernah ia lakukan. Acara pernikahan ini sungguh sangat mendadak, hingga tak banyak yang dilakukan untuk perkenalan antar keluarga. Namun, meski begitu Bastian yakin jika mereka akan memiliki hubungan baik mengingat sikap Laura yang ramah dan mudah bergaul. Di kediamannya Leon dan Laura tengah bersiap untuk pergi makan malam pertama bersama dengan keluarga Leonard. Acara ini ditujukan untuk kedekatan keluarga mereka agar tidak terjadi kecanggungan di kemudian hari. Baik Bastian maupun Eliza, mereka ingin jika Laura merasa diterima dengan baik oleh keluarganya. Jangan sampai Laura mengira jika pernikahannya dengan Leonard hanya pernikahan bisnis semata. Meski ada tujuan lain dalam pernikahan ini, tetap saja kenyamanan dan kebahagiaan yang menjadi tujuan utama. "Leoni, aku sudah siap." Laura menghampiri suaminya yang tengah duduk di ruang tengah, penampilannya tak biasa dari biasanya. Kali ini Leonard mengenakan pakaian serba hitam dengan tatanan rambut ia sisir rapi ke belakang. Ekspersi wajahnya sangat serius, tak ada senyuman usil ataupn sikap feminin yang selalu ditunjukan. Kali ini tampak seperti pria pada umumnya, bahkan mungkin penampilannya kali ini lebih baik dari semua pria yang selama ini selalu dilihatnya. Tatapannya kali ini sangat berbeda, dingin dan hampa. Entahlah, tapi Laura merasa jika ada sesuatu yang berbeda di diri Leonard. Tanpa menjawab pria itu berdiri lalu berjalan duluan meninggalkan Laura, ia bersikap sangat dingin malam ini. "Ada apa dengannya? Dia tidak makan pil kecubung kan?" gumamnya, lalu berjalan di belakang Leonard menuju keluar. Sopir sudah siap mengantar mereka, dan tanpa menunggu lama mereka berdua pun berangkat. Selama perjalanan tak ada percakapan atau bahkan pertengkaran yang sering mereka lakukan. Sama sekali tak ada satupun dari mereka berdua. Laura pun tak bertanya kenapa suaminya yang aneh itu bersikap normal, biarlah dia tetap seperti itu. Anggap saja mulutnya yang macam mercon itu sedang terkena sariawan akut. Bukankah dengan begini ia merasa tenang dan tak harus bertengkar dengannya. - Bahkan sampai di tujuan, suaminya itu masih bungkam dan tak meledakan mulutnya hanya untuk mengejeknya pendek, jelek dan juga yang lainnya. Laura pun kemudian memutuskan untuk bertanya, sebelum mereka keluar dari mobil ia memegang tangan Leonard, "Ada apa? Kenapa kau tidak bicara? Apa kau marah padaku?" leibh baik ia bertanya daripada bisulan karena menahan penasaran. Juga, bukankah pria manis ini sangat suka mendapatkan perhatian, maka lebih baik ia bertanya duluan padanya. Leonard hanya melirik sekilas, lalu setelah itu ia membuka pintu mobil dan keluar. Merasa sia-sia bertanya membuat Laura kehilangan sedikit harga dirinya. Tapi tak apa, akan dibalasanya nanti pria itu olehnya. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh Bastian dn Eliza. Untuk pertama kalinya Laura melihat kedua mertuanya selain saat ia menikah. Dan ternyata mereka adalah orang yang sangat ramah menurutnya. "Ayo masuk, kami sudah menunggu kalian dari tadi." Bastian mengajak anak dan menantunya masuk kedalam. Tiba-tiba saja Leon menggandeng tangan Laura dan ia memperlakukannya dengan sangat lembut. Bahkan kali ini ia tampak seperti pria pada umumnya. "Bagaimana kabar kalian? Apa kalian bersenang-senang?" Bastian bertanya pada mereka berdua. Laura mengangguk tersenyum, "Kabar kami baik, dan kemarin kami bersenang-senang." jawabnya. "Syukurlah." jawab Eliza. "Tapi kenapa kalian cepat pulang? Papa pikir kalian akan lebih lama berbulan madu." "Kemarin kami bersenang-senang, tapi Laura kelelahan dan tidak enak badan. Untuk itulah kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah." jawab Leon. Laura terperangah mendengar jawaban Leon, bukan karena jawan sederhana yang mengandung kebohongan yang membuatnya terkejut. Akan tetapi, suara dan juga sikapnya yang tidak biasa. Leonard bukan hanya terlihat jantan, tapi ia tampak sangat jantan. Laura sungguh tidak menyangka jika pria ini bisa bersikap biasa dan normal pada umumnya. Tapi tunggu dulu, ketika pertama kali bertemu dengan Leonard juga ibunya. Laura tahu betul jika ibunya tahu dan melihat jika sikap anaknya itu sangat aneh. Lalu apa ini? Kenapa ia tampak seperti tak tahu apa-apa. Dan tidak terlihat heran melihat perubahan sikap anaknya. Bukankah seharusnya ia terkejut sama seperti Laura. Ataukah suaminya memiliki kepribadian ganda yang tidak diketahui oleh ayahnya? Astaga ... banyak sekali yang dipikirkannya saat ini. Semuanya sungguh terasa aneh dan juga tak biasa. Laura belum bisa mencerna pikirannya untuk mengambil kesimpulan tentang apa yang dilihatnya di keluarga ini. Menurutnya orang tua Leonard bahkan Leonard sendiri adalah orang yang aneh. kenapa mereka tidak bersikap layaknya orang-orang pada umumnya. Kenapa mereka harus memiliki dua sikap dan dua sifat. Mereka pun berbincang seperti keluarga normal pada umumnya. Bahkan Leonard sendiri tidak seperti pria yang ia ketahui selama ini. Kini ia tampak seorang Taipan sesungguhnya. "Makanan sudah siap, ayo kita makan. Kalian pasti sudah lapar." ajak Eliza. Mereka semua bangkit dan berjalan menuju ruang makan. Dimana disana sudah terhidang banyak sekali makanan yang begitu mewah. yang disajikan khusus untuk menyambut kedatangan mereka berdua. Dan sampai sejauh ini, sikap Leonard masih sama seperti tadi. Tidak ada yang aneh dalam dirinya, ia masih tampak seperti pria jantan layaknya seorang pria. Ia juga sangat perhatian, dan juga sangat lembut dalam memperlakukan Laura. "Makanlah..." ucapnya sambil menyodorkan piring yang sudah ia isi dengan makanan. "Kau tidak makan daging dan ikan, jadi aku siapkan sayuran." "Aah i-iya, darimana kau tahu?" tanya Laura. "Aku ini suamimu, jelas aku tahu banyak tentangmu. Aku ingin menjadi suami terbaik untukmu." "Ya ampun, senyumannya membuat jantungku ... astaga, jantungku bahkan hampir lepas! Bagaimana ini, kenapa dia manis sekali. Kalau gula darahku naik bagaimana? Memangnya dia mau memberikanku nafas buatan? Eh ..." Laura akui jika leonard sangat tampan jika bersikap normal seperti ini. Bahkan ia semopat melupakan Adrian kala melihat senyumannya, sunggun pesona yang sangat berbahaya. "Jika dia normal begini, lalu kenapa ia selalu bersikap seperti bebek betina jika didekatku? Andai saja ia bisa seperti ini terus, mungkin tidak akan sulit untukku jatuh cinta padanya." Laura hanya membatin karena ia tidak berani bicara dengan Leonard sekarang, mungkin nanti ia akan bicara ketika mereka sedang berdua saja. Sebenarnya siapa ia sebenaranya. - Acara makan malam telah usai, dan kini mereka kembali berbincang ringan di ruang tamu. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari pekerjaan bahkan kegiatan Laura sebelum menikah kemarin. Dan Leo pun baru tahu jika gadis ini ternyata tidak pernah bekerja selama ini, dan selalu menjadi anak kesayangan kedaua orang tuanya. Pantas saja sikapnya agak sedikit manja dan terkadang selalu seenaknya. "Sebaiknya kalian menginap, hari sudah malam." ucap Bastian. "Tapi ..." "Baiklah." jawab Leonard memotong ucapan istrinya. Eliza tersenyum, ia senang karena putranya mau menginap di rumah meski hanya satu malam. Dan akhirnya mereka pun menyudahi acara berbincang itu dengan kembali ke kamar masing-masing. Saat pintu kamar tertutup, Laura sudah tidak tahan ingin bicara dengan suaminya mengenai sikapnya yang sangat aneh. "Ada apa ini? Ada apa dengan dirimu? Kenapa kau berubah, dan ... apa yang kau lakukan?" Laura terkejut saat sebuah tangan menarik pinggangnya lalu mendekapnya dengan kuat, hingga hidung mereka kini saling bersentuhan. "Apa yang berubah?" Leonard benar-benar berbeda, ada yang lain dari sorot matanya. Ada sesuatu dalam dirinya. "A-ku ..." Laura gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD