Sebuah Mayat

1288 Words
Pagi ini mentari belum menampakkan dirinya. Terasa sangat sejuk sehingga membuat Anna enggan beranjak dari kasur king size dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Hujan telah reda tetapi Anna masih enggan untuk membuka mata, ia merasa sangat malas hanya untuk sekedar membuka matanya itu. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, seharusnya Anna sudah bangun sejak tadi tapi hujan membuatnya merasa sangat malas untuk melakukan sesuatu. Lantas bagaimana dengan James? Aha pria paruh baya itu sudah bangun sejak tadi, ia sedang menikmati secangkir kopi hangat dengan koran yang selalu menemaniku paginya. Kring!! Kring!! Sejak tadi alarm terus berbunyi tapi Anna tidak menghiraukan. Ia tetap menutup matanya dan tidak membiarkan sedikitpun cahaya masuk kedalam matanya. Kring!! Lagi dan lagi alarm berbunyi dan alarm itu telah mengganggu tidurnya. Dengan langkah gontai Anna bangkit dari kasur king size miliknya menuju wastafel untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Hari ini ia benar-benar malas untuk melakukan sesuatu. Setelah selesai membersihkan diri Anna segera turun dari kamarnya untuk menemui James. Semalam mereka tidak sempat berbincang karena James pulang larut malam dan Anna sudah tidur. Dari kejauhan Anna melihat ayahnya tengah menikmati secangkir kopi, seperti yang ia lihat setiap harinya. "Selamat pagi, kau sudah bangun?" sapa James pada putrinya. "Iya, Ayah. Selamat pagi untukmu juga." Anna duduk tepat di depan James. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada ayahnya. "Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" James menatap Anna, ia menutup korannya lalu meletakkannya di meja. "Sebenarnya bukan hal yang besar. Aku hanya ingin meminta izin pada ayah," ucap Anna. "Izin apa?" "Aku ingin mengikuti komunitas penyiar berita di kampus, dan sebelum aku mengisi formulir pendaftaran aku akan meminta izin pada ayah itu pun jika ayah mengizinkan." Anna menatap ayahnya dengan wajahnya sedikit memelas. "Untuk apa kau mengikuti kegiatan itu?" James balik menatap putrinya dengan tatapan serius. "Menurutku itu lumayan seru, lagipula aku tidak sendiri. Ada David yang akan menemaniku, ayah." Anna berharap agar ayahnya mau mengizinkannya. "Jika kau ikut kegiatan seperti itu sudah tentu kau akan pulang lebih lama dari biasanya, apa kau bisa menghandle segalanya jika kau pulang larut malam?" "Aku bisa! Percayalah padaku, ayah," seru Anna. Ia benar-benar ingin menunjukkan keseriusannya. James menatap putrinya, putrinya terlihat sangat ingin dan James tidak mau jika putrinya terus memohon seperti ini padanya. James menghela nafas panjang, "Baiklah ayah akan mengizinkan mu untuk ikut serta dalam kegiatan itu tapi yang perlu kau ingat jangan sampai kau lupa dengan kewajiban mu sebagai seorang mahasiswa, ayah tidak mau itu terjadi. Mengerti?" Anna hanya mengangguk mengiyakan, sebenarnya ia tidak begitu ingin untuk masuk kegiatan itu hanya saja Anna merasa tidak enak pada David. David telah berupaya untuk mendapatkan dua formulir itu dan jika Anna tidak ikut David pasti akan kecewa, Anna tidak mau hal itu terjadi. "Kalau begitu aku akan kembali ke kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kampus, dah ayah." Setelah mendapat izin itu Anna bergegas kembali ke kamar untuk menelpon David. Ia harus menceritakan segalanya pada David. "Hallo," ujar Anna setelah telepon tersambung. ["Hallo, ada apa Anna?"] jawab David dari balik sambungan telepon. "Aku ingin memberi tahu mu sesuatu," ["Ada apa? Sesuatu apa yang membuatmu tidak bisa menunggu untuk memberitahu ku?"] "Aku ingin mengabarkan sesuatu padamu, Vid. Ayahku setuju jika aku ikut komunitas itu, ia setuju!" seru Anna. ["Benarkah? Ini berita yang baik, kalau begitu kita akan secepatnya mengisi formulir pendaftaran, sampai ketemu di kampus."] "Iyaa, sampai jumpa nanti." Anna menutup teleponnya, ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat. *** Amma bergegas berjalan menuju kelas, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang dan ia baru saja tiba di kampus. Anna yakin David sudah pasti menunggunya. Anna memilih melewati koridor yang terbilang sepi untuk segera sampai ke kelas, jalur ini merupakan jalur yang lebih dekat dari kelasnya hanya saja terdapat ruangan kosong disana itulah sangat jarang orang yang memilih untuk melewati jalan itu. Saat ia tengah asik memainkan ponselnya untuk membalas pesan David, ia dikejutkan dengan seorang pria yang tergeletak di lantai koridor dengan tubuh yang bersimbah darah. Ponsel yang Anna pegang jatuh sangking ia terkejut melihat apa yang ada didepannya saat ini. Pria itu tergeletak di lantai dengan tubuh kaku yang di kelilingi oleh darah di sekitar tubuhnya. Anna benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Oh ya Tuhan." Anna menutup mulutnya menggunakan tangannya, ia benar-benar shock dengan apa yang ia lihat. Anna tidak bisa memikirkan hal lainnya lagi kecuali menghubungi sang ayah. Dengan cepat Anna berjongkok untuk mengambil ponsel miliknya dan segera mencari nomer ayahnya. Tapi disaat yang bersamaan, sebuah kangan kekar berhasil menghentikannya. Dia adalah Leo, ia menarik tangan Anna dan mengambil ponsel yang ada ditangan Anna dengan paksa lalu membanting ponsel itu ke lantai hingga hancur. "Apa yang ingin kau lakukan?" Leo menatap Anna dengan tatapan serius dan mengintimidasi. "A-aku... Aku akan menghubungi aya—" "Kau akan menghubungi ayah sialanmu itu, huh? Untuk apa kau menghubunginya!!" Leo berteriak pada Anna. "Apa kau tidak melihat pria itu? Dia tewas!! Ini adalah kasus pembunuhan, aku harus menghubungi polisi!" Anna balik meneriaki Leo. "Ini bukan urusanmu! Tidak usah bertindak seakan-akan kau tau segalanya, memangnya kau ini siapa, huh?" Anna mengusap wajahnya dengan kasar, Leo benar-benar sudah kehilangan akal. "Lantas siapa yang harus aku hubungi? Presiden? Menteri? Atau siapa? Ini adalah kasus pembunuhan tuan, dan sudah pasti yang menangani kasus ini adalah pihak kepolisian, ada apa denganmu?" "Kau tidak perlu melakukannya. Sebaiknya kau pergi dari sini!" usir Leo. "Aku tidak akan pergi sebelum polisi tiba!" balas Anna dengan keras kepala. "Cepat pergi dari sini!!" "Tidak mau! Kau benar-benar keterlaluan. Apa kau tidak merasa kasihan padanya? Dia telah dibunuh oleh orang yang tidak mempunyai hati nurani, lantas siapa yang akan memberikan dia keadilan jika bukan kita, hah? Maka dari itu, ku mohon cepat hubungi polisi, Leo." Anna menatap Leo dengan mata berkaca-kaca, ia memohon untuk nyawa pria itu yang telah direnggut. Anna melihat tubuh pria itu yang telah kaku, Anna benar-benar tidak tega melihatnya. "Sudah kukatakan untuk pergi dari sini, mengapa kau sangat keras kepala nona? Biarkan aku yang mengurusnya, kau tidak perlu ikut campur." Leo tidak peduli dengan apapun, ia tidak ingin kasus ini ditangani oleh pihak kepolisian. Anna terdiam, ia akan tetap menolak tapi untuk apa ia ada disini? Sebaiknya ia menuruti apa kata Leo dan secepat mungkin menghubungi ayahnya. Jika ia berada disini Leo tidak akan membiarkannya menghubungi polisi. Ia akan mengalah sekarang demi kebaikan. "Baiklah," ujar Anna. Ia membungkuk mengambil ponselnya yang telah rusak akibat ulah Leo. Sebelum ia melangkah pergi, Leo lebih dulu menahan tangannya. "Jangan pernah coba-coba untuk menghubungi polisi jika kau masih sayang pada nyawamu sendiri. Atau kau ingin sama seperti pria itu?" bisik Leo. Anna melirik tubuh kaky pria itu, nafasnya memburu. Ini adalah sebuah ancaman dari seorang pria yang tidak memiliki hati nurani. "Apa kau... Apa kau yang telah menghabisinya?" "Tebakan mu salah. Tapi, kau akan berakhir sama seperti dia jika berani macam-macam, sekarang pergi dari sini dan tutup mulutmu itu!" Anna menurut, ia pergi meninggalkan Leo. Entah kemana ia sekarang, Anna masih bingung. Sebaiknya ia menemui David. *** Anna tiba di kelas dengan tatapan kosong. Tanpa ia sadari ia menabrak tong sampah hingga jatuh, entah kemana perhatiannya. Semua perhatian tertuju pada Anna tanpa terkecuali David. Ia segera menghampiri Anna untuk menanyakan apa yang telah terjadi padanya. "Ada apa? Mengapa kau terlihat sangat cemas? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya David dengan khawatir. Anna menghela nafas pelan, ia tidak tau harus menjawab apa sekarang. "Apa yang akan kau lakukan jika menemukan mayat seseorang?" "Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba menanyakan ini padaku?" David merasa ada yang aneh pada Anna. "Cepat katakan saja padaku! Apa yang akan kau lakukan?" desak Anna. "Tentu aku akan menghubungi polisi, apa lagi yang akan aku lakukan selain itu?" Anna diam, ia menunduk bingung. Leo telah mengancam dirinya, dan Anna tidak tau harus berbuat apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD