Bab - 5

1188 Words
"s**t!" umpat Anca seraya melangkah mundur sambil memegangi bibirnya yang baru saja mendapat tamparan dari sandal jepit milik Mori. Entah sejak kapan sandal itu berpindah tempat ke tangan perempuan itu. Mori mendesis ke arah Anca dengan manik mata yang melotot garang. "Aku cuman minta kamu nampar pipi aku, Mor. Bukan bibirku juga!" geram Anca dan menarik maskernya turun sampai ke dagu, sejenak mengamati kondisi bibirnya yang sedikit lecet menggunakan kamera ponsel. Mori kembali memasang sandalnya yang sempat ia pegang saat Anca celingak-celinguk, takut jika lelaki itu melakukan tindakan yang tidak terpuji ke arahnya. Mori ingat betul dengan pepatah yang mengatakan sedia payung sebelum hujan. Kini, Mori mengamalkannya, meski salah pemahaman. "Sekalian aja dengan bibir kamu. Lagi pula, aku nampolnya nggak kuat-kuat amat, kok," jawab Mori acuh. Bibirnya membentuk senyum ramah saat ada Ibu-ibu melewati mereka sembari mendorong kereta anaknya. Anca mendengkus. Nggak kuat-kuat amat dia bilang? Lalu yang kuat itu bagaimana? Begini saja rasanya bibir Anca menebal dan ngilu. "Satu lagi, aku nggak minta kamu nampar kedua pipi aku." Anca kembali melayangkan protes, meski ia yang meminta Mori agar menamparnya.  Hanya saja ia tidak terima jika kedua sisi wajahnya harus merasakan lima jari perempuan mungil berkekuatan badak ini. Decakan kesal meluncur dari bibir Mori. Perempuan itu bertolak pinggang seraya berkata, "Kamu nggak ada bilang bagian mana yang mau ditampar, karena bingung, ya aku tampar aja dua-duanya biar sama rata." Sesal Mori. "Lagian permintaan kok aneh banget. Kamu tuh laki-laki atau bukan, sih? Bisa-bisanya haus akan tamparan." Mulut Anca yang terbuka, kembali menutup membentuk garis lurus. Matanya menyorot Mori penuh perhitungan. "Perlu aku buktikan kalau aku laki-laki?" sinis Anca. Sisi kelelakiannya terasa dicoreng mendengar rentetan ucapan tak bermutu Mori. Mori mendelik. Yang benar saja!  "Aku bukan haus tamparan atau apa pun yang sedang kamu pikirkan di otakmu yang tidak seberapa itu," decak Anca kesal. "Tapi aku sedang melakukan misi keselamatan!" Mori menukik alisnya. Ia kesal mendengar Anca menyebut-nyebut perihal otak yang tidak seberapa, tapi ucapan terakhir laki-laki itu semakin menambah kecurigaan Mori selama Anca berada di rumahnya. "Kamu buronan, 'kan?" selidik Mori. Matanya memicing menatap Anca yang mencebik ke arahnya. "Bukan urusanmu!" ketus Anca. Kakinya mulai melangkah, berputar balik dari arah tujuan. "Jelas urusanku, dong! Aku nggak mau mendapat masalah hanya karena merumahkan seorang buronan!" kata Mori menggebu seraya menyamakan langkahnya dengan langkah lebar milik Anca. Pria itu tampak terburu-buru, sesekali menoleh ke belakang, seperti sedang menghindari sesuatu. Anca semakin merapatkan topi dan maskernya, lalu menoleh menatap Mori dengan kesal. "Lagi, tingkah laku dan penampilanmu cukup menggambarkan seorang buronan!" Mori menambahkan. Tidak peduli jika volume suaranya yang keras dapat menarik perhatian Ibu-ibu yang sedang bergosip di simpang komplek. Anca berhenti, memutar tubuhnya ke arah samping agar dapat berhadapan dengan Mori yang sedang mendongak menatapnya.  "Udah?" tanya Anca tenang, tapi matanya menyiratkan kekesalan. "Hah?" Anca meraup wajahnya secara kasar, terlihat frustasi, tapi Mori tidak tahu karena apa.  "Aku bukan buronan atau tahanan, oke! Jadi berhentilah berpikir seperti itu tentangku!"  Mori mendelik. Sepenuhnya belum percaya. "Kalau bukan buronan atau tahanan, terus kenapa tingkahmu terlihat aneh dan seperti menghindari ... sesuatu?" tanya Mori. Berusaha mengorek informasi. Anca menatap Mori lekat dengan pikiran yang berkelana. Perempuan mungil ini sungguh menguji kesabaran. "Di luar sana ...." Anca mengacungkan telunjuknya ke arah jalan. "Berkeliaran orang-orang yang ingin menangkapku dan tidak segan untuk menghabisiku," kata Anca memberitahu, meski ia sedikit tidak yakin dengan ucapannya yang terakhir. "Itu artinya kamu buronan!" sentak Mori semakin yakin dengan dugaannya.  "Tapi aku bukan buronan, Mor!" Anca mempertegas. Tidak terima dirinya diklaim sebagai buronan. "Kalau bukan buronan ...." Mori menuding wajah Anca dan sontak membuat lelaki itu mundur selangkah. "Berarti kamu orang—" "Tidak penting!" potong Anca cepat sebelum Mori mulai melindur kemana-mana. "Tugas kamu hanya mengizinkan aku tinggal di rumahmu dan tutup mulut ... kalau tidak mau mendapat masalah." Mori mengerjap. Bukannya tenang, ia malah kalut dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Jika lelaki itu bukan buronan, maka bisa jadi dia adalah seorang anggota mafia atau pegiat bisnis gelap yang kemungkinan melakukan kesalahan, atau yang lebih parahnya telah melakukan penipuan, hingga dikejar-kejar, lalu dia memilih bersembunyi.  Mori menjentikkan jarinya.  "Tepat sekali!" desis Mori meyakini dugaannya.  Sepertinya ia harus melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Akan tetapi, sebelum hal itu terwujud, Anca sudah menunduk di sampingnya dengan kepala yang mendekat seraya membisikkan sesuatu yang hampir membuat Mori menempeleng wajah lelaki itu "Jangan sekali-kali berani melapor ke polisi atau menceritakan keberadaanku ke orang lain, Mor. Jika kamu masih menyayangi ginjalmu." ----------- Mata melotot dengan mulut terbuka tak memengaruhi Mori sedikit pun. Ia memilih menyantap makanannya dengan khidmat. "Mie instan?" tanya Anca dengan nada tidak percaya. Ia menatap mie kuah yang  dibuatkan Mori dengan ekspresi horor. Mori mengedikkan bahu.  "Kenapa mie instan?" Anca kembali bertanya, kepalanya berputar ke arah meja pantry.  "Kamu enggak masak?" "Karena cuman itu yang ada dan bisa dimakan!" jawab Mori ketus. Ia masih kesal dengan ancaman yang dilayangkan Anca kepadanya. Anca mengernyit. Entah apa yang ada dipikirkan lelaki itu, yang jelas Mori tidak peduli. "Lagi pula, siapa suruh kamu mutar balik. Padahal niat awalku itu ke minimarket, mau beli kebutuhan dapur!" "Karena aku mau! Aneh kamu, yang mutar balik aku, terus kenapa kamu ngikut dan tidak melanjutkan niatmu ke minimarket." Anca menjawab sewot seraya mengaduk mie kuah yang dibuatkan Mori.  Mori gelagapan. Tapi bodo amatlah. Jika dengan cara mengusir tidak mempan membuat Anca hengkang dari rumahnya. Maka biarlah Mori menggunakan cara lain, yaitu dengan memasak ala kadarnya dan membuat lelaki itu tidak betah dan merasa tidak nyaman, lalu memilih mencari tempat lain.  "Aku hampir tidak pernah menyantap mie instan jika di rumah." Anca berujar sembari menyeruput mie-nya. Matanya mengerut seiring dengan tangannya meraih gelas berisi air putih. "Oh." Mori merespon seadanya. Tidak penting. Saat ini yang terpenting adalah kepergian Anca dari rumahnya. Uang sepuluh juta yang dijanjikan Anca untuk bulan depan sudah tidak menarik bagi Mori. Toh Ia tidak akan mati kelaparan sampai tiga bulan ke depan sampai mendapatkan pekerjaan yang baru. "Bundaku selalu melarang mengkonsumsi mie instan secara berlebihan, karena tidak sehat,"ujar Anca, tangan kirinya bergerak mengelap keningnya yang basah akan keringat.  Mori tidak berniat merespon, sebelum Anca kembali berbicara. "Asal kamu tahu, ya, Mor. Mengkonsumsi mie instan secara berlebihan dapat beresiko menimbulkan gangguan pencernaan dan memicu obesitas." Anca memberi jeda, menatap Mori curiga. "Jangan bilang kalau kamu doyan mengkonsumsi mie instan? Kamu nggak takut?"  "Itu, kan, kalau berlebihan!" Ralat Mori sedikit tersentil dengan ucapan Anca. Karena bagaimanapun juga, ia kerap kali mengkonsumsi mie instan, apa lagi kalau isi dompet sedang tipis-tipisnya. "Seperti yang kubilang, beresiko menimbulkan gangguan pencernaan dan memicu obesitas," kata Anca santai seraya menyudahi makannya. "Terus kenapa kamu makan mie yang aku buatkan?" sentak Mori bengis. "Memangnya kamu bisa menjamin kalau aku tidak akan kelaparan?" tantang Anca sambil menaikkan satu alisnya. "Yah sudah, kamu pesan aja makanan secara online. Gampang, dan tidak perlu mengharapkan masakanku!" sungut Mori. "Boleh. Kalau kamu siap mempertaruhkan keselamatanku." Anca menyeringai sembari menarik lengan kaosnya hingga ke siku. "Dan keselamatamu," lanjut Anca enteng dan mulai melangkah meninggalkan Mori yang mencak-mencak karenanya. "Mana bisa begitu!" teriak Mori dan hampir saja melempari Anca dengan sendok yang ia pegang. Anca berbalik, menyorot Mori dengan tatapan bosan. "Berisik! Aku mau tidur." Anca berdeham sejenak. "Boleh elus-elus kepalaku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD