Hati siapa yang tidak terluka jika melihat kekasih yang sangat dicintai, tengah berdiri di pelaminan bersama dengan orang lain. Begitu banyak harapan yang tersimpan, akan tetapi semua itu tidak akan pernah ia wujudkan. Hal itulah yang dirasakan oleh Adrian sekarang. Kekasih yang sangat ia cintai kini malah menikah dengan orang lain. Bukankah seharusnya yang berada di samping Laura adalah dirinya, bukan pria yang tidak ia kenal itu.
“Mas, bagaimana Mas bisa berada di sini? Bukankah …”
“Papamu yang mengundangku.” potong Adrian, “Aku pikir jika apa yang dikatakannya hanyalah sebuah gertakan. Nyatanya, apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Kebenaran jika kau telah mengkhianatiku.” Adrian tersenyum kecut saat mengatakannya. Pria itu bahkan membuang muka dan tak mau bertatap muka dengan Laura.
Laura merasa bersalah, dan ia juga menyesalkan dengan apa yang papanya lakukan. Bisa-bisanya ia mengundang Adrian hanya untuk melukai perasaannya. “Maafkan aku, Mas. Aku … aku sungguh merasa sangat bersalah padamu.” Laura menundukkan kepala ketika bicara. Ia bahkan tak sanggup mengangkat kepalanya hanya untuk menatap mata kekasihnya itu. Atau mungkin lebih tepatnya adalah mantan kekasihnya.
“Sudahlah, sekarang aku tahu jika cintamu padaku hanyalah main-main. Kau tidak pernah serius denganku dan kau …”
“Terima saja takdirmu, kenapa kau malah sibuk menyalahkan orang lain. Dasar tidak dewasa.” Leonard berkata dengan nada bicara seperti anak-anak lagi. Aah … tapi itu sungguh sangat menyebalkan, rasanya tidak pantas jika seorang pria dewasa bicara seperti anak kecil. Apalagi di depan mantan kekasih istrinya, sungguh tidak punya wibawa pria ini pikir Laura.
“Diamlah.” bisik Laura.
“Kenapa? Kau tidak suka aku bicara dengannya, aku ini suamimu, Lau!” Si Aneh kembali bicara seenaknya.
“Laura! Jangan setengah-setengah memanggil namaku!” Laura ingin sekali berteriak akan tetapi ia tak bisa dan hanya mampu menahan suaranya agar tidak memaki suaminya.
Menyaksikan pertengkaran kecil di antara mereka justru membuat perasaan Adrian semakin terluka. Ia tidak sanggup melihat keduanya, seolah hatinya diliputi rasa panas yang menyakitkan. Hanya dengan melihat mereka berdiri di depannya saja sudah cukup membuat hatinya remuk tak bersisa, apalagi kini harus menyaksikan kedekatan di antara mereka berdua, Adrian benar-benar tidak mampu menahannya lagi.
Pria itu pun memutuskan untuk pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu. Ia memilih untuk pulang dan tidak akan mengikuti pesta sampai selesai. Karena semakin lama ia berada di sana hatinya malah semakin hancur.
Laura sendiri menatap kekasihnya dengan hati yang hancur. Ia tidak tega jika harus melihatnya bersedih seperti itu. Kenapa takdir tidak berpihak pada mereka, dan justru takdir malah mempermainkan mereka berdua.
Laura menoleh ke arah Leonard, dan secara tak sengaja ia melihat pria itu sedang tersenyum sinis ketika matanya tertuju pada Adrian. Tidak … itu bukan senyuman, itu sebuah seringaian yang menakutkan.
“Ada apa istriku?” tanyanya pada Laura, pria itu sadar jika istrinya melihat apa yang dilakukannya barusan. Dalam sedetik ia bisa mengubah ekspresinya.
Laura menggeleng, “Tidak apa-apa.” jawabnya kaku, ia memikirkan sesuatu tentang Leonard. Apa barusan ia salah lihat? Bagaimana mungkin seseorang bisa mengubah ekspresinya dengan begitu cepat.
Ya … sepertinya Laura salah lihat, beberapa waktu terakhir ia merasa tertekan. Mungkin hal ini yang membuat ia sedikit berhati-hati. Laura meyakinkan dirinya jika ia memang tidak benar-benar melihat Leonard menyeringai.
-
-
Pesta pernikahan pun telah usai, tamu-tamu undangan pun telah kembali ke rumah mereka. Suasana yang tadi ramai kini telah berganti sepi, meninggalkan sunyi di tempat itu.
Laura dan Leonard telah tidak kembali pulang untuk malam ini. Mereka akan menghabiskan malam ini di hotel tempat tadi ia melangsungkan pernikahan.
Kamar yang disediakan sudah dihias sedemikian rupa. Banyak taburan bunga di sepanjang jalan mereka menuju ranjang. Dan bukan hanya itu, bahkan ranjangnya saja diberikan bunga-bunga mawar merah indah dan dibentuk hati di sana.
“Ya ampun, bagaimana aku akan tidur jika banyak sampah di atas tempat tidur.” Laura duduk di pinggiran ranjang itu lalu tangannya dengan sengaja membersihkan ranjang itu dari bunga-bunga yang bertebaran.
“Hei … hei, astaga! Bunga-bunganya jadi rusak, kau memang tidak punya perasaan!” Leonard marah karena bunga yang berbentuk hati itu kini menjadi berantakan.
“Aku tidak mau tidur di atas bunga, kalau gatal-gatal bagaimana?” Laura berdiri lalu kemudian berkata, “Bisa saja bunga-bunga itu langsung dipetik dari kebun tanpa dicuci.”
Seketika Leonard pun merasa jijik, “Iyakah?” Leonard pun kemudian membersihkan bunga-bunga itu dari atas ranjang. “Apa aku minta pelayan saja untuk mengganti spreinya?”
Laura mengangguk, “Iya, minta saja pelayan untuk membersihkannya dan juga bunga-bunga yang ada di lantai itu. Ya ampun berantakan sekali.” Laura menghela nafas, seolah menyesali apa yang terjadi.
“Baiklah, kalau begitu akan meminta pelayan untuk membersihkannya.
Sementara Laura pergi mandi, Leonard pun meminta orang untuk membersihkan kamar itu seperti yang diinginkan oleh Laura. Karena jika dipikirkan apa yang dikatakan oleh Laura memang benar, kamar yang banyak dihiasi bunga mawar ini malah terlihat berantakan dan jauh dari kata romantis. Mungkin karena pasangan yang menikah kali ini bukanlah pasangan suami istri yang saling mencintai, hingga setiap keindahan yang ada tidak tampak seperti semestinya.
-
Selesai mandi, Laura berganti pakaian dengan piyama. Tidak ada pakaian tipis atau tembus pandang, Laura tidak ingin mengenakan pakaian seperti itu. Apalagi dilihat oleh Leonard.
Selesai Laura, kini giliran Leonard yang akan membersihkan tubuhnya. Sejak sore ia memakai pakaian yang sama, rasanya tidak nyaman apalagi tubuhnya sekarang terasa lengket.
Laura naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya yang pegal. “Aaaaahhh … nyaman sekali!” setelah mandi tubuhnya terasa segar, tapi matanya tampak terasa berat. Laura pun memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak.
Beberapa saat kemudian, Leonard pun telah selesai mandi. Matanya langsung tertuju pada Laura yang sedang tidur di atas ranjang. Wanita itu tampaknya memang kelelahan.
Leonard menyunggingkan senyum, senyuman aneh ketika ia melihat ke arah Laura.
Tangannya menarik tubuh Laura lalu menjauhkannya dari ranjang, hingga kini gadis itu berada di tepian ranjang hingga nyaris terjatuh.
Laura yang merasakan sebuah tarikan di tubuhnya langsung terbangun, dan matanya menatap tajam ke arah Leonard. “Apa yang yang kau lakukan!” bentaknya.
“Aku tidak mau dekat-dekat denganmu.” jawabnya dengan nada manja yang menyebalkan.
“Apa?” Laura menghembuskan nafas berat, “Ranjang ini luas kau tidak perlu bersikap kasar seperti itu!”
“Aku tidak berbuat kasar, aku hanya menyingkirkan seorang wanita di atas ranjangku. Jaga jarak dan jangan terlalu dekat.” pria itu mengibaskan tangannya.
“Kenapa? Kau takut aku memperkosamu?”
Leonard langsung menyilangkan kedua tangannya di d**a, “Jangan macam-macam ya, mentang-mentang kau wanita berpengalaman.” Leonard berdecih, “Ya ampun, wajar saja kau kan wanita bekas,” ejeknya pada Laura.
“Bekas? Kau pikir aku benda, kau bilang aku bekas?”
“Iya, kau kau itu bekas pacarmu. Kau sudah tidak suci dan polos seperti aku. Amit-amit …” Si Aneh malah bergidik sekarang
“Astaga, pria setengah jadi ini menguji kesabaranku.” Laura menggelengkan kepalanya, sampai beberapa kali ia mengusap dadanya untuk menenangkan diri, “Kau tidak mau aku dekat denganmu?” Laura menatap tajam ke arah suaminya.
“Iya, siuh … siuh, jauhkan tangan baumu dariku.” lihatlah bahkan kini ia malah bersikap kemayu, sungguh menjijikan.
“Baiklah.” Laura pun bangun lalu kemudian berdiri di depan Leonard. “Kau tidak suka aku dekat denganmu ‘kan! Sekarang buka celanamu!” Laura menarik celana piyama Leonard dengan paksa.
Pria itu pun menjerit ketakutan, ketika Laura tiba-tiba saja menarik celananya, ia takut jika kesuciannya akan direnggut sang istri, “Aaaaaaarrkkhhh … lepaskan aku, dasar wanita nakal! Aaaaaaarrkkhh … Bunda tolong aku!” teriaknya sambil menahan pakaiannya agar tidak ditarik oleh Laura.
“Buka celanamu kurang ajar!!!”