Gang Motor

1029 Words
Hari ini Anna pulang agak terlambat dikarenakan hari ini merupakan hari pertamanya mengikuti kegiatan penyiar berita. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan ia baru saja selesai dengan kegiatannya. Anna segera berjalan menuju pintu keluar kampus sembari terus menghubungi ayahnya. Tut tut tut! Ponsel James tidak aktif sama sekali, berkali-kali Anna mencoba untuk menghubunginya tapi tidak aktif sama sekali. Anna melihat ke sekelilingnya yang sudah gelap, tak ada taxi satu pun yang lewat. Lalu bagaimana dengan David? Ah pria itu sudah pergi lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Anna duduk termangu di kursi panjang sambil terus mencoba menghubungi ayahnya. Suasana kampus benar-benar mencekam, sangat sepi dan hanya sedikit lampu-lampu yang menyala. Anna menghela nafas pelan, ia bangkit dari kursi kayu tempatnya duduk berniat untuk pergi sembari mencari taxi. Tapi ada hal lain yang menarik perhatian Anna, hal lain yang membuat Anna berhenti ditempat. Segerombolan motor menuju kearahnya dengan kecepatan tinggi, lampu sorotnya sampai membuat Anna tidak bisa melihat dengan jelas karena terlalu menyilaukan mata. Anna benar-benar bingung sekarang, apakah ia harus berlari masuk kedalam kampus berharap ada orang lain yang ada disana? Atau ia justru berlari sekuat mungkin dan berusaha menjauh dari kampus untuk mencari tempat yang aman untuknya? Segerombolan motor itu semakin mendekat, Anna hanya bisa mematung ditempatnya. Bahkan untuk bergerak saja ia takut, sekelilingnya benar-benar kosong tidak ada orang sama sekali. Segerombolan motor itu berhenti tidak jauh dari tempat Anna berdiri. Satu persatu diantara mereka turun dari motor masing-masing. Ada satu pria yang mencoba maju dan mendekati Anna, ia membuka helmnya lalu tersenyum sinis kearah Anna. Nafas Anna tercekat, ia merasa seperti di kelilingi oleh segerombolan serigala yang siap memangsanya jika berani bergerak sedikit saja. "Hai nona, selamat malam?" sapa pria itu pada Anna. Anna mencoba untuk tidak menghiraukannya dengan terus menghubungi ponsel ayahnya. "Uh, ada apa? Mengapa kau sangat gemetar? Kami tidak akan menyakitimu nona," sahutnya lagi. Anna tidak percaya itu, ia telah menyusun rencana untuk berlari secepat mungkin, ia hanya perlu menunggu mereka semua lengah. Pria yang merasa telah diabaikan itu langsung menuju lebih dekat pada Anna, ia tersenyum penuh arti. Anna hanya bisa diam, mencoba untuk tetap tenang. "Apa yang kalian inginkan dariku?" Anna memberanikan diri untuk menantap mata pria itu. "Tidak ada, kami hanya ingin mampir sebentar," ujar pria itu sambil terus mengamati keadaan sekitar. "A-aku harus pergi. Ayahku sudah menunggu ku dirumah." Anna berniat untuk pergi tapi pria itu menghalangi jalannya. "Kami akan mengawalmu hingga sampai rumah, bagaimana? Ini sudah malam takutnya kau nanti bertemu dengan pria b******k yang bisa saja melukaimu," tuturnya. "Tidak perlu! Rumahku sangat dekat dari sini," tolak Anna dengan cepat. "Kalau begitu izinkan aku menanyakan satu hal padamu. Kau adalah mahasiswa di kampus ini bukan? Dan sudah sangat tentu kau mengenal Leo dan teman-teman sialannya itu. Jadi, apakah kau bisa memberitahu padaku di mana letak markas mereka yang baru?" Nafas Anna tercekat, para pria itu ternyata ada hubungannya dengan Leo. Anna benar-benar bingung harus menjawab apa, ia sangat takut. "A-aku tidak tau mengenai hal itu. Aku mahasiswa baru disini dan... aku juga baru tiba di kota ini seminggu yang lalu." Anna berusaha untuk tetap tenang, ia berharap pria itu percaya dengan apa yang ia katakan. "Sungguh? Bagaimana jika kau berbohong?" "Tidak, demi Tuhan aku tidak berbohong. Aku benar-benar tidak tau akan hal itu," ucap Anna dengan sungguh-sungguh. Pria itu tampaknya sengat kesal, ia berbalik lalu kembali ke motornya dan memasang helmnya. "Ayo pergi," perintahnya pada teman-temannya. Akhirnya Anna bisa bernafas lega, untung saja mereka percaya dengan apa yang Anna katakan. Anna baru menyadari bahwa Leo memiliki banyak sekali musuh dimana-mana. Tentu saja, dia adalah pembuat onar musuhnya tentu ada dimana-mana, bersiap untuk menghabisinya. Anna menghela nafas pelan, berusaha untuk kembali menenangkan diri. Ia menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali. Ayahnya sampai saat ini belum menghubunginya sama sekali. Anna benar-benar sangat khawatir. Dan, bagaimana bisa ia pulang? Ia bahkan tidak ingat jalan pulang sendiri. Anna berharap ada orang yang mau mengantarnya pulang ke rumah. Dengan langkah gontai, Anna menyusuri jalan setapak sambil terus menunduk. Ia terus mencoba menghubungi ayahnya namun ponselnya tetap tidak aktif. Andai saja David tidak pulang lebih cepat mungkin Anna masih ada yang menemaninya sembari menunggu sang ayah tapi sayangnya David ada pekerjaan. *** Saat tiba di rumah Anna langsung merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Ia benar-benar sangat lelah, hari ini banyak menyita waktu dan tenaga Anna. Seperti yang Anna pikirkan, ternyata James sama sekali belum pulang. Mungkin ia ada pekerjaan yang sangat mendesak hingga ponselnya sulit untuk dihubungi. Tak apa, yang terpenting sekarang Anna sudah tiba dirumahnya dengan kondisinya yang aman. Anna bangun untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Perutnya benar-benar terasa lapar, Anna mencari makanan dahulu di dapur sebelum membersihkan diri. Setelah dirasa sudah cukup kenyang Anna kembali ke kamarnya untuk mandi, tubuhnya sudah sangat gerah. Anna menyiapkan bathtub untuk berendam dengan air hangat, ini akan membuat rasa lelahnya hilang. Disaat Anna merasa sangat lelah Anna akan berendam di air hangat agar tubuhnya jauh lebih segar. Ini sudah ia lakukan sejak lama. "Anna!" suara teriakan James membuat Anna terkejut. Ia segera keluar dari bathtub lalu mengambil handuk dan melilitkan ke tubuhnya dan segera keluar dari kamar mandi, disana sudah ada James berdiri. "Ayah? Ada apa?" tanya Anna dengan bingung. Ayahnya tiba-tiba saja datang dengan wajah yang panik. James terlihat sangat cemas, "Ayah mengkhawatirkan mu. Ayah lihat ada 20 panggilan di ponsel ayah dan itu semua darimu, apa terjadi sesuatu?" "Tidak ada yang terjadi ayah. Aku baik-baik saja, aku sedang mandi tadi tapi Ayah tiba-tiba datang dan berteriak." "Maafkan ayah Anna. Ponsel ayah sengaja di matikan karena ayah sedang melakukan suatu pekerjaan. Kau tau, saat ayah menyalakan ponsel ayah, ayah terkejut melihat panggilanmu makanya ayah langsung buru-buru pulang untuk mengecek apa kau ada dirumah atau tidak," jelas James pada putrinya. "Aku baik-baik saja ayah. Tadi aku menelepon karena aku berfikir untuk menitip makanan. Bukan hal yang besar," bohong Anna. James menghela nafas pelan, "Kau membuat ayah khawatir Anna. Jangan lakukan hal semacam itu lagi atau ayah akan menarik pipi chubby mu itu." "Baiklah ayah, ya sudah aku akan kembali mandi. Ayah mengganggu waktu me time ku." Anna langsung kembali ke dalam kamar mandi. James hanya menggelengkan kepalanya menanggapi tingkah putrinya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD