Adrian bangun dari duduknya lalu pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang menatapnya dengan tajam. Entah siapa pria itu tapi kenapa ia berteriak padanya. Tunggu … baru saja Laura berkata kalau dia adalah Leoni. “Sayang, apa kau mengenalnya?” tanya Adrian.
Ya Tuhan, bahkan pria ini selalu memanggilnya dengan sangat lembut seperti ini. Lalu bagaimana ia akan dengan tega mengatakan kalau pria yang sedang marah itu adalah calon suaminya. Dan pernikahan mereka pun akan digelar satu minggu lagi. Hal ini pasti akan sangat menyakitinya.
“Pah. kau sangat kejam padaku!” Laura hanya mampu membatin sekarang.
Leonard melangkah mendekatinya lalu menarik Laura dan membuat gadis itu berdiri di belakang tubuhnya. Tatapannya tajam, menandakan jika ia tengah marah sekarang. Jika sedang marah seperti ini, kenapa ia terlihat seperti seorang pria dewasa pada umumnya. Tidak seperti seorang anak kecil atau tampak seperti seorang pria setengah jadi.
“Apa yang kau lakukan!” bentak Adrian, ia marah karena kekasihnya ditarik begitu saja oleh pria yang tidak ia kenal.
“Aku hanya melindungi wanitaku!” jawab Leonard dengan suara tegas, ia benar-benar tampak seperti pria sejati yang sesungguhnya. Kemana suara manis dan manja yang semalam Laura dengar. Apa pria ini sedang berpura-pura? dan sikapnya semalam bukanlah sifat aslinya?
Laura bertanya dalam hati.
“Laura, bisa kau jelaskan semua ini?” tanya Adrian, wajahnya tampak kecewa pada kekasihnya. Tatapannya menunjukan jika ia terluka.
Laura menggigit bibirnya, ia bingung dan juga tidak tega mengatakan kalau pria di sampingnya adalah memang calon suaminya. “Mas, aku …” Laura menunduk, menahan air matanya yang akan jatuh sebentar lagi.
“Jadi memang benar kalau dia adalah calon suamimu?” Adrian kembali bertanya, berharap jika Laura berkata tidak.
“Mas, aku bisa jelaskan. Semalam Papa bilang kalau aku … “
“Jadi benar kalau dia adalah calon suamimu?” Adrian mengalihkan pandangannya pada Leonard. Kini ia benci pada pria yang baru dikenalnya itu.
“Iya.” jawab Laura lemah.
Leonard menyeringai merasa menang setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Laura.
“Kau akan menikah dengannya, lalu bagaimana dengan hubungan kita?” tanya Adrian.
“Maafkan aku.” Laura berkata sambil menggigit bibirnya, tangannya pun saling bertautan menahan rasa bersalah yang saat ini tengah membuncah di dadanya.
“Bagaimana bisa?” Adrian menyugar rambutnya, “Kita sudah berjanji akan menikah dan hidup bersama. Lalu apa ini? Apa yang sedang kau rencanakan di belakangku, Laura!” bentaknya pada Laura. “Teganya kau menghianatiku dengan begitu kejam.”
“Kalian tidak berjodoh, itu jawabannya.” ucap Leonard.
Adrian mengangguk, “Ya, kami memang tidak berjodoh. Dan cinta kami dipatahkan oleh restu.” ucapnya, “Entah apa salahku, hingga aku tidak pernah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.” ia menatap ke arah Laura, “Aku selalu berharap jika kita akan hidup bersama dan bahagia. Namun, rupanya takdir berkata lain. Hubungan kita hanya sampai di sini saja.” Adrian pun pergi meninggalkan Laura dengan hati terluka. Padahal hari ini ia berencana untuk melamarnya, dan kembali mencoba untuk mendapatkan restu orang tua Laura.
“Mas …” panggil Laura, ia hendak mengejar Adrian tapi tangannya ditarik oleh Leonard.
“Calon suamimu ada di sini!” Leonard berkata sambil mencengkram tangannya dengan kuat.
Laura diam, yang dikatakan Leonard memang benar jika ia calon suaminya adalah Leonard. Lalu untuk apa ia mengejar Adrian. Namun, ia masih sangat mencintai pria itu. Ia tidak rela hubungannya kandas begitu saja dan hancur hanya karena orang ketiga. Orang ketiga yang dihadirkan oleh kedua orang tuanya.
“Kau harus cuci tangan!”
“Apa?” Laura menatap Leonard heran, “Kenapa aku harus cuci tangan?”
“Tanganmu kotor karena telah menyentuh pria lain?”
Laura menghela nafas panjang, “Aku menyentuh pria lain? Kapan?”
“Barusan.”
Laura mengangkat tangannya lalu dengan sengaja mengelap kedua tangannya pada jas yang dipakai oleh Leonard. “Aku hanya perlu mengelapnya saja!”
“Hei, itu menjijikan!” teriak Leonard.
“Dasar bayi!” balas Laura.
-
-
Sejak pertemuannya siang tadi dengan Adrian, pikiran Laura menjadi tidak tenang. Ia terus memikirkan pria yang sangat dicintainya itu. Ia menyesal karena telah menjadi seorang yang lemah dan tidak bisa mempertahankan hubungannya dengan Adrian.
Juga ia hanya bisa diam dan melihat Adrian pergi meninggalkannya. “Ya Tuhan, aku sangat jahat. Bagaimana bisa aku hanya diam saat melihatnya pergi.”
Di Atas ranjang mewahnya, Laura hanya berguling kesana kemari sambil terus memegang ponselnya. Berharap jika pesan yang dikirimkannya pada Adrian segera dibalas.
Tapi sepertinya pria itu tidak berkeinginan untuk membalas pesan-pesan yang dikirimkan oleh Laura. Juga tak mengangkat panggilan darinya. “Dia benar-benar marah, bagaimana ini?”
Gadis itu bangun lalu duduk sambil menatap jendela kamarnya yang tertutup tirai. “Tidak mungkin aku melarikan diri, aku tidak mau membuat Mama dan Papa malu. Aarkhhhh … bagaimana ini!!!”
Ting
Sebuah pesan masuk, Laura segera membuka pesan itu. Berharap jika Adrian membalas pesan yang dikirimkannya.
(Jangan pernah kau berpikir untuk selingkuh apalagi melarikan diri)
Laura tidak mengenal nomor baru yang mengirimkan pesan itu.
(Siapa?)
Laura membalasnya
(Sudah kuduga kalau kau bukan wanita baik hati dan perhatian. Bahkan nomor calon suamimu saja kau tidak tahu. Apa kau akan benar-benar selingkuh dan melarikan diri dengan pria yang ketampanannya saja berada di bawahku!)
Melihat dari cara ketikannya saja Laura sudah tahu kalau pria itu adalah Leonard.
(Leoni)
(Namaku Leonard, bukan Leoni!)
(Menyebalkan)
(Aku sudah di rumahmu, turunlah aku mau bicara)
Apa? Selarut ini?
Turun atau aku masuk ke kamarmu.
Coba naik kesini, aku tidak akan segan untuk menodaimu.
Tok … tok… tok
Suara ketukan pintu terdengar diiringi suara mamanya memanggil.
“Laura, buka pintunya.”
gadis itu berdecak kesal, tapi tak urung ia bangun lalu membuka pintu.
“Ada apa, Mah?”
“Turunlah, Papa mau bicara. Juga ada Leonard yang sedang menunggumu.” ucap wanita cantik itu pada putri semata wayangnya.
“Apa pria setengah jadi itu tidak punya jam di rumah? Kenapa harus datang malam-malam begini!”
“Sssssttt … tidak baik bicara seperti itu. Ayo turun.”
Laura pun tak bisa menolak, dan ia hanya bisa menuruti permintaan ibunya. Lalu berjalan di belakang seolah sedang mengulur langkahnya.
Tepat saat Laura akan turun, sebuah pesan masuk dari Adrian. Dengan cepat gadis itu membukanya. Tapi kenapa pesan itu masuk di saat seperti ini.
Jika kau memang benar mencintaiku, aku tunggu besok di tempat kita bertemu. Kita menikah, Laura. Kita menikah tanpa menunggu restu kedua orang tuamu.
Tiba-tiba sebuah tangan dengan cepat mengambil ponsel yang sedang dipegang Laura.
“Pah!” Laura terkejut saat ponsel miliknya diambil paksa oleh Andrew papanya. Dan yang membuatnya takut adalah pesan Adrian yang baru saja ia buka.
Andrew melihat pesan yang baru saja dikirim oleh Adrian, lalu membacanya. Tangannya mengepal, matanya merah dan melempar ponsel Laura sampai hancur.
“Sepertinya keputusan untuk mempercepat pernikahanmu dengan Leonard adalah keputusan yang tepat. Kalian menikah besok!”
“Apa?”