Uji Coba

1079 Words
Pagi ini adalah pagi pertama untuk Laura menjadi istri Leonard. Dan pastinya tidak ada kesan baik ataupun indah saat menjadi istrinya. Kepalanya begitu sakit ketika membuka mata, bahkan kepalanya terasa begitu berat. “Kepalaku …” gumamnya. Perlahan ia bangun lalu duduk sebentar, “Aarrkhhh …” teriaknya, “Sedang apa kau?” Laura terkejut saat melihat suaminya, pria itu sedang menatapnya dengan tatapan aneh dan menakutkan. Pria itu tidak bergerak dan terus menatapnya, bahkan ada lingkaran hitam di sekeliling mata Leonard. Jangan katakan jika pria itu tidak tidur semalaman dan hanya melihatnya seperti sekarang ini. “Apa kau tidak tidur?” tanya Laura. Leonard menggeleng. “Apa?” Laura menghela nafas panjang, “Kenapa kau tidak tidur?” “Aku takut.” “Takut?” Laura diam, lalu menggeser tubuhnya agar dekat dengan Leonard. “Apa kau takut aku menodaimu?” Leonard tidak menjawab, tapi kemudian ia membaringkan tubuhnya lalu ia memejamkan mata. Sepertinya pria ini sedang bersiap untuk tidur. Dan benar saja tak lama setelahnya, terdengar suara dengkuran halus. Pria itu tidur tak lama setelah Laura bangun. Jangan katakan kalau dia memang tidak tidur semalaman. Tapi jika dilihat dari penampilannya pria itu memang sepertinya tidak tidur, dan hanya menatapnya semalaman dan berjaga takut jika Laura akan membuka pakaiannya. “Ada apa dengannya? Apa dia mengira jika aku akan benar-benar menodainya? Yang benar saja, astaga … kenapa ada orang sepertinya.” ucap Laura sambil menyelimuti Leonard. Hatinya sedikit merasa bersalah karena telah membuat Leonard ketakutan gara-gara sikapnya. "Seharusnya aku tidak begitu." gumamnya. - - Hari sudah lewat siang bahkan hampir menuju sore tapi Leonard belum juga bangun dan masih nyenyak dengan tidurnya. Sudahlah sepertinya ia memang kelelahan karena telah berjaga semalaman. Laura membuka ponselnya, dan membuka akun media sosialnya. Saat ini satu-satunya hiburan agar dirinya tidak bosan hanya dengan bermain ponsel dan berselancar di dunia maya. Namun, baru saja masuk akun sebuah pesan masuk dan muncul di jendela layar ponselnya. Perasaannya jadi tak karuan saat melihat siapa yang telah mengirim pesan padanya. Adrian ... Laura, jujur semakin aku mencoba untuk melupakanmu hatiku justru semakin terikat denganmu. Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus teringat padamu, apa yang aku rasakan sekarang sama dengan apa yang hatimu rasakan. Aku bahkan tak bisa memejamkan mata barang sedikitpun. Laura menghela nafas, ia jadi merasa bersalah karena apa yang Adrian rasakan sama sekali tidak dirasakannya. Semalam ia bahkan tidur dengan sangat nyenyak karena kelelahan. "Ternyata aku memang jahat." gumamnya. Laura akan mencoba membalas pesan Adrian, ia akan meminta maaf karena telah melukai perasaannya. Rasa bersalah kini tengah memenuhi hatinya. Wanita cantik itu akan mengetikan sebuah pesan, akan tetapi tiba-tiba ponselnya direbut oleh seseorang dari belakang. "Ketahuan ya, dasar tukang selingkuh!" bentaknya pada Laura. Laura bangun dan berusaha untuk mengambil ponselnya, akan tetapi Leonard malah semakin menjauhkannya dari jangkauan Laura. "Diamlah, dasar pendek suka sekali mencari masalah!" "Kemarikan ponselku!" "Aku akan kembalikan tapi ada syaratnya." ia mundur agar menjauh dari Laura. Takut jika tangan pendek itu tiba-tiba meraihnya. "Baiklah, apa syaratnya?" tanya Laura. "Hapus nomornya. " "Blokir saja ya ..." mohon Laura. "Apa? Kenapa? Kenapa harus diblokir? Apa kau ingin buka tutup blokirnya, heeeemmmm???" si pria amit-amit malah mendekatkan wajahnya, membuat Laura ingin memukul, menginjak dan mengunyahnya. Tapi tentu saja ia tak bisa melakukannya, karena dari segi fisik saja ia tak mungkin lagi bisa mengalahkan Leonard. "Kenapa kau memundurkan wajahmu? Kau tidak suka kalau wajahku berdekatan denganmu? Semua sikapmu selalu membuatku tersinggung, kau menyakiti hatiku!" Laura tak menjawab karena ia tahu jika apa yang dilakukannya adalah salah, ia telah menyakiti Leonard dan juga Adrian, tapi ... "Blokir saja ya, supaya aku masih bisa melihat wajahnya." rupanya hati, pikiran dan mulut Laura tidak sejalan. "Apaaaaa??? Kau benar-benar ingin aku makan, haaahhh!!!" - - Di lain tempat, seorang pria sedang berdiri tegak di balik jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit ruangannya. Kedua tangannya terselip di saku celana, sementara pandangannya terpaku pada deretan gedung-gedung tinggi yang menjulang di hadapannya. Cahaya sore yang mulai meredup memantul di permukaan kaca, menciptakan bayangan samar wajahnya yang terlihat tenang, tetapi menyimpan gejolak yang tak seorang pun tahu. Dalam hatinya ia terus bertanya apa langkah yang diambilnya sudah benar, ataukah memang ia telah salah melangkah. Ia merasa telah menjadi seorang ayah yang jahat, karena telah menguji coba putranya sendiri. "Apa yang sedang kau pikirkan?" suara istrinya membuyarkan lamunan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Ia berbalik lalu menatap wanita yang tampak kesal padanya. "Kau marah padaku?" tanyanya sambil berjalan menghampiri wanita itu. Eliza, ibu kandung dari Leonard itu terlihat kesal pada suaminya. Ada gurat lelah dan perasaan kecewa yang tak bisa ia ungkapkan, hanya tatapan mata yang selama ini mewakili isi hati. Wanita itu menghela nafas panjng, lalu kemudian berkata, "Untuk apa aku marah padamu? Apapun yang aku katakan tidak akan mengubah apapun." jawabnya. "Jika memang begitu, lantas mengapa kau memperlihatkan kekesalanmu padaku?" Eliza memilih untuk duduk, disusul oleh suaminya yang kemudian duduk berdampingan. "Apa yang ingin kau katakan? Aku akan mendengarkan." Eliza menatap mata Bastian, suaminya. Tangannya memegang lembut lalu mengusap punggung tangan suaminya. "Apa kita tidak salah? Aku takut jika ..." "KIta tidak akan tahu jika kita tidak mencoba." Bastian berusaha untuk meyakinkan jika apa yang dilakukannya adalah sebuah langkah yang tepat, meski sebenarnya ia pun tak yakin. "Tapi bagaimana kalau Leo akan ..." Eliza tak melanjutkan lagi perkataannya. Karena ia sendiri merasa bersalah karena telah membuat Laura menikah dengan Leon. "Percayalah padaku, Eliza ... apapun yang aku lakukan untuk Leo adalah hanya karena aku ingin melakukan yang terbaik untuknya. Aku tahu jika Leo berbeda, aku tahu jika Leo bukan seorang pria yang mungkin bukan Laura inginkan." "Laura memang tidak menginginkannya, bukankah itu sudah jelas. Jika ia tidak mencintai Leo karena ia sudah memiliki kekasih. Kenapa kau memisahkannya?" Eliza sungguh menyesalkan apa yang terjadi, ia merasa berdosa karena telah memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai. Di pernikahan kemarin ia bisa melihat jika Adrian dan Laura begitu terluka, lalu kenapa suaminya tidak memperdulikan perasaan orang lain. "Laura satu-satunya wanita yang pantas menjadi pendamping Leo, aku sudah mengawasinya sejak lama dan hanya Laura orang yang tepat untuk mengubah Leo. Aku tahu aku memang jahat, tapi akan aku lakukan apapun untuk kebaikan anakku. Apapun itu, aku tidak peduli." sikap egois pria itu telah menyakiti hati orang dan bahkan ia tidak peduli dengan luka orang lain, karena baginya putranya adalah segalanya. Eliza hanya bisa menahan perasaanya, kini justru ia takut jika Leo akan melakukan hal buruk pada Laura. Bastian bahkan tidak tahu jika Leo memiliki sisi menakutkan yang tak banyak orang tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD