"Dia memblokir nomorku, sosial mediaku, bahkan menolak diajak bertemu." Wajah Cece terlihat masam sembari menepuk-nepuk kakinya usai senam di teras rumah Amma. Mori mengernyit sebagai tanggapan atas ucapan Cece. Perempuan itu tidak berniat bertanya lebih lanjut karena ia sedang sibuk mengepel. "Rasanya bulan ini aku jarang bermain-main, Mor." Mori mengerjap. Ia paham betul maksud ucapan Cece perihal bermain-main. "Bagus dong," timpal Mori dengan jujur. "Kamu ingat lelaki yang kita temui di toko bunga Fafa?" tanya Cece. Kini perempuan itu sudah duduk dengan tenang sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. Mori mengangguk. Dia Delfan. Lelaki yang sangat ingin Mori tendang. Tidak berbeda jauh dengan atasannya, Anca. "Dia memblokir semua aksesku untuk menghubunginya." Mori menge

