Tidak Setuju

1063 Words
“Tunggu, aku belum bilang setuju.” Laura akan mencoba menolak untuk menikah dengan Leonard, bagaimana mungkin ia akan menikah dengan seorang pria yang mirip dengan anak kecil. Laura ingin menjadi seorang istri, bukan seorang pengasuh yang akan menjaga bayi besar seperti Leonard. “Tapi Papamu sudah setuju, dan pernikahan akan dilangsungkan satu minggu lagi. Undangan juga sudah disebar.” Eliza menjelaskan. “Tapi …” “Tidak bisakah kau jadi anak yang penurut, dan tidak membantah perkataan orang tua?” Leonard menyela. “Apa kau bilang?” emosi Laura kembali terpancing, “Kita belum saling mengenal dan pernikahan kita hanya satu minggu lagi. Tidak bisakah waktunya ditambah lagi untuk kita saling mengenal?” “Kita bisa saling mengenal setelah kita menikah, aku tidak keberatan untuk itu.” jawab Leonard. “Aku yang keberatan, dasar kurang ajar!” “Apa yang dikatakan oleh Leo itu benar, Laura. Kalian bisa saling mengenal setelah kalian menikah. Bunda yakin kalian akan menjadi pasangan yang serasi.” ucap Eliza, “Kami sudah merencanakan semuanya. Kalian hanya tinggal duduk manis dan menunggu hari pernikahan kalian tiba.” “Bunda memang yang terbaik.” puji Leo. Laura menghela nafas panjang, sungguh ia tidak suka dengan keputusan sepihak ini. Kenapa mereka tidak bertanya dulu pada Laura tentang pernikahan ini. Apakah ia setuju atau tidak? Sekilas tak ada yang aneh dari Leo, ia tampak seorang pria pada umumnya. Ia juga sangat tampan, penampilannya juga maskulin tapi kenapa sikapnya tampak feminim dan kekanak-kanakan, hal itulah yang membuat Laura merasa keberatan untuk menikah dengannya. Aah iya, dari biodata yang papanya berikan, Leo juga seorang Presdir. Lalu kenapa sikapnya seperti itu? Lalu bagaimana saat ia memimpin sebuah rapat? Apa ia juga bersikap seperti itu, ataukah mungkin ia memiliki kepribadian ganda. Jangan katakan kalau ia akan seperti anak TK ketika memimpin sebuah rapat dengan para petinggi perusahaan. Baru membayangkannya saja Laura sudah merinding sebadan-badan, bagaimana kalau ia melihatnya langsung saat rapat. “Hahaha …” tiba-tiba saja Laura terbahak-bahak, pikirannya kini tertuju pada Leo yang memimpin rapat seperti anak TK, apa dia akan bernyanyi balonku ada enam, ataukah ia akan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul topi saya … apa ya? Laura lupa saking tak kuat menahan lucu ketika membayangkan Leo saat memimpin rapat. Eliza dan Leo menatap Leo dengan heran, saat Laura tiba-tiba saja tertawa. “Sudah tuli, kasar sekarang aku tahu kalau dia juga gila.” ucap Leo. “Pengawal, cepat panggil dokter!” - - - Mobil yang ditumpangi Laura berhenti di halaman rumahnya. Ia turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Gadis itu melangkah menuju ruang tengah untuk menemui papanya. Ia akan melayangkan protes karena telah dijodohkan dengan pria yang menurutnya tak pantas untuk menjadi suaminya. Menurutnya Leonard bukankah pria yang bisa menjadi panutan keluarga. Ia bukan pria yang selama ini diceritakan oleh papanya pada Laura. "Pah ..." panggilnya, Laura lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan papanya. Pria itu sedang menikmati secangkir kopi panas di sana. Cangkir kopi itu diletakkan diatas meja, lalu tatapan pria itu ditujukan pada Laura. Sebuah senyuman terukir di wajahnya, "Bagaimana? Kau pasti suka padanya 'kan?" Laura bersedekap, "Suka?" cetusnya tak suka. "Oh ayolah, dia sangat tampan, sopan dan juga tahu aturan. Dia adalah orang yang sangat disiplin dan dia sangat cocok untukmu.” pria itu begitu yakin jika Leonard adalah seorang pria yang pantas menjadi pendamping Laura. “Apanya yang cocok? Dia itu kekanakan dan terlalu … terlalu lembut dan cengeng untuk seorang pria. Astaga, bagaimana bisa Papa ingin aku menikah dengan orang seperti itu. Aku tidak setuju dengan pernikahan ini.” “Tidak ada alasan untuk kau menolak, pernikahanmu sudah Papa atur sedemikian rupa.” pria bernama Andrew itu menatap putrinya dengan intens, “Apa kau menolak Leonard karena kau ingin menikah dengan kekasihmu yang kurang ajar itu?” tanyanya pada Laura. “Oh ya ampun, Mas Adrian bukan orang yang seperti Papa katakan dan pikirkan. Dia pria baik, Pah. Dia tulus mencintaiku.” ucap Laura, berharap jika papanya mengerti dan mau memahami perasaannya pada sang kekasih. Jika ia sangat mencintainya dan tidak bisa menikah dengan orang tidak ia cintai,apalagi seorang pria seperti Leonard yang kekanak-kanakan. Bagaimana pernikahannya nanti jika ia menikah dengan seorang pria yang tidak bisa memimpin keluarga. Andrew bangkit dari duduknya, “Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Katakan pada kekasihmu itu, jika hubungan kalian sudah berakhir. Jika kau tidak berani mengatakannya pada pria itu. Maka Papa yang akan memberitahukannya tentang pernikahanmu.” setelah mengatakan hal itu, Andrew pergi meninggalkan Laura. Pria itu tidak ingin berdebat dengan putrinya. Keputusannya sudah bulat. Jika ia harus menikah dengan Leonard, pria pilihannya. Laura menghembuskan nafas berat, menahan segala kekesalannya yang membuncah di d**a. - - Keesokan harinya, Laura benar-benar pergi menemui Adrian. Dengan berat hati ia ingin memutuskan hubungan yang selama dua tahun ini terjalin. Hatinya tidak sanggup, apalagi ia sangat mencintai pria itu. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain menikah dengan Leonard. Pernikahan itu sudah diatur dan ia tidak bisa menghindar apalagi melarikan diri. Karena itu hanya akan membuat malu papanya. Dan Laura tidak bisa melakukan itu. Di sebuah restoran, Adrian sudah menunggu kedatangan kekasihnya. Ia sudah memesan makanan kesukaan Laura, ia sudah membayangkan betapa senangnya Laura, jika makanan kesukaannya lah yang terhidang di meja. Dan akhirnya kekasih yang ditunggunya telah tiba. Sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu karena kesibukan Adrian sebagai seorang CEO di perusahaan milik kedua orang tuanya. “Sayang …” Adrian melambaikan tangan pada Laura. Pria itu tersenyum padanya, seperti biasa senyuman itu selalu mampu mencairkan hati Laura. Melihat kekasihnya tersenyum, ada rasa getir dalam hatinya. Jika pertemuan mereka kali ini bukanlah untuk membahas rasa rindu dan kasih sayang serta cinta mereka. Tapi kali ini pertemuan ibu adalah untuk membahas tentang perpisahan, sebuah perpisahan yang tidak pernah mereka inginkan. Laura sampai di meja yang telah dipesan oleh Adrian, mereka duduk saling berdampingan. Raut wajah bahagia serta senyuman terus terukir di wajah pria itu. Sepertinya ia memang benar-benar tengah merindukan Laura, kekasihnya. “Bagaimana kabarmu, Sayang?” Adrian menyapanya dengan begitu lembut. “Kabarku baik.” jawab Laura. Adrian mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Laura. “Aku sangat merindukanmu, Sayang.” “Aku …” “LEPASKAN TANGAN KOTORMU DARI CALON ISTRIKU!!!” Tiba-tiba sebuah suara seseorang berteriak mengejutkan mereka berdua. Laura pun melihat ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat pria yang berteriak itu adalah pria yang ia temui semalam. “Leoni?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD