Bab - 1
Menjadi janda di usia ke-
18 tahun—tepat ke tiga bulan usai kelulusannya dari SMA, sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh seorang perempuan bernama Mori Fadzilla. Namun, realita berkata lain. Karena sebulan setelah kelulusannya, Mori lantas dijodohkan oleh neneknya dengan seorang lelaki yang sama sekali tak ia kenal.
Pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena setelah 60 hari menyandang status istri, Mori harus menerima berganti status menjadi janda muda nan kembang. Alasannya? Cukup Mori simpan baik-baik di dasar jiwanya yang paling dalam. Baginya masa lalu tetaplah masa lalu.
Suara dehaman menarik Mori dari lamunan. Entah sudah berapa lama ia berdiri di halaman rumah mungilnya hingga tak menyadari kehadiran seorang laki-laki asing yang sedang menatapnya cemas dari balik pagar.
"Ada yang bisa saya bantu?" Mori mengamati laki-laki yang sedang celingak-celinguk itu. Celana denim hitam selutut dengan jas berwarna senada dengan celana, melekat pas di tubuh tegap laki-laki itu. Terlihat manly jika saja di bahunya tidak tersampir tas berbulu berbentuk ice bear.
Laki-laki asing itu mengangguk cepat seraya mendorong pagar besi sebatas pinggang itu tanpa memedulikan mata pemilik rumah yang melotot karena tindakannya.
"Mbak, apakah rumah ini mau dijual?" Laki-laki asing itu menatap Mori penuh harap. Tak mengindahkan jika wanita di depannya sudah berkacak pinggang.
"Apakah tulisan RUMAH DIJUAL ada terlihat di rumah saya?" Mori berucap dengan nada sedikit kesal. Bukan karena pertanyaan laki-laki itu yang membuatnya kesal, tapi karena tindakannya yang masuk ke halaman rumah tanpa permisi atau meminta izin. Bagi Mori hal itu tidak sopan.
Gelengan polos menjawab pertanyaan Mori. Sebelum ia sempat berbicara, laki-laki asing itu kembali mengeluarkan suara dan berhasil menyulut emosi Mori yang sebenarnya.
"Kalau begitu, rumah ini dijual saja, Mbak. Saya akan membelinya, berapa pun harganya akan saya bayar secara tunai!" Suara itu terdengar lugas dan dalam, tapi dari nada bicaranya menyiratkan tuntutan yang tak terbantahkan.
Mori tersenyum paksa penuh kepalsuan sambil membentuk bogeman di kedua tangannya. Menatap laki-laki asing itu dari atas hingga ke bawah, menerka-nerka bagian mana yang pas diberi bogeman terlebih dahulu.
"Apakah saya terlihat berminat dengan tawaran anda?" Mori membuat suaranya selembut mungkin. Dalam hati ia menahan hasrat ingin memaki yang teramat tinggi, membuatnya kesulitan bernapas, tak peduli jika di depannya berdiri seorang laki-laki berparas tampan dan terlihat berdompet tebal.
Mori tidak peduli. Ia lebih peduli dengan rumah mungil peninggalan orangtuanya dari tawaran laki-laki asing yang menurut Mori seorang penipu ulung.
Lihat, raut cemas, takut, polos, terpantri di wajah laki-laki itu. Seperti anak kecil yang ketahuan mengompol oleh Ibunya. Menjijikan! Mori tidak akan tertipu!
"Mbak, tolong saya." Bahkan laki-laki asing itu rela menangkup ke dua tangannya di depan d**a sembari menatap Mori dengan raut cemas. "Saya tertarik dengan rumah kamu, Mbak. Pertama kali melihatnya saya langsung jatuh cinta. Terlihat nyaman, aman, dan tentram. Mau, kan, Mbak?"
Mori menggeleng kuat. Walaupun rumahnya hanya berukuran 124 meter persegi, Mori tidak akan pernah mau menjual rumah peninggalan almarhum kedua orangtuanya ini, meski imbalannya adalah rumah besar dan bertingkat.
Kenangan antara kedua almarhum orangtuanya dan Mori di rumah bergaya bungalow ini sudah terekam tanpa cela. Bagi Mori, kenangan tidak akan mampu dibeli dengan uang.
"Di luar sana banyak rumah yang lebih bagus dari rumah saya dan tentunya siap dibeli dengan uang kamu yang banyak itu." Mori mencoba menjelaskan seraya menekan kalimat uang kamu yang banyak itu.
"Tapi saya maunya rumah ini, Mbak!" Laki-laki asing itu menatap Mori sewot seraya menunjuk rumah yang diinginkannya itu.
Mori hampir mengumpat. Kemana wajah polos dan takut yang ditampilkan laki-laki asing itu? Mori pikir, pasti dia sungguh penipu yang ulung.
Tanpa banyak bicara, Mori segera mendorong laki-laki asing itu menuju pagar. "Pergi!"
Lelaki itu menahan tangan Mori yang sedang mendorongnya seraya berkata. "Saya nggak akan pergi kalau Mbak nggak jual rumah ini ke saya!"
Dengan kesal Mori menarik tangannya hingga terlepas, lalu melayangkan tendangan di tulang kering lelaki asing itu. "Kamu kalau mau nipu yang pintar dikit, ya, s****n!" maki Mori dan tidak memedulikan ringisan akibat tendangannya. "Satu lagi, belajar sopan santun dulu sana! Udah nyolot, maksa pulak!"
"Mbak ...."
Mori mengangkat tangannya menyuruh pria itu agar diam. "Saya tidak akan menjual rumah ini walaupun Dinosaurus lahir kembali. Paham?!" pekik Mori seraya menatap lelaki asing itu dengan tatapan garang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Mori segera beranjak ke dalam rumahnya dan meninggalkan bunga anggrek yang belum ia siram. Namun saat ia berbalik, lelaki asing itu berjalan di belakangnya seraya menenteng tas berbulu ice bear-nya.
"Ngapain ngikutin saya?" sentak Mori dan kembali berkacak pinggang. "Saya, kan, udah bilang kalau rumah ini tidak dijual dan TIDAK AKAN PERNAH MAU SAYA JUAL!"
Mata pria itu berkedip-kedip mendapat bentakan dari perempuan mungil di hadapannya.
"Kenapa lihat-lihat?" Mori kembali membentak dan melupakan sopan santun yang diajarkan oleh Neneknya jika berbicara dengan orang lain.
Pria itu berdeham sambil menatap Mori ngeri. "Mbak, ada kamar kosong nggak?"
Apa lagi ini? Mori memijit pelipisnya pelan. Jangan bilang jika pria asing itu mau melakukan plan B karena rencana awalnya gagal dalam mengelabui target seperti yang sering ia tonton di film-film. Huh, jangan harap!
"Kenapa lagi? Mau pura-pura menginap?"
Pria asing itu segera menggeleng cepat. "Bukan." Jeda sejenak, memastikan jika gadis di depannya tak akan melayangkan tendangan untuk kedua kalinya. "Tapi mau saya sewa, mbak."
Astaga. Dugaan Mori tidak meleset. Pasti ini plan B untuk mengelabuhi target.
"Kamu mau menipu saya, "kan? NGAKU KAMU!" tuding Mori langsung. Tangan kanannya menunjuk muka pria asing yang jauh lebih tinggi darinya itu tanpa merasa gentar sedikit pun.
Menurut buku yang dibaca Mori, jika kita sedang dalam bahaya maka kita tidak boleh menampilkan raut berlebihan seperti takut, cemas, atau histeris, meski itu manusiawi. Tetapi berusahalah agar tetap tenang, seperti yang ia lakukan saat ini meski napasnya sudah tak beraturan.
"Memangnya di muka saya ada tanda-tanda kriminal?" Lelaki asing itu membalas tuduhan Mori dengan nada bicara sedikit tinggi. Merasa tersinggung karena dikira penipu.
Mori mendengkus. Di jaman sekarang tindakan kriminal itu tidak bergantung dengan wajah. Malah yang terlihat baik-baik bisa saja seorang pembunuh ulung. Mori sering melihatnya di film-film.
"Kalau bukan penipu, lalu apa? Tukang ngibul? GITU?"
Lelaki asing itu mengusap wajahnya secara kasar. Ia menyesal telah bermohon-mohon di hadapan perempuan bermulut pedas ini. Padahal ia sudah menekan gengsinya yang setinggi langit. Tapi, demi kenyamanan dan keselamatannya, lelaki itu mencoba untuk bersabar.
"Saya bukan penipu, Mbak. Kalau pun saya mau menipu, tentu saya akan menipu orang yang kaya raya, bukan perempuan miskin seperti kamu, Mbak!"
Mori terperangah tak percaya. Rahangnya mendadak terasa kaku karena menganga terlalu lebar, mungkin air liurnya sudah menetes membasahi marmer usang tempat ia berpijak saat ini.
"Sepuluh juta, Mbak."
Mori mengerjap. Tadinya ia sedang menargetkan inti si pria itu sebagai sasaran tendangan selanjutnya. Tapi, kok, ia mendadak nge-blank, ya, mendengar nominal yang disebutkan pria asing itu?
"Saya sewa kamar kosong di rumah ini seharga sepuluh juta, Mbak. Minat?"