Suara sentuhan air hujan dan genteng membentuk irama yang berisik, tapi juga menyenangkan. Terhindar sementara oleh bisingnya hiruk-pikuk isi semesta yang tak selalu menyenangkan. Setidaknya, dengan melihat tetesan hujan di luar jendela dengan harum khasnya cukup membuat hati yang risau sedikit teralihkan dan berpikir: harusnya hari ini aku bersyukur karena masih dapat menikmati salah satu dari sekian banyak Keagungan Tuhan.
Tidak sedikit yang membenci hujan dengan alasan yang tidak jauh dari genangan yang diilusikan menjadi kenangan. Tapi tidak dengan seorang perempuan berpipi chubby, dia tidak kuasa membenci karunia Tuhan berbentuk air bening itu.
Seperti saat ini, perempuan itu sedang menumpu dagunya di sisi jendela dengan mata fokus ke arah jendela kaca yang terletak di ruang baca rumahnya. Tidak banyak yang dia lakukan selain melamun dan sesekali merapatkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya dengan hangat.
Perempuan itu selalu suka jika hujan turun meski disertai petir yang menggelegar. Tak apa, yang penting dunianya teralihkan, meski sejenak.
Namun, lamunan dan khayalan yang sudah tergambar jelas di kepala perempuan itu harus berakhir bak kaset rusak, karena satu suara yang berasal di depan pintu ruang baca.
"Mor!" panggil Anca dan berjalan menghampiri Mori yang sama sekali tak mengharapkan keberadaannya, untuk saat ini. Tidakkah dia sadar jika Mori sedang bernostalgia romantis? Yah, meski ilusi. Tapi tetap saja itu mengganggu!
Mori tak dapat menahan kernyitan di dahinya saat melihat kondisi Anca. Tubuh pria itu dibalut dengan selimut tebal serta syal abu-abu yang melingkar apik di lehernya, dan diperlangkap dengan kaus kaki serta kupluk.
Berlebihan! Ini hanya hujan, bukan turun salju!
"Tadi aku kehujanan, Mor. Bajuku basah semua, untung makanan yang sempat aku beli nggak basah dan masih bisa di makan," kata Anca setelah duduk di samping Mori yang beralaskan karpet berbulu halus.
Pantas saja. Selepas makan siang yang telat itu akibat tangan Mori yang terluka, Anca pamit keluar sebentar—entah kemana, Mori tidak ambil pusing dan tidak peduli. Melihat penampilan Anca saat keluar saja membuatnya mendengkus keras. Hoodie, celana panjang, topi, masker, dan kacamata. Perpaduan yang lengkap untuk orang yang sedang tidak aman keberadaannya, persis seperti buron, begitulah pikir Mori.
Suara bersin mengalihkan eksistensi Mori sepenuhnya. Ia menoleh, menatap Anca yang sedang menggosok hidungnya yang memerah.
"Kayaknya aku sakit, Mor!" Pria itu memberitahu seraya membaringkan tubuhnya di atas karpet, tanpa bantal. Dia meringkuk seperti bayi dengan bentuk seperti kepompong.
Mori berdecak. "Ke kamar saja kalau mau tidur," tegur Mori sedikit kesal.
Anca tak menghiraukan, dia semakin merapatkan selimutnya, lalu berkata, "Aku rindu Bundaku, Mor. Rindu saat dia mengelus kepalaku, masakannya, omelannya, dan semua yang berkaitan dengannya," kata Anca, menerawang jauh.
"Berapa umurmu?"
Mori dapat melihat jika kening Anca mengerut dalam, sebelum menatapnya dari bawah. "Aku masih muda, Mor."
Mori menaikkan satu alisnya, menyorot Anca tanpa minat. "Ya berapa?"
"Dua puluh lima." Anca menjawab setelah berdiam cukup lama. Lalu, tidak lama kemudian ia kembali bersin dengan mata berair.
Mori mengangguk, mengerti. Ternyata, keberadaan bayi besar itu sungguhan, terbukti dengan pria yang sedang meringkuk di dekatnya, yang bertingkah layaknya bayi.
"Mor, aku mau minum s**u hangat."
Nah, benar, 'kan? Bayi besar yang menyebalkan dan merepotkan!
Mori tidak menuruti, ia memilih kembali tenggelam bersama suara sentuhan hujan dan genteng sembari menatap setiap rintiknya. Jauh lebih menarik dibanding berbicara dengan bayi besar ini.
Mori kira, ketenangannya akan berlanjut. Namun sepertinya Anca tak membiarkan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Anca sambil mengubah posisi tidurnya menjadi melintang agar dapat melihat Mori dari samping.
"Apanya?"
"Tentangmu."
Mori memainkan tangannya di kaca jendela yang berembun, menulis acak di sana, kemudian menjawab, "Tidak ada yang menarik."
Bagi Mori, tidak ada yang menarik darinya usai meninggalkan putih abu-abu. Impiannya pupus tak terselamatkan, tenggelam bersama benih-benih cintanya di ujung senja setelah hujan reda. Apa lagi saat menjadi janda di usia muda. Menyedihkan.
"Berapa umurmu, Mor?"
Mori mendelik, lalu berkata, "Kenapa kamu menanyakan umurku?"
Anca menggosok hidungnya yang memerah, lalu menjawab, "Karena kamu juga menanyakan umurku."
Oke. Baiklah. Mori menyerah.
"Dua puluh dua." Mori menjawab malas.
"Kamu ...." Anca mengerjap beberapa kali saat tak jadi bersin. "Memang tinggal sendiri?"
Pertanyaan Anca membuat Mori berpikir yang tidak-tidak. "Kenapa? Jangan membuatku berpikir jika kamu ingin memutilasiku hanya karena aku tinggal sendiri!"
"Jadi, kamu memang tinggal sendiri?" Anca memperjelas, dan mengabaikan tuduhan tak berdasar Mori.
Mori menatap Anca lama, mencari tanda-tanda kejahatan di wajah pria itu—yang syukurnya hanya wajah tampan yang ia temukan. Sialnya, Mori sempat terpaku dengan bibir Anca. Seksi memang, tapi bukan itu yang membuatnya salah fokus, melainkan pikiran randomnya; takut jika bibir Anca tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan taring, lalu menggigit lehernya. Mori, tidak sanggup membayangkan lebih jauh lagi dan memilih menggeleng.
"Semenjak orangtuaku meninggal, aku tinggal sama nenek."
Entah karena jawaban Mori atau insting, pria itu sontak bangun dari tidurannya dan duduk meringkuk di samping Mori yang enggan membalas tatapan penuh simpatinya.
"Maaf."
Mori menoleh sekilas, sebelum kembali menatap jendela. Perlahan, hidungnya mengerut disertai dengan mata memicing. Dia teringat sesuatu.
"Oh tidak! Nenekku besok akan pulang," kata Mori dengan pupil membesar. Ia teringat isi pesan w******p yang neneknya kirim tadi siang.
Anca yang sepenuhnya belum keluar dari rasa simpatinya terhadap Mori, hanya menaikkan satu alis.
"Kamu harus pergi dari rumah ini secepatnya!" Mori menambahkan seraya berdiri dari duduknya dan menarik selimut yang membungkus tubuh Anca.
Anca melengos sambil menepis tangan Mori, lalu ikut berdiri. Kemudian ia menatap Mori sekilas, sebelum beranjak keluar dan mengabaikan ucapan Mori yang menyuruhnya pergi. Enak saja! Ia tidak mau ambil resiko tertangkap lagi oleh mereka jika harus kembali mencari tempat tinggal yang aman dan tidak terlacak. Lagi pula, Anca sudah nyaman di sini, meski ia merasa sedang menjalani program keluarga miskin.
"Aku serius! Kamu harus pergi dari rumahku secepatnya. Jika kamu keberatan karena uang sepuluh juta itu, tenang saja, akan aku kembalikan separuh!" teriak Mori.
Anca mengehentikan langkahnya, berbalik tanpa melepas selimut yang menempel di tubuh tegapnya.
"Tidak mau."
Sebenarnya Mori tidak menyangka jika neneknya akan pulang secepat ini. Karena seingatnya, wanita yang merawatnya sejak kecil itu akan pulang dua bulan lagi.
"Kamu akan menyesal!"
Anca mengedikkan bahu. "Seharusnya kamu yang menyesal karena telah mengusir pria kaya sepertiku."
"Kalau kaya, kamu tidak akan tinggal di rumahku!" sentak Mori tersulut emosi. Ia bersungguh-sungguh pasal neneknya yang akan pulang, yang pastinya bukan perkara baik jika sang nenek melihat ada pria di rumah ini.
Sekali lagi, Anca mengedikkan bahu, tidak peduli. Paling juga nenek-nenek yang bisa ia urus dengan barang-barang. Gampang.
"Aku—"
Mori terdiam saat Anca menghampirinya, lalu menepuk puncak kepalanya. "Diem!" kata Anca dan menatap Mori tepat di bola mata.
Mori terkesiap. Ia pernah di posisi ini. Namun ....
"Kamu mirip bebek kalau ngomel mulu, Mor."
Sialan!