"Aku... aku melihatnya," ujar Anna pada David. David tidak mengerti dengan apa yang Anna katakan sekarang, ia merasa sangat bingung.
"Kau melihat apa? Apa yang sebenarnya kau lihat Anna hingga kau tiba-tiba seperti ini?"
"Tidak ada, bukan apa-apa. Sebaiknya aku ke ruang kesehatan. Tubuhku terasa lemas sekali." Anna berniat untuk pergi tapi David menghentikannya.
"Mengapa kau masuk kampus jika sedang tidak sehat? Apa sebaiknya aku mengantar mu pulang?"
"Tidak perlu, aku akan istirahat sebentar. Aku yakin setelah ini aku akan merasa baik-baik saja. Baiklah aku akan pergi." Anna tersenyum kearah David lalu pergi meninggalkan kelas untuk menuju ruang kesehatan. Ia hanya ingin sendiri untuk memikirkan langkah apa yang akan ia ambil.
Anna masih bingung dengan Leo, mengapa pria itu enggan jika Anna menghubungi polisi bahkan ia mengancam dirinya. Anna semakin khawatir, apa jangan-jangan yang telah melenyapkan pria itu adalah Leo? Tapi mengapa ia melakukan itu?
Anna berjalan dengan langkah gontai menuju ruang kesehatan. Tubuhnya terasa sangat lemah, ia tidak ingin terus memikirkan hal ini, itu terus mengganggu pikirannya.
Apa yang harus ia lakukan? Tetap diam atau menelepon polisi? Anna benar-benar dilema. Ia bingung harus berbuat apa.
Saat tiba di depan pintu ruangan kesehatan, Anna teringat tubuh kaku itu. Anna merasa sangat menyesal karena mengindahkan ucapan Leo tadi. Anna kini berubah haluan, ia berbalik menuju ke lorong koridor tempat dimana ia telah menemukan mayat tadi.
Anna berjalan dengan terburu-buru tanpa memperdulikan seluruh pasang mata yang mengarah padanya. Ia bahkan sampai menabrak salah satu mahasiswa yang lewat tapi Anna tidak peduli, ia bahkan tidak meminta maaf.
Saat ia tiba di lorong koridor tadi, ia tidak menemukan apa-apa. Tidak ada siapapun disana, bahkan bekas darah yang bertebaran di lantai juga sudah tidak terlihat, rupanya Leo menghapus segala bukti yang ada. Entah kemana Leo membawa mayat itu, Anna benar-benar bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Kau mencariku?" sahut seseorang dari belakang Anna. Suara yang sangat Anna kenali. Ia berbalik menatap pria yang sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan dingin. "Apa yang kau cari?" tanyanya lagi.
"Dimana pria itu?" Anna kini balik menatap Leo dengan tatapan tajam.
"Pria mana yang kau maksud, huh? Aku tidak melihat ada seorang pria di tempat ini," ujar Leo dengan santai.
"Kau berbohong!! Cepat katakan dimana pria itu jika tidak aku akan menghubungi polisi!" ancam Anna berharap Leo akan takut.
Leo tertawa garing, "Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti. Ku rasa kau sudah kehilangan akal." Leo berbalik berniat untuk pergi tapi Anna langsung berlari kehadapannya, ia tidak akan membiarkan Leo pergi sebelum mendapatkan jawaban yang ia cari.
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi jika kau tidak berkata jujur padaku, Leo. Tolong katakan dimana kau membawa pria itu!! Bagaimana bisa kau membawanya pergi dan menghapus bukti yang ada?" Anna benar-benar tidak habis fikir dengan apa yang telah Leo lakukan.
Leo berjalan lebih dekat menuju Anna, ia menarik kepala Anna agar lebih dekat dengannya, "Kau hanya perlu menutup mulut saja dan biarkan aku yang menyelesaikan segalanya, mengapa kau tidak mengerti akan hal itu, huh? Aku harus jelaskan bagaimana?" Anna bisa mendengar dengan jelas deru nafas Leo. Ia bahkan bisa mencium nafas dan tubuh Leo yang maskulin itu.
Leo mundur beberapa langkah, ia tersenyum penuh arti. "Cukup diam saja dan bisa ku pastikan kau akan baik-baik saja. Senang bertemu denganmu Nona James." Leo melangkah pergi meninggalkan Anna yang hanya diam mematung. Apa yang barusan ia alami benar-benar sulit ia percaya. Ia telah menemukan mayat seorang pria yang telah terbaring kaku dengan tubuh bersimbah darah lalu tiba-tiba muncul Leo dan memaksanya untuk menutup mulut atas apa yang telah ia lihat. Ini tidak benar.
"Ya Tuhan, mengapa aku harus ada di situasi yang membingungkan ini?" Anna mengusap kasar wajahnya. Anna memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Ia akan kembali ke ruang kesehatan untuk menenangkan diri. Tidak baik baginya untuk masuk ke kelas sekarang, lagipula David telah mengizinkan dirinya pada dosen yang mengajar di kelasnya.
***
Anna merebahkan tubuhnya ke kasur untuk beristirahat. Ia merasa sangat lelah, Anna mencoba untuk menutup matanya tapi bayangan pria itu terus menari-nari diotaknya. Anna terus memikirkan pria itu. Mengapa Leo sangat khawatir jika ia sampai menghubungi polisi? Apa Leo takut jika kejahatannya sampai terbongkar?
Sekarang Anna sangat yakin bahwa Leo bukanlah pria sembarangan. Anna semakin yakin bahwa Leo benar-benar pria yang tidak memiliki nurani dan belas kasih pada siapapun.
Baru sesaat Anna menutup mata, seorang gadis tiba-tiba saja muncul dan membuat Anna terkejut. Gadis yang sempat ia temui kemarin saat di toilet, gadis itu datang lagi.
"Hai?" sapa Irene pada Anna. Entah apa yang gadis berambut pirang itu inginkan sekarang.
Anna bangun dari kasur itu lalu menatap Irene dengan bingung, "Ada apa? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Anna.
"Aku kesini untuk menanyakan sesuatu padamu. Ku dengar kau telah menemukan mayat Joseph tadi di sudut ruangan ketika melewati koridor, apa itu benar?"
"Benar. Lalu mengapa? Apa kau datang kesini untuk memintaku agar menutup mulutku rapat-rapat? Jika kau datang kesini untuk itu maka sebaiknya kau pergi saja. Aku sudah muak mendengar kata-kata itu," ujar Anna dengan ketus.
Irene tersenyum simpul, ia lumayan manis ketika tersenyum.
"Ternyata kau gadis yang lumayan menurutku, ku fikir kau tipekal gadis lemah, tapi ternyata aku salah." Irene menatap Anna dari kepala hingga ujung kakinya, "Mungkin kau muak mendengar ucapan Leo, tapi yang sebenarnya adalah kau suka kan jika berurusan dengan Leo? Harus ku akui Leo memang sangat tampan, tapi percayalah dia tidak akan mudah tergoda oleh gadis biasa saja seperti mu."
Anna mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan apa yang Irene katakan, mengapa ia tiba-tiba mengatakan hal yang berbeda?
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Kau belum mengenal Leo dengan baik, tapi percayalah ketika kau tau seperti apa Leo kau tidak akan berfikir dua kali ketik akan menentang Leo, aku yakin kau pasti akan diam membisu. Leo bukan tipe pria yang mudah tergoda dengan paras atau kekuatan seorang gadis, camkan itu." Irena langsung pergi, Anna bahkan tidak mengerti apa maksud Irene tadi. Ia bicara melantur sehingga Anna tidak paham akan maksud yang coba ia sampaikan.
Jam bergulir sangat cepat tanpa bisa ia sadari. Anna masih terbaring di kasur dengan tatapan kosong. Tapi David tiba-tiba datang dengan membawa beberapa kantung yang berisi makanan.
"Aku bawakan ini untukmu, Anna." David tersenyum pada Anna. Ia meletakkan beberapa camilan yang ia bawa di meja. "Apa kau sudah merasa jauh lebih baik?" tanya David lagi.
"Ya, aku sekarang merasa jauh lebih baik. Terimakasih telah membawa banyak camilan untukku, kau sangat tau bahwa aku sangat lapar," ledek Anna. Ia mengambil salah satu snack yang David bawa lalu membukanya. Ia ingin sekali menceritakan apa saja yang telah terjadi padanya hari ini tapi Anna tidak ingin David ikut kepikiran soal hal ini. Ya mungkin menurut orang lain ini bukanlah masala yang besar, tapi bagi Anna ini adalah masalah yang serius dan tentu Anna tidak bisa tinggal diam. Bagaimana mungkin ia diam ketika tau ada pria yang tewas dengan kondisi yang mengenaskan tapi tidak ada satupun yang menyelidiki siapa pelakunya, ini tidaklah adil menurut Anna.
"Apa rasanya tidak enak?" tanya David. Ia memperhatikan Anna yang sedari tadi menatap kosong kearahnya, ia tau jika Anna tengah memikirkan sesuatu.
"Tidak, ini rasanya sangat enak. Kau benar-benar sangat pandai memilih snack yang e—"
"Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu. Tak apa jika kau tidak ingin membaginya padaku tapi tolong jangan terlalu dipikirkan, ya?" ujar David.
Anna tersenyum manis kearah David, ia benar-benar pria yang sangat baik.
"Baiklah tuan David, saya mengerti."