Bab 3 - Circle Si Bos

1886 Words
 “Biarkan saja mereka ke sini,” kata Regas. “Abaikan dan pura-pura tidak melihat saja.”                 “Ya, abaikan saja mereka. Tidak penting,” kata Dira kembali tersenyum dan berusaha menekan kepanikannya.                 “Wah... Wah... Lihat siapa ini.” Tak lama kemudian, sesuai prediksi Regas, Ramon, sepupunya, datang mendekati mereka. Tak lupa sambil menggandeng Tania, mantan pacar Regas.                 “Oh, hai, Ramon,” sapa Regas santai.                 “Hai, Re,” sapa Tania. Setelah menyapa Regas, matanya menatap ke arah Dira dengan tatapan menilai.                 “Senang melihatmu akhirnya kembali,” kata Ramon lagi.                 Regas tersenyum. “Terima kasih atas basa-basinya. Selamat juga untuk pertunangan kalian,” ujar Regas sarkas.                 “Siapa dia?” tanya Ramon.                 Regas melirik Dira, lalu kembali menatap Tania dan Ramon. “Pacarku,” ujarnya sambil memperkenalkan Dira dengan bangga.                 Tania tampak terkejut, lalu matanya menatap Regas dengan tatapan penuh kerinduan.                 Diam-diam, Dira mengamati hal itu, dan mendadak bibirnya sangat gatal untuk membalas perempuan yang sudah mengkhianati bosnya ini.                 “Wah, sudah punya yang baru rupanya?” sindir Ramon.                 “Tentu saja,” jawab Regas santai. “Yang pacaran selama setahun saja bisa berpaling, kenapa aku nggak?”                 “Kamu patah hati ya?” ejek Ramon, sementara Tania tampak seperti habis tertampar mendengar ucapan Regas barusan.                 “Aku? Tentu saja nggak. Aku justru bersyukur melihat kalian akhirnya bersama. Masing-masing dari kita akhirnya berhasil menemukan orang yang tepat. Yang akan selalu bersama kita, bukan yang bermuka dua ataupun pengkhianat.”                  Tubuh Tania gemetar. “A-aku ke toilet dulu ya,” ujar perempuan itu. Wajahnya jelas seperti menahan tangis.                 “Aku temani ya,” kata Ramon, namun Tania sudah melepas gandengan tangan mereka dan berlalu dari sana. “Lihat, kamu baru saja bikin nangis tunanganku.”                 Ramon tampak marah pada Regas, lalu pria itu langsung berlalu dari hadapan mereka.                 “Bukan salahku,” jawab Regas mengangkat bahu.                 “Ya, bukan salah kamu kok,” bisik Dira.                 “Brengs*k, ternyata lo masih hidup,” ujar seorang pria lagi yang muncul tak lama kemudian setelah kepergian Ramon. Pria itu melangkah mendekati mereka sambil menatap Regas penuh kelegaan.                 Dira menghitung, sejak tadi sudah dua kali bosnya disebut b******k oleh pria yang mendekati mereka. Pria tampan itu datang bersama dengan seorang wanita cantik yang tampak sangat anggun dan juga Leon yang ikut bersama mereka.                 “Hampir mati, lebih tepatnya,” jawab Regas lagi. Jawaban yang sama persis seperti yang diberikannya pada Leon tadi.                 “Untung dia punya sembilan nyawa,” timpal Leon.                 Regas terkekeh, lalu matanya menatap ke arah wanita cantik yang sangat anggun itu. “Omong-omong, lo nggak mau ngenalin dia ke gue?” tanya Regas sambil tersenyum.                 “Ah, Davina, ini Regas Adiwangsa,” kata pria itu seraya merangkul wanita yang datang bersamanya.                 “Senang bertemu denganmu, Davina. Maaf kemarin tidak bisa hadir di pesta pernikahan kalian,” ujar Regas ramah. “Omong-omong, selamat untuk pernikahan kalian.”                 Perempuan anggun bernama Davina itu tersenyum. “Salam kenal, Regas. Tidak apa-apa. Terima kasih ucapannya.”                 “Devon juga belum ngenalin istrinya secara resmi ke gue,” ujar Leon.                     “Oh, sori. Gue benar-benar lupa,” kata pria yang bernama Devon itu sambil terkekeh. “Davina, ini Leonard Virendra. Kamu mungkin ingat karena dia hadir di pernikahan kita waktu itu.”                 Davina mengangguk. Sementara Dira sejak tadi terus-terusan memperhatikannya. Ia benar-benar terpesona pada perempuan bernama Davina ini. Cantik, anggun, dan entah mengapa membuat siapa pun yang memandangnya enggan berpaling.                 “Salam kenal, Davina,” ujar Leon. “Kami bertiga bersahabat baik sejak SD. Kalau ada aib Devon yang ingin kamu ketahui, kamu bisa tanyakan pada kami. Oh ya, kamu boleh panggil aku Leon.”                 Davina mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih, Leon. Kalau begitu, aku ingin tahu apakah dulu Devon—“                 “Sayang, kalau kamu bertanya macam-macam, aku akan hukum kamu saat kita tiba di rumah nanti,” kata Devon penuh penekanan.                 “Dia mengancam istrinya. Apa dia pria jahat?” tanpa sadar, Dira langsung bertanya begitu saja pada Regas.                 Leon dan Regas seketika tertawa mendengar pertanyaan Dira. Sementara perempuan bernama Davina itu berusaha menahan senyum melihat ekspresi Devon yang tampak terkejut disebut sebagai pria jahat oleh Dira.                 “Kalian berdua harus bertanggungjawab untuk membersihkan nama gue,” kata Devon. “Kalau tidak, gue akan membunuh kalian berdua.”                 Dira benar-benar terkejut dengan ucapan Devon. Apa bosnya ini memang selalu dikelilingi orang jahat? Tanpa sadar, tangannya otomatis meraih lengan Regas untuk berlindung.                 “Lo bikin dia semakin takut, Dev,” kata Regas terkekeh. “Gue belum memperkenalkannya Dira ke kalian ya. Kenalkan, ini Dira, kekasihku.”                 “Lo sudah nggak sama Tania lagi?” tanya Devon terkejut.                 “Dira, kenalin, pria jahat ini Devon. Sementara perempuan cantik di sebelahnya itu seperti yang kamu dengar tadi adalah Davina, istrinya,” kata Regas. “Gue nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Tania,” sambung Regas menjawab pertanyaan Devon.                 “Gue bukan pria jahat, brengs*k lo,” protes Devon.                 “Kami terbiasa bercanda seperti itu karena sudah berteman sejak kecil, Dira. Ucapan Devon tadi hanya bercanda. Kamu mungkin belum terbiasa, tapi nanti kalau sudah mulai terbiasa, kamu akan tahu mana yang merupakan candaan, dan yang mana yang merupakan hal serius,” jelas Regas.                 “Salam kenal, Dira,” kata Davina. “Suamiku bukan orang jahat kok,” sambungnya sambil terkekeh, membuat Devon semakin cemberut.                 Dira pun perlahan mengangguk. Cara bercanda orang-orang kaya ini benar-benar aneh baginya.                 “Omong-omong, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan ke kalian,” kata Regas ke Devon dan Leon. “Tapi sekarang bukan saat yang tepat.”                 “Kami mengerti,” kata Devon dan Leon bersamaan.                 “Oh, bukankah itu Anthony?” kata Regas sambil menunjuk ke belakang Devon dan Davina.                 Semua mata menatap ke arah yang ditunjuk Regas. Mereka melihat seorang pria dan seorang wanita melangkah mendekat ke arah mereka.                         “Davieee...” kata si wanita yang langsung memeluk Davina begitu mereka sudah cukup dekat.                 “Di sini kalian rupanya,” kata pria yang Dira tebak bernama Anthony seperti yang disebutkan bosnya tadi. “Aku mencari-cari kalian sejak tadi. Senang melihat kamu baik-baik saja, Regas.”                 Regas tersenyum seraya menjabat tangan Anthony yang terulur padanya.                 “Omong-omong, Devon dan Davina, aku tadi baru saja bertemu dengan orangtua kalian. Sepertinya mereka mencari kalian berdua karena ingin menanyakan sesuatu,” kata Anthony.                  “Sebaiknya kita temui mereka dulu, Dev,” kata Davina pada suaminya.                 “Oke, kami harus menemui para orangtua,” kata Devon. “Kalian silakan lanjut mengobrol, kami akan segera kembali.”                 Keduanya pun bergerak menjauh. Sementara Dira masih memperhatikan pasangan yang melangkah pergi itu. Benar-benar sangat serasi, batinnya kagum. Kapan ia bisa punya pasangan yang tampak serasi bersanding dengannya? Hati Dira mulai bertanya-tanya sendiri. *** “Kerja bagus, Dira,” kata Regas sambil mengembuskan napas lega. Mereka akhirnya tiba di penthouse Regas.                 “Tuan nggak apa-apa?” tanya Dira tiba-tiba.                 “Kenapa kamu nanya begitu?” tanya Regas sambil mengenyakkan tubuhnya ke sofa ruang tamu.                 “Hmmm... Soalnya tadi mata Tuan kelihatan sedih. Kalau nggak ingat Tuan habis ketemu mantan, saya bakalan mikir kalau yang nikah tadi adalah mantan pacar Tuan lho.”                 “Kok kamu bisa mikir begitu?” tanya Regas sambil mengerutkan dahi.                 “Ya, soalnya meski bisa haha-hehe sama teman-teman, saya lihat Tuan masih kelihatan sedih,” jelas Dira.                 Regas terdiam. Ia tidak menyangka bahwa gadis ini bisa membacanya dengan baik. Regas pikir ia sudah cukup pandai menyembunyikan perasaannya, namun ternyata tetap saja terbaca. Sejujurnya sorot sedih di mata Tania tadi yang membuat Regas jadi merasa bersalah. Ia sudah bicara terelalu kasar dan menyakiti perasaan wanita itu. Tania memang salah karena meninggalkannya. Tapi Regas juga merasa bersalah karena sudah bicara kasar padanya.                 “Yang nikah tadi adalah putra dari pemilik penthouse ini,” jelas Regas, berusaha mengalihkan fokus Dira. “Terkadang dia juga sering bergabung dengan aku dan teman-temanku.”                 “Oh, bukan yang mempelai perempuan ya,” kata Dira mengangguk. “Ya sudah, nggak apa-apa sih kalau mau bersedih, Tuan. Move on itu memang susah. Saya aja pas ditinggal Bang Akbar, nangisnya seminggu. Padahal kami nggak pacaran.”                 “Itu mah kamu yang lebay,” cibir Regas.                 “Eh sembarangan,” protes Dira. “Tuan nggak tahu aja, perempuan itu hatinya lembut banget. Jadi wajar dong kalau nangis ditinggal pria yang dia suka.”                 “Untung nggak sampai bunuh diri,” kata Regas lagi.                 “Kalau saya bunuh diri, Tuan juga nggak akan hidup hari ini. Jasad Tuan udah mengambang di sungai dan jadi makanan buaya muara.”                 Ucapan Dira membuat Regas bergidik. “Jangan bicara aneh-aneh kamu,” ujarnya jengkel. Dira tidak tahu kalau Regas masih sering bermimpi buruk karena hal tersebut.                 “Ya Tuan sih tadi mulai duluan,” kata Dira membela diri. “Ya sudah, saya ke kamar dulu ya, Tuan. Mau ganti baju dan bersihin make up. Habis itu saya mau masak mi. Tuan mau nggak?”                 “Kamu masih mau makan?” tanya Regas heran. “Bukannya tadi di pesta kita sudah makan?”                 “Masih lapar, Tuan,” jawab Dira sambil tersenyum. “Tadi saya makan sedikit banget. Takut nanti perut saya membuncit dan bikin penampilan saya nggak kayak artis lagi.”                 “Astaga...” Regas geleng-geleng melihat tingkah gadis ini.                 “Malam, Tuan,” ujar Dira, lalu segera berbalik dan melangkah menuju kamarnya.                 Akan tetapi, baru saja ia berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja langkahnya oleng dan Dira langsung jatuh terjerembab.                 “Aduh!” ujar gadis itu sambil berusaha bangkit. Kedua tangannya menahan lantai untuk menopang tubuh.                 Melihat hal tersebut, Regas serta merta terkekeh. “Setelah berjam-jam pakai high heels, baru sekarang kamu jatuh?” ujarnya seraya mendekati Dira.                 Gadis itu menoleh pada Regas dengan tatapan sinis. “Bukannya bantuin, malah ketawa.”                 Regas masih terkekeh saat tiba di dekat Dira. Tangannya terulur dan membantu gadis itu berdiri.                 “Sakit ya?” tanya Regas.                 “Ya sakit lah, masih nanya lagi. Dasar Bos durhaka,” omel Dira.                 “Eh, apa kamu bilang?” kata Regas melotot.                 “Bos durhaka,” ulang Dira tanpa rasa takut.                 “Kamu,” Regas melotot dan bersiap menyentil kembali dahi gadis itu.                 “Tuh kan, emang Bos durhaka. Udah susah-susah nih anak buahnya akting jalan kayak putri keraton biar nggak jatuh sepanjang pesta tadi, eh sekarang pas udah jalan normal dan jatuh malah diketawain. Mau disentil pula jidatnya. Terluka banget nih harga diri saya, Tuan.”                 Tangan Regas kembali turun, batal menyentil dahi Dira. Gadis itu kembali berjongkok dan melepas sepatunya.                 “Terkilir nggak?” tanya Regas khawatir. “Nggak kan ya? Kamu kan wonder woman. Masa yang ototnya sekeras baja bisa terkilir.”                 Dira menatap sinis pada Regas. “Aduhhh... Sakit...” ujarnya berpura-pura.                 “Halah, akting kamu jelek. Pantesan nggak bisa jadi artis,” kata Regas, lalu berdiri.                 “Ya Allah, ampunilah hamba. Entah apa dosa hamba di masa lalu sampai-sampai punya bos tak berperasaan seperti ini,” ratap Dira yang masih duduk di lantai. “Ingin rasanya hamba lempar sepatu ini padanya, tapi takut dosa.”                 “Heh, apa kamu bilang?” Regas memelototinya sambil berkacak pinggang.                 “Eh, nggak ada apa-apa kok, Tuan,” jawab Dira sambil mengedip tanpa dosa.                 “Kamu...”                 “Kaburrrrr...” Dira langsung berdiri dan berlari meninggalkan Regas di sana.                 Regas terkekeh. “Dasar gadis edan,” ujarnya pada diri sendiri.                 Tapi berkat gadis ini pula rasa bersalahnya saat bicara kasar pada Tania tadi perlahan menghilang. *** Bersambung...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD