7. Palsu

1107 Words
Sore hari Leo mengajak Laura untuk pergi ke pantai untuk jalan-jalan dan menikmati pemandangan matahari tenggelam ketika petang nanti. Sebenarnya Laura malas pergi, akan tetapi mendengar Leo yang terus protes dan mengatakan kalau ia bukan istri setia dan tukang selingkuh, membuat Laura akhirnya menyerah dan mengikuti kemana suaminya pergi. Setelah berada di sana. Laura sama sekali tak merasa menyesal ikut dengan Leo, karena saat diluar ia bisa melupakan sejenak beban hidupnya yang begitu berat. Semilir angin sore terasa lembut ketika menerpa wajahnya, terasa seperti sebuah sentuhan lembut yang menguatkan hatinya. Banyaknya orang disana membuat hati Laura tidak terasa sepi, juga pemandangan matahari sore yang indah memberikan kesenangan tersendiri bagi gadis cantik bermata indah itu. "Kenapa sih orang-orang terus melihatku? Apa karena aku terlalu tampan bagi mereka?" ucapnya, sesekali ia mengusap wajahnya lalu membetulkan rambut yang terkana angin. Sampai beberapa langkah ke depan Laura tidak menyahuti perkatannya membuat Leo tampak kesal. "Dasar tidak perhatian!" si manis kembali komat-komit. Laura melihatnya sekilas, tapi tak mau menjawab ucapan Leo. Suasana hatinya sedang tenang, ia tidak mau bertengkar dengan bayi raksasa ini. "Hei Lau! Aku bicara padamu." serunya dengan kesal, posisi bibirnya masih belum normal. Bibir pink itu maju mundur samabil komat-kamit, seolah ingin Laura tahu jika ia sedang marah. Ya ... Laura tahu Leo marah tapi ia tidak mau peduli, memangnya siapa dia hingga Laura harus mengerti sikap manjanya yang tak enak dipandang mata. "Lauuuuu ... Lau ...Lau ..Lauuuuu!!!!" teriaknya tepat di samping telinga Laura. Seketika Laura langsung mendorong tubuh besar itu agar menjauh, "Haish ... bisa-bisa kau jadi gila gara-gara bayi ini." gadis cantik itu mengusap-usap telinganya. Lalu balik menatap Leo dengan marah, "Apa? Apa ... apa ... apaaaaa!!!" balasnya pada Leo, hanya saja teriakannya tak bisa ia lakukan di dekat telinga Leo karena pria jangkung itu tak bisa digapainya. Leo terbahak, "Rasakan itu pendek. Kau tidak bisa membalasku." ia membanggakan fisiknya yang sangat sempurna itu. Leo menunduk, lalu tersenyum mengejek ke arah Laura, "Stunting ya?" Laura tidak menjawab dan langsung pergi meninggalkan Leo, tapi dengan cepat pria itu mengejarnya. "Jika suami sedang bicara kau harus mendengarkan, masa begitu saja harus aku yang memberitahu sih? Aku ini kepala keluarga tahu!" "Kepala kosong?" "Dasar tuli, telingamu belum sembuh juga? Siap-siap nanti kita ke dokter." "Tidak mau." "Kau harus mau, karena aku juga mau dokter memeriksamu sebenarnya kau masih perawan atau tidak?" "Haduhh, si cantik ini kembali menyinggungku." gumamnya, "Kenapa harus ke dokter untuk membuktikannya? Kau kan bisa melakukannya sendiri." Laura tak habis pikir dengan pemikiran Leo. Bisa-bisanya ia akan mengajak dirinya untuk pergi dan memeriksanya. Bukankah dia bisa melakukannya sendiri. "Aku? Aku bukan dokter, jadi aku tidak bisa memeriksamu." "Kau kan punya ituuuu ... kenapa tidak kau gunakan saja?" ucapnya sambil menunjuk sang pusaka yang bersembunyi di dalam celana. Sengaja Laura menggodanya karena ia tahu jika Leo tidak akan pernah mau menggunakan senjatanya yang tumpul itu. Laura juga berharap kalau Leo tidak benar-benar akan mengajaknya mengadon bayi. Karena Laura tak sanggup melakuka hal itu dengan Leo. Selain tidak memiliki perasaan apapun padanya, Laura juga tidak ingin pria aneh ini menyentuhnya. Sudah bisa ia bayangkan jika Leo akan sangat berisik, ketika huha-huha nanti mengingat ia adalah orang yang banyak bicara. Saat mereka sedang melakukannya Leo pasti bilang, pelan-pelan, Lau! Atau mungkin ya ampun Lau, punyaku pendek dan tidak bisa menembus pabrik bayimu. "Hahaha ..." tiba-tiba saja Laura terbahak saat membayangkan betapa beriskik dan menyebalkannya Leo jika mereka akan melakukan pembuatan adonan. "Benar kan kalau gadis ini gila." Leo menggelengkan kepalanya, lalu tanpa banyak bicara ia memanggul Laura dan membawanya pergi, akan Leo pastikan istrinya ini diperiksa dengan benar. - - "Tidak ada urat syarafnya yang putus kan, Dok?" rupanya Leo benar-benar membawa Laura untuk diperiksa. Bahkan tanpa Laura bisa mengganti pakaiannya dulu. Leo langsung membawanya ke rumah sakit agar ia bisa segera tahu bagaimana keadaan Laura. "Semuanya baik, Tuan." jawab dokter perempuan itu, ia adalah dokter khusus yang selalu Leo temui ketika ia sedang ada keluhan dengan kesehatannya. Namun, kali ini ada yang berbeda dengan dokter itu. Ia tidak sepertinya biasanya yang selalu sangat ramah dan juga selau tersenyum ketika bicara dengannya. Kali ini dokter itu tidak banyak bicara dengan tidak ramah sebagaimana sikapnya selama ini pada Leo. "Aku sudah katakan kalau aku tidak apa-apa, dia masih saja tidak percaya." ucap Laura, ia bangun dari tempat ia diperiksa barusan, lalu turun untuk menghampiri Leo. "Sebagai seorang suami, sudah sewajarnya cemas. Apalagi Tuan Leonard adalah orang yang sangat bersih. Dan saat menikah, anda juga dalam status memilliki seorang kekasih. Jadi sebuah hal yang sangat wajar jika Tuan Leonard ingin memastikan jika istrinya benar-benar bersih." ucap wanita itu. Nada bicara terdengar aneh, entah mengapa ia seperti tak suka pada Laura. Dan ia terlihat jengkel ketika bicara. Laura menyadari itu tapi ia tak mau mempermasalahkannya, biarlah ia bersikap seperti itu. Mungkin saat ini suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja atau mungkin juga ia sedang memiliki masalah. Laura tahu jika seharusnya seorang dokter tidak bersikap seperti itu, akan tetapi seorang dokter juga manusia biasa yang pastinya akan sesekali menunjukan sikap alami seseorang jika sedang merasa kesal. "Lau, bisakah kau menungguku diluar?" ucap Leo. Laura pun mengangguk, "Iya, aku akan menunggu diluar." jawabnya lalu kemudian ia beranjak pergi dan meninggalkan mereka berdua di sana. Laura tidak ada rasa curiga ataupun merasa jika ia sedang diminta pergi dengan sengaja oleh Leo. Laura justru senang karena pemeriksaannya sudah selesai dan ia dinyatakan baik-baik saja. Setelah pintu ditutup, Leo menghampiri dokter yang bernama Jasmine itu. Langkahnya pelan tapi juga pasti. Bibirnya menyeringai ketika matanya beradu dengan mata dokter cantik itu. "Apa ada masalah?" Leo bertanya padanya, tangannya terulur lalu mengusap rambut Jasmine dan memainkannya dengan jari-jari tangannya. Jasmine memalingkan wajah, ia tampak gugup sekarang. Dan merasa jika Leo yang ada dihadapannya ini adalah seorang Leo yang berbeda. "T-tidak ada, Tuan?" "Kenapa? Kenapa aku merasa jika ada sesuatu dalam hatimu? Apa kau tidak menyukai istriku?" Leo menunduk, agar mata mereka berdua bisa beradu. "Kau tidak suka pada istriku, kenapa?" matanya tampal menakutkan, mata itu tidak pernah dilihat oleh Jasmine sebelumnya "T-tuan, anda salah paham. A-aku tidak seperti itu." entah mengapa oksigen di ruangan itu terasa habis hingga membuat Jasmine merasa sesak. "Bersikaplah sopan padanya, jika kau masih ingin bekerja disini. Itupun jika kau masih bernafas." ucapnya dengan tangan yang masih memainkan rambut Jasmine. Setelah itu ia melepaskan tangannya, dan menatap tangan itu dengan jijik. Lalu dengan sengaja ia mengelap tangannya di jas putih yang dikenakan Jasmine. "Haahh ... kau sangat menjijikan." Leonard pun berlalu pergi dari ruangan itu dengan membanting pintunya keras. Jasmine sendiri hanya bisa berdiri terpaku, ia takut dan gugup. Untuk pertama kalinya ia melihat Leonard seperti itu, menjadi sosok yang menakutkan. "Apa selama ini sikapnya palsu?" gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD