Seharusnya Mori tidak membiarkan Anca bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya, seperti Bu Ratna semalam sore. Mori, cukup geram dengan ucapan yang meluncur bebas di bibir lelaki itu dan berhasil membuat Bu Ratna menatapnya aneh—atau tatapan apalah itu, Mori tidak terlalu peduli, jika saja tidak menyangkut perihal kamar dan elus-elus kepala.
Kau tahu, Mori sangat-sangat malu. Untung saja setelah itu Bu Ratna segera pulang karena ingin menjemput anaknya yang sedang les.
Tidak sampai di situ, pagi ini Mori kembali dibuat melotot karena kelakuan Anca yang menurutnya berlebihan.
Pagi-pagi sekali, Mori sudah bangun untuk membuat sarapan dan merapikan rumah. Namun, di ruang tamu sudah ada sosok Anca yang sedang berkutat dengan ponsel. Mori cukup heran, pasalnya selama serumah dengan lelaki manja ini, ia belum pernah melihatnya memegang ponsel. Tapi, bukan karena ini yang membuat Mori melotot.
Melainkan ada satu hal yang membuat Mori melotot sambil terpekik tertahan.
Setelah sibuk dengan ponsel di tangannya, Anca sontak membanting ponsel berlogo terkenal itu ke lantai, lalu menginjaknya hingga tampak gepeng di beberapa sisi dengan layar yang retak seribu. Kemudian, lelaki itu memungut ponsel yang sudah tidak berbentuk itu, menatapnya sejenak, lalu melenggang santai ke tong sampah dan membuangnya begitu saja.
Catat! MEMBUANGNYA begitu saja, dengan wajah santai, seolah yang ia buang adalah sampah biasa. Hei, itu bukan ponsel kaleng-kaleng!
Menyaksikan adegan berbahaya itu, cukup menciptakan nyeri di hati Mori. Tolong, ponsel yang hancur di depan matanya itu ponsel impiannya!
Sangat tidak berperikeponselan!
"Kenapa?" tanya Anca, heran melihat Mori yang melotot ke arahnya dengan ke-dua tangan menutupi bibir.
"Tadi itu—" Suara Mori tercekat. Matanya bergerak menatap Anca dan tong sampah secara bergantian.
Kasian sekali nasibmu wahai, Hp. Batin Mori berteriak histeris. Ingin rasanya ia berlari ke tong sampah itu dan memungut si ponsel mahal. Harap-harap cemas masih dapat digunakan atau diperbaiki. Tapi, Mori masih punya gengsi.
"Oh, itu ...." Anca mengelap tangannya di p****t, lalu melanjutkan, "Tadi aku iseng hidupin HP-ku yang udah lama nggak aku gunakan. Ternyata benar, notif w******p dan semua sosial mediaku penuh dengan pencarian mereka. Aku sudah menduga, sih. Karena nggak mau ambil resiko, aku hancurin aja. Beres," jelas Anca dengan nada bangga.
Tunggu! Mereka yang dimaksud lelaki manja ini siapa? Perasaan, dia kerap kali menyebut kata mereka tanpa penjelasan lebih lanjut. Tolong, Mori terlalu malas menduga-duga jika ujung-ujungnya akan buntu atau berlanjut ke hal yang buruk.
Terlepas dari mereka-mereka yang entah siapa, Mori memilih memusatkan perhatiannya ke lelaki yang kini sudah duduk bersila di sofa dengan mata menyorot kartun ice bear.
Jika begini, Mori jadi teringat dengan tas punggung berbulu berbentuk ice bear yang dibawa Anca saat pertama kali ke rumahnya. Menggelikan!
Oke, fokus-fokus!
Mori berdecak. "Tapi nggak dihancurin juga kali! Kamu sadar nggak yang kamu lakukan itu berlebihan!"
Anca mendelik, mengalihkan fokusnya ke Mori. "Berlebihan dari mananya, sih? Aku nggak mau loh tertangkap sama mereka gara-gara HP itu!" sungutnya diakhiri dengkusan.
Mori mendesah samar. Kembali menatap tong sampah dengan pandangan nelangsa. Sayang sekali, padahal kondisi ponsel berlog terkenal itu masih mulus tanpa noda. Mori menelan ludah saat membayangkan ber-selfie ria menggunakan ponsel berkamera tiga itu.
"Mukamu tolong dikondisikan, Mor! Aku geli lihat ekspresi sedihmu!" kata Anca, belum mengalihkan tatapannya dari Mori. "Jelatanya kelihatan banget loh, Mor."
Mori tak menjawab. Entah kenapa, Anca yang menghancurkan ponsel itu, tapi ia yang menyesal.
"Biar aku tebak, kamu pengen banget, ya, punya HP kayak punyaku itu?" tebak Anca dengan ekspresi tengik. Sayangnya tebakannya itu tidak meleset. Tepat sasaran, menembus percikan penyesalan di hati Mori.
"Tentang, Mor. Aku bisa beliin kamu Hp kayak punyaku itu, dengan pabriknya kalau perlu!" Anca menambahkan sambil mengubah posisi duduknya—memiring dengan tangan terlipat di d**a. Bola mata kecoklatannya menyorot Mori geli.
Tersadar, Mori mendecih sambil menjawab, "Sombong sekali!"
Anca terkekeh, mengabaikan si beruang putih yang sedang bercengkrama bersama saudaranya di layar televisi.
"Aku serius, loh, Mor. Aku bisa beliin kamu dengan pabrik-pabriknya, tapi ...." Anca tersenyum menyebalkan, lalu m******t bibir bawahnya perlahan, membuat Mori menatapnya jijik. "Kalau semua organ tubuhmu aku jual," lanjutnya sambil tertawa lepas.
Kurang ajar! Bagaimana bisa lelaki ini mengetahui kelemahan Mori?
---------
Saat Mori sedang sibuk membuka website yang sekiranya ada tanda-tanda lowongan pekerjaan, saat itulah ada suara yang menyebut namanya dengan nada memelas.
Cih, Mori tidak peduli! Ia masih kesal soal kelakuan Anca tadi pagi yang berujung membahas organ tubuh! Tidak sudi!
Sekali lagi, suara itu tertangkap di Indra pendengaran Mori. Dengan gerakan malas dan wajah ditekuk, Mori melangkah membuka pintu kamar.
"Mor ...."
"Apa? Aku udah masak, kamu tinggal makan. Nggak usah ganggu aku!" sungut Mori.
Anca mengerjap mendapat cercaan dari perempuan mungil di depannya.
"Mor, tolong—"
"Apa lagi? Elus-elus kepala? Ogah, aku nggak mau!" sentak Mori, meski sedikit ngeri melihat bawah mata Anca yang mirip dengan saudara ice bear, si panda.
"Gini, Mor. Tolong temani aku ke suatu tempat." Anca mengerjap polos, menatap lawan bicaranya dengan mimik memelas.
Melihat tidak ada respon dari Mori, lelaki itu kembali menyuarakan maksudnya. "Tadi aku lihat di garasi ada vesva. Itu, punya kamu?"
Mori mengangguk malas. Sebenarnya itu vesva peninggalan ayahnya yang kini sudah menjadi hak milik Mori. Vesva itu hanya digunakan Mori jika dalam keadaan mendesak. Selain itu ia tidak akan mau mengoperasikannya, takut peninggalan sang Ayah tergores atau lebih parahnya terjatuh.
Satu alis Mori terangkat, menatap Anca yang mangap-mangap di depannya.
"Err ... tolong antar aku ke suatu tempat, bisa?" pinta Anca, penuh harap.
Mori mengernyitkan kening, menyorot Anca kesal. "Kamu bisa pesan kendaraan online! Aku lagi sibuk dan males gerak, dan nggak mau nganter kamu!"
Toh, sekarang bukan zaman batu lagi. Ada kendaraan online yang bisa dipesan kapan saja. Tidak perlu repot-repot menyuruhnya apa lagi menggunakan vesva kesayangannya itu. OH, NO!
Desisan meluncur di bibir Anca, lelaki itu menyugar rambutnya yang sedikit basah dengan gerakan cool. Terlihat keren dan menarik memang, tapi Mori sama sekali tidak terpengaruh.
"Aku nggak mau!" kata Anca dengan nada kesal. "Aku nggak mau ambil resiko!" sambungnya.
"Sama, dong. Aku juga nggak mau ... nggak mau mengantar kamu!" sungut Mori dan memberi penekanan di kalimat nggak mau mengantar kamu. "Di sini, kamu cuman menumpang tidur, berteduh, makan, dan buang air! Selebihnya, nggak bisa!Aku bukan babumu yang bisa disuruh-suruh dengan sesuka hatimu!"
Anca menggeram kesal. Andai di depannya ini bagian dari mereka, mungkin sudah dia banting ke dinding. Karena pada awalnya, Anca juga tidak bersembunyi konyol seperti yang dia lakukan saat ini, lalu diklaim sebagai buron, jika saja dia tidak terpaksa. Anca, sudah lelah melawan mereka. Buang-buang tenaga saja!
"Mor, aku bayar, kalau-kalau kamu lupa!"
"Ak—"
"Mor, di sini kita cuman berdua." Anca maju beberapa langkah, menahan keras pintu kamar Mori yang hampir ditutup oleh pemiliknya.
"Mor ...." panggil Anca serak. "Aku lelaki normal. Kamu paham, 'kan?"