Pria Aneh

1104 Words
“Jadi, kau pria yang akan menjadi suamiku?” tanya Laura, menatap pria tampan di hadapannya. Tubuhnya tegap, dengan rahang tegas yang menambah wibawa, ia duduk anggun di sofa mewah itu. Laura baru saja tiba di rumah mewah milik pria yang akan menikah dengannya. Dan saat tiba ia langsung berhadapan dengan calon suaminya. Laura dipaksa menikah dengan seorang pria pilihan kedua orang tuanya. Padahal ia sendiri telah memiliki kekasih yang sangat ia cintai. Namun, sayangnya hubungan mereka tidak direstui. Dan kini Laura dipaksa untuk menemui calon suami pilihan orang tuanya. Awalnya Laura menolak karena ia tidak setuju dengan pernikahan sepihak ini. Sepihak? Karena dianggap pernikahan itu hanya disetujui oleh keluarganya tanpa persetujuan dari Laura. Namun, demi menutupi hubungannya yang selama ini ia jalani secara diam-diam, Laura pun setuju untuk bertemu dengan pria sempurna pilihan papanya. “Iya, tapi terpaksa.” jawabnya dengan ketus, lalu membuang mukanya dari Laura. Seolah tak mau menatap Laura. Gadis bernama Laura itu lalu duduk berhadapan dengan pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang dijodohkan oleh kedua orang tua Laura. Pria yang katanya begitu sempurna dan akan sangat serasi untuk Laura. Pria yang hanya katanya yang ia dengar dari kedua orang tuanya. Namun, yang Laura lihat adalah sama sekali tidak ada kecocokan diantara mereka. Ia tidak suka pria ketus dan sombong seperti … “Siapa namamu?” Laura kembali bertanya, bahkan ia lupa dengan nama calon suaminya itu. Pria yang sejak tadi bersikap ketus pada Laura itu mulai menoleh, tangannya yang sejak tadi tampak berada di atas kedua pahanya kini mengusap rambutnya ke samping. Seolah tatanan rambutnya yang begitu rapi itu kusut karena angin. “Apa kau bilang? Bahkan nama calon suamimu saja kau tidak tahu. Dasar tidak perhatian!” Tunggu, kenapa nada bicaranya seperti itu? Kenapa ia tampak seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk. Pria itu tampak seperti seorang bocah yang kehilangan es krimnya karena diambil pencuri. “Aku hanya bertanya, aku lupa namamu.” jawab Laura santai, sangat berbeda dengan raut wajah pria itu pada Laura. Ekspresinya menunjukkan kalau ia sedang kesal dan marah padanya. Namun, apa peduli Laura jika pria itu kesal. Bukankah jika pria itu membatalkan pertunangan mereka akan lebih baik baginya, karena selama ini ia tidak pernah setuju dengan perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya kepada Laura. Pria itu kembali melengos, “Namaku Leonard.” jawabnya dengan ketus, tak lupa bibirnya mencebik kesal bersungut-sungut karena Laura tak ingat dengan namanya. “Padahal sejak satu minggu lalu aku selalu mengingat namamu bahkan aku tidak pernah melupakannya sedikitpun, kalau gadis yang bernama Laura akan menjadi istriku.” pria itu kembali menatap Laura, “Kau egois!” “Tidak ada yang memintamu untuk mengingatnya kenapa kau jadi kesal?” Laura duduk dengan tangan bersedekap, memperhatikan pria yang duduk bersebrangan dengannya. “Kenapa kau terus membuang muka? “Jelas aku merasa kesal karena ternyata aku akan menikah dengan seorang perempuan, yang sama sekali tidak memiliki perhatian kepada calon suaminya. Wanita macam apa kau ini?” nada bicaranya sangat manja, terdengar seperti seorang anak kecil yang merajuk. “Apa? Astaga … kau ini Leonard atau Leoni. Bisa-bisanya aku harus menikah dengan pria sepertimu.” Laura sedikit terkejut saat melihat calon suaminya adalah bukan seorang pria maskulin. Tapi justru ia lebih terlihat seperti pria feminim. “Kau benar laki-laki ‘kan?” “Apa aku perlu membuktikannya padamu agar kau yakin?” “Tapi sikapmu itu tidak meyakinkan, aku ragu.” Laura bangun dari duduknya, lalu mendekati Leonard, “Boleh aku lihat sedikit, hanya untuk memastikan saja.” “Apa?” Leonard langsung bangun dan menjauh dari Laura. Dasar genit, kau gadis mata keranjang. Aku tidak mau menikah denganmu, pokoknya tidak mau!” Leonard mengedarkan pandangannya seolah sedang mencari seseorang disana, “Pengawal … pengawal!” teriaknya. Beberapa pria berjas hitam pun tiba di sana, mengelilingi Laura dan berdiri dengan tegak dan tatapan datar. Jumlah mereka bahkan lebih dari sepuluh orang, tapi dari mana mereka semua, karena seingat Laura ketika masuk ia tak melihat orang-orang itu “Tuan muda.” panggil salah seorang dari mereka, sepertinya pria itu adalah pemimpin dari pada pengawal itu. “Jauhkan gadis itu dariku, dia akan menodaiku dan mengambil kehormatanku!” Leonard meminta para pengawalnya untuk menjauhkan Laura darinya. Ia takut jika Laura tiba-tiba menarik celananya lalu menodai Leonard yang masih suci. “Apa? Kenapa aku terdengar seperti seorang penjahat di sini.” ucap Laura, ia berdiri dan menunjuk tepat di depan hidung Leonard. “Kau bicara apa? Aku akan menodaimu? Katakan, bagaimana caranya aku akan menodaimu?” bentak Laura kesal, ia tidak terima dituduh akan menodai seorang pria yang bahkan ukuran tubuhnya hampir dua kali lipat dari dirinya. “Mana aku tahu, kau pasti punya cara sendiri untuk melakukannya. Aku ini masih polos wajar saja kalau takut. Melihatmu yang bar-bar dan sama sekali tidak memiliki sifat lembut. Membuatku yakin kalau kau adalah seorang pemain pria! Dasar playboy!” “Aku ini perempuan, Leoni.” “Leonard! Bukan Leoni. Sepertinya selain mata keranjang kau juga tuli ya!” “Hei …!!!” “Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?” seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan dimana Laura dan Leonard berada. Wanita itu tampak begitu anggun, cantik dan juga memiliki kharisma yang kuat. Ia melangkah mendekat, dan pada pengawal yang tadi mengelilingi Laura pun menyingkir pelan memberikan jalan pada wanita itu untuk mendekat ke arah Laura. “Nona Laura.” wanita itu tersenyum ketika bertatapan dengan Laura. “Iya.” Laura menganggukkan kepalanya sedikit. Tangan wanita itu mengulur memegangi tangan Laura dengan lembut. “Mari kita duduk, maaf aku datang sedikit terlambat.” ucapnya. “Bunda …” begitulah Leonard memanggil wanita itu, itu berarti wanita cantik ini adalah ibunya Leonard, calon ibu mertuanya. Itu juga kalau mereka jadi menikah. “Leo, duduklah Sayang. Bunda ingin bicara denganmu.” wanita itu menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya Pria itu kembali mencebik, bibirnya maju mundur menandakan kalau ia tengah kesal sekarang. Ia tampak seperti seorang ibu rumah tangga yang mengomel karena kekurangan uang belanja. Sungguh tak tampak seperti seorang Tuan muda. Leonard duduk agak jauh, wajahnya masih cemberut. “Leo Sayang, duduklah dekat dengan Bunda.” sekali lagi wanita itu bicara dengan begitu lembut pada Leonard. Leonard berdiri, tubuhnya sedikit bergoyang menandakan kalau ia masih merajuk dan mungkin sebentar lagi ia akan merengek. Meski tampak kesal dan enggan duduk berdekatan dengan Laura, pria itu tetap menuruti ucapan ibunya. “Iya Bunda, kenapa?” Wanita bernama Eliza itu tersenyum, ia duduk diantara Laura dan Leonard. Tangannya memegangi tangan Laura dan juga tangan putranya, Leonard. “Sebentar lagi kalian berdua akan menikah. Bunda harap kalian bisa untuk belajar dekat dan juga akrab.” “Apaaaa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD