"Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Anca saat Mori sedang menyiram bunga di belakang rumah Fafa. Memang, setelah tiga hari tidak masuk kerja, akhirnya hari ini Mori kembali bekerja lagi. Mori menoleh sekilas. "Katakan saja," ujar Mori tidak acuh. "Kamu mau aku melihat bokongmu yang jauh dari kata seksi itu?" sinis Anca, berhasil menarik eksistensi Mori. Perempuan itu sontak membalikkan badannya, menatap Anca dengan tatapan tajam. "Jadi apa yang mau kamu katakan?" Mori berdiri di depan Anca yang menjulang tinggi di hadapannya. Lelaki itu tak langsung menjawab, ia malah berjongkok dan memegang kaki Mori yang perbannya telah dibuka, menampakkan luka yang mulai mengering. "Eh," sentak Mori. Terkejut dengan tingkah Anca yang terkesan tiba-tiba. "Bagaimana keadaan kakimu?" Anca mendongak

