Andrew menarik tangan Laura dan membawanya pergi ke ruang tamu, kesabarannya sudah habis ia tidak mau lagi menunda pernikahan antara Laura dan juga Leonard, sebab jika pernikahan itu diundur atau dilakukan di hari yang telah ditentukan Andrew yakin jika Laura akan melarikan diri dengan pria b******k itu.
Sesampainya di ruang tamu, Andrew melepaskan tangannya dari Laura dan memintanya untuk duduk bersama dengan Leonard. “Duduklah, Papa mau bicara.” perintahnya dengan tegas.
Laura tahu jika papanya sudah begini, itu artinya ia sedang marah. Dan jika papanya sudah marah ia tak bisa melakukan apa-apa. Laura hanya bisa diam dan bersikap baik. Juga kemarahannya itu dipancing oleh pesan yang dikirimkan oleh Adrian barusan. Pria itu mengajaknya untuk melarikan diri, pantaslah jika papanya sangat marah. Apalagi hari pernikahan sudah dekat, bahkan sangat dekat jika memang benar pernikahan mereka akan dilaksanakan esok hari.
“Karena sesuatu hal pernikahan kalian akan diadakan esok hari. Dan resepsi pernikahan akan tetap pada rencana awal.” ucap Andrew.
“Kenapa sangat mendadak, Pah?” tanya Laura, jujur saja ia masih terkejut kalau pernikahan akan dilakukan besok.
“Karena aku yang memintanya.” jawab Leonard.
“Apa? Tapi kenapa?” Laura tak percaya jika biang keroknya adalah Leonard.
“karena aku tidak percaya padamu, aku tidak percaya kalau kau akan setia dan tidak melarikan diri bersama dengan kekasih jelekmu itu.” jawabnya lalu memalingkan wajah, pria ini sedang merajuk rupanya. Tapi kenapa harus begitu? Kenapa harus bertingkah seperti anak kecil, sungguh menggelikan
Lihatlah bibirnya itu, pria itu kembali bersungut-sungut. Astaga, itu sangat menyebalkan.
“Pah, lihatlah … pasti ada yang salah dengannya. Kenapa dia …”
“Kenapa apanya?” tanya Andrew.
Laura menunjuk ke arah Leonard, “Lihatlah …”
Pandangan Andrew pun diarahkannya pada calon menantunya itu, “Iya, Papa melihatnya dan tidak ada yang aneh. Kenapa memangnya?” pria itu kembali memeriksa berkas-berkas yang harus disiapkan besok untuk pernikahan putrinya.
Laura kembali menatap Leonard, dan kini pria itu bersikap seperti biasa. Lalu kemana sikap manja dan kekanak-kanakan tadi?
“Hei! Coba tunjukan lagi.” tiba-tiba saja Laura berteriak pada Leonard. Membuat pria itu sedikit terjingkat karena kaget.
“Astaga, kau membuatku terkejut.” Leonard mengusap dadanya.
“Laura, bersikaplah sopan pada calon suamimu!” Andrew menegur putrinya untuk tidak bersikap tidak sopan pada Leonard.
Laura tak mau mengalihkan pandangannya dari Leonard, ia ingin kembali melihatnya seperti tadi. Ia ingin papanya melihat jika Leonard tidak sejantan kelihatanya. Gadis ini terus menatap Leonard dengan intens dan tak mau mengalihkan pandangannya dari pria itu.
Namun, seperti tahu apa yang diinginkan Laura. Leonard dengan sengaja tak mengubah sikapnya. Ia tetap bersikap layaknya seperti pria. Dan tidak menunjukan sisi manja dan manjanya pada Laura.
“Aku tahu! Kau pasti seorang bipolar ‘kan?” tiba-tiba saja pertanyaan konyol meluncur begitu saja dari mulut Laura.
“Apa kau bilang?” Leonard terkejut, entah mengapa gadis ini senang sekali membuatnya terkejut dengan segala sikap dan juga ucapannya. Semoga ia tidak terkena serangan jantung menghadapi gadis ini.
“Laura, jaga bicaramu!” Andrew kembali menegur putrinya.
Laura bungkam, ia tak melanjutkan lagi ucapannya. Sepertinya tuduhan itu terlalu kejam untuk Leonard. Namun, kenapa ia merasa jika Leonard memiliki dua kepribadian, dan hal itu hanya ditunjukan pada Laura. Apa pria ini sedang merencanakan sesuatu ataukah … ah entahlah laura tak mau banyak berpikir. Saat ini ia hanya sedang memikirkan bagaimana caranya ia bicara dengan Adrian. Ia ingin minta maaf karena sudah mengecewakannya dan mengkhianati hubungan yang sudah terjalin. Mereka berpisah karena terhalang restu.
Kini Leonard yang menatap Laura, ada senyuman kecil di bibirnya ketika melihat gadis itu tengah melamun. Sebuah seringaian muncul di bibirnya yang tidak Laura sadari.
-
-
Keesokan harinya
Hari menjelang sore ketika acara pernikahan itu akan dimulai. Acara sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga besar dan kerabat dekat, juga teman yang menghadiri pesta pernikahan itu.
Tak ada pesta mewah di acara sakral ini. Hanya ada sebuah pesta sederhana yang digelar di hotel dengan tema outdoor. Namun, meski pesta pernikahan itu digelar dengan sederhana, tapi dekorasinya tetap tampak indah dan terkesan mewah. Lokasi yang berada dekat pantai, membuat suasana dan juga pemandangan itu terlihat begitu indah. Siluet jingga di langit sore itu menambah kesan romantis di pesta itu.
Laura sudah duduk di samping Leonard, ia sudah siap menjadi istri dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Pernikahan ini bukanlah impiannya. Pernikahan ini bukanlah hal yang diinginkannya, pernikahan ini tidak pernah dibayangkannya akan terjadi secepat ini. Dan dari semua yang terjadi, hanya satu hal yang ia sangat sesalkan. Ia menyesal kenapa bukan Adrian yang menjadi pengantin prianya. Kenapa bukan kekasihnya yang menjadi pasangan hidupnya.
“Sah …” terdengar seruan para saksi yang hadir di pernikahan Laura dan Leonard. Seruan itu menandakan jika kini ia telah sah menjadi istri dari Leonard. Dan kandas sudah harapannya untuk menikah dengan Adrian, kekasihnya.
Tangisan yang keluar bukan karena ia terharu sebab sudah menikah, tapi karena ia sedih telah gagal menikah dengan pria yang sangat dicintainya. Namun, tentu saja ia tak boleh memperlihatkan kesedihan itu di depan para tamu undangan. Jangan sampai Laura mempermalukan keluarganya. Setelah bersalaman dengan kedua orang tua dan juga kedua mertuanya, Laura dan Leonard naik ke atas pelaminan untuk duduk sejenak sambil beristirahat dan menunggu para tamu undangan yang akan bersalaman dengan mereka.
“Apa kau begitu senang karena telah menjadi istriku, sampai kau menangis terharu seperti itu?” Leonard berbisik di telinga Laura.
“Bahagia kepalamu.” jawab Laura, sambil mendelik kesal.
Leonard tersenyum, ia suka melihat gadis keras kepala ini kesal. Pria itu lalu mengulurkan tangannya, “Cium tanganku.” ucapnya seperti anak kecil.
“Apa?”
“Cepat cium tanganku, tunjukan kalau kau adalah istri yang berbakti. Aku juga mau ada foto saat kau mencium tanganku. Ya ampun, aku pasti akan terlihat gagah, hihihi …” Leonard malah terkikik geli.
Dan untuk kesekian kalinya Laura kembali melihat tingkah aneh Leonard, “Nah … ketahuan lagi, haissshh … kenapa kau sangat menggelikan? Kenapa hanya aku saja yang melihatnya?” Laura penasaran karena hanya Laura saja yang melihat kelakuan random Leonard, setelah ibunya Leonard tentunya.
“Ketahuan apa?” suaranya kembali dibuat jantan.
Laura menghela nafas, “Sekarang aku tahu kalau kau ternyata bukan pria sejati yang jantan, tapi kau hanya pria manis dan menggemaskan yang terjebak dalam tubuhmu yang bongsor. Bukankah begitu anak manis.” ejek Laura.
“Kau bilang apa? Aku bongsor? Kata-kata apa itu? Tidak enak didengar.” ketusnya pada Laura.
“Kau …”
“Laura selamat atas pernikahanmu.” suara seseorang menghentikan gerakan tangan Laura yang akan menarik Leonard.
Ketika melihat siapa yang mengucapkan selamat padanya. Degup jantung Laura hampir saja berhenti ketika mata mereka saling beradu tatap. “Mas …” rupanya Adrian hadir di pernikahannya. Ya Tuhan, rasa bersalah kembali menyesakkan dadanya.