Suara pintu dibanting membuat Mori yang di dapur berjingkat kaget. Lelaki berperawakan tinggi, kurus dan berambut cokelat itu berjalan menghampiri Mori dengan kondisi sempoyongan. Ia berhenti di samping Mori yang bergeming. Mata tajamnya yang kini sayu menyorot Mori remeh. "Mau memasak buat saya, heh?" Lelaki itu terkekeh geli, lalu menunjuk-nunjuk kening Mori. "Agar disebut istri yang berbakti pada suaminya?" Kekehan semakin menggema, kemudian tergantikan suara piring yang dilempar ke lantai. Mori tidak kaget atau pun gentar. Kondisi ini sudah kesekian kalinya ia lihat di usia pernikahannya yang tergolong baru. "Sayangnya saya tidak sudi!" Lelaki itu bernama Cakra. Lelaki yang mempersunting Mori lima puluh lima hari yang lalu. Diawali dengan perjodohan dan berakhir seperti ini ...

