Bab - 2

958 Words
Setelah berkemas-kemas selama kurang-lebih tiga puluh menit. Mori menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu. Matanya hampir terpejam sempurna jika saja lelaki asing di dekatnya tidak mengeluarkan decakan kesal. Mori menoleh, menatap malas ke arah pria yang sedang membongkar tas ice bear-nya. "Kamu bukan orang tahanan, 'kan?" Mori menatap curiga lelaki asing itu. Lelaki itu menoleh sekilas, sebelum berkutat dengan dompet yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. "Saya sudah menjawab pertanyaanmu yang ke tiga puluh tiga kali, Mbak. Dan jawaban saya tetap sama. Tidak." Mori mengangguk saja. Ia sudah salah fokus. Kini matanya bagaikan sinar laser menatap dompet pria asing itu yang Mori yakini bukan merk biasa dan bisa ditemui di pasar loak pinggir jalan. Jika tak salah harganya berkisar 11 juta. Jangan salah, walaupun Mori tidak berasal dari kalangan atas, tapi ia hampir hapal semua merk barang-barang branded yang harganya bisa setara dengan satu buah ginjal. Mori tertarik? Oh, tentu. Tapi ia masih sayang ginjal. Sebenarnya siapa pria ini? "Ganti pertanyaan." Mori memiringkan tubuhnya agar dapat menghadap pria itu sepenuhnya. "Apakah kamu anggota mafia?" Selidik Mori dengan mata memicing andalannya saat mengintimidasi orang. Tatapan bosan dilayangkan pria asing itu. Merasa kesal dan menyesal di saat yang bersamaan. "Bukan," jawabnya pendek.  "Lalu siapa?" Mori kembali bertanya. Bagaimana pun juga, ia harus mengetahui seluk-beluk orang yang  akan serumah dengannya.  Iya, Mori menerima tawaran pria itu tanpa berpikir panjang. Jiwa penganggurannya meronta-ronta saat membayangkan uang sepuluh juta berada di genggamannya.  Terlepas dari itu semua, tetap saja Mori harus berhati-hati dan bersikap waspada jika sewaktu-waktu pria asing ini melakukan tindakan kriminal di rumahnya. Bagaimana pun juga, Mori pernah menyaksikan adegan seperti itu saat di bioskop. Iya, Mori senang menonton film bertema kriminal. Meski hal itu memengaruhi kinerja otaknya yang terkesan random. "Kamu terlihat bukan orang biasa." Mori menatap pria asing itu dari atas hingga ujung rambut, lalu berhenti di wajahnya yang semulus p****t bayi. "Seperti orang kaya, berkelas, dan tentunya dari kalangan atas." Mori melanjutkan dan menekan kata seperti, terdengar tidak yakin saat mengatakannya meski barang-barang yang dikenakan pria itu dari merk terkenal, kecuali jika itu semua kamuflase agar targetnya tergiur, pikir Mori. "Benar. Meski sedikit berlebihan." Pria asing itu menyahut tanpa menatap lawan bicaranya. Isi tas berbulu ice bear-nya jauh lebih menarik daripada perempuan yang sedari tadi mengoceh di sampingnya. Tapi untunglah ia diijinkan untuk tinggal, meski harus merogoh kocek yang dalam dan tidak sebanding dengan fasilitas yang ia dapat. Mori membeo. Ia rasa basa-basinya sudah cukup. Karena hari sudah beranjak malam, Mori berniat kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Badannya terasa lengket akibat membersihkan kamar kosong yang berada di samping ruang makan dan berhadapan langsung dengan kamarnya itu. Sedangkan di samping kamar Mori sendiri tersisa satu kamar lagi yang telah menjadi hak milik Amma, nenek Mori. "Anca Gabrielo." Mori menoleh, menatap penasaran lelaki yang baru saja menyebut namanya tanpa ia minta. "Mbak boleh memanggil saya dengan nama Anca." Mori menaikkan satu alisnya seraya menampilkan raut wajah menilai. "Oke ... Anca." Pria bernama Anca Gabrielo itu menoleh, menatap Mori yang sedang berdiri tak jauh darinya. "Kalau Mbak?" Mori bergeming sejenak. Mempertimbangkan apakah ia harus  Memberi tahu namanya apa tidak.  "Namaku Mori." Putus Mori akhirnya. Perkenalan singkat mereka tidak ada basa-basi berjabat tangan atau sekedar bertukar senyum ramah. Semua berjalan biasa saja. Sebelum Mori benar-benar beranjak dari ruang tamu, Anca kembali menanyakan sesuatu. "Apakah ada aturan-aturan yang harus saya taati  selama tinggal di sini, Mbak?" Mori berdecak, hampir memukul keningnya sendiri. Bisa-bisanya ia melupakan hal penting itu.   Mungkin efek uang sepuluh juta yang sudah ia kantongi sehingga memberikan efek susah fokus di kinerja otaknya. Mori berbalik seraya mengangkat satu tangannya. "Tidak boleh membawa wanita ke rumah ini." Mori menekuk jempolnya. Anca mengangguk. Lagi pula untuk apa ia membawa wanita di rumah kecil dan sumpek ini? Sangat tidak elegan. Lagi pula ia tidak memiliki wanita yang berarti di hatinya, kecuali sang Bunda. "Tidak boleh keluar dan masuk ke rumah melewati jam dua belas malam." Mori menekuk jari telunjuknya dan menyorot Anca dengan tatapan tajam. Lelaki identik dengan kata keluyuran, bukan? Maka Mori akan mengantisipasi hal tersebut.  Anca mendesah samar. Yang disebutkan Mori sama sekali bukan hal penting. Sebab mengingat statusnya saat ini, mau tidak mau Anca harus berdiam diri di rumah dan bersembunyi hingga waktu yang tak bisa ditentukan. "Tidak boleh mencampuri urusan tuan rumah!" Kali ini giliran jari tengah yang ditekuk Mori. "Dilarang keras masuk ke kamarku dan kamar yang berada di samping kamarmu!" Mori berkata tegas seraya menekuk jari manisnya. Anca mengikuti arah yang ditunjuk Mori dengan gerakan malas. Di sana terdapat dua kamar yang bersebelahan, yang kanan berwarna navy dan yang kiri berwarna abu-abu. Tidak menarik sama sekali. Anca menerka-nerka kondisi kamarnya itu. Ia berharap semoga tidak mengenaskan atau paling tidak cukup membuatnya tidur pulas tanpa gangguan nyamuk, tikus, atau suara-suara bising.  "Kamar kamu yang pintunya berwarna abu-abu." Mori memberi tahu. Anca mengangguk untuk kesekian kalinya. Kemudian ia mengusap keningnya yang basah karena keringat. Perasaannya mulai tidak enak. "Terakhir, kalau tetangga atau pak RT bertanya kenapa kamu di rumah aku, jawab aja kalau kita teman." Mori menekuk jari kelingkingnya sambil tersenyum puas. Ia rasa lima peraturan sudah cukup. "Satu lagi, jangan panggil aku Mbak! Aku rasa umur kita berbeda jauh, yang artinya kamu lebih tua dari aku," kata Mori dan berlagak jumawa.  Anca mengerutkan alis. Anak TK pun akan tahu jika melihat perbandingan dirinya dan perempuan di depannya ini. Anca perkirakan tinggi Mori hanya sebatas dadanya, terlihat mungil dengan porsi tubuhnya yang tidak kurus dan tidak gemuk. Satu kata terlintas di benak Anca untuk Mori; Bocil. "Sudah?" tanya Anca dengan raut lelah dan bosan. Mori mengangguk cepat. "Sekarang giliran saya yang berbicara." Mori menunggu dengan tangan bersidekap d**a.  "Di sini ...." Anca menelisik setiap penjuru ruangan dengan tatapan mencari. "Ada AC?" Bibir Mori seketika membentuk garis lurus. "Menurutmu?" Anca menggeleng. "Nggak ada, ya? Pantesan dari tadi saya kegerahan," ucap Anca lesu seraya mengibas-ibaskan kaos tipisnya, sedangkan jas yang sedari tadi melekat di tubuhnya sudah ia sampirkan di bahu sofa. Mori mengangguk dengan wajah datar. "Ada lagi?" Anca berpikir sejenak, lalu berkata, "Kamu ... punya suami?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD