Setelah menuntun Anca ke kamarnya yang terletak di samping kiri kamar Fafa, Mori segera ke dapur untuk mengambil air hangat serta handuk kecil. Sesampainya di kamar lelaki itu, Mori tanpa segan menempelkan punggung tangannya di dahi Anca, sehingga mata lelaki itu sontak terbuka dan bertemu dengan mata Mori yang langsung memutuskan kontak. "Badan kamu panas," kata Mori basa-basi. "Tapi aku nggak tahu letak kotak P3K—kali aja ada obat penurun panas. Jadi, untuk sekarang kamu pakai ini dulu," kata Mori seraya meremas handuk kecil yang telah ia rendam di air hangat, setelahnya handuk kecil itu ia taruh di dahi Anca. Anca diam saja. Tak menanggapi ucapan Mori. "Tekstur kain baju kamu tebal." Anca mengerang, menatap Mori sayu. "Ya terus?" Mori berdeham sejenak. "Kalau lagi demam nggak baik

