Dua Karakter

1008 Words
"Tidak ada yang berubah dalam diriku, semuanya biasa saja." Leonard pun berjalan melewati Laura. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil beberapa pakai, lalu setelah itu langkahnya menuju kamar mandi. Laura terus menatap pria itu, ia yakin ada yang aneh dengan suaminya. Ia tidak seperti Leonard yang biasa ia kenal, ia seperti pria asing yang baru ia temui. Dan entah kenapa Laura lebih suka Leonard yang biasanya, bukan Leonard yang tampak dingin dan menyeramkan seperti sekarang. Matanya melihat ke arah sekelilingnya, dan ia merasa tidak ada yang aneh dengan kamarnya. Semua tampak normal, hanya saja kamar ini dominan dengan warna gelap. Berbeda dengan suasana kamarnya di rumah yang mereka tempati, suasana rumah dan kamar tampak terang dan sangat nyaman. Laura duduk di atas ranjang, memikirkan sikap Leon yang tidak seperti biasanya. "Apa dia memiliki dua kerpribadian," gumamnya. Ia hendak tidur, tapi suara pintu kamar mandi terbuka. Rupanya Leon sudah selesai mandi. Espresinya masih sama dan tidak ada yang berubah, semua masih tampak seperti tadi, dingin. Mata mereka kembali beradu, "Mandilah," ucapnya. "Tapi aku tidak membawa baju ganti." jawab Laura. Leon pun berjalan menuju lemari, tanpa menjawab ucapan Laura barusan. Lalu setelah itu ia membuka lemari besar yang ada di depannya, tangannya menunjuk ke dalam. "Lemari ini penuh dengan pakaianmu." "Apa?" Laura bangun untuk melihat isi lemari itu, dan ternyata apa yang dikatakan oleh Leon adalah benar, jika lemari itu berisi pakaiannya yang ada di rumah. Dan juga ada beberapa pakaian baru yang ia rasa ia belum pernah membelinya. "Bagaimana bisa?" tanyanya. "Kedua orang tuamu yang mengirimnya, juga mamaku yang membeli beberapa pakaian baru untukmu." "Kenapa aku merasa seperti diusir oleh mereka." Laura mengambil piyama yang akan ia kenakan. Leon tidak menjawab, dan memilih untuk naik ke atas ranjang dan merebahkan diri. Laura tidak bertanya atau berkata apapun padanya, ia merasa canggung dengan suaminya sendiri. Ia mengambil piyama untuk ia kenakan. Laura pun pergi mandi, ia pun ingin segera beristirahat. Tubuhnya terasa begitu lelah, juga pikirannya. - - Keesokan paginya, Laura terbangun dari tidurnya. Saat hendak bergerak ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Laura berusaha berbalik dan ternyata memang Leonard yang tengah memeluknya. Pria ini tengah memeluk Laura sekarang, kenapa? Dan bagaimana bisa ia memeluknya? Bukankah selama ini ia selalu mengatakan kalau ia adalah seorang wanita bekas. Tapi sekarang, lelaki ini memeluknya seperti seorang pria. Laura mencoba untuk melepaskan pelukannya dari Leonard. Tiba-tiba saja Leonard bangun dan mendorong Laura, "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memelukku? Apa kau benar-benar akan menodaiku?" tuduhnya tanpa perasaan, sepertinya ia adalah Loenard yang biasanya. Ia Leonard polos, menyebalkan dan juga anti kuman. "Apa?" laura menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mendekat ke arah lelaki yang tampak takut padanya. "Kau Leoni kan?" tangannya mencubit kedua pipi Leon. "Kau benar-benar Leoni kan?" Laura ingin memastikan jika pria yang sekarang di hadapannya adalah Leon yang biasa. "Haihhhh ... lepaskan aku, pendek! Tanganmu kotor, jangan berani menyentuh kulitku yng berharga!" Laura pun melepaskan cubitannya di pipi Leonard, "Baiklah, aku senang kau kembali." gadis ini tertawa, ia terlihat bahagia seperti baru saja menemukan harta karun. "Kali ini biarkan aku yang mandi duluan." ucapnya lalu kemudian pergi ke kamar mandi. Laura masih dengan senyumannya, ia tampak senang tapi tidak dipungkirinya jika hatinya merasa takut pada pria itu, ia takut karena memang benar jika Leon memiliki dua kepribadian. Namun, kapan datangnya perubahan itu ia tidak tahu. Sepertinya ia akan mencari tahu tentang bagaimana kehidupan Leonard, ia akan mencari tahu tentang siapa sebenernya dirinya juga bagaimana kehidupan yang dijalaninya, dan selama ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia akan bersikap tidak tahu apa-apa. Dan akan tetap menjai Laura yang biasa. Leonard sendiri melihat Laura sampai ia menghilang di balik pintu kamar mandi. Tatapannya tak bisa ditebak, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. - - Setelah semua selesai dengan urusan mereka, Leon pun bersiap untuk pergi ke kantor dan bekerja seperti biasanya. Namun, sebelum itu ia akan mengantar Laura untuk kembali pulang ke rumah. Sebagai seorang suami, ia harus bertanggung jawab atas istrinya. Ia akan mengantarnya pulang dengan selamat. Sebenarnya Laura enggan untuk pulang, karena ingin mencari tahu tentang kehidupan Leon sebelumnya. Dan iaakan menggaliinfomasi di rumah itu. Sikap Leon sangat mencurigakan, ia memiliki kepribadian aneh dalam dirinya. Laura hanya takut jika suaminya itu adalah seorang psikopat yang nantinya akan menyiksa dan menyakiti Laura di kemudian hari. Berjaga untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Akan tetapi, untuk menghindari kecurigaan Leon, Laura memilih untuk menuruti apa yang Leon katakan padanya. Ia akan menjadi seorang istri penurut juga baik hati seperti yang Leon inginkan. Jangan sampai pria itu menaruh curiga dan berujung disakiti atau bahkan mungkin ia akan disiksa olehnya. Ketika di dalam mobil. Leon terus saja mengusap-usap jasnya. Juga sesekali ia menyemprotkan parfum di jas, tangan dan lehernya. "Ya ampun, kenapa baunya tidak hilang-hilang?" gumamnya. Laura yang duduk di sampingnya jelas merasa terganggu oleh sikap suaminya, sejak tadi ia menyemprotkan parfum di dalam mobil. Membuat Laura merasa terganggu dengan aromanya, "Bisakah kau berhenti melakukan itu? Aku sangat terganggu." Laura mengibaskan tangannya. "Apalagi aku, aku sangat terganggu baumu. Semalaman kau memelukku tahu! Dan aroma wanita bekas yang tidak setia sangat mengganggu. Aku tidalk suka, aku harus menghilangkan baumu yang tidak enak ini." jawabnya sambil mendelik kesal pada Laura. "Aku? Kenapa aku bau? Dan kapan aku memelukmu? Kau yang memelukku! Aku juga sangat wangi dan juga sangat cantik, kenapa kau merasa terganggu dengan segala kelebihan yang aku miliki?" seru Laura tidak mau kalah, sungguh ucapan botiw ini membuatnya sangat tersinggung. Laura bahkan lupa jika Leonard memiliki sisi lain, dan bersikap seperti biasa padanya. Leonard tiba-tiba terbahak, "Kau? Dengan segala kelebihanmu? Bentuk badan saja banyak kekurangannya, sebelah mana kelebihannya.?" Leonard kembali terbahak, "Kurang tinggi, tidak seksi tidak cantik dan tidak menggemaskan! Astaga, bogel ini sedang bermimpi rupanya." "Apa? Bogel? Kau bilang aku bogel?" tangan Laura bersiap untuk mencekik suaminya. Leornad menjawab, "Kalau aku bilang kau model, itu jatuhnya fitnah! Fitnaaaaahhh ..." "Haissh, aku sangat membencimu." "Aku juga, bahkan sangat-sangat sangaaaat membencimu, Bogel!" "Aaaaaarkkhhh, aku mau pulang!" teriak Laura, ia benar-benar frustrasi sekarang. Ia ingin pulang dan menjalani kehidupan seperti biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD