Bab-7

972 Words
Setelah kepulangan Cece, Mori mendadak banyak melamun dan tidak memedulikan Anca yang misuh-misuh karena lapar. "Mor, aku lapar." Sudah tidak terhitung berapa kali Anca mengatakan kalimat itu dengan nada merengek.  Mori yang mendengarnya merasa sedang menghadapi anak kecil yang menjengkelkan. Andai di hadapannya ini benar-benar anak kecil, mungkin Mori akan tersenyum dan segera memberinya makanan. Tapi, tidak untuk lelaki yang sedang menatapnya sebal dengan bibir merengut. Bukannya tersenyum, Mori malah membalas dengan wajah masam yang tidak sedap dipandang. "Kamu ...." Mori menunjuk Anca dengan malas. "Masak sendiri," ucapnya seraya membenamkan wajah di lipatan tangannya di atas meja makan. Anca menaikkan satu alisnya, menatap Mori heran. Tadinya dia ingin menanyakan perihal perubahan tingkah Mori hari ini, tapi suara perutnya yang meronta minta diisi, membuatnya mengurungkan niat. "Aku nggak bisa masak, Mor!" Anca menggerutu, lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru dapur, mencari makanan yang mampu mengganjal perut, sayangnya dia tidak menemukan barang satu pun yang dapat dimakan.  "Aku lagi malas masak!" decak Mori tanpa mau repot-repot menatap lawan bicaranya. Anca melotot dengan alis mengerut dalam. "Kamu tega buat aku kelaparan, Mor? Kalau aku mati kelaparan, bagaimana? Memangnya kamu mau dituduh sebagai percobaan pembunuhan, Hah?" sembur Anca dan tidak memedulikan Mori yang telah mendongak—menatapnya kesal dengan bibir tertutup rapat, serta mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya. Anca tidak peduli. Isi perutnya jauh lebih penting dari apa pun. Masak sendiri? Anca tidak akan berani.  Sebab, dia masih ingat jelas saat rumahnya terbakar karena nekat memasak dan tidak menyadari si jago merah yang mulai melahap ruangan dapur karena  lupa mematikan kompor akibat kecerobohannya. "Mor ...." Karena kesal, Mori sontak menggebrak meja seraya berteriak, "Kamu bisa nggak, sih, nggak ganggu aku? Aku pengen sendiri!  Kalau kamu lapar, silakan masak sendiri! Atau pesan makanan online!" Mori berucap dengan satu tarikan napas. Kemudian ia kembali melanjutkan saat mengingat jika Anca tidak berani memesan makanan melalui ponselnya. "NIH, PESAN SENDIRI!" sentak Mori, menyodorkan ponselnya yang tidak kunjung diraih oleh Anca. Lelaki itu mengerjap beberapa kali, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan bibir sedikit terbuka.  Memang, semenjak Anca ada di rumahnya, Mori selalu memasak lebih dan memastikan jika lelaki itu tidak kekurangan makan meski yang ia masak ala kadarnya. Bagaimana pun juga, Mori tidak sejahat itu untuk membiarkan anak orang kelaparan di rumahnya, apa lagi jika mengingat Anca membayar kamar yang dia sewa dengan harga yang terbilang mahal dengan fasilitas jauh dari kata bagus. "Aku ...." Anca mundur selangkah, menatap Mori dengan wajah was-was. "Udah nggak lapar," lanjutnya, lalu berjalan menuju ke ruang tamu yang masih dapat dilihat oleh Mori. Suara rintihan tertahan meluncur dari bibir Mori saat ia meregangkan ototnya yang terasa kaku akibat terlalu lama mendekam di kursi— dengan posisi yang tidak aman. Sesaat Mori meringis merasakan nyeri di perutnya bersamaan dengan terdengarnya suara dari dalam sana. Sepertinya, ia memang harus memasak sesuatu yang dapat mengganjal perut sebelum ia pergi belanja kebutuhan dapur. Mori berniat membuat sop bening dengan bahan-bahan yang ala kadarnya. Kemudian perempuan itu mulai membersihkan semua bahan, lalu memotong kentang dengan ukuran sedang. "Alhamdulillah, nggak jadi kelaparan." Suara penuh kelegaan itu membuat Mori tanpa sadar memotong kentangnya dengan kekuatan penuh hingga menimbulkan bunyi yang mengerikan di telinga Anca.  "Semangat banget masaknya, Mor. Laper banget, ya?" "Menurutmu?" timpal Mori dengan nada ketus. Ia kesal, tapi tidak tahu penyebabnya. Entahlah, semenjak keberadaan Anca, Mori merasa terbebani, ditambah dengan keberadaan Cece yang tidak tepat waktu dan berakhir salah paham. "Mor, hari ini aku mau pergi ke su ... astaga, Mor!"  Anca sontak berdiri tegak, lalu berjalan menjauh dari jangkauan Mori yang sedang memegang tangannya yang terkena irisan pisau. Perlahan, darah segar menetes di sela tangan Mori yang sedang memegang lukanya.  Kedua alis Mori mengernyit dalam. Bukan karena luka di tangannya, tapi karena tingkah Anca yang menurutnya berlebihan. Ia yang terluka, kenapa lelaki itu yang panik hingga wajahnya sampai memucat, bahkan Mori dapat melihat jika bibir lelaki itu bergetar. "Nggak usah lebay. Ini cuman luka kecil, udah biasa," kata Mori enteng seraya membilas tangannya yang terluka dengan air bersih. Setelah darahnya tidak keluar lagi, Mori segera membersihkannya dengan cairan anti septik. Anca masih bungkam. Perlahan, lelaki itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Saat tidak sengaja melihat darah Mori, jantung lelaki itu sontak berdetak dengan ritme cepat. "Nih, minum!" Mori menyodorkan segelas air putih ke arah Anca yang masih terdiam. Ia sedikit cemas melihat wajah Anca yang memucat. Sebenarnya, ada apa dengan lelaki ini? "Makasih," ujar Anca serak, lalu meneguk air pemberian Mori hingga tandas. "Kamu enggak usah sepanik itu. Tanganku nggak apa-apa, kok. Cuman luka kecil, nanti juga bakal kering dan sembuh." Mori mencoba menenangkan dan mengabaikan bahan-bahan makanannya yang menunggu untuk diolah. Wajah Anca sudah kembali normal. Bahkan ekspresi wajahnya sudah tidak setegang tadi. "Nggak usah geer. Aku begini bukan karena kamu terluka," sungut Anca. Mori mengerjap, lalu menaikkan satu alisnya dan berkata, "Lalu? Indra penglihatanku masih berfungsi dengan baik," sinis Mori. "Dan aku melihat dengan jelas ekspresi khawatirmu saat melihat tanganku terluka." Mori berucap dengan nada mengejek dan tidak ambil pusing jika ucapannya membuat Anca menatapnya geli. Anca menaruh gelasnya di genggaman Mori, lalu mendesis kesal, "Aku sama sekali tidak peduli dengan lukamu, Mor. Aku hanya peduli dengan darahmu!" geram Anca serak. Mori mundur selangkah, melirik Anca sekilas, lalu menatap lukanya. Jangan bilang jika lelaki di depannya ini seperti film-film berdarah yang kerap kali ia tonton dan berkaitan dengan vampir. Mata Mori bergerak nyalang, menatap Anca sembari membekap mulut, sedang tangannya yang terluka ia sembunyikan di belakang tubuh. Jika tidak salah ingat, vampir adalah makhluk mitologi penghisap darah manusia. Mori sering menontonnya bersama Nenek saat malam hari! Dan makhluk itu tidak tahan jika melihat darah, dan .... "Aku phobia darah, Mor!" jelas Anca serak. Dia dapat menebak jika Mori sedang memikirkan hal-hal aneh tentangnya—yang pastinya tidak masuk akal. Tinggal serumah dengan perempuan garang dan aneh ini cukup membuat Anca sedikit paham dengan pikiran ramdomnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD