“Morning, Boss...” sapa Dira ketika Regas muncul di ruang makan pagi harinya. Gadis itu tampak sibuk menata sarapan di atas meja.
“Morning,” jawab Regas dengan dahi berkerut. “Sejak kapan kamu ngomong pake bahasa Inggris? Belajar dari mana lagi?”
Dira menatap Regas sambil tersenyum penuh arti. “Penasaran ya?”
Regas menghela napas panjang. Apa sekarang dia ingin mereka main tebak-tebakan? Sepagi ini?
“Iya, penasaran,” jawab Regas mengalah. “Jadi, belajar dari mana kamu ngomong selamat pagi pakai bahasa Inggris segala?”
Dira tersenyum. “Semuanya ada di internet,” jawabnya sambil menggerakkan kedua tangan di udara membentuk pola setengah lingkaran di atas kepala.
Regas yang baru saja duduk di meja makan seketika terkejut. “Astaga... Harus ya kamu jawab pakai volume suara sekeras itu? Saya belum budeg juga kali.”
“Sori, Tuan. Saya terlalu happy,” jawab Dira cengengesan. “Saya belajarnya dari Youtube, Tuan.” Dira kembali memberikan informasi tambahan.
“Nggak dari TV lagi? Udah hijrah ke Youtube sekarang?”
“Di TV banyak banget yang mau ditonton, Tuan. Saya sampai bingung. Jadi lebih baik saya nonton Youtube aja. Mumpung internet di sini bisa dipakai sepuasnya.”
“Suka dengan jaringan internet di sini yang super lancar?” tanya Regas.
Dira mengangguk cepat. “Suka banget dong, mana mungkin saya nggak suka. Saya kan nggak perlu naik ke bukit dulu buat cari sinyal. Di sini mau ke mana aja, internetnya tetap terhubung.”
Regas terkekeh mendengar jawaban Dira. Di kampung halaman gadis itu yang cukup terpelosok, untuk mencari sinyal ponsel memang harus naik ke bukit terlebih dahulu. Regas tahu itu karena ia sendiri pernah mencobanya saat berada di rumah Dira beberapa waktu lalu.
“Terus kamu belajar bikin sarapan begini dari Youtube juga?” tunjuk Regas pada sarapan di hadapannya. Ada avocado toast, potongan buah, dan juga jus. Sarapan yang cukup sehat pagi ini.
“Iya dong. Tuan pintar juga ternyata,” ujar Dira terkekeh.
Regas hanya geleng-geleng. Lalu, mata pria itu tiba-tiba saja fokus pada pakaian yang dikenakan Dira.
“Dira, mulai hari ini jangan pakai pakaian semacam ini lagi,” ujar Regas mendadak serius.
“Eh, kenapa, Tuan?” tanya gadis itu bingung.
“Jelek,” jawab Regas singkat, lalu meraih piring sarapannya.
“Wah, jangan menghina dong, Tuan. Kalau nggak pakai baju ini, memangnya saya mau pakai baju apa lagi? Biar jelek kan yang penting sopan.”
“Jelek ya jelek aja, Dira,” kata Regas sambil memasukkan potongan avocado toast ke dalam mulutnya.
“Tuan, jangan kejam begitu dong. Masih pagi lho ini,” ujar Dira cemberut.
“Nanti aku minta Wisnu buat pesanin kamu beberapa pakaian. Kalau kamu suka, kamu bisa ambil semuanya,” ujar Regas lagi.
“Maksudnya, Tuan mau beliin saya baju baru?” tanya Dira untuk memastikan.
“Iya,” ujar Regas. “Kamu kan sekarang punya tugas tambahan buat jadi pacar pura-puraku kapan pun dibutuhkan. Masa pacarku bajunya kayak begitu. Bisa dituduh pacar yang pelit aku nantinya.”
“Eh, nggak perlu lho, Tuan,” tolak Dira. “Kan kita cuma pura-pura, kenapa saya malah diperlakukan seperti pacar beneran?”
“Biar nggak malu-maluin,” ujar Regas jujur. “Siapa tahu nantinya ada orang lain yang datang berkunjung ke sini. Terus mereka lihat cara berpakaian kamu, bisa-bisa mereka curiga sama hubungan kita yang sebenarnya.”
“Oo... begitu,” Dirra menganggukkan kepala.
“Udah, ayo sini makan bareng. Ngapain kamu berdiri terus di situ?”
Sejak pertama kali Dira tiba di sini, Regas memang selalu mengajaknya makan bersama pria itu. Tidak ada perbedaan antara bos dan pengurus rumahnya. Dira senang karena Regas memperlakukannya sama baiknya seperti saat pria itu ada di rumahnya beberapa waktu lalu. Meski mereka sering kali adu mulut kecil, namun Dira tahu kalau Regas adalah bos yang baik.
“Omong-omong, kamu tanam apa lagi sih di atap?” tanya Regas. Sejak kemarin ia melihat kalau Dira sering sekali mondar-mandir ke kebun kecilnya yang ada di atap.
Dira yang baru saja duduk pun menjawab. “Oh, itu, saya tanam bawang bombay, Tuan. Nggak tahu deh bisa tumbuh apa nggak seperti rempah-rempah lainnya kemarin. Cuma ya sayang aja kan kalau lahannya nggak terpakai, padahal semua kebutuhan untuk bercocok tanam ada di sana.”
“Kamu suka banget berkebun ya.”
“Saya sudah terbiasa, Tuan,” ujar Dira. “Lagian, di sini tuh keren banget. Di atas gedung tinggi aja bisa berkebun. Gimana caranya saya bisa menahan diri untuk nggak mencobanya?”
Regas terkekeh. “Ya sudah, lakukan saja semuanya sesuka kamu.”
“Siap, Tuan,” ujar Dira sambil mengangkat tangannya membentuk hormat.
***
Siang ini Dira masih memandangi tumpukan pakaian di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. Sudah satu jam yang lalu Wisnu pamit undur diri setelah mengantarkan pakaian seperti yang dikatakan Regas tadi pagi. Dira sudah selesai mencoba semuanya, dan membuat Wisnu meninggalkan semua pakaian yang pas dengan ukuran Dira, dan menyingkirkan yang ukurannya tidak pas di tubuh gadis itu.
Pakaian-pakaian tersebut banyak sekali, memenuhi seluruh lemari. Dira geleng-geleng melihat apa yang sudah dilakukan bosnya.
“Ini sih bukan beberapa, Tuan. Yang namanya beberapa itu nggak selemari gini juga,” kata Dira terkekeh. Meski ini sangat banyak, ia merasa sangat senang karena punya baju baru. Rasanya sudah lama sekali ia tidak punya baju baru.
“Jangan lupa langsung diganti dengan pakaian kamu hari ini ya, Dira.” Itu adalah pesan Wisnu tadi, sebelum pria itu pamit undur diri.
Dira kembali memandangi tumpukan pakaiannya, dan meraih satu buah terusan dengan panjang mencapai di bawah lutut.
“Kalau bukan bos yang beliin, rasanya sayang banget mau pakai baju begini di rumah,” kata Dira pada diri sendiri. Ia lalu mengganti pakaiannya dengan terusan yang dipilihnya tadi.
Setelah pakaian itu terpasang sempurna di tubuhnya, Dira memandangi dirinya di cermin. Ia tampak sangat berbeda. Gadis itu kembali geleng-geleng kepala. Hanya karena pakaiannya diganti, penampilannya secara keseluruhan bisa berubah sedrastis ini. Kekuatan pakaian memang luar biasa.
Dira beputar, dan kembali memandangi dirinya di cermin.
“Luar biasa,” gumamnya takjub. “Kayaknya aku harus cari tutorial merawat diri biar makin cantik nih. Sayang aja bajunya cakep tapi muka masih kurang memadai.”
Dira kembali berputar mengangumi dirinya dan pakaian barunya. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. Buru-buru Dira menyingkir dari depan cermin dan mencari ponselnya.
Ponsel Dira ada di atas tempat tidur. Ia pun segera meraih benda itu, lalu membawanya kembali ke depan cermin.
Ponsel ini adalah ponsel baru yang juga dibelikan Regas untuknya. Pasalnya, ponsel lama Dira sudah ketinggalan zaman menurut pria itu.
Dira kemudian tersenyum manis, lalu memotret dirinya yang berdiri di depan cermin. Ia kemudian membuka aplikasi chat dan mengirimkan pesan ke bosnya.
Dira: Bos, makasih banyak lho bajunya. Bagus-bagus dan saya suka.
Dira mengetik pesan singkat itu, lalu melampirkan foto yang tadi diambilnya. Balasan Dari Regas datang tak lama kemudian.
Bos Re: Cantik. Sekarang kamu nggak pakai baju jelek lagi :)
Dira melotot melihat balasan Regas. Setelah memujinya, pria itu kembali mengejeknya. Dasar Bos durhaka.
Dira: Ya ampun, Bos. Mujinya satu kata doang, ngejeknya jadi satu kalimat.
Bos Re: Lho, baju kamu yang sebelumnya kan memang jelek. Jangan menyangkal dong.
Dira: Nggak menyangkal sih, tapi kan bisa kali tahan diri dikit. Pura-pura muji aja gitu.
Bos Re: Mana bisa aku pura-pura. Aku adalah pria yang jujur.
Dira: Jujur? Preeettt... Siapa ya yang kemarin minta saya buat jadi pacar pura-puranya?
Bos Re: Eh, jangan dikait-kaitkan dengan itu dong.
Dira: Lho, kenapa nggak boleh?
Bos Re: Ini perintah.
Dira: Duh, ngebos banget.
Bos Re: Lho, kan memang aku bosnya.
Dira: Ya sudah. Oke deh, Bos. Anak buah pamit dulu ya.
Bos Re: Ya sudah, sana cari hiburan sendiri biar kamu nggak mati bosan di rumah terus.
Dira: Ashiapppp....
Dira segera melupakan ponselnya, dan kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Sambil tersenyum, ia kemudian menyingkir dari sana dan keluar kamar.
Seperti yang Regas katakan tadi, Dira akan mencari hiburan agar tidak bosan. Ia berniat menonton televis sambil makan es krim. Jadi, dari kamarnya, Dira langsung menuju dapur untuk mengambil es krim tersebut dari lemari es. Setelahnya, ia pun melintasi tengah rumah menuju ke ruang keluarga.
Akan tetapi, begitu Dira melintasi ruang tamu, langkahnya seketika terhenti ketika lift yang menjadi pintu masuk penthouse Regas berdenting dan membuka.
Mata Dira fokus ke arah lift ketika seorang perempuan cantik melangkah keluar dari sana. Perempuan itu sesaat tampak terkejut saat melihat Dira, namun kemudian melangkah dengan percaya diri ke arahnya.
Oh tidak! Ngapain itu mantan si Bos datang ke sini? Hal seperti ini belum pernah ia dan Regas bicarakan.
Apa yang harus ia lakukan? Ngobrol cantik dengan mantan si Bos?
Atau ngajakin dia berantem?
Dira yang mendadak dilanda panik seketika merasakan dirinya membeku tak mampu bergerak. Ya ampun, apa yang harus ia lakukan menghadapi situasi seperti ini?
***
Bersambung....