Sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak pada Mori dan Anca. Karena baru saja Mori membelokkan motornya ke jalan menuju kafe yang ingin ia datangi selepas dari supermarket, sang vesva mendadak berhenti sambil mengeluarkan bunyi yang tak seperti biasanya.
Satu hal yang pasti, si vesva mogok. Penyebabnya? Tentu saja Mori tidak tahu. Ia hanya tahu mengendarainya, sedangkan untuk mengetahui seluk-beluk sang vesva, Mori angkat tangan.
"Mogok?" tanya Anca, menyorot vesva dan Mori secara bergantian dengan tatapan nelangsa.
Mori yang sedang berjongkok di samping motornya, mendongak—menatap Anca kesal. "Menurutmu?"
Anca mengedikkan bahu. Lalu menoleh kanan-kiri, mencari bengkel.
"Daerah sini nggak ada bengkel," kata Mori, menjawab kebingungan Anca.
"Kok bisa di sini nggak ada bengkel? Lagi pula, kalau kita mau pulang ke rumah, jaraknya jauh banget, loh, Mor. Dua kali lipat," keluh Anca sembari mengelap peluh yang menetes di dahinya. "Kamu, sih, pake mau ke kafe segala. Coba tadi kita langsung pulang saja," omel Anca, tidak menyadari aura Mori yang menggelap, karena menahan kekesalan.
"Kamu bisa diem nggak? Kalau aku tahu vesva ini bakal mogok, aku juga nggak akan pergi!"
Anca membuka mulut, ingin menampik ucapan Mori, tetapi segera ia katupkan setelah melihat tatapan perempuan itu yang menajam.
"Kamu ada bawa hp? Ah, nggak usah dijawab," ujar Mori dengan nada kesal. Ia hampir lupa jika ponsel Anca telah hancur berkeping-keping akibat tangan pemiliknya sendiri.
Anca mengerjap bingung. Kenapa, sih?
"Memangnya kamu nggak bawa hp?"
Mori mendelik. "Kalau aku bawa, ngapain aku nanya sama kamu," decak Mori.
"Aku nggak mau loh tertangkap sama mereka gara-gara terjebak di jalan ini, Mor." Anca berujar seraya menarik maskernya lebih ke atas, kemudian menelisik jalanan yang lengang.
Mori berdiri, lalu berkacak pinggang. "Mereka sehebat apa, sih, sampe bisa lihat kamu di jalanan sepi begini? Please, nggak usah lebay! Lagian, kamu bertingkah, sih. Jadi buronan, kan, kamu."
"Mor, harus berapa kali aku bilang sama kamu kalau aku bukan buron!" Anca menggeram, dan mengikuti langkah Mori yang kini sedang mendorong vesvanya.
"Sampai kamu membuktikan kalau kamu bukan buron," kata Mori dengan napas yang tidak beraturan. Ternyata, vesva ini cukup berat.
"Tunggu aja. Aku akan buktikan kalau aku bukan ... eh, hati-hati dong!" Anca mendecak seraya menahan vesva yang hampir oleng dalam pegangan Mori. Untung ia tidak jauh dari perempuan itu, jika tidak, mungkin kini Mori dan vesvanya sudah meringkuk di aspal.
Mori menghela napas lelah. Tadi itu ia sedang tidak fokus. Ia mendadak teringat dengan tingkah menyebalkan Anca di supermarket tadi, membuatnya tidak sadar jika di hadapannya ada gundukan kecil.
"Ngomong-ngomong, mending kita naik taksi aja, Mor." Anca memberi saran tanpa melepas pandangannya dari jalan, seraya mendorong vesva berwarna hitam itu.
Mori yang berjalan bersisian dengan Anca, menoleh sekilas dan berkata, "Terus vesvaku mau di kemanakan?"
"Taruh aja di jalan. Lagi pula, nggak ada yang minat dengan vesva jelekmu ini, Mor. Kalau pun nanti di gondol maling, ya nggak apa-apa. Ikhlasin aja, hitung-hitung sedekah. Sebagai gantinya, aku beliin kamu motor gede," kata Anca sambil tersenyum, menampilkan lesung pipinya di sebelah kiri.
Tanpa aba-aba, Mori langsung melayangkan tendangan di tulang kering Anca, berhasil membuat lelaki itu berhenti melangkah—mengaduh kesakitan.
"Aku tahu kamu kaya dan punya banyak uang. Tapi asal kamu tahu, uang kamu yang banyak itu tidak akan bisa membeli kenangan. Kenangan yang mungkin bagi kamu hal sepele, tapi tidak bagi aku yang menghargai dan menikmati setiap detik kenangan yang disisakan oleh orang yang teramat kusayang!" cerca Mori dengan wajah memerah. Perpaduan antara sengatan matahari dan ucapan Anca.
Otak Anca terasa kosong saat ini. Mulutnya terkunci meski tidak ada yang menggemboknya. Tidak hanya itu, rasanya tenggorokan lelaki itu seperti dicekik oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Perumpamaan yang cocok iyalah tertohok.
Anca tertohok. Amat sangat tertohok. Hingga membuatnya lupa bernapas selama beberapa saat.
Anca baru tersadar saat vesva yang tadi di dorongnya, kini sudah berpindah tangan.
"Silakan cari taksi," kata Mori pelan dan mulai melangkah, meninggalkan Anca yang tidak bereaksi sama sekali.
----------
Jika tidak salah hitung, sudah dua puluh menit mereka berjalan kaki dengan ditemani senyap.
Tetesan keringat tampak membasahi dahi Mori, yang sama sekali tidak dipedulikan oleh perempuan itu. Sedangkan Anca? Lelaki itu berjalan lunglai di belakang Mori, dan sesekali menegur Mori yang tak kunjung membuka suara.
"Aku minta maaf," lirih Anca dan tidak digubris oleh Mori.
"Mor, maafkan aku."
Lagi dan lagi tidak ada tanggapan.
"Kamu boleh pukul aku sekarang juga Mor, asal kamu mau maafin aku." Anca kembali melanjutkan. Tentu saja ia tidak serius saat mengatakannya.
Akan tetapi, hal itu seperti lampu hijau untuk Mori. Sebab, perempuan itu segera memasang standar di vesvanya, lalu melangkah mendekati Anca yang bergeming. Kemudian ....
"Mor, nggak gini caranya kalau kamu marah sama aku!" Anca terpekik selepas mendapat tendangan di betisnya.
Mori mengencangkan ikat rambutnya, lalu tersenyum puas. "Kamu yang minta."
Kini giliran Anca yang mendelik. Yang benar saja! Itu, kan, hanya kiasan saja! Tetapi meskipun betisnya terasa ngilu, Anca tidak akan marah, terpenting Mori tidak seseram tadi.
"Jadi, aku udah dimaafin, nih?"
Mori mengembuskan napas panjang. Tidak menggeleng maupun mengangguk.
Anca yang gregetan melihat peluh yang menetes melewati alis Mori, sontak mengulurkan tangannya untuk menghapus bulir peluh itu dan tidak memedulikan mata Mori yang membola.
"Kamu keringatan," ujar Anca sambil menunjukkan tangannya yang basah. Sama sekali tidak jijik dengan keringat di tangannya.
Mori berdeham, mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menerjangnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Mori berniat kembali mendorong vesvanya. Namun kalah cepat oleh Anca, yang kini sudah mulai melangkah—meninggalkan Mori yang sempat terpaku.
"Biar aku yang dorong."
Anca menggeleng tegas. "Aku aja."
"Nanti kamu capek, terus sakit. Nanti aku juga yang repot," kata Mori. Ia cukup paham dengan kondisi lemah dan manja lelaki di depannya ini.
Anca berhenti. Sejenak menarik napas panjang dan berkata, "Aku nggak sejahat itu biarin kamu dorong motor sejauh ini, Mor."
Mori hampir mendecih sinis. Dari tadi kemana saja? Dasar pencitraan!
"Ngomong-ngomong, aku merasa ada yang mengikuti kita," bisik Mori dan merapatkan tubuhnya di samping Anca yang mulai was-was.
"Cuman perasaan kamu aja kali."
Mori menggeleng. Ia serius dengan ucapannya. Tadi Mori iseng menoleh ke belakang dan mendapati dua orang lelaki yang mencurigakan.
"Jangan-jangan itu mereka, Mor!"
"Maksud kamu?"