Bab-9

1161 Words
Baru kali ini Mori teramat lega setelah mendapat pesan dari sang nenek jika kepulangannya diundur dikarenakan ada sedikit urusan—yang katanya belum selesai. Perihal urusan yang dimaksud, Mori tidak tahu. Neneknya memang tidak bisa dikatakan wanita paruh baya lagi mengingat jika usianya sudah melebihi setengah abad. Tapi, ajaibnya, semangat yang terpancar dari sang nenek melebihi wanita muda pada umumnya. Bisa dibilang, terlalu bersemangat di usia yang tidak lagi muda. Bukannya Mori tidak suka akan kepulangan sang nenek, hanya saja situasi dan kondisinya tidak tepat. Ia belum memiliki cukup alasan untuk menjawab pertanyaan sang nenek mengenai keberadaan Anca di rumahnya yang notabene orang asing, kecuali jika lelaki itu segera minggat secepatnya. "Kapan kamu pergi dari rumahku?" tanya Mori tanpa basa-basi seraya bertolak pinggang dan menatap Anca datar yang sedang mengunyah biskuit rasa coklat. Anca tak langsung menjawab pertanyaan Mori, lelaki itu kembali mengambil sekeping roti dan mengunyahnya dengan ritme teratur. Setelah menelan, barulah dia menjawab dengan nada tak suka, "Aku baru sembilan hari tinggal di sini, Mor! Kamu kalau mau mengusir aku pikir-pikir dulu, dong. Nggak tega apa menelantarkan aku? Kalau aku kenapa-napa, memangnya kamu mau tanggung jawab? Paling juga kabur sambil bawa uang pembayaranku." Mori mendesah samar. Belum ada sepuluh hari serumah dengan lelaki ini, ia sudah banyak mengetahui belangnya. Anca memang tampan dengan bentuk tubuh pelukable. Tapi sedikit pun tak menggerakkan hatinya untuk tertarik dengan keindahan ciptaan Tuhan satu ini. Wajah boleh tanpa celah, tapi sifat dan perilakunya tidak mencerminkan sosok lelaki manly. Sangat jauh dari tipe lelaki idaman Mori. Rasanya, Mori sedang merawat sosok bayi besar yang merepotkan dan menyebalkan. Sungguh! Melihat tidak ada respon dari Mori, Anca kembali bersuara dan mengalihkan tatapannya dari acara kartun yang sedang ia saksikan. "Nggak ada gunanya kamu mutar otak agar aku pergi, Mor! Bahkan aku nggak ada niat untuk pergi dari rumah ini. Kalau perlu, aku bayar sekarang untuk biaya sewa bulan depan," ucapnya enteng sambil meraih gelas berisi s**u hangat dan menyesapnya dengan ekspresi penuh nikmat. Perihal uang, Mori selalu tergiur, terpenting halal. Namun, untuk sekarang ia sama sekali tidak tertarik dengan tawaran Anca, cukup sepuluh juta kemarin yang membuatnya khilap. Cukup! Jangan ada khilap untuk kedua kalinya. Ia tidak sanggup mengambil resiko, lagi. "Mana bisa begitu!" sungut Mori, melangkah ke arah pintu yang baru saja diketuk oleh seseorang.  "Bisa, dong! Langka banget ada orang yang mau menyewa satu kamar dengan harga mahal, Mor. Kondisinya enggak banget pulak." Anca berucap jumawa seraya bersidekap d**a, lalu melanjutkan, "Ibaratnya tuh satu banding seribu orang yang sebaik aku ini, Mor. Satu dari sekian banyak itu pun hanya aku seorang. Ingat, Mor, rezeki nggak boleh disia-siakan. Mubah hukumnya." Langka gundulmu! Kau kira badak bercula! Mori bersungut dalam hati. Lagi pula, tidak mungkin Anca  rela membayar mahal demi satu kamar kalau dia tidak dalam bahaya. Mori tidak tahu pasti, tapi yang ia tangkap, lelaki yang serumah dengannya ini bukan orang biasa yang kemungkinan besar sedang dalam masalah, dan Mori tidak sudi ikut-ikutan.  "Sok-sokan ngomongin duit, tapi pekerjaan kamu aja nggak jelas. Ah, aku lupa. Kamu, kan, pengangguran." Mori tersenyum miring, merasa puas dengan ucapannya. Tanpa mendengar balasan lelaki tampan tapi manja itu, Mori segera melangkah membuka pintu yang sedari tadi diketuk dengan ritme tidak sabaran. "Nggak apa-apa pengangguran, yang penting kaya," balas Anca. Ada Geraman tertahan dari suaranya.  Mori tidak peduli, melangkah ringan ke arah pintu sambil bersiul. Setelah membuka pintu, Mori segera menarik sudut bibirnya membentuk senyum ramah. Ternyata, orang yang bertandang di rumahnya ialah Bu Ratna, tetangga sebelah. Wanita berusia 40 tahun itu memiliki proporsi tubuh yang bagus meski usianya tak lagi muda, kadangkala Mori merasa iri dengan bentuk tubuh Bu Ratna yang ramping dengan pinggul montok yang aduhai. Terlepas dari itu semua, bibir merah membara itu tak pernah absen tersenyum lebar jika bertandang di rumah Mori. "Boleh masuk?" tanya Bu Ratna tanpa memudarkan senyumnya. Tersadar dari keanggunan Bu Ratna, Mori segera membuka pintu sepenuhnya dan melupakan sosok yang kini menatap kepo ke arah mereka. "Maaf, loh, kalau kedatanganku mengganggu. Soalnya di rumah sepi banget, Mas Rono berangkat lagi tadi pagi," kata Bu Ratna mulai curhat. Mas Rono itu suami Bu Ratna yang memiliki profesi pelayar, yang membuat Bu Ratna harus siap ditinggal berlayar dengan waktu yang tidak singkat. Mori mendengarkan dengan mata yang sesekali melirik ke tempat Anca berada. Tanpa bisa ia cegah, saat Bu Ratna membalikkan tubuhnya, mata perempuan itu menyiratkan keterkejutan dengan alis terangkat saat menoleh ke arah Mori yang sedang memikirkan alasan perihal Anca. "Siapa Mor?" tanya Bu Ratna sambil tersenyum menggoda seraya menaruh piring berisi pudding ke atas meja di depan Anca yang enggan beranjak. Mori hampir mendecih saat Anca mengganti acara kartun yang dia tonton menjadi berita politik, tidak sampai di situ, lelaki itu juga menegakkan tubuhnya, duduk tegap dan menonjolkan raut ramah saat Bu Ratna tersenyum ke arahnya. Cih, pencitraan! Mata Mori terasa ingin keluar saat menangkap bungkus roti yang dimakan Anca sudah tersemat di bawah meja. Sialan kau! maki Mori dalam hati.  "Siapa, Mor?" Bu Ratna kembali bertanya tanpa menghilangkan senyum menggodanya. Mori mengerjap, sedikit gelagapan. Haruskah ia menjawab jujur atau berbohong? Di antara dua pilihan itu, tentu memiliki konsekuensi yang pastinya tidak baik.  "Teman, Bu." Mori menjawab seadanya. Ia tidak berbohong, 'kan? Anggap saja Anca ini sebagai teman, teman serumah maksudnya.  Bu Ratna mengangguk, kemudian menoleh ke arah Anca yang kini sudah mencicipi pudding yang dibawanya. Selain manja, sombong, dan menyebalkan, ternyata lelaki ini tidak tahu malu. Bisa-bisanya dia menikmati pudding yang dibawa Bu Ratna sebelum ditawarkan.  Mata Bu Ratna berbinar-binar saat melihat Anca begitu lahap menikmati pudding buatannya. "Enak?" Anca mendongak seraya mengelap sudut bibirnya dengan gerakan pelan. "Enak," jawab Anca, berhasil membuat Bu Ratna tersenyum puas. "Tapi, lebih enak lagi kalau gula arennya sedikit dikurangi." Anca melanjutkan. "Loh, kamu tahu kalau pudding buatan saya ini menggunakan gula aren?" tanya Bu Ratna takjub. Sudut bibir Anca berkedut, tersenyum bangga. "Tentu." "Wah, selain tampan, sopan, bersahaja, ternyata kamu juga pintar, ya, soal makanan," kata Bu Ratna berlebihan.  Rasanya Mori ingin mendengkus melihat ekspresi bangga Anca.   "Ngomong-ngomong, nama kamu siapa?" Anca melirik Mori sekilas sebelum mejawab, "Anca." "Saya punya anak perempuan, loh." Bu Ratna berujar malu-malu.  Dengan bodohnya Anca terpancing dengan ucapan Bu Ratna. "Oh, ya?" Bu Ratna mengangguk bersemangat. "Iya. Anaknya aktif, pintar, lucu, jago menggambar. Bulan depan dia akan berusia anak tahun." Wajah yang tadinya menampilkan raut tertarik, kini sudah terganti dengan raut masam dengan bibir membentuk garis lurus. Mori yang baru saja mendaratkan bokongnya di samping Anca selepas membuat minuman, tersenyum puas melihat ekspresi lelaki itu. Kemudian, ucapan yang dilontarkan Anca sebelum beranjak cukup membuat bola mata Mori membesar seiring dengan keinginannya melempar cangkir di kepala lelaki itu. "Silakan dilanjutkan ngobrolnya." Anca tersenyum ke arah Bu Ratna yang menatapnya penuh takjub. Lalu beralih menatap Mori dan berkata, "Mor, aku ke kamarku dulu, ya. Nanti jangan lupa elus-elus kepalaku lagi, bayarannya aku lipat gandakan deh." ucapnya tanpa beban. Mori tidak dapat memastikan apa yang dipikirkan Bu Ratna, yang jelas, wanita paruh baya itu melotot ke arah mereka berdua dengan mulut yang mangap-mangap. Anca, s****n kau!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD