Baru beberapa jam serumah dengan pria bernama Anca itu, Mori sudah mencium bau-bau tabiat buruk dari lelaki yang tidak jelas asal-usul dan tujuannya ini.
Mori tidak habis pikir, untuk apa lelaki itu rela memohon-mohon kepadanya demi diizinkan menginap di rumahnya yang jauh dari kata mewah? Bahkan sempat memaksa Mori agar menjual rumah peninggalan orangtuanya ini. Padahal di luar sana tersebar rumah-rumah yang siap ditempati dan dibayar, yang tentunya layak inap, mewah, dan cocok dengan lelaki sekelas Anca.
Apa jangan-jangan lelaki itu berniat melakukan hal buruk kepadanya? Menjual organ tubuhnya misal. Mori tidak bodoh, ia membawa barang berharga kemana-mana dan tentunya bernilai fantastis. Seperti ginjal, hati, dan mata.
"Moriii!" Malam ini sudah tidak terhitung berapa kali Anca berteriak
memanggil Mori sambil mengetuk pintu kamarnya.
Tidak berselang lama, Mori membuka pintu kamarnya, lalu mendongak malas, menatap Anca dengan alis mengernyit dalam. "Apa lagi, sih?"
"Aku nggak bisa tidur." Anca membalas tatapan Mori dengan wajah lempeng, tangan kanannya merangkul satu bantal guling.
Dan lihat, bahkan laki-laki itu sudah mengganti sebutan saya menjadi aku. Seakan-akan mereka adalah teman akrab.
"Ya terus?" Mori menelisik penampilan Anca. Sweatshirt berwarna abu-abu membungkus tubuh Anca dengan sempurna. Namun sama sekali tak menarik di mata Mori. Entahlah, ia mendadak menyesali keputusannya mengizinkan orang asing masuk ke lingkar kehidupannya. Apa lagi saat mendengar pertanyaan Anca perihal suami. Saat itu ia mendadak badmood.
Sepuluh jutamu, Mor. Ingat!
Mori berdeham. Kemudian menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu berjalan melewati Anca menuju ruang tamu.
"Boleh minta tolong?" Suara Anca di belakangnya membuat Mori berbalik dengan mata melotot, terkejut.
"Apaan? Udah cukup aku bolehin kamu tinggal di rumahku." Mori menatap Anca sewot. "Kalau terjadi sesuatu yang buruk sama aku ...." Mori menyorot Anca tajam. "Aku bakal gentayangin kamu!" lanjut Mori.
"Aku tinggal di sini bayar," jawab Anca enteng. "Kalau kamu tidak lupa, by the way."
Mori mengerutkan hidungnya dengan mulut berkomat-kamit. Jika saja dia tidak dipecat di restoran tempat ia bekerja sebulan yang lalu, pasti ia akan mengusir Anca saat ini juga. Tapi apa boleh buat, ia butuh makan. Dan makanan tidak bisa dibeli dengan daun.
Uang adalah segalanya.
"Kamu mau minta tolong apa?" tanya Mori. Ia berucap tanpa menatap lawan bicaranya.
Senyum penuh kemenangan terpantri di bibir Anca, tapi hanya berlangsung tiga detik.
"Tolong, elus-elus kepalaku." Ada raut yang sulit diartikan di wajah Anca saat mengatakannya.
Hening menyelimuti mereka. Mori belum mengeluarkan suara apa pun saat mendengar ucapan Anca bernada perintah tersebut. Ia terkejut, bingung, tapi juga merasa lucu.
Pria seperti Anca meminta tolong agar kepalanya dielus-elus? Mori menggeleng beberapa kali, mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang sedang ia bayangkan.
"Aku kesulitan tidur kalau tidak dielus-elus." Anca melanjutkan. Sama sekali tidak keberatan dengan ucapannya.
"Kamu serius?"
Anca mengangguk cepat. "Aku selalu yakin dengan ucapanku."
Mori mengerjap. Ini bukan tipu muslihat, 'kan?
"Aku ngga bermaksud apa-apa. Aku cuman mau tidur yang nyenyak, Mori," kata Anca seolah dapat membaca kegamangan Mori.
"Di kamar kamu?"
Anca mengedikkan bahu sambil berlalu dari ruang tamu. "Memangnya boleh kalau di kamar kamu?"
Tentu saja tidak boleh! Memangnya Mori perempuan apaan yang membiarkan pria masuk ke kamarnya tanpa ikatan? Yah, walaupun sekarang ia hampir m******t ludah sendiri.
Dulu, setelah perceraiannya dengan mantan suaminya itu, Mori seakan trauma dengan manusia berjenis kelamin laki-laki. Hingga ia memutuskan untuk tidak berurusan dengan laki-laki lagi, tapi sekarang? Ah, sudahlah. Semua ini demi uang.
Seakan tersentak dengan kenyataan, Mori mulai melangkah menuju kamarnya dan mengabaikan permintaan Anca. Namun laki-laki itu kembali keluar dari kamarnya dan berkata, "Di ruang tamu saja."
"Loh?"
Anca segera membaringkan tubuhnya di atas sofa, lalu menatap Mori yang berdiri di samping sofa tempat ia berada. "Bahaya," jawab Anca sekenanya sebelum memejamkan mata.
Merasa tak ada pergerakan, Anca kembali membuka mata dan menatap Mori yang kini sudah bersidekap d**a, menatapnya dengan raut datar.
"Kenapa?"
Mori memalingkan wajah, malas berlama-lama menatap netra hazel milik Anca, mengingatkannya saja dengan masa lalu. Dan itu tidak baik.
"Sebenarnya kamu siapa, sih?"
"Aku Anca." Anca menjawab sambil merapatkan bantal guling ke pelukannya yang ia bawa dari dalam kamar.
Mori mendesis kesal. "Udahlah. Aku capek. Awas kalau kamu macem-macem!"
Anca tak membiarkan Mori begitu saja. Buktinya ia sudah menahan lengan perempuan itu tanpa mengubah posisi tidurannya.
"Elus-elus kepalaku, Mor. Baru boleh tidur."
Mori melotot seraya menjauhkan tangan Anca dari lengannya. Enak saja main pegang-pegang!
"Aku bukan pembantumu, yang bisa disuruh-suruh dengan sesuka hatimu!" Mori menjawab ketus dan mundur beberapa langkah dari sofa tempat Anca berbaring.
Embusan napas kasar keluar dari bibir Anca. Tidak lama kemudian ia melempar bantal gulingnya ke arah Mori seiring dengan tubuhnya yang beranjak bangun.
"Aku sudah bayar kamu sepuluh juta untuk tiga puluh hari ke depan, Mor!" kata Anca dan membungkam mulut Mori yang ingin protes karena lemparannya.
Mori melempar bantal guling Anca dengan asal, lalu menuding pria itu dengan sisa-sisa kesabarannya yang menipis. "Yang kamu bayar itu kamar di rumahku ini!"
Anca mendelik, menyorot Mori tidak terima. "Kamar dengan kasur tipis itu kamu bilang?"
"Memangnya kenapa? Syukur-syukur aku mau izinin kamu tinggal di rumahku," balas Mori tak kalah sewot.
"Ac-nya aja nggak ada. Cuman kipas angin kecil, itu pun nggak bisa berputar."
Nada bicara Anca terdengar mengejek di telinga Mori. Membuatnya ingin mencakar wajah pria itu dengan cara yang s***s seperti di film-film. Lagi pula, dalam hati Mori merasa iri dengan kemulusan wajah Anca, terlihat tanpa noda dan dosa. Sedangkan Mori? Jangan ditanya. Kemarin saja ia setres dengan jerawat yang tiba-tiba nongol seperti mantan. Bikin seneng nggak, kesel iya.
"Oh, nggak terima?" Tantang Mori dan mulai berkacak pinggang. "Silakan keluar dari rumahku malam ini juga! Dan jangan harap uang sepuluh jutamu akan aku kembalikan."
"Mana bisa begitu!"
Mori menekuk bibirnya membentuk senyum sinis. "Bisalah! Ini rumahku!"
Anca memijit keningnya. Sebenarnya ia tidak masalah dengan uang sepuluh juta yang telah ia berikan ke Mori, hanya saja ia takut jika orang-orang 'itu' akan kembali mencari keberadaannya. Lagi pula, Anca tidak tahu akan kemana lagi. Walaupun rumah ini kecil, sempit, dan tidak ada istimewanya sama sekali, tetapi ia dapat menjamin keamanannya di sini dari orang-orang 'itu'. Mengingat jika lokasi rumah Mori bukan bagian padat penduduk dan jauh dari hiruk pikuk keramaian. Cukup aman untuk bersembunyi.
"Kenapa diam?"
Selepas menarik napas panjang, Anca menatap Mori yang berdiri di hadapannya dengan wajah dongkol. "Harga sewa yang aku berikan tidak sebanding dengan fasilitas yang aku dapat!"
Mori mengedikkan bahu tidak peduli. "Kamu duluan yang menaruh harga."
Sial! Perempuan ini selalu saja membalas ucapan Anca. Membuatnya kesal, tapi juga terhibur. Selama 25 tahun Anca hidup di dunia, belum ada wanita yang berani menentangnya, terlebih pacarnya sendiri. Kecuali di rumah, sosok-sosok Bidadari kesayangannya berada dan Anca selalu tunduk dibuatnya. Jika sekarang? Anca kenal dengan Mori saja tidak, tapi bisa-bisanya ia kehabisan kata-kata untuk membalas ocehan tak bermutu dari bibir mungil itu.
"Kalau begitu ...." Anca m******t bibir bawahnya sambil meraih bantal gulingnya yang tergeletak di lantai, lalu melanjutkan, "Layani semua kebutuhanku."