Bab - 4

1099 Words
Anca menekuk bibirnya dengan raut kesal setengah mati. Badannya terasa remuk seperti habis digiling. Padahal yang menyebabkan badannya terasa sakit dan nyeri hanya sepasang tangan mungil yang nahasnya memiliki tenaga seperti badak. Maksud Anca perihal ucapannya tentang layani semua kebutuhanku hanya bercanda, ya walaupun ia sedikit berharap. Mengingat jika di rumahnya sendiri Semua kebutuhannya sudah ada yang mengatur sedemikian rupa. Sialnya, Mori mengartikan ucapan Anca ke sesuatu yang berbau kebutuhan biologis. Tolong, Anca tidak sebrengsek itu. Walaupun ia lelaki normal, tapi otaknya ada di kepala, bukan di bawah perut. Yang tentunya masih dapat berpikir dengan baik. "Aku nggak segan-segan loh, ya, matahin leher kamu kalau berani macem-macem sama aku!" kata Mori di balik meja pantry sambil menuding Anca dengan pisau dapur. Anca mendengkus samar tanpa mau repot-repot menoleh menatap Mori. "Nih, makan." Mori menyodorkan sepiring nasi goreng di hadapan Anca dengan telor ceplok di atasnya. Setelah itu ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Anca, lalu mulai menikmati bagiannya. "Telur ceplok?" tanya Anca. Ia menatap telor ceplok itu dan Mori secara bergantian. Nada bicaranya terdengar menyiratkan bentuk protes. Mori menaikkan satu alisnya dan berkata, "Kenapa? Nggak terima? Syukur-syukur aku mau buatkan sarapan untuk kamu," dengkus Mori, kemudian kembali menyantap sarapannya. "Aku nggak suka telur ceplok." "Ya terus?" timpal Mori seraya menyesap teh manisnya. Semua itu tidak luput dari pengamatan Anca dengan alis mengerut. "Teh manis?" tanya Anca lagi,  memperjelas. Mori mengangguk dan tidak merasa terganggu dengan tatapan aneh yang dilayangkan Anca. "Mau?" Mori menawarkan sembari mengangkat gelasnya. "Tapi buat sendiri." Anca kembali mendengkus samar. Kemudian mengusap bawah matanya yang menghitam, efek begadang. Ia baru bisa memejamkan mata saat ayam tetangga sedang berkokok. Sepertinya mulai hari ini jam tidurnya akan terganggu. "Tidak tertarik." Anca mulai mengaduk-aduk nasi gorengnya. "Minum air teh saat makan nggak sehat, Mor," lanjut lelaki itu seraya memindahkan telur ceplok miliknya ke piring Mori yang hampir tandas. "Oh, ya?" timpal Mori tidak tertarik. Telor ceplok yang baru saja mendarat di piringnya jauh lebih menarik. "Beresiko kekurangan zat besi." Anca menambahkan.  Suapan pertama masuk ke mulutnya. Ia mulai mengunyah, mencecap cita rasa nasi goreng buatan Mori, yang bagi Anca tidak ada spesialnya sama sekali. Suara dentingan sendok dan piring mengisi kesunyian di antara mereka. Mori tidak menimpali ucapan Anca perihal teh manis, karena ia sudah tahu sejak lama. Hanya saja jiwa bandelnya sulit untuk dienyahkan, hingga asas bodo amat menjadi motto hidupnya sampai saat ini. "Aku mau ke minimarket," kata Mori seraya beranjak berdiri dan membawa piring kotornya ke tempat cucian. "Aku ikut," kata Anca. Dia ingin membeli beberapa barang yang dibutuhkannya. Terutama sabun mandi. Anca tidak suka sabun yang disediakan Mori di kamarnya, baunya seperti bunga melati. Mori kembali bersuara, "Kamu nggak kerja?" tanyanya sekedar basa-basi. Kali ini Anca mendongak, menatap malas ke arah Mori. "Nggak. Sudah setahun aku menganggur," kata Anca enteng, seraya melirik Mori yang mengerjap menatapnya. Yang benar saja! Lalu, di mana Anca mendapat uang sepuluh juta kemarin untuk membayar sewa kamar? Apa jangan-jangan lelaki ini melakukan bisnis gelap? "Uang yang kemarin bukan uang haram, 'kan?" Selidik Mori. Anca menghela napas lelah. Pagi-pagi ia sudah merasa jengkel. Apa perempuan mungil ini tidak bisa berhenti merecoki tentangnya? "Kalau iya, kenapa?" Lagi, tampolan mendarat di belakang kepala Anca. Belum genap 24 jam ia mengenal perempuan itu, tapi sudah tidak terhitung berapa kali ia mendapatkan k*******n. "Jangan mengada-ngada!" Anca menggerakkan bahunya tak peduli. "Mau itu uang haram atau halal, yang penting uang, 'kan?" kata Anca, lalu meneguk air putihnya hingga tandas. Mori menggeleng tak terima. Walaupun dirinya sangat membutuhkan uang, tapi ia tidak akan melakukan tindakan ilegal demi nominal. Menyadari tak ada pergerakan dari perempuan di dekatnya, Anca segera beranjak berdiri dan menepuk pipi tembam Mori. "Uang yang kemarin itu halal, Mor," kata Anca seolah mampu membaca kegusaran Mori. "Nggak usah pegang-pegang juga dong!" ------ Mori mengerjap tak percaya menatap Anca yang baru saja keluar dari kamarnya. Lelaki itu menggunakan setelan serba hitam tanpa campuran warna lain. Namun, bukan itu yang membuat Mori salah fokus, melainkan masker dan topi Anca. Lelaki itu terlihat seperti orang yang sangat misterius dengan masker dan topi yang tersemat rapi di kepalanya, meskipun dia memang penuh rahasia. Mori berpikir, Anca mirip dengan pelaku pembunuhan di film-film. "Kamu ...." Mori kembali menatap Anca dari bawah hingga ujung rambut. "Ngapain?" Dengan wajah tanpa ekspresi, Anca menjawab, "Cari aman." Mori kembali ingin menyela, tetapi Anca sudah berlalu dari hadapannya. Mau tidak mau, Mori mengikutinya dan segera berjalan di belakang lelaki itu. Tujuan mereka saat ini ialah minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih lima belas menit. Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Anca berjalan mendahului dan sesekali menoleh kanan dan kiri, seperti sedang mengawasi sesuatu. Sedangkan Mori, berjalan pelan di belakang, berusaha menjaga jarak dari Anca. Kini di kepalanya sudah terbayang berbagai macam praduga yang tidak-tidak mengenai Anca. Belum berlangsung lama Mori satu atap dengan Anca, tapi ia sudah menyadari banyak keanehan dari diri Anca. Pertama, Anca memaksa Mori menjual rumahnya dan lelaki itu akan membelinya. Kedua, Anca rela membayar mahal satu kamar di rumah Mori. Ketiga, Anca mengaku sudah menganggur selama setahun, tapi barang-barang  yang ia gunakan dan yang melekat di tubuhnya tidak menunjukkan jika lelaki itu seorang pengangguran. Ditambah dengan uang sepuluh juta yang sudah masuk di kantong Mori. Terlihat sangat kecil dan mudah di mata Anca. Sebenarnya siapa laki-laki ini? Terlepas dari praduganya, Mori tersentak kaget saat Anca tiba-tiba menarik tubuhnya ke bawah pohon mangga yang cukup rimbun. Namun ada yang lebih mengejutkan. "Mor, tampar aku sekarang juga!" Nada bicara Anca terdengar penuh perintah. Matanya menyorot Mori tajam dengan kedua tangan mengurung tubuh Mori yang terjebak di antara pohon mangga. Seharusnya ini seperti adegan manis di film-film. Tapi melihat wajah Anca yang mengeras serta kondisi mereka yang hampir terjerambab di semak-semak, Mori menepis segala adegan yang berputar di kepalanya. "Mor, tampar aku sekarang juga!" Anca kembali mengulang perintahnya saat melihat Mori yang menganga menatapnya. "T-tapi ...." "Tampar aku, atau aku yang nampar kamu, Mor!" Entah ini feeling dari seorang perempuan atau menuruti ucapan Anca, Mori tanpa berpikir panjang langsung melayangkan tamparan di sisi kanan dan kiri wajah Anca dengan tenaga yang cukup kuat. Bahkan, Mori merasakan perih di telapak tangannya seiring dengan matanya yang melotot tak percaya. Astaga. Anca terpejam dengan rahang mengetat saat mendapat tamparan double dari Mori. Terasa perih memang, tapi cukup menarik sudut bibir Anca membentuk senyum puas, terlebih saat ia menoleh ke arah tempat pria berseragam yang hampir saja melihat keberadaannya. Akan tetapi, sepertinya Anca dalam masalah yang lain. Saat dia kembali menolehkan kepalanya ke depan—tepat di depan wajah Mori, Anca terkesiap dengan sesuatu yang menyentuh bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD