Bab - 6

1184 Words
Mori sejak lima belas menit yang lalu tak berhenti menggerutu dengan kedua tangan sibuk mengelus kepala lelaki yang dianggapnya menyebalkan, yang kini sedang berbaring di pangkuannya di atas sofa. Jika bukan karena uang, Mori tidak sudi melakukan hal konyol ini.  Tadinya Mori menolak permintaan Anca, tapi saat Anca menawarkan perempuan itu uang seratus ribu dengan catatan ia harus mengelus kepala Anca hingga tertidur, maka tanpa berpikir dua kali, Mori langsung menyanggupinya. Kapan lagi mendapat uang seratus ribu hanya dengan mengelus kepala? Kesempatan mengisi dompet pantang disia-siakan. Suara napas teratur yang diselingi dengkuran halus, membuat Mori mengembuskan napas lega. Artinya ia dapat beristirahat juga, sebab matanya juga terasa berat. Namun, saat Mori ingin beranjak dan menempatkan kepala Anca di bantal sofa, lelaki itu sontak bergerak dengan kedua tangan memeluk pinggang Mori, erat.  Tidak benar! "Ehh!" Mori mendesah samar. Perasaannya mulai tidak enak ditambah dengan pahanya yang terasa pegal.  Perlahan, Mori menyentuh tangan yang melingkari pinggangnya dan berusaha melepas pelukan itu dengan selembut mungkin agar Anca tak terbangun. Tapi, bukannya terlepas, Anca malah menyusupkan kepalanya di perut rata Mori. "Hei, bangun!" ucap Mori seraya mengguncang bahu Anca pelan. Tak ada pergerakan sama sekali. Anca tampak lelap dengan wajah tenangnya.  "Dasar kebo!" Mori bergumam kesal. Mori semakin merapatkan punggungnya di sandaran sofa demi menarik diri agar Anca tidak terlalu rapat dengan tubuhnya. Bagaimana pun juga, posisi mereka ini membuat Mori tidak nyaman.  Karena kesal menunggu Anca yang tak kunjung bangun, Mori sontak berdiri dan mendorong tubuh lelaki itu hingga terguling ke lantai. "Apa-apaan, wei!" Anca melotot dengan mata yang memerah. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berusaha berdiri sambil memegangi pinggangnya. Mungkin terasa nyeri akibat bersilaturahmi dengan marmer. Mori berkacak pinggang. "Kamu yang apa-apaan! Tidur di pangkuanku kayak nggak punya dosa!" kata Mori sewot. "Pahaku pegel tahu, nggak!" Mata Anca mengerjap tiga kali. Menyorot Mori dengan mulut yang komat-kamit. "Cih, lemah!" Tanpa membalas ucapan Anca. Mori segera beranjak ke kamarnya. Tubuhnya lebih penting untuk diistirahatkan dibanding melayani ocehan Anca yang tidak ada habisnya. ----------- Sepertinya hari ini Mori sedang tidak beruntung. Karena baru saja ia menginjakkan kaki di ruang tamu—di sana sudah ada sahabatnya duduk manis sembari menyesap kopi hangat. Namanya Cece. Pemilik mata sipit, hidung mungil, serta warna rambut yang tidak menentu. Terkadang hijau, biru, bahkan putih. Katanya, sih, warna rambut Cece menyesuaikan dengan suasana hatinya. Saat ini rambut perempuan itu berwarna abu-abu dan hijau lumut. Entah apa yang sedang dia rasakan hingga mewarnai rambutnya sedemikian rupa. "Hei, girl," sapa Cece saat Mori mendaratkan bokongnya di sofa single samping kirinya. "Kamu ngapain ke sini, Ce?" Mori langsung bertanya tanpa membalas sapaan Cece. Sebab, ia sudah sangat hapal dengan perangai sahabatnya ini yang terkadang sulit diterima logika. Bahu terangkat menjawab pertanyaan Mori. "Kamu nggak biasanya datang ke sini tanpa ngasih tahu aku dulu, Ce," kata Mori seraya mencuri pandang ke arah kamar Anca yang sedari tadi belum terbuka. Mungkin dia belum bangun dan itu sangat bagus untuk saat ini. "Tadinya aku mau kencan, tapi dia ada urusan." Cece menatap Mori dengan raut bosan. "Jadi, yahh, aku ke sini aja." Dia yang dimaksud Cece ini ialah lelaki yang berhasil ia tarik perhatiannya dalam kurun waktu terbilang singkat. Setahu Mori, dalam sebulan Cece mampu membuat tiga  lelaki bertekuk lutut padanya yang tentunya akan Cece campakkan di hari ke tujuh hubungan mereka. Segampang itu memang, tapi Cece tidak pernah mengambil keberuntungan dari lelaki yang ia campakkan. Baginya mempermainkan perasaan lelaki sudah cukup memuaskan. "Saat ini, yang keberapa, Ce?"  "Yang gagal kencan ini maksudmu?" tanya Cece memperjelas dan dijawab anggukan oleh Mori. Sahabat Mori itu tampak mengetuk dagunya dengan bola mata bergerak ke atas, seperti sedang berpikir.  "25." Cece menjawab tidak yakin seraya menaikkan satu kakinya ke kaki satunya dengan gerakan anggun. Mori mendesah samar. Sebenarnya semenjak Cece memutuskan untuk mempermainkan hati lelaki, Mori sudah berusaha menghentikan perempuan itu dengan alasan tidak ada gunanya. Tapi Cece tetaplah Cece, perempuan anggun dengan tekad yang sulit dipatahkan. "Kamu mau sampai kapan seperti ini, Ce?" Mori bertanya sambil memiringkan kepala dengan tangan yang menopang pipi. "Nggak tahu." "Ce, kamu sadar tidak kalau yang kamu lakukan itu dapat merugikan dirimu sendiri?" tanya Mori sambil mengubah posisinya—bersandar di sandaran sofa dan menatap sahabatnya dengan tatapan risau.  Cece tak menjawab. Tangan lentiknya meraih telinga cangkir, lalu menyesap isinya dengan gerakan anggun. Kemudian dua wanita itu tenggelam dengan obrolan yang berkaitan dengan pekerjaan. Mori yang frustasi karena tak kunjung mendapat pekerjaan, sedang Cece yang kesal karena bos tempat ia bekerja adalah lelaki yang pernah ia campakkan. "Oh, ada tamu rupanya." Suara berat khas orang bangun tidur itu sontak membuat Mori berpaling ke sumber suara dengan ekspresi terkejut. Tak berbeda jauh dengan Cece, perempuan itu bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya dan menatap Mori dengan tatapan menuntut penjelasan. "Kenapa?" tanya Anca dengan ekspresi bingung karena Mori menatapnya garang. Baru bangun kok kesannya ngajak gelud? Lalu, Anca berpaling ke arah Cece yang tadinya terkejut, kini sudah mengendalikan ekspresinya menjadi santai dengan dagu terangkat.  "Kamu, pemilik rambut aneh, ngapain lihatin saya segitunya?" tanya Anca heran. Ia mengernyit melihat warna rambut Cece yang baginya mirip dengan anak ayam warna-warni di pasar malam. "Pacarmu, Mor?" Cece tersenyum sinis menatap Anca, lalu menoleh ke arah Mori yang menggeleng. "Bukan!" pekik Mori. Enak saja ia dikira pacar lelaki menyebalkan itu.  Amit-amit cabang pohon.  "Dia itu—" Mori tergagap. Bingung harus menjelaskan tentang Anca. Pasalnya lelaki itu pernah berkata agar tidak membocorkan keberadaan dan tentangnya yang bagi Mori tidak penting. Tapi kini, saat Mori ingin menjelaskan semuanya, dia menjadi dilema— apa lagi saat tidak sengaja bersitatap dengan Anca yang sedang menatapnya penuh ancaman. Dehaman mengalihkan tatapan Mori sepenuhnya ke arah Cece.  "Kamu ...." Cece menepuk pipi Mori pelan. "Nggak trauma disakitin sama cowok?" tanyanya pelan. Namun penuh penekanan. "Ce, dia bukan pacar aku atau apa pun yang sedang kamu pikirkan saat ini," kata Mori menjelaskan. Takut jika Cece berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Cece tersenyum, menoleh menatap Anca dengan tatapan menilai. "Kalau bukan pacar, lalu apa?" Jeda. "Ah, calon suami? Tunangan?" Mori menggeram. Ini yang tidak ia suka dari Cece. Perempuan itu kerap kali mencampuri urusan pribadinya dan kadang kala Cece bertingkah terlalu jauh tanpa memikirkan perasaan Mori. Anca masih diam. Membaca gerak-gerik perempuan yang menurutnya menyebalkan itu. Tadinya ia cukup terkejut dengan keberadaan orang lain di rumah Mori ini, hingga membuatnya berpikir jika perempuan berambut aneh itu bagian dari mereka.  "Dia temanku, Ce," tukas Mori cepat. Jika ia menyebut Anca sebagai bagian keluarganya, tentu Cece tidak akan percaya. Toh perempuan itu sudah mengenal jauh seluk-beluk Mori. Cece tersenyum, kemudian mengangguk maklum. "Oke," ujar Cece seraya mengambil tas jinjingnya dan mulai melangkah ke arah pintu. Sebelum Cece benar-benar keluar, ia kembali berbicara dan cukup membuat Mori menahan napas, sedangkan Anca mengerutkan alis tak mengerti. "Girl, kamu harus ingat bahwa kaum mereka tidak ada yang benar-benar tulus." Cece tetap mempertahankan senyumnya, kemudian melanjutkan, "Kamu pasti paham, 'kan? kamu sudah mengalaminya dan cukup memberimu pelajaran." Bibir Mori mengatup rapat setelah kepergian sahabatnya dan mengabaikan pertanyaan Anca mengenai Cece dan keberadaannya di rumah ini. Mori kembali teringat dengan kejadian-kejadian beberapa tahun lalu yang berakhir membuatnya menjanda di usia muda. Terkadang, Mori membenci dengan statusnya dan  pernikahannya dulu akibat paksaan dari sang Nenek. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD